Panggil Aku Nadia....

Panggil Aku Nadia....
63


__ADS_3

Usia kehamilanku sudah hampir sembilan bulan aku sudah tidak sabar bertemu dengan "Malaikat kecil" dalam perutku . sekarang ini Tono yang diperintahkan oleh Juan Hao untuk menjaga aku karena takut sewaktu-waktu ,aku kontraksi .


Mau kemana Koh ? Ucapku melihat suamiku yang sudah bersiap pergi padahal sudah jam sepuluh malam .


Ada keperluan sebentar , jawabnya


Tapi pasti nanti jadi lama , aku tinggal menghitung hari untuk melahirkan Koh , jadi aku minta tolong jangan sering pergi malam , aku memohon padanya .


Lah terus apa gunanya aku membayar Tono ?? dia itu siap siaga 24 jam untuk menjaga kamu Nad .


Lah sebenarnya yang jadi suami aku itu kamu atau Tono ??? ucapku meradang .


Sudah-sudah kamu gak usah ngajakin ribut !!! ujar Juan Hao tanganya meraih kunci mobil tetapi sebelum tanganya sampai kunci itu sudah aku ambil.


Aku gak mau kamu pergi Koh !! aku ingin kamu temani aku , tolong urus pekerjaan mu besok pagi, pintaku berharap .


Kemarikan kuncinya !!! jangan memancing emosiku !!! Hardik Juan Hao kesal


Aku tidak mempedulikan teriakan Juan Hao, aku bergegas meninggalkan nya dan masuk ke kamar .tetapi dia tidak mengejar ku malah seperti menelpon seseorang. aku yang penasaran segera keluar kamar untuk melihat Juan Hao , ternyata dia duduk diteras dan 10 menit kemudian ada mobil berhenti didepan rumah dan bagaikan ditikam jantungku karena melihat yang keluar dari mobil adalah "Meliana"


Koh' Hao !!! ternyata kamu rela berdebat denganku hanya untuk pergi dengan perempuan itu ?? teriak'ku dilanda emosi .


Terlihat dari kejauhan Meliana yang tersenyum mengejek melihatku , aku betul-betul merasa harga diriku di injak-injak , karena melihat suamiku yang berselingkuh secara terang-terangan.


Aku segera masuk lagi ke dalam Rumah air mataku tumpah bahkan pernikahan kami belum ada setahun ternyata yang kudapatkan hanya rasa sakit dan air mata , walaupun sekarang aku hidup dengan materi yang berlebihan.


Aku melangkah pelan tetapi perutku seperti kram , dan tiba-tiba mulas sekali , pandangan mataku juga mulai Buram ,aku memanggil Bik Tun yang langsung mendekat padaku dan memapahku , mungkin ini waktunya aku akan bertemu si Boy .

__ADS_1


Tono dengan sigap segera menyiapkan mobil dan membawakan barang-barang persiapan untuk melahirkan, dengan di papah Tono dan Bik Tun aku segara masuk ke mobil .


Bu Nadia , biar Bibik kabarin Pak Juan ya ? ucap Bibik .


Enggak usah Bik, nanti aku telpon Ibu dan adik saya aja , jawabku sambil mengelus perutku yang mulai kencang-kencang .


Bearti Bibik gak usah ngabarin pak Juan ya ?


aku rasa saat ini yang aku butuhkan adalah Ibu dan adikku Bik , bukan pak Juan .jawabku singkat .


Aku sampai di Rumah sakit rasa mulas sudah semakin tak tertahankan tetapi masih bisa aku tahan , aku yakin Bibik tetap mengabari Juan Hao tetapi saat ini handphone ku tetap sunyi tak ada panggilan atau pesan darinya .


Nadiaaa , kamu sudah mau melahirkan Nak ? seru Ibunya tergopoh-gopoh dengan Nadine menghampirinya.


Iyaa Bu , ujar ku sambil menahan rasa sakit yang semakin melilit


Aku tak menjawab pertanyaan Nadine Nyeri yang kurasakan akan semakin bertambah ketika mendengar nama "Juan Hao" yang dipastikan sekarang pasti sedang bersenang-senang dengan Meliana padahal aku sedang berjuang akan melahirkan anak nya.


Menit demi Menit rasa mulas perutku semakin menjadi-jadi , Ibu dan Nadine selalu mendampingi aku , hingga akhirnya Dokter dan perawat mulai mempersiapkan segalanya membantu aku mengeluarkan anakku dari perut untuk melihat Dunia .


***


"Anzel fengying Hao" Bayi tampan dengan lesung Pipit yang semakin menambah pesonanya ,berkulit putih bersih mukanya lebih dominan ke Nadia betul-betul Bayi yang sempurna.


Tak bosan-bosan kupandangi wajah anakku aku betul-betul bahagia bisa diberi kesempatan menjadi Ibu dari anak setampan ini .aku mengusap air mataku "tangis bahagiaku" .


Nadia , kemana suami kamu ? Bahkan sampai cucu ibu dilahirkan dia belum juga kemari !!! ucap Ibu kesal .

__ADS_1


Entahlah Bu , mungkin nanti kemarinya . jawabku pendek .


Dia itu suami kamu Bapak dari anak kamu Nadia !!! kamu bisa sesantai ini padahal ini moment penting dalam hidup kalian tapi dia tidak ada disini !!! hardik ibu lagi


Yaa seharusnya begitu bukan Bu , ujarku pelan


Ada apa dengan rumah tangga kamu Nad ?? tanya Ibu lagi


Biasa aja Bu ,


Nadiaa, kamu ini ...


Tolong lah Bu , jangan kurangi kebahagiaan Nadia dengan pertanyaan tentang Juan Hao !! ucapku memotong perkataan ibu.


Ibu hanya terdiam tetapi aku yakin diam nya hanya untuk saat ini saja akan ada pertanyaan lagi kedepannya .


Siang hari Juan Hao baru terlihat di rumah sakit dia begitu bangga melihat Anaknya berkali-kali dia menggendong dan menciumi "baby Anzel " ya begitulah kami memanggilnya. Ibu terlihat acuh tak acuh melihat kedatangan Juan Hao rupa-rupanya Ibu sudah mulai memahami watak menantunya.


***


Aku memutuskan untuk berada di rumah Ibu hingga 40 hari , karena bagaimanapun tempat ternyaman setelah melahirkan adalah ibu kita sendiri .


Juan Hao tiap hari memang menengok Anzel tetapi dia tetap tidak mau menginap disini , malah beberapa hari yang lalu ketika pak Guan menjenguk Anzel dia mendapat info kalau Juan Hao sedang bersama dengan Meliana .


Aku sudah gak peduli tentang Meliana , aku sudah cukup bahagia hanya hidup dengan Anzel ,


Nak , kalau memang pernikahanmu tidak membuat mu bahagia , ibu tidak memaksamu untuk meneruskan ...ucap Ibu pelan terlihat raut muka kecewa di wajahnya .

__ADS_1


Entahlah Bu, biar Nadia jalani dulu yaa . ujarku .


__ADS_2