
David datang dengan wajah yang sangat kusut dan sepertinya habis terjadi sesuatu, terlihat dari sudut bibirnya yang berdarah. Juga kedua pipinya yang memerah.
"Loe kenapa Vid?" tanga Galang yang langsung membawa David untuk duduk disofa dan dia mengambil air es untuk mengompres lukanya.
"Gue nggak apa-apa. Gue baik-baik saja" jawab David yang mengusap sudut bibirnya yang pecah.
"Loe nggak mau cerita sama kita-kita Vid? Vid, kita ini sahabatmu sendiri dan kita sudah sama-sama sejak dulu hingga sekarang. Please, loe ceritakan semuanya. Dengan loe cerita, bisa meringankan beban loe. Itu bukan yang pernah loe katakan sama gue dulu? Kenapa ini nggak berlaku pada diri loe sendiri?" tanya Galang yang merasa sangat bingung dengan Diamnya David sekarang.
"Gue nggak apa-apa. Loe semua tidak perlu khawatir" ucap David yang mengalihkan pandangan nya sambil terus mengompres lukanya menggunakan air es.
BUK...
BRAK...
"Ini yang loe mau bukan? Ini yang loe inginkan, Hah!!" teriak Galang setelah memukul wajah David dan menendang meja hingga kacanya pecah. Lalu dia menarik kerah kemeja milik David.
"Apa yang ada dalam otak loe sebenarnya? apa loe tidak berfikir? Dengan sikap loe yang seperti ini bukan hnya menyiksa diri loe sendiri! Tapi kamu semua merasakan tersiksanya juga! Seharusnya sebelum loe melakukan itu berfikir dulu. Bukan asal mengambil tidakan!" teriak Galang sambil menghempaskan David hingga dia terjungkal dari sofa sampai dilantai.
"Sabar Lang. Gue tahu loe kecewa dan juga marah pada David, tapi bukan begini caranya. Kita bicarakan semuanya baik-baik dan dengan kepala dingin juga. Jangan tersulut emosi kek gini" ucap Bima yang memegang Galang supaya tidak kalap lagi untuk menghadiahkan bogeman mentahnya lagi pada David.
"Gue masih bisa sabar, loe berdua tenang saja. Gue hanya ingin menyadarkan dia yang menjadi b**o dan b*d*h seperti ini!" jawab Galang yang memang ingin menyadarkan David supaya dia tidak beranggapan jika dia sendirian disini. Masih ada mereka, para sahabatnya.
"Maaf, gue memang pantas mendapatkan semunya. Galang memang tidak salah, disini gue yang sengaja menutupi semuanya dari kalian semua. Sungguh, gue hanya ingin sendiri dan tidak mau membebani kalian semua" ucap David pada akhirnya pada ketiga sahabatnya.
"Kami semua bukan hanya sahabatmu saja Vid. Kita semua sudah seperti saudara, apa loe tidak merasakan itu semua? Kita sayang sama loe, kita ingin loe bisa membagi masalah loe pada kita. Bukan hanya kebahagiaan saja yang loe bagi pada kita-kita, kesedihan juga kita harus bisa berbagi satu sama lain. Sebelumnya loe yang sudah membantu Galang, bahkan sampe loe yang meyakinkan kedua orang tuanya juga. Apa lagi pada istrinya, loe kan tangan menjelaskan semuanya? Kenapa sekarang loe malah enggan untuk cerita pada kita?" tanya Ben yang berada didekatnya sedangkan Bima bersama dengan Galang.
"Maaf, gue nggak tahu harus memulainya dari mana? Karena gue bener-bener bingung juga sangat frustasi. Dimana nyokap gue sangat kecewa pada gue" ucap David yang menceritakan semuanya dari awal hingga akhir tanpa adanya yang dilebihkan atau dikurungi yang David ceritakan pada mereka bertiga.
"Jadi loe sekarang sedang berusaha membuat nyokap loe bisa percaya dan seperti biasa lagi?" tanya Ben pada David yang dijawab anggukan kepala oleh David.
"Lalu, loe sudah mendapatkan semunya? Jadi semuanya ini bukan karena hukuman dari nyokap loe? Ini karena gadis kecil itu?" tanya Ben yang sangat penasaran akan jawaban dari David.
"Iya, mana pernah gue seperti ini saat sedang dihukum? Yang ada gue nongkrong terus dengan klian bukan? Dan ini adalah masalah yang sangat serius. Makanya gue hanya bisa diam dan memikirkan apa yang akan gue lakukan, langkah apa yang akan gue ambil" jawab David yang membuat ketiga sahabatnya mengangguk mengiyakan ucapan dari David.
"Lalu, loe tadi habis dari mana? Kita-kita sampe panik dan berfikir jika loe akan berbuat nekad. Gue tahu, jika loe bisa melakukan apapun yang loe bisa. Tapi seharusnya loe bilang, setidaknya pada sekertaris atau asisten pribadi loe itu" ucap Galang yang menatap David dengan tatapan sinisnya.
"Tadi gue nyari bokap gue. Gue takut jika nanti dia malah bilang pada nyokap, kalo gue ilang atau apapun itu. Makanya gue langsung pergi untuk menemuinya, kebetulan juga Dava bareng dengan bokap gue. Jadi sekalian gue bilang padanya supaya tidak mengatakan apapun pada nyokap gue" jelas David pada mereka bertiga.
"Oke, kita semua percaya dengan apa yang loe jelaskan. Apa loe sudah bertemu lagi dengan gadis kecil itu?" tanya Bima yang penasaran dengan gadis cantik tapi berwajah datar.
"Tidak, gue mana tahu dimana dia tinggal. Yang ada gue juga malas jika bertemu lagi dengan dia, yang ada bukan memperbaiki masalah. Yang ada menambah masalah nantinya. Biarkan saja, yang pasti gue sedang berusaha membuat meyakinkan nyokap gue, itu saja buat gue sekarang" jawab David yang sok bijaksana akan semuanya.
__ADS_1
"Lalu kenapa wajah loe merah-merah dan sudut bibir loe pecah?" tanya Ben yang menunjuk wajah David.
"Gue bertemu dengan barisan mantan gue yang tidak terima gue putusin dalam waktu yang dekat dan itu hanya 40hari. Mereka kompak gebukin gue dan mukul gue pake high heels mereka yang runcing. Lalu ada yang mengenai bibir gue, dan sudah bisa ditebak bukan bagaimana kelanjutan nya?" jawab David dan dia bertanya juga pada ketiganya.
"Sial banget nasib loe. Sudah dihukum, belum dapet maaf. Malah dapetin hadiah manis dan kenangan-kenangan manis dari barisan mantan-mantan loe yang tidak terima loe putusin" ucap Ben yang malah menertawakan nasib David yang sangat malang.
"Sial*n loe. Malah ngata-ngatain gue lagi, mana gue tahu jika mereka nungguin gue keluar dari gedung ini. Mana sakit banget lagi, untung saja kagak ada yang bawa telor busuk. Bisa-bisa lebih hancur lagi bentukan gue" ucap David yang kesal karena ucapan Ben padanya barusan.
"Gue hanya ngasih tahu saja sih. Tapi ngomong-ngomong tuh bocah ingusan cakep kagak?" tanya Ben yang malah mengalihkan pembicaraan menjadi bertanya tentang Zahiya pada David.
"Kagak!!!" jawab David dengan ketus lalu dia beranjak dari sofa menuju kaca yang sangat lebar didalam ruangan kerjanya.
"Masa sih? Kagak percaya gue, kalo tuh cewek kagak cakep bisa loe dekat-dekat dengan nya? Gue yakin sih, jika tuh cewek tampilan nya spek bidadari. Iya kan?" tanya Ben dengan tatapan penuh selidik dan dia juga memicingkan matanya menatap David.
"Inget. Loe bentar lagi kawin, masih saja menanyakan cewek lain. Gue aduin sama calon bini loe baru tahu rasa!" ucap David yang menoyor kepala Ben hingga terhuyung.
"Aduin saja, gue kagak takut. Orang gue cuman nanya doang, dia pasti mengerti dengan apa yang gue katakan. Yang ada gue malah mau ngajakin loe pada taruhan. Jika si David bakalan jadian dan ngawinin tuh bocah gue bakalan kasih mobil kesayangan gue beserta apartment milik gue dipusat kota" ucap Ben dengan sesumbarnya mengatakan itu semua pada David dan kedua sahabatnya yang lain.
"Loe berdua bakalan ngasih apa jika sampe itu terjadi?" tanya Ben dengan sangat puas mengatakan nya dihadapan David.
"Gue juga mau ngasih mobil kesayangan gue yang dulu" ucap Bima yang tersenyum saat melihat wajah misuh-misuhnya David.
"Loe sendiri Lang?" tanya Ben pada Galang.
"Weissss, bravo... Ini lebih keren lagi dari taruhan yang gue berikan" ucap Ben yang bertepuk tangan heboh saat mendengar ucapan dari Galang.
"Ada apa sih, kelihatan nya seru banget? Apa gue ketinggalan info atau sesuatu yang sangat penting?" tanya Guntur yang baru datang dengan penampilan yang sudah segar dan berbeda dari sebelumnya yang kusut dan tidak bersemangat.
"Loe mau ikut taruhan dengan kita-kita nggak? Yang jadi barang taruhan adalah David Tomlinson sendiri" bukan menjawab pertanyaan dari Guntur. Ben malah bertanya perihal taruhannya dengan ketiga sahabatnya itu.
"Wah, taruhan seperti apa? Jika ini bagus kenapa gue tidak ikutan?" tanya Guntur lagi sambil menatap keempat sahabatnya dan dia menatap pada David yang misuh-misuh.
Benjamin menceritakan semuanya pada Guntur yang malah tertawa terbahak-bahak saat mendengar apa yang dikatakan oleh Ben padanya. Dia menatap David dengan tatapan mengejek dan juga senang akan nasib David jika benar-benar mereka berjodoh.
"Oke gue akan ikut taruhan. Gue mempertaruhkah dua mobil kesayangan gue beserta dua unit apartment dipusat kota dan itu bersebelahan dengan milik Ben yang dia taruhkan. Karena gue ingin melihat bagaimana nasib loe yang selalu bebas menjadi terkekang karena mendapatkan istri yang modelan seperti Queen Mafia's. Yang diam tapi misterius" ucap Guntur yang mengatakan semuanya tanpa beban.
"Bravo... Bravo... Ini yang dinamakan taruhan fantastis. Karena hanya Bima yang memberikan taruhan yang sangat sedikit" ucap Ben yang malah memanas-manasi keadaan.
"Memangnya apa yang dia pertaruhkan?" tanya Guntur yang menatap Ben penuh dengan tanya.
"Dia mempertaruhkan satu mobil kesayangan nya saja" bukan Ben yang menjawab. Melainkan Galang yang malah menyiram bensin diatas api.
__ADS_1
"Wah, parah nih sohib gue yang satu ini. Masa kagak ada yang bisa loe pertaruhkan selain mobil saja?" tanya Guntur yang memang selalu membuat suasana kian panas.
"Oke, gue tambah dengan villa gue yang ada dipuncak. Dan itu adalah salah satu dari dua villa yang ada disana. Terserah loe akan milih yang mana. Karena jika keduanya, bisa-bisa bini gue ngomel-ngomel kayak petasan banting" ucap Bima yang memang sama dengan mereka semua kekayaan nya.
"Loe pada ngomongin apa sih? Siapa juga yang mau dengan nya? Yang ada gue bisa mati berdiri jika benar-benar itu terjadi. Gue ogah!" tanya David dengan tatapan tajamnya dan tidak menyukai apa yang para sahabatnya katakan. Apa lagi saat membahas masalah Zahiya, dia bergidik ngeri sendiri mengingantnya.
"Kita do'akan saja supaya David bisa berjodoh dengan gadis itu. Siapa tahu yang dia katakan memang benar semuanya. Hahaha" ucap Guntur yang tertawa terbahak-bahak melihat David yang sangat kesal dan wajahnya terlihat sangat pucat pasi.
"Do'a loe pada kagak bakalan didengar oleh Allah. Mana ada do'a dari pria macem kalian semua didengarkan!" ucap David dengan sangat kesal sambil melemparkan bantal sofa pada ketiga sahabatnya itu.
"Semoga saja pas kami mengatakan itu semua adalah malaikat yang mencatatnya. Lalu Allah akan mengabulakan nya" ucap Galang yang menadahkan tangan nya dan mengusap wajahnya dengan telapak tangan nya seperti selesai berdo'a.
"AMIINN..." ucap ketiga sahabatnya yang lain mengaminkan ucapan dari Galang dan itu sukses membuat David semakin kesal dan bahkan ingin marah. Tapi bagaimana bisa diam marah pada sahabat-sahabatnya itu.
"Semoga saja tidak ya Allah. Karena hamba tidak akan kuat dan sanggup menghadapinya yang kaku setengah mampus" ucap David yang menadahkan tangan nya juga lalu mengusap wajahnya setelah mengucapkan itu.
"Semoga saja do'a loe kagak didengar. Karena kami lebih banyak dan biasanya yang lebih banyan akan lebih didengarkan, hahahaha" ucap Guntur yang tertawa sangat puas melihat wajah frustasi dari David.
"Serah loe pada. Gue empet dengerin ocehan loe pada. Gue mau balik kerja, loe semua balik sana. Kagak dibutuhin juga" ucap David yang mengusir sahabat-sahabatnya itu untuk segera pergi.
"Weissss, woles bro. Kita kemari hanya ingin membuat loe bisa bercerita pada kita-kita. Dan juga akan memberikan saran supaya loe bisa mendapatkan maaf juga kepercayaan dari nyokap loe" ucap Ben dengan sangat serius mengatakan nya.
"Katakan apa saran dari loe? Setelah itu loe semua balik, kagak mau gue deket-deket sama sahabat-sahabat luknut cem kalian semua" ucap David yang sok cuek. Padahal dalam hati dia sangat bahagia bisa memiliki sahabat-sahabat seperti mereka berempat.
"Oke, loe datang dan bawakan calon mantu nyokap loe dan bilang. Jika loe sudah berubah dan ingin segera menikah, dijamin seratus persen nyokap loe bakalan langsung maafin loe saat itu juga. Syukur-syukur cewek itu adalah cewek yang loe ceritakan tadi" ucap Ben yang langsung ngacir meninggalkan ruangan kerja David karena David pasti akan marah besar padanya.
"Hahahaha" disambut gelak tawa oleh ketiga sahabatnya yang lain. Yang juga ikut lari meniggalkan David yang misuh-misuh kepada mereka semua.
"Sial*n memang kalian semua. Sudah ngejek malah kabur" gerutu David yang mengejar mereka yang ternyata sudah masuk kedalam lift.
"Tapi sekarang rasanya beban dalam diri gue lenyap setelah bertemu dengan kalian semua. Thanks sobat, sudah mau ada disaat-saat gue sedang terpuruk seperti ini. Walau tingkah kalian dan ucapan kalian tidak sepantasnya gue dengar. Tapi setidaknya gue merasa lega dengan semua ini" gumam David yang menutup pintu ruangan kerjanya dan dia duduk menyandar dikursinya dengan membalikan tubuhnya menghadap kearah kaca berukuran besar tersebut.
David terus menatap kearah langit sore yang sangat indah, semburat jingga yang sangat bagus. Apa lagi dia sekarang sudah merasakan perasaan nya menjadi lebih baik dari sebelumnya. Sekarang dia hanya harus memikirkan cara meminta maaf dan membuat kepercayaan Mama Lulu kembali lagi untuknya.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya untuk like, komen, vote dan hadiahnya setelah membaca dengan benar-benar teliti.
__ADS_1
Juga rate ⭐️5nya juga ya....
Terimakasih and happy reading... 🤗🤗🤗🤗