Pelabuhan Hati Si Playboy Karatan

Pelabuhan Hati Si Playboy Karatan
Bab 7


__ADS_3

Semua orang berkumpul bersama diruang tamu yang sudah dusulap kembali menjadi ruang tamu biasa. Sedangkan Galang sedang menemani Naila yang masih linglung, karena dia bisa ada disini lagi bersama dengan kedua orang tuanya dan juga suaminya yang enyah kenapa saat dia akan pergi dia melihat suaminya dan mendengar teriakan nya yang memanggil-manggil namanya dan dia langsung berada disini lagi.


"Sayang, apa kamu membutuhkan sesuatu? Biar aku ambilkan, atau mau aku belikan apa? Bilang saja" tanya Galang sambil terus menggenggam tangan Naila.


"Aku tidak menginginkan apa-apa. Aku mau tidur" ucap Naila masih dengan nada dingin pada Galang.


"Tidurlah, aku akan menjaga mu disini" ucap Galang yang tidak mau beranjak sedikitpun dari Naila.


"Aku ingin sendiri. Tolong tinggalkan aku sendiri" ucap Naila pada Galang yang menatap wajah Naila dengan sedih dan penuh rasa bersalah padanya.


"Nai, sungguh aku minta maaf. Aku salah, tolong izinkan aku menebus semua kesalahan yang pernah aku lakukan pada kamu. Aku ingin kita bersama-sama dan menjaga anak kita, tolong maafkan aku. Aku sungguh minta maaf" ucap Galang sambil menangis dan berlutut dihadapan Naila sambil menggenggam kedua tangan nya.


"Berikan aku kesempatan terakhir kalinya. Aku, aku akan melakukan apapun yang kamu inginkan. Asalkan kamu mau memaafkan aku dan memberikan kesempatan untuk ku bisa menebus kesalahan-kesalahan yang pernah aku lakukan pada kamu dan juga calon anak kita" ucap Galang yang sudah menangis sesegukan dan terus memohon maaf pada Naila.


"Aku sudah memaafkan kamu. Tapi untuk kesempatan, rasanya aku tidak bisa melakukan itu. Aku sudah tahu semuanya, aku tahu jika kamu memiliki istri lain dan aku tidak mau menjadi madu dan menjadi yang kedua atau yang pertama. Aku paling membenci yang namanya perselingkuhan dan penghianatan. Apa lagi sampai membohongi dan menikah lagi. Aku tidak bisa, lebih baik aku sendiri dan aku bisa membesarkan anak ini sekuat tenaga dan semampu aku. Aku juga tidak akan membatasi kamu untuk bertemu dengan nya kelak. Tapi untuk kembali dan bersama, itu mustahil" ucapnya panjang lebar dan dia tidak suka dan tidak mau dengan seorang penghianat.


"Apa tidak ada sedikit saja celah untuk aku bisa menjadi bagian dari kalian? Terutama kamu? Aku sudah menceraikan nya, hanya kamu satu-satunya istriku sekarang. Aku sudah lama ingin melepasakan nya, dan sekarang adalah waktunya yang tepat. Aku sungguh ingin bisa merubah diriku, dengan bersama dengan kamu, aku akan mencoba semuanya dari awal lagi. Tolong, berikan aku kesempatan. Aku mohon Naila. Aku mohon" ucap Galang yang terus memohon pada Naila untuk mendapatkan kesempatan.


Naila juga ikut menangis saat melihat Galang begitu berjuang untuk mendapatkan kesempatan dan memohon supaya bisa bersama dengan nya juga calon anaknya. Sebenarnya dia ingin memberikan kesempatan untuk Galang, tapi dia merasa belum yakin jika Galang sudah berubah dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi. Dia ingin melihat bagaimana kesungguhan nya dulu untuk mendapatkan semuanya.


"Tolong tinggalkan aku sendiri. Aku ingin istirahat dulu" ucap Naila yang langsung berbaring membelakangi Galang yang menatap penuh penyesalan dan kesedihan yang begitu mendalam.


Dia mau tidak mau meninggalkan Naila sendiri dan dia keluar dengan gontai menuju ruang tamu. Dimana semua orang masih berkumpul dan juga bercengkrama. Terutama kedua orang tua Galang dan Naila, mereka saling meminta maaf dan ingin menjalin hubungan keluarga.


"Kenapa loe? Bukanya loe habis berduaan dengan bini loe?" tanya Guntur yang melihat Galang berjalan kearah mereka dengan lesu.


"Bisa diem kagak tuh mulut! Apa mau gue lakban saja sekalian!" ucap David yang menatap Guntur malah nyengir kuda tanpa dosa.


"Kenapa loe? Loe bisa cerita pada kami semua, semoga saja kami bisa bantu dan meringankan beban loe" tanya Bima yang mendekat dan merangkul pundak Galang.


"Gue nggak apa-apa. Hanya gue belum bisa membuatnya bisa memaafkan gue dan memberikan kesempatan buat gue. Gue harus bagaimana supaya dia percaya jika gue sudah melepaskan nya dan bahkan menceraikan nya?" tanya Galang sambil menunduk dan dia menangis kembali didalam diam.


"Gue juga nggak tahu jika masalah itu. Hanya wanita saja yang mengerti hal seperti itu, loe berusaha saja dulu yang menurut loe benar. Karena kita-kita yang seorang pria hanya menggunakan logika, sedangkan mereka para wanita selalu menggunakan perasaan. Loe coba gunakan perasaan loe juga, siapa tahu berhasil" ucap Bima dan diangguki oleh teman-temannya yang ada disana.


"Semoga saja loe bisa mendapatkan maaf juga kesempatan dari Naila. Loe masih beruntung, karena Allah tidak jadi mengambilnya. Itu berarti Allah memberikan loe kesempatan untuk bisa meminta maaf dan meyakinkan nya" timpal David pada Galang.


"Bener banget apa yang dikatakan oleh David. Loe harus bisa membuatnya percaya dan memberikan loe kesempatan kedua untuk menebus semua kesalahan yang pernah loe perbuat padanya" lanjut Guntur yang merangkul David juga Galang.


"Serahkan saja semuanya pada Tuhan Lang. Karena dia yang maha kuasa dan pembolak-balik hati manusia. Kita sebagai umatnya hanya bisa berdo'a dan berserah diri padanya" ucap Ben yang mengatankan nya dengan sungguh-sungguh pada Galang yang mengangguk.


"Thanks bro. Kalian memang sahabat-sahabat yang baik dan pengertian, selalu ada disaat senang maupun susah" ucap Galang yang merangkul sahabat-sahabatnya.


"Your welcome bro. Inilah gunanya sahabat, jika ada disaat senang saja itu sih toxic. Semoga persahabatan kita akan selalu terjalin hingga anak-anak dan penerus kita nantinya" ucap mereka semua lalu dilanjutkan David yang mengatakan semuanya pada Galang.


Mereka semua akhirnya saling tersenyum bersama. Dan apa yang dikatakan oleh Galang ternyata sudah didengarkan oleh Naila dan kedua orang tua mereka. Naila sekarang sedang menangis didalam kamar dan dia menutup mulutnya supaya tidak terdengar oleh semua orang jika dia sedang menangis.


"Aku minta maaf, karena anu masih meragukan kamu Mas. Aku hanya tidak mau jika kamu akan melakukan kesalahan yang sama lagi. Aku hanya menjaga hati supaya aku tidak begitu saja percaya pada kamu. Karena kesalahan kamu itu sudah sangat fatal, dan sangatlah sulit untuk bisa mempercayainya begitu saja" gumam Naila didalam kamar dan dia masih menangis dibalik pintu kamarnya.


Naila kembali keatas ranjangnya, dia meringkuk dan mencoba untuk memejamkan matanya. Dia tidak ingin memikirkan nya dulu, biarlah semuanya berjalan sesuai alurnya saja. Dia tidak ingin menyakiti janin nya yang ada didalam rahimnya.


.


Sedangkan diluar kamar Galang sempat melihat Naila keluar. Saat dia akan mengejarnya, dia mengingat ucapan Naila tadi yang tidak ingin diganggu dan hanya ingin sendiri. Mungkin saja jika Naila habis dari kamar madi, begitulah fikiran Galang tadi.

__ADS_1


"Kenapa? Ada sesuatu?" tanya David yang menyadari jika Galang diantara kembali.


"Nggak apa-apa, hanya saja tadi melihat Naila keluar kamar. Gue nggak berani untuk menghampirinya, gue, sudahlah tidak perlu dibahas lagi" ucap Galang yang mengalihkan pembicaraan.


"Oh, oke lah. Gue sekalian mau pamit pulang, emak gue sudah berulangkali nelpon gue" ucap David yang menatap Galang.


"Iya, thanks ya sudah datang kemari. Hati-hati loe dijalan" ucap Galang yang diangguki oleh David juga mendapatkan jempol dari David.


"Kenapa dia? Apa dia akan pulang sekarang?" tanya Guntur yang melihat David sudah pergi dari sana.


"Dia sudah ditelpon terus sama nyokapnya. Biasalah jika anak Mama akan seperti itu" ucap Galang yang mencoba untuk seperti biasa lagi. Walau hatinya masih was-was memikirkan keadaan Naila.


.


David berjalan menuju rumahnya dan ternyata Mama Lulu sudah menungguinya sambil berkacak pinggang. Tatapan nya juga tajam pada David, bahkan dia sudah seperti singa betina yang akan mengamuk.


"Assalamualaikum Ma" ucap David sambil tersenyum cengengesan pada Mama Lulu.


"Wa'allaikumsalam, dari mana saja kamu! Mama telopon tidak diangkat dan sekarang tidak aktif? Maksud kamu apa Hah?!" teriak Mama Lulu sambil menarik telinga David dan menjewernya dengan kencang.


"Ma, ampun Ma... Aku sedang dirumah mertuanya Galang dan kami bertemu disana bersama-sama. Ponsel aku lobet Ma, lepasin dulu telinganya. Sakit Ma" teriak David sambil menceritakan semuanya pada sang Mama.


"Mama tidak akan melepaskan telinga mu! Yang ada Mama akan langsung memotongnya dan dijadikan Sop! Puas kamu!" teriak Mama Lulu lalu melepaskan jeweran nya pada David.


"Mama ini kejam banget sih Ma, sudah macem Ibu tiri tahu nggak?" ucap David sambil mengusap-ngusap telinganya yang terasa pedas akibat jeweran dari sang Mama.


"Memang kenapa jika Ibu tiri? Mau protes kamu? Atau mau kabur sekalian! Mama kutuk kamu biar ganteng" kesal Mama Lulu yang langsung masuk kedalam rumah dengan dating dongkolnya.


"Sudah sana masuk kamar kamu! Jangan bikin Mama tambah kesal" perintah Mama Lulu sambil menunjuk kelantai dua.


"Ma, Mama jangan marah-marah terus. Nanti darah tinggi Mama kambuh bisa berabe, yang anda nanti Mama bisa stroke. Mama mau, jika Mama yang masih cantik dan sexy ini jadi stroke? Aku sih nggak mau Mama seperti itu" ucap David yang malah membuat Mama Lulu semakin marah padanya.


"Dasar anak kurang garam! Malah nyumpahin Mama nya sendiri stroke! Awas kamu! Mama buat kamu tidak bisa menggunakan semua fasilitas yang ada. Termasuk mobil dan semua kartu-kartu kamu untuk sementara Mama blokir dulu. Mama akan memberikan uang jajan kamu lima puluh ribu satu hari! No comment. No protes. Faham!" ucap Mama Lulu dengan telak membuat David hanya bisa menghela nafasnya kasar saat sudah mendapatkan kemarahan Mama Lulu yang sangat menakutkan.


"Oh God... Kenapa malah jadi seperti ini sih? Yang ada gue nggak bakalan bisa kencan lagi dong sama Kimmy, Lolita, Dania, Veronica dan Julia. Aaa, akan seperti apa nasib gue? Tuhan... Tolong buatlah Mama hamba tidak menghukum hamba yang lemah ini" ucap David yang meratapi nasibnya mendapatkan hukuman sangat berat darinya sang Mama.


"Tuhan tidak akan mendengarkan do'a dan permohonan dari anak durhakim seperti kamu!" ucap Mama Lulu yang entah sejak kapan ada disana.


"Ma, please... Jangan hukum aku seperti itu Ma. Aku janji akan jadi anak baik, manis, ganteng dan rajin menabung. Jangan hukum aku ya Ma, please.... " ucap David yang mencoba merayu sang Mama supaya tidak dihukum.


"Sekali Mama bilang tidak. Maka, tetap tidak!" jawab Mama Lulu yang langsung masuk kedalam kamarnya.


"Huh, dasar Ibu tiri! Seenaknya saja memberi hukuman" gerutu David saat sang Mama sudah masuk kamar.


"Mama masih bisa mendengarnya David!" teriak Mama Lulu saat David menggerutu.


"Ampun Ma... Ampun.... David nggak ngomong apa-apa, sungguh" teriak David yang langsung ngacir kelantai dua menuju kamarnya.


"Serem juga nyokap gue kalo marah. Tanos saja kalah seram, mungkin jika bertemu akan kena mental tuh si Tanos" ucap David mengumpati Mama nya yang langsung mengunci pintu kamarnya.


"Waduh, gue lupa. Mana ponsel gue?" tanyanya pada diri sendiri.


Lalu dia turun lagi untuk segera mencari dimana ponselnya berada. Dia mencari-carinya tapi tidak menemukan nya juga, dia masuk kedalam mobilnya lalu mencarinya.

__ADS_1


"Akhirnya, gue bisa nemuin loe juga peh" ucap David yang langsung menciumi layar ponselnya lalu senyum-senyum kagak jelas.


"Maaf Tuan Muda, apa anda membutuhkan sesuatu?" tanya security yang berjaga disana melihat David berdiri disamping mobil.


"Bapak ngagetin saja. Nggak Pak makasih, saya nggak butuh apa-apa. Saya habis nyari si Ipeh" jawab David yang langsung pergi setelah mengatakan itu pada security dirumahnya.


"Tuan David nyari Ipeh? Si Ipeh pembantu sebelah? Wah, ini harus segera saya laporin ke Nyonya inimah. Harus siaga satu ini" ucapnya yang langsung meninggalkan tempat itu menuju pos security nya.


Sedangkan David kembali kekamarnya lalu mengisi daya ponselnya. Dia segera membersihkan tubuhnya lalu dia langsung tidur karena seharian ini dia merasa sangat lelah semuanya.


.


Keesokan harinya David bangun dan melangkah dengan gontai menghampiri Mama dan Papa nya yang sudah ada diruangan makan.


"Morning Ma, Pa" ucap David saat sudah berada didekat meja makan.


"Morning boy" jawab Papa Devon yang masih memanggilnya dengan sebutan itu sejak David masih kecil.


Sedangkan Mama Lulu hanya diam saja, dia tidak mengatakan sepatah katapun pada putranya itu. Mungkin saja dia masih kesal dan marah atas apa yang dilakukan oleh sang putra padanya.


"Kamu kenapa boy? Terlihat tidak bersemangat sekali?" tanya Papa Devon yang menatap pada putranya yang terlihat lemah, letih, lesu.


"Mama menghukum ku Pa. Masa aku sudah bekerja masih saja diberikan uang jajan. Mana cuman gocap lagi" jawab David yang langsung mendapatkan tatapan tajam dan membunuh dari sang Mama.


"Apa benar sayang? Kenapa Mama melakukan itu?" tanya Papa Devon pada Mama Lulu yang menatap Papa Devon tajam juga.


SRING...


Bukan pedang yang dibuka dari sarungnya. Melainkan tatapan tajam dari Mama Lulu yang membuat nyali seorang Devon Tomlinson ciut. Melempem, kayak kerupuk kena air.


"Kenapa? Mau ikut-ikutan protes juga kamu?!" tanya Mama Lulu sambil melirik tajam.


GLEK...


"Ng... Nggak, cuman nanya saja" jawab Papa Devon yang menelan makanan nya dengan cepat hingga dia hampir tersedak.


"Bucin detected" ucap David yang langsung pergi meninggalkan kedua orang tuanya yang menatapnya tajam.


David berlari-larian seperti dikejar-kejar oleh hantu. Hingga dia mengeluarkan mobilnya dan segera melajukan nya sebelum ada dua singa bucin yang akan menerkamnya.


.


.


.


Masih sepi nih.... Cem kuburan....


Ayo ramaikan novel-novel Othor....


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya untuk like, komen, vote dan hadiah seiklasnya disetiap babnya...


Othor tunggu kembang tujuh rupanya dan juga kopi item pait ya...😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2