
"Bu, maaf saya bawa laporan nya ke rumah sakit." ucap Aksana.
"Iya tidak apa - apa, kamu sudah hubungan Delia? asisten nya Ayu. "
"Belum bu, Asisten yang lama keluar?"
"Iya, saya tarik Delia, salah satu staf dikantor Bupati. Selama Ayu, tidak aktif dia yang akan menggantikan nya. Dan mungkin, kalau Brasmana menang, Delia akan di angkat jadi Ajudan Ayu."
"Siap bu, dan ini berkas - berkas nya."
"Saya tanda tangani sekarang, dan untuk laporan lain nya, kalau memang tidak bisa di tunggu bisa langsung kesini, kalau bisa di pending tunggu sampai saya pulang."
"Siap bu."
"Ada jadwal apa lagi?"
"Ada yang sudah buat janji, Pak Sukma Jaya."
"Sukma Jaya!!! ada apa?"
"Saya tidak tahu."
"Ada apa ya?"
"Siapa yang mau ketemu?" tanya Yudha.
"Pak Sukma Jaya, dia minta ketemu sama saya." jawab Adinda.
"Ada apa?"
"Kata Aksana, tidak tahu."
"Kalau orang ada yang ingin buat janji, tanya yang jelas, ada apa."
"Maaf Pak Bos." ucap Aksana.
"Kamu tidak kasih nomer ponsel istri saya kan?" tanya Yudha.
"Tidak Pak, saya tidak kasih." jawab Aksana.
"Ya sudah, nanti saya jadwal kan saja. Kalau Mauren sudah pulang dari rumah sakit, dia meninggal kan nomer telepon kan?"
"Iya, ada."
"Bagus kalau begitu."
"Saya pamit bu, permisi."
"Iya, hati - hati."
Yudha menatap ke arah Adinda, dan istri nya menatap kembali Yudha yang duduk berseberangan dengan nya.
"Ada apa?"
"Kamu serius, mau bertemu dengan Pak Sukma Jaya?"
"Iya, kenapa?"
"Ini politik, dia secara tidak langsung ingin membawa kamu. Tahu tidak tujuan nya apa? dia akan minta bantuan sama kamu."
"Kalau masalah bantuan untuk meminta dukungan, saya rasa tidak bisa. Bukan saya memihak, ke partai A atau partai B, karena kalau dalam Kampanye, saya pun ikut mengatakan pada masyarakat, pilih Pak Sukma Jaya, pilih dia, rasanya saya yang di sorot. Otomatis, kalau tahu saya ada di belakang dia, suara dia menang banyak. Brasmana tersingkir bahkan calon Bupati lain nya juga. Dan bukan berarti, saya ini mendukung Brasamana, tapi saya ini hanya ingin Bupati yang amanah. Siapa saja yang akan menduduki kursi itu, asal amanah."ucap Adinda.
__ADS_1
" Mas setuju sama kamu."
*****
"Mauren, mau pulang nggak?" tanya dokter Irene, dokter spesialis anak.
"Mau Tante dokter." jawab Mauren.
"Kalau mau, hari ini pulang ya."
"Asik, Mami Papi, Mauren pulang."
Adinda dan Yudha tersenyum, saat mendengar kabar, bahwa Mauren sudah di perbolehkan untuk pulang.
"Kalau begitu, nanti Pak Yudha langsung ke apotek ya, saya tuliskan resep nya."
"Baik dok."
"Kalau begitu, Tante dokter mau visit ke kamar lain."
"Ok." ucap Mauren.
"Akhirnya, kamu pulang sayang. Mami sama Papi, sudah kangen rumah." ucap Adinda.
"Sama Papi juga kangen rumah, kamu kangen juga kan?" ucap Yudha.
"Iya Papi, kangen. Di rumah sakit nggak enak, kangen sama boneka Barbie."
"Nanti main sepuasnya."
*****
"Sukma Jaya ngapain, mau ketemu sama kamu?" tanya Brasmana saat bersama Ayu menengok Mauren di rumah dinas.
"Beberapa bukti, Sukma Jaya sudah di temukan. Kita tinggal mengumpulkan lagi beberapa bukti. Untuk langsung menjatuhkan dia, dan kejayaannya langsung hancur." ucap Brasmana.
"By the way, Tasya apa kabar?" tanya Ayu pada Yudha.
"Kenapa, harus tanya sama saya. Dia sudah di mutasi, mungkin di bantu proses perceraian nya saja." jawab Yudha.
"Saya kira masih datangi kamu."
"Kalau sampai datangi suami saya lagi, saya laporkan dia sebagai pelakor biar di pecat."
"Wuih.. serem banget." ucap Ayu sambil menatap ke arah Yudha.
"Aksana." panggil Adinda.
"Siap bu." ucap Aksana mendekat.
"Kamu hubungi Pak Sukma Jaya, besok temui saya pukul 10 siang, di kantor."
"Baik bu, saya akan hubungi beliau."
"Terima kasih ya."
*****
"Apa kabar bu Adinda?" sapa Pak Sukma Jaya sambil bersalaman dengan Adinda.
"Alhamdulillah baik, bapak gimana sehat?" ucap Adinda kembali bertanya.
__ADS_1
"Alhamdulillah, baik bu. Maaf saya mengganggu waktu ibu Adinda."
"Tidak apa - apa Pak, saya yang minta maaf, harus buat janji dulu. Soalnya kemarin anak saya, sakit dan harus di rawat di rumah sakit."
"Saya juga dapat info dari Ajudan nya ibu begitu."
"Menurut kabar, Bapak akan mencalonkan menjadi Bupati ya?" tanya Adinda, langsung membuka topik pembicaraan.
"Benar bu, dan kenapa ibu tidak mau maju lagi?"
"Saya ingin pensiun dari dunia politik, saya tidak ingin menjadi orang nomer satu lagi, atau menjadi seorang pejabat teras lagi."
"Tapi kalau suami ibu, di dukung Partai Politik untuk mencalonkan gimana?"
"Tidak akan Pak, suami saya tidak akan mau."
"Masa bu, kalau jadi kan enak."
"Enak apanya Pak? berat tugas nya."
"Begini bu, saya kan ingin mencalonkan menjadi Bupati. Saya ingin minta bantuan sama ibu, dukungan suara dan di belakang saya ibu lah, dengan seperti ini saya akan memenangkan pemilihan Bupati."
"Maaf seribu maaf, saya sudah mundur Pak dari dunia Politik. Saya selepas ini, saya sudah tidak mau tahu. Dan jujur, saya tidak akan mendukung salah satu. Tapi saya akan berharap pada orang yang nanti nya, akan memimpin Kabupaten M. Asal amanah, dan membuat program lebih baik dan maju lagi dari saya."
"Tapi dukungan ibu, sangat lah berarti buat saya. Atau Ibu memiliki pasangan calon, yang di jago kan sama ibu."
"Saya kan, sudah jelas kan sama Bapak, kalau saya itu tidak mau mendukung salah satu pasangan calon, saya ingin netral. Dan saya akan mendukung semua nya, karena yang memilih itu rakyat, bukan panitia pemilihan Bupati, yang di bayar untuk menaikkan suara. Maaf Pak, sangat minta maaf."
"Apa karena Brasmana?"
"Maaf Pak, tidak ada hubungannya sama Brasamana. Karena dia maju, bukan dorongan saya, atau di belakang nya ada saya. Bukan juga, karena istri nya itu asisten saya, tidak Pak ini tidak ada hubungannya. Tidak ada sama sekali, jadi mohon maaf, saya tidak bisa."
"Baik kalau begitu, saya permisi. Dan sangat membuang waktu, bertemu dengan Bupati seperti kamu."
"Terserah Pak Sukma Jaya berkata apa, yang jelas saya netral Pak."
Pak Sukma Jaya langsung pergi, dan membanting pintu ruangan Adinda. Hingga Yudha langsung datang menemui istri nya, dan duduk di samping nya.
"Kamu tidak apa - apa?" tanya Yudha panik.
"Tidak apa - apa sayang, dia apakan kamu?"
"Tidak apa - apa kan saya, Mas jangan khawatir."
"Mas dengar dia banting pintu, dan Mas ingat kamu sedang hamil, takut terjadi sesuatu."
"Tidak Mas, tenang saja. Saya tidak apa - apa, Pak Sukma Jaya bernada tinggi, saya masih sabar dan tenang."
"Benar - benar kasar, pantas Amel sering mengadu tentang Ayah nya, ternyata seperti itu. Bagaimana Tasya, awal hidup dengan pria seperti itu. Pantas dia lama - lama lari, tidak habis pikir sama orang tua nya, sangat tega banget."
"Jadi Mas ingin nya gimana?"
"Ya tidak gimana - gimana, hanya mikir saja, orang tua nya sangat tega."
"Karena Pak Sukma Jaya itu kaya, tidak seperti Mas, makan nya mereka tidak suka sama Mas."
"Tapi kan, Bupati satu ini langsung jatuh hati." ucap Yudha dan Adinda tersipu malu.
.
.
__ADS_1
.