Pelabuhan Hati Si Playboy Karatan

Pelabuhan Hati Si Playboy Karatan
Bab 48. Ez sedih???


__ADS_3

"Bagaimana keadaan nya uncle?" tanya Zahiya yang menatap David masih belum sadarkan diri dan menatap Aaron.


"Tuan baik-baik saja Queen, hanya syok saja dan juga phobianya belum pulih sepenuhnya. Kita hanya harus bisa menekan kan rasa takutnya menjadi rasa biasa dan tidak berlebihan" jawab Aaron yang mengatakan nya dengan perlahan dan dia selesai mengganti perban dan membereskan alat medisnya.


"Tapi kenapa belum bangun juga?" tanya Zahiya lagi yang menatap kearah David yang masih belum sadarkan diri juga.


"Sebentar lagi Tuan akan bangun, tunggu saja Queen. Kalau begitu saya permisi dulu" ucap Aaron yang akan pergi dari sana meninggalkan pasangan pengantin baru itu.


"Terimakasih uncle" ucap Zahiya yang menatap kearah Aaron dan mengucapkan terimakasih padanya.


"Sama-sama Queen, karena ini memang sudah tugas saya" ucap Aaron yang langpergi dari sana.


"Hubby, sudah bangun? Apa menginginginkan sesuatu?" tanya Zahiya saat melihat David sudah membuka matanya.


"Tidak, aku tidak ingin apa-apa. Tidurlah kamu pasti juga sangat lelah, sini" ucap David yang menggeser tubuhnya supaya Zahiya bisa berbaring disampingnya.


"By, maafkan aku, aku sudah membuat Hubby terluka dan membuat Hubby tidak bisa melakukan apa-apa. Maafkan aku" ucap Zahiya yang memeluk tubuh David dan menelusupkan wajahnya kedalam dada bidang David.


"Tidak apa-apa, aku justru senang bisa melakukan ini semua untuk kamu. Tapi, ya... Aku akan berpuasa dulu selama aku menyembuhkan lukanya" jawab David yang menciumi pucuk kepala istrinya dengan mesra.


"Hubby kenapa langsung pingsan setelah melihat darah? Sebelum ini bahkan tangan Hubby dipenuhi oleh darah tidak pingsan? Lalu kenapa tadi malah pingsan?" tanya Zahiya yang mendongakan kepalanya menatap wajah David.


"Tidak tahu, saat mendengar kamu mengatakan darah dan melihatnya. Kepala sama mataku rasanya berat dan tidak bisa mengingat lagi" jawab David yang juga bingung, kenapa dia sampai seperti itu. Sedangkan sebelumnya tidak apa-apa.


"Hubby harus bisa menekan rasa takut dan juga mualnya. Supaya phobia Hubby segera sembuh" ucap Zahiya yang langsung diangguki oleh David.


"Sekarang kita tidur saja. Jangan biarkan dia bngung lagi, bisa bahaya nanti" ucap David yang mengecup kening Zahiya lalu mereka menyatukan keningnya dan terlelap bersama.


.


Sedangkan dirumah Papa Devon dan Mama Lulu sedang bermain dengan Alvarez. Anak itu selalu berlarian kesana kemari seperti bola. Apa lagi tubuhnya yang bulat membuat semua orang gemas melihatnya.


"Boy, jangan berlari-larian seperti itu, nanti jatuh" ucap Papa Devon yang meminta Alvarez tidak berlarian.


"Apa tidak lelah berlarian sejak tadi hmm?" tanya Papa Devon yang menatap pada Alvarez.


"Tidak Pa, Ez masih ingin bermain dan tidak lelah" jawab Alvarez yang memang memanggil Papa Devon dengan sebutan sama seperti David yang memanggilnya Papa.


"Emm, baiklah. Papa dan Mama akan menemani disini sampai kamu mengantuk" ucap Papa Devon lagi. Sedangkan Mama Lulu hanya tersenyum melihat dua pria beda usia itu. Hingga sudah malam pun Alvarez sepertinya tidak merasa lelah apa lagi mengantuk.


"Apa tidak mengantuk?" tanya Papa Devon yang sudah berlutut dihadapan Alvarez.


"Emm, belum Pa" jawab Alvarez menggeleng lalu dia berlari lagi sambil bermain robot.


Alvarez meletakan robotnya lalu mengambil iPad yang diberikan oleh Zahiya. Dia menunduk sedih, dan itu tidak luput dari pandangan Mama Lulu dan Papa Devon. Mereka berdua merasa bersalah pada anak kecil itu. Disaat dia sedang sangat membutuhkan kasih sayang dari mereka, mereka malah berbulan madu. Mama Lulu yang meminta mereka pergi honey moon merasa sangat bersalah. Lalu saling tatap dengan Papa Devon.


"Mas, kamu bicara dengan nya. Suruh diatudur sekarang, kasihan dia jika seperti itu" ucap Mama Lulu yang menatap Papa Devon.


"Iya sayang" jawab Papa Devon yang langsung menghampiri Alvarez yang masih menunduk sedih.


"Boy, kenapa sedih? Apa ada yang sakit? Atau menginginkan sesuatu?" tanya Papa Devon yang pura-pura tidak tahu apa yang terjadi pada Alvarez.


"Pipi, Mimi" jawabnya yang semakin menundukan kepalanya tidak mau menatap kearah Papa Devon.


"Mereka pasti akan segera kembali. Jangan memikirkan yang tidak-tidak, apa mau bobok Papa dan Mama temani?" tanya Papa Devon yang langsung mendapatkan gelengan kepala dari Alvarez.


"Baiklah, Papa dan Mama sudah mengantuk. Jangan terlalu malam bobok nya ya? Sekarang ditemani oleh kakak Leo saja main nya. Oke" ucap Papa Devon yang mendekati lalu berjongkok dihadapan Alvarez yang berdiri menatap Papa Devon.


"Emm" jawabnya mengangguk.


"Good night boy" ucap Papa Devon dan Mama Lulu sambil mencium pipi Alvarez bergantian.

__ADS_1


"Good night Papa, Mama" Alvarez juga melakukan hal yang sama dengan Mama Lulu juga Papa Devon.


"Kak, apa Mimi dan Pipi tidak akan pulang? Apa Mimi dan Pipi sudah melupakan aku?" tanya Alvarez yang menatap kearah iPad yang sedang dia pegang dan memperlihatkan foto dirinya dan kedua orang yang dia rindukan.


"Tuan Muda tahu bukan jika Mimi Tuan Muda pasti sedang melakukan pekerjaan yang seperti biasa. Dan bukan berarti tidak sayang apa lagi melupakan Tuan Muda. Sebaiknya Tuan Muda sekarang tidur saja, mungkin besok pagi Mimi dan Pipi akan segera kembali. Seperti biasanya yang akan ada disamping Tuan Muda" ucap Leo yang sebenarnya bingung harus mengatakan apa pada anak asunya yang sangat pintar ini.


'Maafkan kakak Tuan Muda. Kakak tidak tahu harus mengatakan apa selain alasan itu. Apa lagi Tuan David sedang terluka, mana mungkin saya mengatakan yang sebenarnya pada anda' ucap Leonard dalam hati yang melihat Alvarez hanya menunduk sedih saat Leonard mengatakan itu padanya.


"Apa mau tidur sekarang atau bagaimana?" tanya Leonard yang menggendong Alvarez.


"Bobok dikamar Pipi" jawab Alvarez memeluk leher Leonard yang menggendongnya menuju lantai dua. Diamana kamar David berada.


"Tidurlah, nanti Mimi dan Pipi pasti akan segera kembali" ucap Leonard yang menidurkan Alvarez. Sebelum dia juga pergi dari sana.


Keesokan harinya Alvarez sudah sangat semangat untuk melihat kedua orang tuanya. Tapi saat selesai sarapan bersama, dia tidak melihat adanya mereka berdua adalah disana. Termasuk Safia yang sengaja pagi-pagi sekali kesana untuk menghibur Alvarez yang sedang bersedih dan murung.


"Boy, apa kamu tidak menginginkan sesuatu dari uncle? Uncle memiliki sesuatu untuk kamu. Tara.... Apa kamu menyukainya?" tanya Dava yang mengeluarkan robot keluaran terbaru dan itu juga sama dengan milik anak-anaknya.


"Kenapa cuman diam? Ambil lah, apa kamu tidak menyukainya? Bukankah kamu sangat menyukai robot?" tanya Dava yang menatap Alvarez hanya diam saja dan tidak menerima pemberian darinya.


"Thank you uncle, Ez menyukainya" ucap Alvarez yang menerimanya dengan lesu dan tidak bersemangat seperti biasanya.


"You're welcome boy" ucap Dava yang mengusap kepala Alvarez Daly dia duduk disamping Alvarez untuk bermain dengan nya.


"Kenapa masih murung juga? Apa mau auntie ajak kesuatu tempat dulu?" tanya Safia yang menghampirinya juga untuk menghibur anak berusia satu tahun lebih itu.


"No, auntie. Ez, hanya ingin Mimi and Pipi" jawabnya yang langsung meninggalkan ruangan keluarga menuju halaman depan dengan diikuti oleh Leonard dibelakangnya.


Saat sudah sampai diteras ternyata Zahiya dan David baru turun dari mobilnya. Melihat itu Alvarez langsung berlari menghampiri keduanya dan memeluk David yang sudah berjongkok menyambut Alvarez berlari kearahnya.


"Pipi dari mana, kenapa baru pulang dan ini kenapa?" tanya Alvarez saat memeluk leher David dia melihat ada perban yang terlihat dibalik baju yang David gunakan.


"Pipi tidak apa-apa, hanya sedikit terluka saja. Jagoan Pipi kenapa murung seperti ini? Apa ada yang mengganggu mu? Atau ada yang sakit? Katakan pada Pipi" jawab David yang menatap wajah Alvarez murung dan menangis saat memeluknya.


"Jadi sekarang Mimi dilupakan? Baiklah, Mimi akan pergi lagi dan mungkin akan sangat lama kembalinya" ucap Zahiya melihat Alvarez tidak mengatakan merindukan nya atau sedih dia tinggalkan atau membuat drama saat dia datang.


"No, Ez juga merindukan Mimi. Mimi dan Pipi jangan pergi-pergi lagi, Ez sedih" ucap Alvarez yang membuat Zahiya dan David saling pandang dan mereka mengatakan nya dengan kompak.


"Ez sedih? Kenapa?" tanya David dan Zahiya bersama-sama.


"Emm, Mimi dan Pipi lama kembalinya" jawab Alvarez yang mengangguk dan sekarang memeluk Zahiya dengan sangat erat.


"Oke boy, kita masuk. Kasihan Pipi sedang sakit, oke" ucap Zahiya yang mengajak Alvarez untuk masuk.


Alvarez dengan semangat ikut masuk juga bersama dengan Zahiya dan David. Mereka mengucapkan salam bersama lalu mendapatkan sambutan yang sangat meriah oleh semuanya orang yang ada Disna. Alvarez tidak mau lepas dari tangan Zahiya dan David, mereka hanya menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah Alvarez yang sangat menggemaskan.


"Kalian kenapa cepat pulang? Bukankah masih lama?" tanya Mama Lulu yang menatap David dan Zahiya bergantian.


"Kami merindukan jagoan kecilnya ini. Lagian tanpa honey moon juga kami akan tetap melakukan nya bukan?" jawab David yang langsung mendapatkan pelototan tajam dari Zahiya saat mengatakan kata-kata yang prontal dihadapan kedua orang tuanya dan juga ada anak-anak disana.


"Inilah keturunan Devon Tomlinson yang sesungguhnya" ucap Mama Lulu yang langsung masuk kedalam ruangan keluarga.


"By, setidaknya tidak mengatakan seprontal itu pada Mama. Aku merasa tidak enak pada beliau" ucap Zahiya sambil berbisik ditelinga David.


Alvarez yang tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh orang dewasa didekatnya hanya bisa menatap keduanya bergantian sambil mendongakan kepalanya kearah David dan Zahiya.


"Maaf baby, sebaiknya kita masuk saja kedalam. Aku rasanya lemas sekali" ucap David yang mengalihakan pembicaraan mereka berdua. Dijawab anggukan oleh Zahiya dan mereka bertiga menuji lantai dua.


Sedangkan keluarganya yang lain melihat ada yang berbeda dari David, apa lagi wajahnya yang terlihat sedikit pucat. Fikiran mereka langsung bertraveling kemana-mana, apa lagi mereka para orang dewasa sudah berpengalaman dalam hal yang iya-iya.


"Kamu kenapa Dav? Kenapa senyum-senyum sendiri kayak orang waras?" tanya Safia yang menatap lekat pada Dava.

__ADS_1


"Ah enggak kak, hanya sedng berfikir saja. Apa seganas itu kakak ipar, sampe-sampe membuat kak David lemas seperti itu. Hahahaha" jawab Dava yang mendapatkan lemparan bantal sofa oleh Safia.


"Mungkin saja David memang sedang tidak enak badan. Makanya lemas seperti itu, jangan kotor Dav fikiran kamu itu" ucap Mama Lulu yang menggelengkan kepalanya tidak habis fikir dengan tingkah kedua putranya tidak ada yang benar satupun.


"Iya, karena kebanyakan gempur kakak ipar. Makanya tidak enak badan, apa kalian semua tidak melihat ada merah-merah dileher kak David. Ya mungkin hanya mataku saja yang melihatnya, hihihi" ucap Dava yang mengatakan nya sambil tersenyum cengengesan sendiri.


"Sonya, suami kamu sepertinya membutuhkan psikiater. Otaknya itu mungkin ada yang geser" ucap Safia yang mengatakan nya pada Sonya, istri Dava yang hanya bisa menggeleng dan menepuk keningnya saja.


"Bisa jadi memang seperti itu kak, aku saja sampai bingung, perasaan dulu saat kamu sedang pacaran dan masih baru menikah. Dia biasa-biasa saja, kenapa sekarang menjadi seperti ini?" ucap Sonya yang membenarkan ucapan dari Safia, kakak iparnya.


"Sayang, aku ini baik-baik saja dan masih waras-waras saja. Kenapa juga kamu malah membenarkan ucapan kakak yang luknut itu" protes Dava yang tidak terima saat dikatakai orang waras oleh Safia.


"Hey bambank, siapa yang bilang kau tidak waras? Bukankan kakak bilang kau ini waras dan mungkin otak kamu yang geser. Dasar aneh kamu" ucap Safia yang melemparkan bantal sofa kearah Dava.


"Iya juga" ucap Dava yang menggaruk tengkuknya sendiri lalu cengengesan tidak jelas.


"Ya Allah, kenapa Engkau memberikan cobaan dengan memberikan putra sepertinya" ucap Mama Lulu yang pura-pura mengeluh akan kelakuan Dava.


"Mama tega banget sih Ma, masa Mama menyesal memiliki putra setampan aku ini" ucap Dava yang memperlihatkan senyuman termanisnya dan juga puppy eyes miliknya itu.


"Oek... Kenapa mendadak aku mual ya Ma?" tanya Safia yang pura-pura ingin muntah.


"Jangankan kamu kak, Mama juga rasanya sangat mual sekali" ucap Mama Lulu yang langsung disambut gelak tawa oleh semuanya, terkecuali Dava tentunya yang misuh-misuh karena dinistakan oleh Mama dan kakaknya.


"Sabar Dav, karena mereka tidak bisa saja melihat orang ganteng berbicara. Makanya seperti itu" bela Papa Devon yang langsung disambut tos ria oleh Dava.


"Kalian memang sama saja, Papa dan anak yang sama-sama konyol" ucap Mama Lulu yang menatap jengah pada keduanya.


Tiba-tiba langsung diam saat melihat Zahiya menghampiri mereka semua. Mereka saling tatap dengan penampilan Zahiya yang sangat feminim, tapi wajahnya sangat datar dan tanpa ekspresi sedikit pun juga.


"Ma, maaf mengganggu. Apa Mama memiliki baby oil? Aku lupa tidak membawanya dimainson" tanya Zahiya yang biasa saja tapi tetap saja wajahnya itu tanpa ekspresi.


"Mama tidak punya Za, memangnya untuk apa?" jawab Mama Lulu dan Mama Lulu bertanya kembali pada Zahiya.


"Varez sedang gatal-gatal, dan biasanya dia akan menggunakan itu reda. Ya sudah jika Mama tidak punya" ucap Zahiya yang akan pergi dari sana tapi tidak jadi karena Mama Lulu bertanya lagi.


"Tunggu dulu Za, mungkin saja Sonya dan Safia memilikinya" ucap Mama Lulu yang menahan Zahiya.


"Kak, Sonya apa kalian punya?" tanya Mama Lulu yang langsung mendapatkan gelengan dari kedua anak-anaknya itu. Mereka semua terkesima akan sikap Zahiya yang dingin dan wajah yang tanpa ekspresi apapun itu.


"Aduh, gimana ini? Yang sudah biar Dava yang belikan ya" ucap Mama Lulu yang mulai panik karena mereka tidak memiliki apa yang dibutuhkan oleh Zahiya.


"Tidak apa-apa Ma, biar aku sendiri yang membelinya" jawab Zahiya yang langsung pamit pada semua orang yang ada disana.


"Ma, kenapa wajah sama tapi sikap mereka berdua sangat jauh berbeda?" tanya Safia yang masih menatap punggung Zahiya.


"Mama juga tidak tahu, yang ini sangat mirip dengan Ayah nya, sedangkan Zaniya sangat mirip dengan Azalya yang banyak bicara dan tidak bisa diam. Zahiya sangat sulit ditebak" jawab Mama Lulu yang sedikit banyak sudah bisa membedakan antara Zahiya dan Zaniya.



Tak kasih visualnya Dava yang tidak berbeda jauh konyolnya dengan David.....


.


.


.


Maafkan Othor yang baru bisa up... Karena selain Othor sedang sakit, terkendala oleh HP yang tiba-tiba eror dan semua tulisan Othor hilangπŸ˜–πŸ˜–πŸ˜– terpaksa Othor ketik kembali dan ini bisa up...


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya untuk like, komen, vote dan hadiahnya. Yang belum subscribe, langsung subscribe ya...

__ADS_1


Bintangnya juga jangan sampe lupa yaπŸ˜‰


Thanks and happy reading...πŸ€—πŸ€—πŸ€—


__ADS_2