Pak Ajudan Tembak Dong...!!!

Pak Ajudan Tembak Dong...!!!
Mengejar Kamu Ke Rumah


__ADS_3

"Saya harus cari, alamat Yudha. " ucap Adinda memeriksa file data Yudha yang ada di tumpukan berkas nya.


"Aduh, dimana ya berkas CV nya Yudha." ucap Adinda terus mencari.


Ayu masuk sambil membawa buku agenda, dan langsung duduk di depan meja atasan nya.


"Cari apa? " tanya Ayu.


"Berkas CV Yudha mana? "


"Kenapa kamu cari di tumpukan meja kamu?"


"Kamu tahu? dimana? "


"Di bagian kepegawaian."


"Panggil nuri, suruh catat alamat Yudha."


Ayu lalu mengambil ponsel nya, di saku celana. Lalu menghubungi, Nuri bagian kepegawaian.


"Hallo, Nuri kamu tolong catat alama Yudha, Ajudan ibu Adinda. Kamu cari, di CV nya. " ucap Ayu memberikan perintah.


"Siap Bu, nanti saya akan kesana setelah mencatat nya. "


"Baik, saya tunggu di ruang Ibu Adinda." ucap Ayu langsung mengakhiri panggilan telepon nya.


"Ada? " ucap Adinda.


"Ada, terus kamu mau apa? "


"Mau ke rumah nya, minta maaf dan minta dia balik lagi jadi Ajudan saya. "


"Makan nya, kalau ingin tetap ada disini, kamu itu jangan galak - galak, jadinya kabur kan."


"Saya, merasa sangat bersalah sama dia. Seharusnya, saya tidak memarahi nya."


Lalu terdengar suara ketukan pintu, dan Nuri masuk sambil membawa, selembar kertas dan memberikan nya pada Adinda.


"Terima kasih Nuri." ucap Adinda.


"Sama - sama Bu, permisi." ucap Nuri, langsung pergi meninggalkan ruangan Adinda.


Adinda langsung membereskan meja nya, dan memasukan ponsel nya ke dalam tas nya.


"Mau kemana? " tanya Ayu.


"Mau ke rumah Yudha. " jawab Adinda.


"Pak Danang, sedang ke bengkel. Servis mobil dinas. "


"Nggak usah sama Pak Danang, biar saya sendiri. "


"Jangan, kalau di jalan tahu kamu tanpa pengawalan gimana? "


"Tenang, kamu nggak usah khawatir. Kan ada ini. " tunjuk Adinda pada sebuah masker dan kacamata hitam di tangan nya.


Ayu hanya bisa menghela nafas panjang, saat Adinda pergi tanpa pengawalan. Aksana, yang tahu atasan nya akan pergi, segera menyusul namun di cegah oleh Ayu.


"Ibu."


"Tanpa pengawal."


"Tapi."


"Jangan bantahan, kalau tidak ingin kamu di mutasi."


"Baik." ucap Aksana menurut.

__ADS_1


****


Yudha sedang membakar ikan bersama para tetangga nya, terlihat Elisa juga ada. Karena Yudha mengundang nya, untuk makan bersama.


"Mas, ini ikan nya taruh dimana? " tanya Elisa sambil membawa nampan berisi ikan.


"Tanya sama ibu. " jawab Yudha sambil mengipas ikan bersama Pak Toni dan Pak Widodo.


"Elisa, taruh sini saja. " ucap Ibu Nuha.


"Baik Bu, saya taruh disini ya." ucap Elisa.


Sedangkan Adinda, sudah memasuki jalanan yang akan menuju ke rumah Yudha. Jalan yang berbelok, membuat Adinda mengemudi kan nya secara pelan.


Namun tiba - tiba, mobil Adinda berjalan sedikit, tidak stabil. Adinda pun langsung turun, dengan mengunakan masker dan kacamata nya.


Adinda memeriksa mobil nya, terlihat tampak kesal, saat melihat ban mobil depan nya kempes.


"Aduh, malah bocor deh. Mana nggak bawa Ajudan atau supir. " ucap Adinda panik.


Adinda mencoba menghubungi Yudha kembali tapi masih tidak aktif, hingga langit sudah semakin gelap.


"Ah.. ini Yudha mana sih, itu orang kok nggak aktif - aktif. Segitu marah nya, kamu sama saya. "


Yudha, Ibu Nuha, Elisa, Pak Widodo, dan Pak Toni sedang makan bersama, canda tawa mereka terlihat sangat bahagia.


Elisa yang begitu, perhatian sama Yudha, sesekali mengambil nasi, ikan atau minum unyuk Yudha.


"Mas Yudha, jujur cocok sama mba Elisa." celetuk Pak Toni.


"Hanya teman Pak. " ucap Yudha, dan membuat Elisa sedikit kecewa saat mendengar nya.


"Sekarang teman, bisa besok jadi demen." ucap Pak Toni kembali.


Adinda hanya bisa duduk di dalam mobil nya, hari sudah semakin gelap. Nomer ponsel Yudha, tidak juga aktif.


****


" Mas. "


"Iya."


"Apa Mas, bahagia dengan wanita yang Mas cintai? "


"Kenapa tanya itu? " ucap Yudha.


"Hanya tanya. " ucap Elisa.


"Kita tidak sama - sama lagi."


"Kenapa? "


"Restu orang tua." ucap Yudha dan Elisa tersenyum mendengar nya.


"Oh gitu ya. "


"Kamu sendiri, siapa pacar kamu sekarang?"


"Tidak ada Mas."


"Yakin, saya tidak percaya."


"Sumpah Mas, saya tidak punya. " ucap Elisa menunjukkan wajah tersenyum nya.


"Ponsel saya mana ya? " tanya Yudha sambil mencari.


"Bukan nya, Mas itu tidak bawa ponsel dari tadi. " ucap Elisa.

__ADS_1


"Oh iya lupa. " ucap Yudha langsung bangun dari duduk nya.


"Yudha, kamu antar ikan buat orang tua Elisa, sekalian antar pulang. Kasihan sudah malam, takut di jalan nya." ucap Ibu Nuha.


"Saya ambil jaket dulu ya." ucap Yudha masuk.


"Bu." panggil Elisa.


"Ada apa? "


"Mas Yudha putus."


"Yang benar? "


"Benar Bu, ini kesempatan."


"Bagus itu, kamu dekati dia."


"Tapi bilang nya, nggak suka sama saya."


"Gampang itu, kamu dekati dia terus."


"Makasih ya Bu, sudah dukung."


"Malah Ibu, jujur lebih suka sama kamu. Sudah tahu, kamu dari kecil, keluarga nya juga tahu bibit bebet bobot nya."


"Yuk, Mas antar." ucap Yudha.


"Bu, saya pamit. Assalamu'alaikum." ucap Elisa sambil mencium punggung tangan Yudha.


"Wa'alaikumussalam." balas ibu Nuha.


Adinda keluar dari mobil nya, dan saat ada orang yang melintas nya langsung Adinda berhentikan.


"Maaf Pak, saya mau tanya. Kalau Desa Marga Blok Sedaru itu masih jauh nggak ya?" tanya Adinda , yang tidak lupa memakai masker dan kaca mata nya.


"Oh itu ada belokan sudah masuk Desa Marga, terus sekitar 500 meter, ada perempatan itu sudah Blok Sedaru."


"Oh makasih ya Pak, maaf mau numpang tanya, Bapak kenal, sama yang nama nya Yudha. "


"Yudha yang mana ya? "


"Dia Ajudan Bupati. "


"Oh, Yudha itu. Pas belokan saja, di samping rumah nya ada tambak. Ya disitu, tadi siang habis panen ikan dia."


"Oh gitu ya Pak, makasih ya Pak."


"Sama - sama, mari. " ucap nya lalu pergi.


"Panen ikan, jadi dia nggak aktif ponsel nya, kira saya dia marah, dia panen ikan. Dan tidak tahu, bagaimana saya pusing mikirin dia, yang susah di hubungi, ternyata sedang panen ikan. Astaga Yudha, disini saya khawatir sama kamu. " ucap Adinda berjalan meninggal kan mobil nya.


Adinda sengaja melepas, sepatu high heels nya, berjalan ke rumah Yudha. Lampu jalan yang terang, sehingga membuat Adinda tidak takut berjalan sendirian.


"Tadi bilang ada perempatan, belok."


Adinda melanjutkan jalan nya, sesuai arah dari pria yang tadi dia temui di jalan. Dengan tangan yang menenteng kedua sepatu nya, dan sampai lah di depan rumah Yudha.


Adinda berjalan mendekat dan berdiri di depan pintu pagar rumah Yudha, terlihat Yudha sedang memasukan motor nya.


"Yudha....!!! "


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2