Pak Ajudan Tembak Dong...!!!

Pak Ajudan Tembak Dong...!!!
Menutup Luka


__ADS_3

Yudha menggendong Mauren, yang masih tertidur. Ayu menghampiri Yudha, yang tengah menggendong nya.


"Biar Mauren, saya yang antar sampai kamar."


"Iya." ucap Yudha menyerahkan Mauren pada Ayu.


"Ibu Adinda mana? "


"Dia mungkin masih di ruang kerja nya."


"Sendiri? "


"Iya."


Yudha lalu melangkah kan kedua kaki nya, ke arah pintu ruang kerja Adinda. Di ketuk nya, pintu tersebut , namun tidak ada sepatah kata pun.


Saat itu, semua staff sudah pulang, tidak ada satu pun hanya Ajudan dan Asisten nya saja. Yudha berdiri dibalik pintu , seakan mengajak berinteraksi pada orang yang di dalam nya.


"Saya tahu, kamu ada di dalam. Saya tahu, apa yang sedang kamu rasakan. Setidak nya, kamu harus menjadi wanita yang kuat, bukan wanita yang terus melemah. Kamu ingin, pertahankan Mauren? jadilah lebih kuat, jangan takut untuk setiap ancaman. Sampai kapan, kamu akan terus menerima siksa bathin bahkan terus di siksa. "


Ceklek


Pintu pun terbuka, Yudha pun masuk dan mengunci pintu ruangan Adinda. Terlihat luka lebam, di sudut bibir nya bahkan merah di pipi akibat sebuah tamparan.


Make up yang Adinda pakai, kini sudah di hapus nya untuk menutupi lebam saat itu. Yudha mengepal kan kedua tangan nya, saat melihat Adinda terisak.


Hiks.. hiks.. hiks..


"Saya seperti ini demi Mauren."


Hiks.. hiks.. hiks...


"Sekali bertindak, dia akan memisahkan Mauren dan akan terus menyudutkan saya di depan Mauren. "


"Hapus air mata kamu, jadikan air mata kamu itu sumber kekuatan, jangan jadikan air mata kamu itu, sebagai air mata kelemahan."


Adinda mengusap air mata nya, Yudha lalu berjalan ke arah sebuah meja dan membuka satu persatu laci nya.


Yudha pun lalu, mengambil dan membawa sebuah kotak warna putih, dan menarik tangan Adinda untuk duduk di sofa panjang, bersama dirinya.


"Obati luka kamu, Jangan sampai nanti, ada tamu atau Mauren lihat penuh tanda tanya. "


"Bisa pakai make up tebal. "


"Kamu pikir, luka akan bisa terus di sembunyikan? sama saja, masalah kamu suatu saat rakyat kamu akan tahu cerita nya. Apa kamu mau? nggak kan. " ucap Yudha sambil mengoleskan di wajah nya.


Awwww


"Sakit? " ucap Yudha.


"Iya."


"Apa sering, suami kamu lakukan ini? "


"Iya."


"Seharusnya, wanita itu di jaga. Bukan untuk di sakiti. "


Adinda tersenyum sembari menatap kedua mata Yudha, yang begitu dekat. Tatapan dan perhatian Yudha, membuat Adinda melupakan kejadian, yang baru saja terjadi.


****


"Mami....!!! " panggil Mauren lari keluar dari kamar nya.


"Mami...!!! " panggil Mauren lagi.

__ADS_1


"Cari Mami ya? " tanya Yudha lalu berjongkok mensejajarkan tubuh nya dengan Mauren.


"Mami, sedang ke luar kota. " ucap Yudha berbohong, karena Adinda meminta pada nya untuk tidak pertemukan Adinda dan Mauren. Karena, wajah lebam nya.


"Mami jahat, tidak pernah bilang ke Mauren. Benar kata Papi, Mami itu tidak bertanggung jawab. "


"Sssstttt nggak boleh bicara begitu, Mauren karena belum mengerti. Sekarang, Mauren mau makan tidak? "


"Mau."


"Om buatkan omelet mau? "


"Mau om. "


"Kita ke dapur yuk, eksekusi."


Sampai dapur Yudha membuat kan Omelet, bahkan Mauren ikut berdiri di samping Yudha, dengan berdiri di atas kursi.


Mirna dan Pak Danang, melihat kedua nya. Terlihat, bagai seorang anak dan Ayah nya. Mauren yang banyak tanya, dan Yudha selalu menjawab nya dengan sabar.


"Seandainya, suami Ibu Adinda itu Mas Yudha." ucap Mirna.


"Hus... nggak boleh bicara begitu, Ibu Adinda nggak mungkin menjadikan Yudha itu suami."


"Bisa saja, kalau ada niat. "


****


"Pesawat nya meluncur... ngeeeenggg.... " Yudha mengarahkan sendok nya, ke mulut Mauren, hingga gadis kecil berumur 6 tahun tersebut tertawa terkekeh.


"Sekarang, meluncur lagi ngeeeeenggg... "


Mauren mengunyah makanan nya, hingga habis. Yudha dan Mauren bertepuk tangan, saat melihat isi di atas piring habis tak tersisa.


"Sekarang, cuci piring sama gelas nya. " ucap Yudha berjalan ke arah wastafel sambil membawa piring dan gelas nya.


"Boleh, nanti om ambil kursi lagi ya. "


Yudha mengambil kursi, dan Mauren duduk di atas nya, lalu dengan di dampingi Yudha Mauren mencuci bekas makan nya.


Dari balik tembok, Adinda melihat nya dan tersenyum. Tak lupa Adinda mem video nya, dan memotret setiap tingkah kedua nya.


"Jadi semakin suka. " ucap Adinda tersenyum bahagia, dan pergi meninggalkan kedua nya.


****


"Mas."


"Tasya."


"Mas, saya ingin bicara sama kamu."ucap Tasya menarik tangan Yudha saat meminta bertemu disaat jam makan siang.


" Mau bicara apa Yank? "


"Kita menikah. "


"Yank, Mas mau menikah, tapi jangan secara agama saja. "


"Kalau sudah menikah, ya mereka nggak akan bisa berbuat apa - apa. "


"Restu orang tua itu penting. "


"Sampai dunia berakhir, kita tidak akan direstui. "


"Mas akan, berusaha dekati orang tua kamu."

__ADS_1


"Apa Mas, akan mundur? kalau saya jadi di nikahkan sama pria lain? "


"Ya mau gimana lagi, kalau itu sudah terjadi. Mas kan sudah berusaha, tapi tetap tidak bisa. "


"Culik saya kek, bawa kemana gitu."


"Maaf, Mas tidak akan mau bawa anak orang. Mas akan terus dekati, orang tua kamu. Untuk mendapatkan restu, kamu jangan takut Mas akan pergi. "


"Nggak mungkin Mas, saya sudah tahu jawaban nya. "


"Terus Mas harus gimana? "


"Nikahi saya, secara agama dulu. Setelah itu, baru menikah secara hukum."


****


"Ibu hanya suka sama Elisa, kamu pacaran tahunan tapi tidak di kenalkan sama ibu. Dan sekarang, dapat kabar ingin nikah secara agama. Berati, pernikahan seperti ini ada sesuatu kan, kalau nggak ada nggak akan mungkin, nikah secara Agama saja. " ucap Ibu Nuha.


"Orang tua nya, tidak setuju Bu. "


"Nah jelas, kenapa? "


"Dari awal juga nggak suka sama Yudha."


"Sudahlah, lepaskan saja. Hubungan yang seperti ini, ada Elisa masih kurang apa dia."


"Saya tidak mencintai Elisa, saya hanya mencintai Tasya. "


"Ibu lebih setuju kamu sama Elisa."


****


"Taraaaaa...!! " Adinda tiba - tiba muncul di depan Yudha yang sedang duduk sambil memainkan ponsel nya.


Yudha melihat Adinda menyerahkan pada nya, sebuah kotak berwarna hitam dengan pita putih di atas nya.


"Apa ini Bu? "


"Buka saja. "


Yudha membuka nya, dan sebuah dompet kulit berwarna hitam, dengan merk terkenal.


"Bu, ini terlalu berlebihan."


"Menolak hadiah, berarti kamu menolak perintah. "


"Ta - tapi bu. "


"Eit... sekali lagi menolak, saya mutasi kamu."


"Jangan gitu bu. "


"Tinggal terima saja, apa susah nya. "


"Ini harga nya, tiga bulan gaji saya. "


"Anggaplah itu, sebagai tanda terima kasih saya sama kamu. Karena kemarin, sudah menemani Mauren. Dan sudah menjaga nya, serta menyembunyikan apa yang terjadi pada saya kemarin. "


"Itu hanya tugas Bu, tugas saya. Sebagai Ajudan Ibu, khusus menjadi pengasuh nya."


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2