Pelabuhan Hati Si Playboy Karatan

Pelabuhan Hati Si Playboy Karatan
Bab 46 Janji David


__ADS_3

"Baby, apa kita akan honey moon?" tanya David yang sedang memeluk tubuh Zahiya yang berada diatas pangkuan nya sekarang.


"Memangnya sekarang bukan honey moon?" tanya balik Zahiya sambil mendongakan kepalanya menatap kearah David.


"Bisa dibilang ini juga sama saja. Tapi mungkin saja kamu ingin kesuatu tempat baby" jawab David yang mempererat pelukan nya pada Zahiya.


"Tidak, aku tidak menginginkan kemana-mana. Aku hanya ingin diam dan tidak melakukan apapun" ucap Zahiya yang menyandarkan kepalanya pada dada bidang David.


"Emm, boleh aku tanya sesuatu baby?" tanya David yang membuat Zahiya mengernyitkan dahinya saat mendengar ucapan dari David.


"Maaf sebelumnya, jika aku yang pertama untuk kamu siapa Alvarez sebenarnya? Jika kamu tidak mau menjawabnya juga tidak apa-apa baby" ucap David sambil mengusap pipi Zahiya dan tidak memaksakan untuk Zahiya mengatakan sebenarnya.


"Akan aku ceitakan" jawab Zahiya yang menjelaskan semuanya pada David tanpa adanya yang disembunyikan olehnya. Dan David hanya mengangguk dan semakin mempererat pelukan nya pada Zahiya.


(Jika ingin tahu tentang bagaimana Alvarez bisa ada. Baca saja novel Othor berjudul MR. Z CEO OF THE MAFIA)


"Baby, kamu sangat hebat dan juga lebih dari segalanya. Aku jadi makin cinta" ucap David yang mendusel-dusel dileher Zahiya.


"Apa wanita yang mengandung Alvarez tidak akan mengambilnya darimu, dari kita?" tanya David lagi yang penasaran.


"Aku sudah membuat perjanjian hitam diatas putih. Jadi dia tidak akan bisa mengambilnya dariku, jika dia melakukan itu, dia sendiri yang akan merugikan dirinya sendiri" jawab Zahiya sambil memejamkan matanya menikmati suasana yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.


'Aku akan menjaga kalian berdua dengan seluruh kekuatan dan kemampuan yang aku miliki. Semoga saja kita akan selalu bersama-sama terus hingga kelak menua nanti baby. Aku berjanji itu' ucap David yang menatap wajah cantik Zahiya dan mereka menghabiskan waktu sorenya dengan berdua dan tanpa gangguan sama sekali.


.


Sedangkan Alvarez sedang berada dirumah Bima, karena Junior sangat ingin sekali bermain dengan Alvarez, jadi mau tidak mau Leonard mengikutinya dan menjaganya. Dan ternyata para sahabatnya juga sedang disana untuk berkumpul, minus David tentunya.


"Bim, itu bocah sudah sering disini?" tanya Guntur yang menatap kearah anaknya yang sedang bermain dengan Alvarez.


"Iya, makanya mereka berdua sangat akrab. By the way. Anak loe cewek, kenapa malah mepet-mepet dia?" tanya Bima setelah menjawab pertanyaan dari Guntur.


"Mungkin saja akan menjadi paygirl kali" ucap Galang yang menyela pembicaraan mereka berdua.


"Mungkin saja, loe bisa lihat sendiri wajah tuh bocah laki-laki. Dia sangat tampan dan juga berkarisma, makanya anak gue mepet terus. Hahaha" ucap Guntur yang malah tertawa dan biasa-biasa saja mengatakan nya pada kedua sahabatnya itu.


"Apa yang kamu katakan? Aku tidak akan membiarkan putriku sepertimu!" ucap Dona menatap tajam pada Guntur.


"Maaf sayang, apa salahnya jika nanti mereka memang berjodoh. Kita bisa besanan dengan David" ucapnya tanpa beban sedikit pun juga.


"Enak saja. Anak masih sebiji jagung mikir-mikir jodoh. Dasar aneh" ucap Dona yang selalu saja marah-marah jika menyangkut dengan profesi suaminya yang dulu adalah seorang Casanova.


"Maaf sayang" ucap Guntur yang merangkul lengan Dimas dan membujuk supaya dia tidak marah lagi padanya.


"Bucin detected" ucap Galang dan Bima yang menggelengkan kepalanya melihat sikap Guntur yang memang sudah seperti kucing sedang membujuk pemiliknya diberi makanan.


"Mas, aku sudah lelah. Kita pulang saja" ucap Naila, istri Galang dan Naila juga membawa kedua anaknya untuk pulang.


"Gue balik duluan guys, mereka sepertinya memang sudah kelelahan" ucap Galang yang pamit pada kedua sahabatnya.


"Hati-hati loe dijalan" ucap Bima dan Guntur pada Galang dan istrinya.


"Gue masih kagak nyangka, si David menikah juga. Ya, walaupun dia mendapatkan seorang janda beranak satu. Gue lihat dia sangat bahagia dekali" ucap Guntur yang sudah kembali duduk disofa menatap kearah Bima.


"Iya, mau dia janda atau bukan. Intinya mau menerima kekurangan dan kelebihan kita, jangan hnya menerima kelebihan nya saja. Karena tidak semua yang dimiliki akan sama seperti yang diinginkan, contohnya gue. Gue merasa jika gue adalah yang paling baik dari kalian dan bisa menjalin hubungan pernihakan hingga memiliki banyak anak. Tapi ternyata gue salah besar bukan" ucap Bima yang mentap kearah anak-anak yang sedang bermain bersama.


"Iya, bahkan gue sampe iri pada loe Bim. Bisa memiliki pasangan yang baik, cantik dan bisa segalanya. Tapi siapa yang tahu jika dia bukan yang terbaik untuk loe sendiri, cuman gue masih senang loe bisa tahu sekarang dan loe sudah memiliki keturunan loe sendiri. Gue hanya bisa mendo'akan yang terbaik untuk loe dan semoga saja loe bisa mendapatkan penggantinya yang lebih baik dan bisa nerima loe apa adanya. Bukan adanya apa ya" ucap Guntur yang sok bener banget kalo ngomong. Padahal dia sendiri lebih parah, untung saja dia bisa memiliki Dona yang mau menerimanya dengan sepenuh hatinya. Jika tidak, maka dia tidak akan pernah berubah dari seorang Casanova.


"Kakak, Mimi dan Pipi apa tidak akan pulang? Ez merindukan mereka" ucap Alvarez bertanya pada Leonard yang berada disampingnya dan dia terlihat sangat murung.


"Pulang kok, pasti pulang. Apa Ez tidak ingjn memiliki adik?" jawab Bima, Leonard hanya bisa bernafas lega saat ada yang menjawab pertanyaan dari Alvarez yang tidak bisa dia jawab.


"Mau, tapi apa Mimi dan Pipi akan langsung pulang bersama adik bayi uncle?" tanya Alvarez dengan sangat antusias, wajahnya juga sudah berseri-seri mengatakan nya.


"Tentu saja tidak, karena adik bayi mungkin saja sudah ada didalam perut Mimi kamu. Jadi Ez harus berdo'a, supaya adik bayinya sudah ada didalam perut Mimi kamu" jawab Bima dengan perlahan-lahan dan Alvarez yang memang pintar langsung mengerti dan dia mengngguk.


"Pasti, Ez akan berdo'a untuk itu" ucap Alvarez yang kembali tersenyum saat mengatakan itu.


"Good boy, dengan begitu kami tidak akan kesepian lagi jika berada dirumah. Jika saudara kamu yang lain sedang tidak ada dirumah" ucap Bima yang mengusap kepala bocah gembul itu.


"Sekarang maupun bermain lagi atau pulang saja?" tanya Leonard yang sudah berjongkok disamping Alvarez.


"Pulang kak" jawab Alvarez sambil mengulurkan tangan nya pada Leonard untuk digendong.

__ADS_1


"Uncle, kami pulang dulu. Sepertinya dia sudah bosan" ucap Leonard yang berpamitan pada Bima dan Guntur yang ada disana.


"Iya" jawab Bima yang mengangguk dan mengusap kepala Alvarez dan tersenyum padanya.


"Dia itu sangat pintar dalam berbicara, tapi kesulitan untuk berjalan" ucap Guntur yang menggelengkan kepalanya saja melihat Alvarez.


"Setiap anak itu ada kekurangan dan kelebihan nya masing-masing. Jadi jangn mengejeknya, lihat saja anakmu itu. Bahkan sangat mirip dengan mu" ucap Bima menyindir Guntur yang hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Padahal dia itu seorang perempuan" lanjut Bima yang meninggalkan Guntur sedirian diruang tamu.


"Mas Bima maaf, Guntur dimana ya? Kenapa tidak ada disini?" tanya Dona yang sedang mencari Guntur.


"Dia ada didepan, kenapa memangnya? Apa ada malah?" tanya Bima yang sigap menghampiri Dona.


"Iya nih Mas, Gina tiba-tiba badan nya panas. Aku mau bawakan kedokter sekarang" jawab Dona yang menggendong putri keduanya yang bernama Gina.


"Ya sudah, antarkan saja. Biar Bina disini saja dulu tidak apa-apa" ucap Bima yang memberi saran pada Dona.


"Sayang Gina kenapa? Apa dia baik-baik saja?" tanya Guntur yang datang-datang dengan panik dan dia sudah akan menggendong Bina yang hanya diam saja menatap kearahnya.


"Gina panas Mas, kita segera bawa dia kedokter secepatnya" jawab Dona yang langsung keluar dari rumah Bima.


"Gue duluan ya Bim. Assalamualaikum" ucap Guntur yang langsung mengejar Istrinya masuk kedalam mobil.


"Dasar keluarga absurd" gumam Bima yang menatap Junior malah diam dan tidak melakukan apa-apa lagi.


"Kenapa boy?" tanya Bima yang menghampiri putranya.


"Pa, apa hanya aku yang tidak memiliki Mama? Kenapa semuanya memiliki Mama dan hanya aku yang tidak punya Mama" tanya Junior yang membuat Bima tidak bisa berkata-kata lagi saat mendapatkan pertanyaan dari putranya.


"Junior kan masih memiliki Mama, kenapa kamu mengatakan itu nak?" jawab Bima yang berjongkok dan memeluk tubuh putranya itu.


"Jika aku memilikinya, kenapa Mama tidak tinggal dengan kita lagi? Kenapa Mama berada jauh dari kita? Apa karena Mama tidak menginginkan aku Pa? Aku pernah mendengar saat Mama bicara dengan kakak, jika aku bukan anak Mama. Dan aku adalah anak pembawa sial, memangnya siapa Mama aku Pa? Dan, apa itu anak pembawa sial?" tanya anak berusia lima tahun itu.


'Ya Allah, aku harus jawab apa? Tidak mungkin aku mengatakan yang sebenarnya pada anak sekecil dia. Apa yang harus aku lakukan Yang Robb? Tolong berikan kekuatan dan kemampuan untuk aku bisa menjawab apa yang ditanyakan oleh putraku ini' ucap Bima dalam hati sambil menangis dalam pelukan putranya.


"Pa, kenapa Papa diam? Apa aku ini memang pembawa sial ya Pa?" tanya Junior lagi yang belum mendapatkan jawaban dari Bima.


"Aku janji Pa. Aku tidak akan menanyakan dan ingin tahu akan hal itu lagi" jawabnya mengangguk dan masih memeluk leher Bima.


"Iya sayang. Ini baru kesayangan Papa" ucap Bima yang memaksakan dirinya untuk tersenyum dihadapan putranya ini.


'Maafkan Papa sayang, Papa juga sangat kecewa akan hal ini. Tapi kamu yang menjadi kekuatan Papa, jika kamu rapuh seperti ini. Bagaimana dengan Papa sayang?' gumam Bima dalam hati yang mengangguk saat Junior mengtakan.


.


Sedangkan pasangan pengantin baru itu sedang dalam perjalanan pulang kerumah orang tua David. Karena mereka sudah sepakat akan tinggal dirumah Mama Lulu dan juga itu baik-baik untuk Alvarez, supaya dia memiliki teman dan tidak akan kesepian lagi atau mengeluh bosan.


"Baby, bisa rikwes nama panggilan yang bagus nggak? Kamu selalu memanggilnya Pi mulu" ucap David yang menginginkan dipanggil dengan sebutan lain oleh Zahiya.


"Apa? Bukankah itu bagus?" tanya Zahiya yang menatap sekilas pada David.


"Itu panggilan Ez, masa kamu ikut-ikutan juga dengan nya? Aku nggak suka" ucap David lagi sambil mengerucutkan bibirnya.


"Sama saja, baik Ez atau aku kan? Kenapa jadi... " Zahiya tidak melanjutkan ucapan nya saat melihat ada beberapa mobil yang mencurigakan mengikuti mobilnya.


"Kamu kenapa tidak melanjutkan ucapan nya baby? Apa yang jadi?" tanya David yang menatap seklias pada Zahiya yang menatap kearah sepion mobilnya.


"Lebih cepat" ucap Zahiya, bukan menjawab pertanyaan dari David. Dia malah memerintahkan nya pada David.


"Kenapa? Apa ada sesuatu?" tanya David yang melihat sepion nya juga.


"Tidak ada. Percepat saja, didepan putar balik" jawab Zahiya yang menunjuk jalan didepan nya.


David tidak banyak bertanya lagi, dia hanya mengikuti apa yang Zahiya katakan padanya. Dia memang sedikit heran, tapi saat dia mengingat jika Zahiya bisa naik kedalam kamarnya dengan mudah dan menghilang dengan cepat sudah bisa ditebak, jika dia bukan gadis biasa.


DOR...


DOR...


DOR...


"****, tukar tempat sekarang" ucap Zahiya yang mengatakan nya dengan memegang stir mobil.

__ADS_1


"Kenapa apa yang akan kamu lakukan? Sebaiknya kmu katakan saja apa yang harus aku lakukan, biar aku yang mengemudikan nya" ucap David yang menatap manik hitam Zahiya dengan serius dan maengangguk.


Zahiya akhirnya mengangguk juga, dia mengeluarkan senjatanya dan menggunakan erpone nya juga untuk menghubungi anggotanya yang lain.


"Kalian bersiap, dibelakang mobil kami ada beberpa yang menyerang kami. Gunakan mobil yang sama dan plat yang sama juga, bertemu perempatan jalan" ucap Zahiya yang memengang senjatanya akan bersiap.


"Sayang, please. Jangan melakukan itu" ucap David saat Zahiya menggunakan masker hitamnya dan topinya.


"Percaya padaku" ucap Zahiya yang tersenyum pada David dan mengangguk.


DOR...


BUM...


DUAR...


"Queen, kami sudah bersiap" ucap Angga dan Marcos yang menggunakan dua mobil yang sama dengan nya.


"Oke, didepan kecoh dan langsung jalan menuju rumah" ucap Zahiya yang langsung diangguki oleh David.


Tapi dugaan Zahiya salah. Dia tetap dikejar oleh beberapa dari mereka dan berhasil menghentikan mobilnya. Karena mereka menembak tepat diban mobilnya, untung saja David bisa mengendalikan mobilnya hingga tidak kecelakaan.


"Kamu tidak apa-apa sayang?" tanya David saat melihat Zahiya sedikit oleng dan hampir membentur dasboard mobil.


"Aku baik-baik saja By" jawab Zahiya dan saat David akan keluar ditahan olehnya.


"Kenapa? Aku harus melawan mereka, apa kamu tidak tahu mereka akan apa" ucap David yang menatap manik hitam Zahiya yang menyiratkan penyesalan padanya.


"Hubby, sebaiknya gunakan ini dan pegang senjatanya. Aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa" ucap Zahiya yang meminta David menggunakan masker dan topi juga.


"Kita keluar bersama dan jangan jauh-jauh dari aku" ucap Zahiya setelah David menggunakan topi dan masker. David hanya mengangguk lalu baru saja keluar mobil akan diledakan oleh klan nya.


"Run!!!" teriak Zahiya, David langsung berlari menjauh darinya. Tapi nasib buruk memang sedang menghampiri mereka berdua.


David terluka dibagian bahunya. Dan Zahiya langsung berlari dan meminta anggotanya yang lain membantu.


"Hubby" ucap Zahiya saat melihat David yang meringis kesakitan akibat luka tembakan dibahunya.


"Aku tidak apa-apa" ucap David yang mengusap pipi Zahiya dan Zahiya mengangguk. Lalu dia meminta David untuk diam disana, karena Zahiya sudah seperti singa yang sedang marah.


Matanya penuh dengan kilatan kemarahan dan seperti api yang berkobar. Dan siapa untuk membakar semua yang mendekat kearahnya.


DOR...


DOR...


DOR...


BUK...


BUK...


BRAK...


BRAK...


KRAK...


Zahiya sangat bersemangat melakukan itu semua. Apa lagi mereka sudah melukai orang yang sangat berarti dalam hidupnya. Sudah pasti mereka tidak akan bisa selamat darinya. Yang ada Zahiya menggunakan jiwa psychopath nya untuk membantai mereka semua, dan itu tidak luput dari pandangan David.


"Dia ini siapa sebenarnya? Kenapa dia seperti psychopath?" gumam David yang memegangi bahunya yang tertembak dan mengeluarkan darah segar.


"Ini, gue kagak bakalan pingsan kan ngeliat darah sebanyak ini ditangan gue? Tapi, beneran, gue kagak pingsan. Berarti gue memang harus kuat, karena akan mendampingi istri psycho gue" gumamnya lagi yang terus menatap kearah Zahiya yang sudah membantai semua klan nya menggunakan belati kesayangan nya saja yang sama seperti milik Zayn.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya untuk like, komen, vote dan hadiahnya...


Bintangnya juga jangan sampe lupa ya😉Thanks and happy reading...🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2