Pak Ajudan Tembak Dong...!!!

Pak Ajudan Tembak Dong...!!!
Pemimpin


__ADS_3

"Papi kangen sama kamu sayang, ayo kita jalan - jalan, menginap semalam saja." bujuk Rafael.


"No Papi, Mauren tidak mau."


"Ayolah, please Papi kangen."


"No Papi, kalau tidak mau jangan di paksa." ucap Mauren.


"Kamu tidak kangen sama Papi?" ucap Rafael memelas.


"Kangen, tapi Mauren sedang tidak mau nginep disana."


Adinda dan Yudha hanya diam, menatap anak dan Papi nya. Rafael lalu menatap ke arah Adinda dan Yudha.


"Kalian apakan Mauren?" ucap. Rafael.


"Maksudnya apa?" tanya kembali Adinda.


"Kenapa, anak saya ini tidak mau ikut?" ucap Rafael.


"Lah, kenapa tanya sama kami. Tanya saja, sama anak nya."


"Pasti kalian berdua ini menghasut Mauren."


"Maaf, saya disini akan ikut campur. Maksud nya apa? kalau kita menghasut Mauren agar tidak mau ikut kamu.Dan harus tahu, saya Papi tiri nya tidak pernah bilang untuk, Mauren kamu jangan mau kalau di ajak sama Papi kamu. Saya pernah bilang gitu, tidak. Kalau tidak percaya tanyakan saja sama ajak nya. " ucap Yudha.


"Bisa saja, anak di ajarkan sama orang tua nya."


"Astagfirullah, saya harus bagaimana? saya dan Adinda itu tidak pernah seperti itu."


"Sudahlah Mas, jangan ladenin dia. Mauren sendiri yang seperti itu dia tidak akan pernah percaya." ucap Adinda.


"Rafael, saya itu tidak pernah melarang Mauren, untuk bertemu dengan Papi nya. Malah saya itu, menyuruh Adinda untuk membebaskan bertemu sama kamu. Karena kamu itu Papi nya, kamu mau bawa dia satu bulan ya silahkan tidak apa - apa, saya tidak larang." ucap Yudha dengan ekspresi wajah serius nya.


"Kamu dengar kan, apa yang di katakan suami saya. Kamu tanya saja sama Mauren, Mami Papi nya bukan, yang melarang nya." ucap Adinda.


"Mauren, katakan sama Papi, kenapa kamu tidak mau?"


"Mauren lagi males Papi, Mauren lagi ingin main ke tempat nya Papi Yudha, banyak teman disana." ucap Mauren jujur, dan langsung berlari ke arah Yudha.


"Kamu lihat kan? anak nya sendiri. Bukan saya atau Adinda yang larang." ucap Yudha.


****


"Heran saja, sama mantan suami kamu. Bawaan nya itu, ngajak gelut saja. Marah terus bawaan nya, kapan bisa di ajak santai, nggak berantem terus, ini sih marah - marah terus." ucap Yudha kesal.


"Memang sifat nya begitu Mas, dia mah kalau sama orang ngajak perang terus, kagak pernah tidak bisa nggak ngajak perang."


"Terus, masalah kewajiban gimana dia?"


"Masih kirim uang buat Mauren."


"Misal dia tidak kirim uang, kamu jangan protes, walau keputusan pengadilan harus wajib kasih uang perbulan nya. Saya masih mampu untuk, biaya Mauren. Bahkan kasih makan istri, dan sampai nanti kita punya anak."


"Iya Mas, saya mengerti."


"Jangan mengerti nya saja, kamu kadang kalau tidak mas rem, kamu itu suka mancing buat ngajak ribut dia."


"Ih... udah lah, dari tadi ngomel terus kagak ada berhenti nya. Seperti radio rusak, ngomong terus."

__ADS_1


"Eh... kalau di nasehati sama suami, jadi nya malah ngomong kayak gitu."


"Iya paham Mas, ih.. jadi nya ngajak berantem lagi, tuh kan ngoceh terus."


"Kesel tahu."


*****


"Gimana saat jadi suami Ibu Adinda?" tanya Aksana.


"Seperti suami pada umum nya, kan sama saja seperti dia. Walau dia itu pimpinan kita, dan kita bawahan nya." jawab Yudha.


"Barang kali, ada perbedaan nya."


"Mungkin, di rumah saya itu adalah kepala keluarga, imam nya dia. Dan di kala di kantor, dis adalah atasan saya, dan saya masih Ajudan nya. Tidak ada yang berubah, saya jadi suami nya langsung naik jabatan. Tidak, saya pun tidak ingin merubah itu."


"Iya, kamu benar. Bila semua langsung berubah, pasti tanggapan negatif banyak. Dari awal kamu tunangan, menikah pasti kan omongan miring itu ada? jelas banget kan?" ucap Aksana.


"Sangat jelas sekali, tapi saya bawa santai saja. Bahkan ibu saya juga kena dampak nya, dia malah stress memikirkan omongan netizen."


"Tapi bisa menyesuaikan keadaan kan sekarang?"


"Saya bilang, ini resiko kalau anak ibu menikah sama orang nomer satu."


*****


"Mas, saya tidak bisa antar Mauren ke rumah ibu. Saya harus hadiri acara, penerimaan anugrah penghargaan dari Presiden."


"Iya, tidak apa - apa. Nanti Mas yang antar sendiri, tapi seperti nya Mauren ingin liburan lama disana."


"Ya sudah nggak apa - apa, kalau Mauren betah sih, nanti minta ibu jangan kasih cokelat."


"Makasih ya."


Cup


Adinda mengecup bibir Yudha, kedua tangan Yudha langsung menarik tubuh istri nya hingga masuk kedalam pelukan nya.


"Kalau lihat istri begini, gemas sekali."


"Masa? "


"Iya, rasanya itu tidak mau jauh sama istri."


"Jadi, tidak boleh berangkat nih?"


"Bukan begitu, hanya saja kalau sudah berduaan ingin nya tuh nempel terus."


"Seperti perangko atau Materai?"


"Seperti lem."


Hahahahaha...


"Lucu ih."


"Kasih asupan gizi dulu dong."


"Ih.. nggak ah."

__ADS_1


"Jangan gitu dong, kasih asupan gizi dulu."


"Mas, saya mau berangkat dinas. Mas juga ih, pagi - pagi sudah otak nya perlu di sapu."


"Nggak apa - apa dong sayang, mau ya."


Cup


"Sudah tuh, satu kecupan."


"Masa satu kecupan."


"Mau nya berapa?"


Yudha menarik tengkuk leher Adinda, di cium nya bibir Adinda, kedua nya pun saling berbalas ciuman hingga kedua nya terhanyut.


Tok.. tok..


Terdengar suara ketukan pintu, Yudha hanya bisa menghela nafas yang panjang Adinda langsung merapikan rambut dan pakaian nya, serta merapikan lipstik nya. Begitu juga, dengan Yudha, merapikan pakaian nya.


Ceklek


"Maaf mengganggu, kita harus jalan sekarang." ucap Ayu.


"Iya tunggu di mobil, saya ambil tas dulu."


Yudha mengantarkan istri nya hingga depan pintu mobil, ciuman di punggung tangan Yudha di daratkan, saat Adinda berpamitan.


"Hati - hati."


"Iya, Assalamu'alaikum."


"Walaikumsalam." ucap Yudha, yang memang tidak ikut mengawal Adinda karena harus mengantarkan Mauren.


****


"Bangun sayang." ucap Yudha pada Mauren yang masih tidur.


Mauren menggeliat kan tubuh nya, dan langsung membuka mata nya. Mauren langsung duduk, dengan rambut yang acak - acak an.


"Mami."


"Mami baru saja berangkat, mandi Papi antar kamu ke rumah nenek, terus Papi balik lagi ke kantor. Tapi Papi ke kantor dulu sebentar, nanti langsung kesana."


"Ikut ke kantor sama Papi."


"Iya sayang, sekarang mandi ya."


"Ok."


*****


Yudha membereskan berkas yang tertumpuk di meja Adinda, satu persatu Yudha susun, dan di kelompok kan sesuai dengan isi dan tujuan nya.


"Mba Eri, ini sudah di tanda tangan sama Ibu, nanti tinggal tolong di serahkan saja sesuai bagian nya. " ucap Yudha menyerah kan satu tumpukan berkas yang sudah di tanda tangani oleh Adinda.


.


.

__ADS_1


__ADS_2