
Tanpa melihat mereka lagi aku segera menjinjing tas berisi barang-barangku dan bergegas meninggalkan manusia penuh drama seperti mereka.
Aku berjalan ke depan , menunggu Taxi disana selama perjalanan hatiku berdebar tak karuan, mungkin ini terakhir kalinya aku akan melewati jalan ini.
Sore hari aku baru sampai dirumah Koh'Hasan Mami agak terkejut melihat aku membawa tas besar ,
Kamu habis pulang kerumah Nad ? Tanya Mami
Iya Mami , ada yang harus Nadia ambil Mam ini pun hanya membawa yang penting saja .jawabku .
Apa disana kamu ketemu dengan Hao ? Atau dia sedang di outlet ? ucap Mami Johana lagi.
Koh' Hao dan Calon Istrinya ada dirumah Mam ! Ucapku dengan kata penuh penekanan.
Mami Johana menghembuskan Nafasnya mendengar jawabanku , sebetulnya aku tidak tega mengatakan ini semua kepada Mami tapi beliau pun harus tau bagaimana kelakuan anaknya .
Wah , Luar biasa ya ? Betul-betul gak tau malu ! Sahut Cik' Paula
Bahkan dia sudah berani memakai baju aku Cik' !! Dengusku kesal
Sakit Jiwa memang !!! umpat Paula kesal mendengar cerita Nadia .
***
Pagi itu aku akan diantar oleh supir menuju stasiun , ya hari ini aku memutuskan untuk meninggalkan "Jakarta" dengan semua kenangan ya , entah kenapa aku merasa aku sudah tak akan lagi menjadi bagian dari keluarga ini .
Cik' Paula , Nadia pamit ya ? Terimakasih atas semua kebaikan Cici sekeluarga , semoga keluarga Cici selalu diberi keberkahan dan di selimuti kebahagiaan , Amin , Ucap ku tulus .
Sama-sama Nadia , kami harap apapun keputusan kamu setelah ini kamu tetap menganggap kami keluarga Nad , jawab Paula sambil memeluk Nadia erat .
__ADS_1
Aku lalu mendekati Mami yang dari tadi diam tak bergeming ,terlihat sekali kesedihan yang terpancar dari wajahnya , matanya terlihat bengkak menandakan ada tangisan panjang semalam .
Mami , Nadia pamit dulu ya ? Mami gak usah khawatir Nadia akan sering-sering kemari mengunjungi Mami. Dan sampai kapanpun Mami akan selalu berada di hati Nadia , Mami sehat-sehat ya ? Harus nurut sama Cik' Paula ,Oke ? Ujarku pelan lalu kupeluk Mami yang sudah menangis lagi seperti berat sekali melepas diriku .
Hati - hati ya Nadia ? Kabari Mami kalau udah sampai ? Ucap Mami Johana lemah kata-katanya seperti aku hanya akan pergi biasa aku paham betul dia berusaha menghibur dirinya .
Aku lalu menyalami Koh' Hasan yang tidak banyak berbicara hanya menepuk pundakku seakan memberi pesan padaku agar harus tetap kuat , lalu segera kupeluk Kivaro , Aveo dan Annava .
Lalu aku melangkahkan kaki menuju mobil ,setelah masuk mobil ak menoleh ke arah mereka salah satu dari sekian orang-orang baik yang ada dalam hidupku, aku tersenyum menatap mereka semua memperlihatkan kalau aku pasti kuat , mobil berjalan pelan air mataku menetes tak pernah aku sangka rumah tangga ku dengan Koh' Hao yang aku pikir sangat indah jadi " hancur berantakan " seperti ini.
Aku segera mengabari Nadine kalau hari ini aku pulang , dia agak keheranan karena belum lama ini aku pulang , tetapi aku masih belum menceritakan ada masalah ap aku disini,sedangkan Cik' Miranda aku hanya berpamitan melalui pesan yang aku kirimkan dan tidak dibalasnya , aku tau dia masih kecewa denganku karena menganggap aku lemah dalam hal ini.
***
"Lima jam telah berlalu"
Kereta yang aku naiki sudah mengabarkan kalau perjalanan sudah sampai di kota yang aku dituju . Aku bergegas turun karena kereta ini masih melanjutkan perjalanan ke kota-kota berikutnya .
Hore Mamah pulang lagi , Mamah pulang lagi ...sorak kebahagiaanya membuat air mataku kembali menetes , bagaimana nanti kalau dia tau Papahnya tak akan hadir lagi dalam kehidupannya.
Hallo sayang mamah ? kupeluk Anzel dan kucium dia berkali-kali, tubuhnya sudah semakin tinggi,
Mamah pulang sendiri ? Tanya nya polos
Iya sayang , Papah masih sibux ! Ucapku beralasan .
Papah sibux terus ya Mah ? Sampai lupa sama Anzel ? gerutunya
Aku hanya tersenyum menanggapi celotehnya ,masih terlalu cepat untuk menceritakan apa yang terjadi .
__ADS_1
Aku membonceng Nadine , entah kenapa ketika aku sampai di kota ini perasaanku seperti merasa nyaman sekali , segala perasaan tak enak kemarin sudah hilang semua ,mungkin karena aku dekat dengan belahan jiwaku.
Seperti biasa Ibu sudah menunggu didepan pintu selalu itu yang dia lakukan ketika aku pulang ,tidak sabar menungguku .
Aku turun langsung berlari menuju Ibu dan bersujud di depannya,lalu menangis dalam pelukannya, Ibu diam saja membiarkan aku larut dalam tangisanku sebagai seorang ibu pasti dia tau kalau anaknya sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja.
Sudah Nak ? ayo kita masuk kedalam , ajak Ibu
Nadine membawa Anzel yang sepertinya sudah mengantuk kedalam kamar, terdengar celotehnya yang ingin bersama aku tetapi Nadine menenangkan Anzel agar tidur dulu memberikan aku waktu dengan Ibu.
Kamu belum lama pulang nak ? Tumben sekali kamu sudah pulang lagi ?? Tanya Ibu sambil memberikan secangkir teh padaku
Kepulangan Nadia kali ini bukan tanpa alasan Bu, gumanku pelan .
Ada apa Nak ? Ceritakan pada Ibu , sahut Ibuku lembut
Koh' Hao menghamili karyawannya Bu , ucapku tercekat .
Ibu menghembuskan nafasnya, sekian menit kami sibuk dengan pikiran masing-masing, Ku lirik Ibu yang sepertinya sedang mencoba menenangkan hatinya.
Nadia ingin cerai Bu , memang Koh'Hao tidak menginginkan itu Bu tetapi Nadia tidak bisa hidup berbagi suami Bu .Nadia masih muda Bu , aku berkata lagi
Sebetulnya Ibu pun merasa kamu lebih baik bercerai dengan Hao, karena menurut Ibu selamanya dia tidak akan berubah ! sekarang ini satu persatu kata-kata pak Guan fa'i memang sudah mulai terbukti . ucap ibu pelan
Maafkan Nadia ya Bu ?
Ibu yang seharusnya meminta maaf Nad , seharusnya Ibu dulu tidak mendukung permintaan Juan Hao ! Saat ini Ibu merasa sangat berdosa pada cucu ibu , mungkin ini adalah karma atas segala yang diperbuat oleh kita Nad , ucap Ibu sambil menangis
Aku yang melihat Ibu menangis pun ikut meneteskan air mata , kenapa ini semua terjadi pada kami " Ya Allah"
__ADS_1
Ibu dan kakak harus kuat ! Kita hadapi semuanya , terutama kakak ingat kak ada Anzel yang butuh kakak ! saat ini kakak boleh bersedih, rapuh, dan tidak bersemangat tetapi Nadine mohon cepat kembalikan semangat kakak demi " Anzel "
Kata-kata Nadine bagaikan angin segar yang membangkitkan aku kembali dan mengingatkan bahwa aku sudah harus bisa berdiri sendiri dan menghilangkan segala perasaan gundah dalam hatiku demi buah hatiku " Anzel "