
"Yudha, tolong antar saya ke tempat Rafael." pinta Adinda.
"Maaf Bu, bukan nya Ajudan ibu Aksana. " ucap Yudha.
"Kamu, berani membantah? "
"Maaf Bu, saya hanya tanya saja."
"Siap kan mobil, saya siap - siap dulu." ucap Adinda pergi meninggalkan Yudha, sedangkan Yudha berjalan ke arah mobil pribadi milik Adinda.
"Pak kunci mobil Bu Adinda mana? " tanya Yudha.
"Mobil pribadi nya? " jawab Pak Danang.
"Iya."
"Sebentar, saya ambil kan dulu." ucap Pak Danang pergi, dan Yudha berdiri menunggu.
"Ini kunci nya." ucap Pak Danang, menyerah kan kunci.
"Terima kasih Pak." ucap Yudha langsung membuka pintu mobil nya, dan memanaskan mesin mobil nya dulu.
Adinda datang, dan langsung masuk kedalam mobil nya, Yudha berpamitan pada Pak Danang, dan mobil pun pergi meninggalkan area rumah Dinas.
"Yudha, kembali jadi Ajudan ibu? " tanya Aksana.
"Mana Bapak tahu. " jawab Pak Danang pergi, meninggal kan Aksana.
Sedang kan di dalam mobil, Adinda dan Yudha hanya diam. Tanpa bicara, sepatah kata pun. Yudha hanya fokus, pada jalanan sedangkan Adinda fokus pada ponsel nya.
"Maaf Bu, ini rumah nya kita ke arah kota mana? "
"Kota K. "
"Baik Bu. "
"Yudha, saya ingin tanya sama kamu."
"Tanya apa Bu? "
"Seandainya, saya tidak bisa lepas dari Rafael. Apa yang kamu akan lakukan? "
"Saya hanya diam, karena itu bukan urusan saya. " ucap Yudha, dan Adinda menoleh ke arah nya.
"Maksud saya, kalau kamu jadi saya."
"Oh itu, pasti ada jalan Bu. Kalau memang tidak bisa, di perbaiki hubungan antara sumi istri. Walau demi anak, tapi kita di sakiti terus itu sama saja membunuh diri sendiri secara perlahan, kalau terus di pertahankan. Pasti ada cara, untuk bisa lepas dan mendapatkan Mauren."
"Saya harus berani, walau dia sering mengancam. "
"Benar Bu, dari sekarang bangkit dan lawan pria seperti itu. Dan saya sebagai seorang pria, merasa malu melihat pria memperlakukan seorang wanita semena - mena. "
Adinda menoleh ke arah Yudha sambil tersenyum, lalu mengalihkan pandangan nya ke arah jendela menikmati pemandangan jalan.
****
"Mana Mauren? " tanya Adinda pada Wita.
"Mauren...!!! " panggil Wita berteriak.
__ADS_1
"Mauren...!!! " panggil Wita kembali.
Mauren keluar dari kamar nya, dan berlari ke arah Adinda langsung memeluk tubuh Mami nya.
"Mami."
"Sayang, apa kabar? " ucap Adinda sambil memegang kedua pipi Mauren.
"Mami, ada apa kesini? "
"Mami kangen kamu sayang. " ucap Mauren sambil menoleh ke arah Wita.
"Masuklah." ucap Wita mengajak Adinda dan Yudha masuk.
"Rafael mana? "
"Ada apa cari saya? " ucap Rafael keluar dari kamar nya.
"Kamu kenapa, bawa Mauren? "
"Mauren kan gak asuh nya dari kecil sama saya."
"Sama kamu, karena kamu paksa. Mauren itu harus ikut saya, bukan ikut sama lelaki seperti kamu. "
"Mauren, kamu pilih Mami atau Papi? "
Mauren hanya diam, menatap kedua orang tua nya. Mauren menunduk sambil memeluk boneka nya.
"Mauren, kamu mau ikut sama Mami atau Papi? "
"Mauren, hanya ingin Mami sama Papi tidak terus berantem lagi. "
"Nah, dengar sendiri kan. Dia meminta kita rujuk, anak kecil saja mengerti. Kamu nya, sebagai Mami nggak pernah mengerti."
"Ehm.. maaf, Mauren mau ikut om nggak? " ucap Yudha memotong pembicaraan.
"Mau bawa kemana anak saya? " ucap Rafael.
"Apakah pantas, masalah seperti ini anak kecil dengar. " ucap Yudha langsung menarik tangan Mauren untuk keluar dan menjauh.
Setelah Yudha dan Mauren pergi, suasana kembali panas, antara Wita dan Adinda saling bertatap mata.
"Kamu pikir, saya itu bodoh seperti kamu. Dan kamu pikir, saya itu wanita lemah seperti kamu. Kalau Rafael, sering menyakiti saya, sudah saya tinggalkan dia. Bukti nya, saya sama Rafael masih satu atap. Jadi kamu bisa menilai sendiri." ucap wita.
"Saya tidak percaya, kamu bahagia dengan pria macam dia. Pokok nya, saya akan ajukan gugatan cerai, terserah kamu mau ancam apa, itu hanya sebuah ancaman untuk memperlambat proses perceraian. Setelah itu, kamu Wita akan menjadi istri satu - satu nya. "
"Oh tentu, belum di ceraikan saja, saya sudah di jadikan istri satu - satu nya."ucap Wita.
Yudha dan Mauren, duduk di dalam mobil. Sedang kan Mauren, hanya diam memeluk boneka beruang nya.
" Mauren senang tinggal sama Papi? "
"Senang om, Papi sayang sama Mauren."
"Mami Wita? "
"Mami Wita, tidak seperti Mami nya Mauren."
"Om harus apa ya, agar Mauren nggak sedih juga."
__ADS_1
"Mauren hanya ingin, Mami sama Papi bersatu lagi. Itu yang tidak, akan membuat Mauren sedih."ucap Mauren, dan Yudha hanya bisa tersenyum sedih.
Di dalam, Adinda berdebat hebat dengan Rafael, hingga terdengar suara benda di banting dengan keras.
Yudha langsung memeluk tubuh Mauren, dan menutup kedua telinga nya, terlihat Rafael mengusir Adinda, dan berjalan ke arah mobil dimana Yudha dan Mauren berada di dalam nya.
" Mauren, yuk keluar." ucap Rafael dengan nada pelan.
"Saya akan bawa Mauren." ucap Adinda menghalangi.
"Saya sudah bilang, Mauren ikut saya kalau kamu minta cerai. "
"Nggak..!! "
"Kamu tidak dengar, saya ijinkan kamu memproses nya, asal Mauren ikut dengan saya. "
"Nggak, saya tidak mau."
"Mauren, turun. " ucap Rafael memberikan perintah, dan Mauren pun turun.
Mauren pun turun dari mobil nya, Adinda berusaha untuk menarik tangan Mauren tapi Rafael menepis nya.
"Sampai kapan pun, saya tidak akan pernah menyerah kan Mauren pada kamu."
"Mauren, kamu ikut mamah nak. Mauren..!! " ucap Adinda dengan suara lantang, dan Yudha turun dari mobil nya membawa masuk Adinda ke dalam mobil.
Hiks.. hiks.. hiks...
"Saya harus, saya harus dapatkan Mauren." ucap Adinda.
"Ibu pasti akan dapatkan Mauren." ucap Yudha.
****
"Makan nih. " ucap Wita meletakkan piring berisi nasi dan lauk ayam goreng.
"Papi."ucap Mauren.
"Papi kamu nggak ada, sekarang kamu sama saya. Makan cepat, dari pada kamu kelaparan." ucap Wita langsung pergi meninggalkan Mauren di kamarnya.
Hiks.. hiks..
"Mami.. hiks.. hiks... "
****
"Minum dulu, ini cokelat hangat, biar susana kita tenang." ucap Yudha memberikan segelas cokelat hangat pada Adinda, saat mereka singgah di suatu warung kopi di pinggir jalan.
"Begitu susah saya dapatkan hak anak saya sendiri, padahal saya tidak pernah seperti apa yang di katakan Rafael. "
"Kamu akan dapatkan nya, percaya sama saya."
"Kamu mengerti sebagai seorang pria, bagaimana kamu perlakukan Mauren. Tidak seperti Rafael, kamu sungguh sangat berbeda. Seandainya Rafael itu kamu, kehidupan rumah tangga saya tidak seperti ini. "
Hiks.. hiks...
Yudha menarik bahu Adinda, hingga kini Adinda bersandar di dada Yudha. Adinda semakin terisak, Yudha hanya bisa diam dan membiarkan Adinda mengeluarkan semua air mata nya.
.
__ADS_1
.
.