
Bagi seorang Ibu manapun akan tetap sama, walau mereka sudah dewasa dan memiliki keluarganya sendiri. Begitu juga dengan Mama Lulu melakukan hal yang sama dengan para Ibu lainnya.
Mama Lulu memasuki kamar David, karena ini sudah waktunya untuk makan siang. Jadi Mama Lulu membawakan makan siang untuk David dengan berbagai makanan kesukaan David ditangan nya.
"Eh, sudah bangun rupanya?" tanya Mama Lulu yang melihat David sudah duduk dan memainkan ponselnya.
"Seperti yang Mama lihat" jawab David yang masih memainkan ponselnya.
"Makan dulu, supaya ada tenaga" ucap Mama Lulu yang meletakan makanan nya diatas nakas.
"Kenapa Mama harus membawakan nya kemari? David kan bisa turun kebawah langsung ma" tanya David yang menanyakan itu pada Mama Lulu.
"Mama kemari supaya kamu bisa cepat makan dan minum obat. Jika turun kebawah maka kamu akan lama dan tidak langsung minum obat" ucap Mama Lulu yang menyerahkan makanan nya pada David.
"Makasih Ma, ini sangat enak sekali" ucap David yang berterimakasih pada Mama Lulu.
"Sama-sama, pelan-pelan saja malam nya. Nggak akan ada yang minta, Mama sudah makan" ucap Mama Lulu yang melihat David makan dengan sangat cepat dan lahap.
"Maaf Ma, habisnya ini sangatlah enak" jawab David setelah menelan makanan nya.
"Pelan-pelan saja, setelah habis langsung minum obat. Jangan nanti-nanti" ucap Mama Lulu memperingatkan David segera meminum obatnya.
"Iya Ma, makasih" ucap David yang melihat Mama Lulu akan keluar dari kamarnya.
"Iya, habiskan lah makanan nya. Dan sekarang minum obatnya dulu, lalu istirahat kembali" ucap Mama Lulu yang membetulkan letak selimut pada tubuh David.
"Ma, boleh kan David ikut nanti sore dengan Mama? David bosan jika harus dirumah terus dan tidak ada teman" ucap David meminta persetujuan dari Mama Lulu.
"Iya, sekarang diam dan tutup mata kamu. Lalu tidur, jangan banyak bicara lagi" ucap Mama Lulu yang meminta David untuk tidur.
"Iya Mama sayang cantik dan baik hati" jawab David yang mencoba memejamkan matanya.
David melakukan apa yang dikatakan oleh Mama Lulu. Dia makan perlahan lalu segera minum obatnya. Sedangkan Mama Lulu langsung menutup pintu kamar David dengan tersenyum-senyum sendiri.
"Mama kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Safia yang melihat Mama Lulu senyum-senyum sendiri itu.
"Mama tidak apa-apa, hanya sedang senang saja" jawab Mama Lulu sambil tersenyum.
"Mama senang karena apa? Apa Papa baru membelikan Mama berlian lagi?" tanya Safia dengan tatapan menyelidiknya.
"Tentu saja tidak. Mama melihat David sangat lahap memakan semua makanan yang Mama berikan padanya dan langsung habis" jawab Mama Lulu yang masih tersenyum.
"Dia memang seperti itu Ma, sejak dulu. Mau bagaimana pun juga dia akan dengan mudah mengenali masakan Mama. Walau dia dikasih masakan koki bintang 5 juga akan mengenali jika itu bukan masakan yang Mama buat" ucap Safia yang mengatakan semuanya itu dengan benar.
"Dia memang seperti itu, walau menyukainya juga masakan orang lain. Tetap saja masakan Mama yang dia cari jika sedang ada dirumah" ucap Mama Lulu yang membenarkan ucapan dari Safia.
"Iya sayang, karena bagi anak-anak dan suami. Masakan Ibunda akan sangat enak dan juga berbeda dari masakan yang lainnya. Karena kami para Ibu memasaknya dengan penuh cinta dan ketulusan didalamnya. Jadi, seperti apapun akan terasa enak. Walau hanya memasak tumis kangkung" jawab Mama Lulu yang membuat Safia mengangguk setuju dengan ucapan Mama Lulu.
Mereka akhirnya malah mengobrol bersama dan Sonya juga ikut bergabung dengan mereka berdua. Hingga mereka semua tidak terasa menghabisakan waktu cukup lama hingga hari menjelang sore.
"Tidak terasa, kita ngobrol lama juga. Lebih baik sekarang kita bersiap untuk pergi kerumahnya Azalya" ucap Mama Lulu yang memberitahu pada dua putrinya.
"Iya Ma, kami akan segera bersiap" jawab Safia dan Sonya yang langsung beranjak dari duduknya menuju kamar mereka masing-masing.
"Kalian sudah siap?" tanya Mama Lulu saat melihat Safia dan Sonya sudah bersiap dengan gaun tertutupnya dan itu terlihat sangat manis untuk dua bumil muda tersebut.
"Seperti yang Mama lihat. Tinggal para pria saja yang belum siap" jawab Safia yang tersenyum pada Mama Lulu.
__ADS_1
Lalu Dimas dan putranya menyusul semua orang yang ada disana. Mereka terlihat sangat kompak dengan kemeja yang warnanya senada dengan gaun yang digunakan oleh Safia.
"Nah itu mas Dava dan Mas David" ucap Sonya yang melihat Dava keluar dari kamar dan David sedang menuruni anak tangga.
"Tinggal Papa saja yang belum selesai juga" ucap Safia yang melihat kearah Mama Lulu yang menghela nafasnya saja.
"Nah, itu Papa" tunjuk Dava yang melihat Papa Devon barusan keluar dari kamar dan dengan penampilan yang seperti biasa.
"Kenapa Papa lama sekali bersiapnya? Padahal penampilan nya biasa-biasa saja dan tidak ada yang berubah" tanya David yang melihat penampilan Papa Devon dan malah terlihat sangat lesu.
"Papa sejak tadi bukan bersiapnya lama. Perut Papa terasa mulas dan juga bolak balik kamar mandi terus. Makanya lama Papa lama, jika bersiap Papa yang paling cepat dari kalian berdua" jawab Papa Devon yang menjelaskan apa yang dia alami tadi didalam kamar.
"Ya sudah, apa Papa sudah baik-baik saja?" tanya Mama Lulu yang melihat Papa Devon sudah mulai lebih baik.
"Alhamdulilah, sudah jauh lebih baik. Papa tadi habis minum obat juga" jawab Papa Devon yang merangkul Mama Lulu.
"Sudahlah Pa, jangan mulai. Lebih baik kita segera pergi saja dari pada kalian berdua mesra-mesraan kayak gitu. Bikin mual saja" ucap David yang menatap sebal pada Papa Devon.
"Iri? Bilang dek. Makanya punya pasangan, sendal saja ada pasangan nya. Masa kamu nggak" ucap Papa Devon yang malah menjulurkan lidahnya meledek David.
"Sudah, jangan mulai. Lebih baik kita berangkat sekarang" ucap Mama Lulu yang melerai anak dan suaminya berdebat lebih panjang lagi.
"Iya Ibunda ratu kami siap dan akan menurut" jawab David yang membuat Mama Lulu dan yang lainnya hanya diam saja. Karena hanya David yang berani mengatakan seperti itu pada Mama Lulu.
Mereka semua masuk kedalam mobil. Dan lebih tepatnya mereka menggunakan dua mobil, dengan Dimas dan Dava yang menjadi supir mereka.
David satu mobil dengan Safia dan keluarganya. Sedangkan Dava membawa Mama Lulu dan Papa Devon juga anak istrinya. Mereka semua sudah sampai didepan mainson yang sangat besar dan juga sangat mewah terlihat dari luar dan apa lagi bagian dalamnya?.
Ternyata kedatangan mereka disambut langsung oleh Mama Soraya dan Azalya yang ada diluar untuk menyambut.
"Assalamualaikum" ucap Mama Lulu dan yang lainnya saat akan memasuki mainson dan berpapasan dengan pemiliknya.
"Mana mungkin kami tidak datang, sudah diunang secara langsung oleh pemilik acara masa tidak datang" jawab Mama Lulu yang memeluk Mama Soraya dengan penuh kerinduan.
"Yuk masuk semua, auntie Rina juga sudah ada didalam" ucap Azalya yang meminta semua orang masuk dan mengobrol bersama.
"David malah duduk sendiri disana, kenapa?" tanya Azalya yang menatap kearah David yang menyendiri.
"Aku lebih suka disini saja, ini terlihat sangat bagus" jawab David yang melihat sekeliling taman samping yang sangat luas dan juga bagus.
"Oh, baiklah. Jika butuh sesuatu tinggal minta saja sama pelayan disini" ucap Azalya yang mengatakan nya dengan sangat ramah pada David.
"Pasti, terimakasih atas sambutan dan kebaikan kamu" ucap David yang dijawab senyuman tipis oleh Azalya.
Sedangkan ditempat yang tidak jauh dari sana ada seseorang yang sedang memperhatikan mereka berdua dengan tatapan yang sulit diartikan. Siapa lagi jika bukan Zayn yang merasa cemburu akan kedekatan istrinya dengan wanita lain.
"Bisakah jangan terlalu banyak tersenyum untuk laki-laki lain" ucap Zayn saat Azalya berjalan mendekat kearahnya dan Zayn menariknya menuju tempat yang sepi.
"Aku hanya tersenyum pada tamu, dan dia bukan siapa-siapa. Dia itu adalah teman ku juga, jadi jangan cemburu dulu" ucap Azalya yang mengalungkan tangan nya dileher kokoh Zayn.
"Tetap saja aku tidak menyukainya" ucap Zayn yang mengatakan nya dengan mendekatkan wajahnya pada wajah Azalya.
"Sudah, jangan diteruskan lagi. Sekarang sedang banyak tamu dan juga akan ada acara penting untuk putri kita" ucap Azalya yang melepasakan rangkulan nya dan dia mengajak Zayn untuk bergabung dengan yang lainnya.
Sedangkan dibalkon kamar, seorang gadis cantik sedang memperhatikan seorang pria yang sudah tidak muda lagi itu duduk disana menyendiri dan tidak seperti sebelumnya mereka bertemu yang mana dia lebih suka mendekati para wanita dan merayunya.
"Kenapa dia juga ada disini? Apa Mommy mengundangnya juga?" gumam gadis cantik tersebut pada dirinya sendiri. Siapa lagi jika bukan Zahiya yang sedang memperhatikan David yang memang sedikit berbeda.
__ADS_1
"Kenapa gue malah berada disini dan sendirian? kenapa juga gue malah lebih suka tempat seperti ini? Aaa, lama-lama gue bisa benar-benar gila" gumamnya sambil menundukan kepalanya dan dia menutup wajahnya menggunakan telapak tangan nya.
"Jika gue bergabung, yang ada akan ada masalah dengan luka gue. Apa lagi jika bertemu dengan Ara, bisa-bisa gue bukan masuk rumah sakit jiwa lagi. Melainkan masuk kedalam ICU" gumamnya lagi yang malah memainkan ponselnya dan dia tidak menghiraukan semua orang yang sudah berkumpul dan bercengkrama.
Zahiya terus menatapi pria tersebut dan malah melihat ada yang aneh dengan wajahnya yang memang masih terlihat pucat. Tapi dia sedikit lebih tenang saat disana ada seseorang yang menemaninya juga. Siapa lagi jika bukan uncle Alkana, kakak dari Azalya.
"Kenapa malah sendiri disini dan tidak bergabung dengan yang lain?" tanya Alkan yang menatap kearah David.
"Tidak apa-apa, hanya ingin sendiri saja" jawab David dengan sedikit menghela nafasnya.
"Bagaimana keadaan anda? Saya dengar anda baru pulang dari rumah sakit? Maaf, saya tidak bisa menjenguk anda dirumah sakit atau dirumah" ucap Alkana sambil bertanya lagi pada David yang masih menatap lurus kedepan.
"Alhamdulilah, seperti yang anda lihat sekarang. Saya sedang masa pemulihan saja. Tidak masalah, saya tahu jika anda sangat sibuk dan juga tidak ada waktu. Jadi saya mengerti akan hal itu" jawab David yang tersenyum pada Alkana.
"Syukurlah jika anda sudah baik-baik saja. Kenapa malah tidak istirahat saja dirumah? Disini mungkin anda tidak akan merasa nyaman, terlebih ini adalah acara yang lumayan besar juga. Apa anda yakin, anda baik-baik saja?" tanya Alkana yang melihat wajah David sedikit pucat dan terlihat sangat lemas.
"Saya baik-baik saja. Jika dirumah saya jenuh karena sendiri, disini bisa melihat orang-orang yang sedang berkumpul dan berbicara bisa membuat saya lebih baik dan tidak jenuh juga bosan" jawab David yang memaksakan dirinya untuk tersenyum.
Tidak lama kemudian Zaniya turun dengan penampilan yang sangat cantik dan juga elegant. David menyangka jika dia adalah Zahiya dan menatap nanar padanya.
"Calon nya sudah datang. Mau ikut bergabung?" tanya Alkana yang membuyarkan lamunan David.
"Oh, silahkan saja duluan. Nani saya menyusul" jawab David yang menetralkan perasaan nya yang tidak karuan.
"Baiklah, saya duluan kesana. Silahkan nikmati pestanya" ucap Alkana yang pamit untuk menghampiri keluarganya.
David hanya tersenyum dan diam saja. Dia tidak ingin mengatakan apa-apa saat Alkana pergi dia hanya tersenyum getir dan ada rasa sesak didalam dadanya. Entah perasaan seperti apa yang sedang dia rasakan sekarang.
'Ada apa dengan gue? Kenapa gue merasa sesak dalam dadanya gue melihatnya bersanding dengan pria lain? Apa mungkin gue menyukai gadis kaku dan dingin itu? Ah, tidak, tidak. Mana mungkin gue memiliki perasaan seperti itu, tidak mungkin' gumamnya dalam hati tapi perasaan nya sungguh tidak karuan.
(Jika mau tahu tentang pertunangan Zaniya silahkan baca MR. Z CEO OF THE MAFIA)
'Sebaiknya gue pergi saja dari sini dan tidak melihat semuanya' gumamnya lagi yang langsung beranjak dari duduknya untuk segera pergi dari mainson Zayn.
Diperjalanan dia berhenti untuk melakukan sesuatu yang tidak pernah dia lakukan selama ini. Mungkin terakhir kalinya dia menginjakan kakinya didalam rumah Allah ini adalah beberapa tahun yang lalu atau lebih tepatnya belasan tahun yang lalu. Karena dia tidak pernah ke masjid.
"Kenapa kalian girl melangkah kemari? Apa yang akan gue lakukan disini? Apa gue yakin jika gue bener-bener bakalan tobat dan kagak ngelakuin kesalahan yang sama lagi?" gumamnya sendiri yang merasakan perasaan nya sedang berperang melawan diri sendiri.
"Apa mungkin gue masih diterima dan diampuni dosa-dosa gue? Gue sungguh malu, apa lagi harus menginjakan kaki disini" ucapnya yang maju mundur tidak karuan. Dia perang batin, bahkan tubuhnya sangat ingin masuk kedalam masjid. Tapi batin nya merasa tidak pantas dan sangat berat untuk melakukan nya.
"Kenapa kagak jadi bang?" tanya seorang pemuda yang mungkin seusia dengan ponakan nya.
"Ah, tidak saya... Saya tidak apa-apa" jawab David dengan gugup dan berkeringat dingin.
"Jika abang masih ragu, sebaiknya abang mantapkan dulu hati abang untuk datang kemari. Maaf-maaf nih ye bang, karena sebaik-baik orang yang mau bertobat lebih baik segerakan lah, sebelum nyawa sudah ditenggorokan. Maka tobatmu itu tidak akan diterima" ucap pemuda itu yang mengingantkan David untuk segera bertobat jika hatinya sudah mantap.
"Tapi dek, saya... Apa saya masih bisa diterima disini? Saya ini sudah terlalu banyak berbuat dosa. Apa saya masih pantas?" tanya David ragu-ragu dan dia mengatakan nya juga pada pemuda itu.
"Gini saja bang, abang bisa ambil dulu gih aer wudhu. Dengan kita berwudhu, kita bisa merasakan ketenangan dan juga kesejukan dalam diri kita. Abang coba dulu gih, sape tahu bisa buat abang" ucap pemuda tersebut yang membuat David hanya diam dan tidak mengatakan apa-apa. Tapi kakinya melangkah kearah tempat wudhu.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya untuk like, komen, vote dan hadiahnya ya....
__ADS_1
Rat bintang 5 nya juga ya...
Terimakasih and happy reading... 🤗🤗🤗