
Keesokan harinya David bangun sedikit lebih lama, karena mungkin semalam David tidur terlalu malam. Berbeda dengan Alvarez yang sudah bangun sejak tadi dan sudah rapih dengan pakaian casual nya yang terlihat sangat menggemaskan.
"Morning Pipi" sapa Alvarez saat melihat David membuka matanya.
"Morning to jagoan" jawab David yang langsung menggeliatkan tubuhnya dan dia tidak langsung bangun dia duduk bersandar pada sandaran ranjangnya.
"Wah, jagoan Pipi sudah rapih saja. Mau kemana, hmm?" tanya David saat melihat dengan jelas Alvarez sudah rapih dan wangi.
"Tidak kemana-mana, Ez sudah biasa seperti ini dengan kakak Leo" jawab Alvarez dengan tangan yang sedang bermain dengan robot yang dibelikan oleh David kemarin.
"Oh benarkah? Padahal Pipi ingin merasakan mandi bersama dengan Ez. Sayang sekali" ucap David yang memperlihatkan wajah sedihnya dan itu berhasil membuat Alvarez ikut sedih juga.
"Emm, Ez bisa mandi lagi dengan Pipi, jika Pipi ingin mandi bersama Ez" ucap Alvarez langsung mendekat kearah David dan menatap wajah David.
"No jagoan, Pipi hanya bercanda. Kenapa harus mandi lagi jika sudah mandi dan wangi seperti ini. Ez tunggu Pipi dibawah ya, Pipi mau mandi dulu" ucap David yang langsung bangkit dari duduknya lalu menggendong Alvarez menuju lantai bawah.
"No, Ez tunggu Pipi sini dan turun sama-sama" ucap Alvarez yang membuat David tidak jadi membuka pintu kamarnya.
"Oke, Ez tunggu disini dan jangan kemana-mana. Bermain dulu dengan robot dan Pipi akan segera kembali" ucap David yang menurunkan Alvarez dari gendongan nya.
"Oke Pipi, mandinya yang bersih dan harus wangi. Karena Mimi tidak suka jika bau" ucap Alvarez yang membuat David mengernyitkan dahinya saat mendengar ucapan dari Alvarez.
"Benarkah? Jadi Pipi harus selalu wangi dan rapih seperti Ez?" tanya David yang sangat penasaran akan kesukaan dan ketidak sukaan Zahiya.
"Hmm, makanya Pipi harus wangi dan rapih seperti Ez" ucap Alvarez dengan sangat yakin dan dia terlihat begitu menggemaskan sekali dimata David.
"Baiklah, Pipi akan melakukan apa yang Ez katakan pada Pipi. Jadi sekarang Pipi mandi dulu ya" ucap David sambil mengusap kepala Alvarez dan menciumi seluruh wajahnya.
"No, Pipi bau" ucap Alvarez saat David akan menciuminya lagi, sambil membekap mulutnya dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Oh, benarkah?" tanya David yang langsung menghembuskan nafasnya ditelapak tangan nya lalu menciumnya sendiri.
"Benar juga. Hahaha" ucap David yang langsung masuk kedalam kamar mandi. Sedangkan Alvarez menepuk keningnya sendiri melihat tingkah David yang aneh menurutnya.
"Mimi, akan pusing jika setiap hari melihat Pipi yang seperti itu" gumam Alvarez yang menggeleng dan dia memainkan robot pemberian David.
Alvarez memang tidak seperti anak seusia dirinya pada umumnya, bahkan dia lebih pintar dan lebih cerdas dibandingkan anak seusianya. Dari segi bicara saja dia sudah tidak cadel, apa lagi hanya mengatakan beberapa kata yang dia bisa. Yang masih membuatnya kesusahan adalah berjalan, karena badan nya lebih berisi dia sering kesulitan untuk berjalan. Tapi selebihnya tidak ada, mungkin karena sejak baby dia selalu diajak Zahiya untuk mengerjakan pekerjaan nya, jadi bisa membuat Alvarez mengerti dan mungkin memang gen dari Ayah nya juga.
Setelah menunggu beberapa saat, David keluar hanya dengan menggunakan bathrobe saja. David langsung masuk kedalam ruangan walk in closet untuk segera berpakaian. Karena dia sudah terlalu lama meninggalkan Alvarez sendiri didalam kamarnya.
"Wah, jagoan Pipi masih menunggu rupanya. Maaf ya jika Pipi lama mandinya, ayo kita turun" ucap David yang langsung menggendong Alvarez menuju lantai bawah tanpa adanya protes dari Alvarez.
"Pagi semua" ucap David yang turun dengan penampilan yang sangat casual dan jangan lupakan anak laki-laki yang juga sudah rapih, sana seperti David juga.
"Pagi juga, ayo duduk" ucap yang lainnya menyambut kedatangan David dan Alvarez.
"Tumben kakak tidak menggunakan jas seperti biasanya? Apa kakak tidak kekantor hari ini?" tanya Dava yang melihat penampilan David berbeda dari biasanya.
"Tidak, Mama bilang aku sudah harus cuti. Dan aku harus melakukan apa itu Ma?" jawab David yang bertanya pada Mama Lulu.
"Fitting gaun pengantin dan membeli cincin nikah, Mama juga sudah minta tolong pada Jamil dan Adi untuk handle semuanya pekerjaan nya" jawab Mama Lulu sambil menatap kearah Jamil yang mengangguk.
"Oh iya aku lupa" ucap Dava yang langsung melanjutkan sarapan nya kembali.
"Ayo sarapan jagoan" ucap David yang mendudukan Alvarez dengan nyaman.
"Kau juga makan Leo, jangan kamu suapi jagoan ku terus. Dia juga harus bisa sendiri" ucap David yang meminta Leonard untuk ikut sarapan juga.
"Terimakasih Tuan, tapi saya bisa makan dibelakang" ucap Leonard yang menolak untuk makan bersama dengan keluarga David.
"Ini perintah dan tidak menerima penolakan" ucap David yang meminta anak remaja ini untuk ikut sarapan.
"Tapi Tuan, saya" ucapnya yang tidak dilanjutkan, karena Mama Lulu juga angkat bicara.
__ADS_1
"Makan saja, kami disini adalah keluarga. Jadi tidak ada yang membatasi diantara kalian dan kami, karena kami sama saja dengan kalian. Jadi jangan menganggap rendah pada kami semua. Jadi, duduk sekarang" ucap Mama Lulu dengan sangat lembut pada Leonard.
"Terimakasih banyak Nyonya besar, saya akan duduk. Maaf sudah merepotkan anda dan keluarga" ucap Leonard yang langsung duduk disamping Alvarez yang malah tersenyum sangat manis pada Leonard.
Semuanya makan dengan sangat lahap dan kemudian para laki-laki minus David tentunya pergi kekantor mereka masing-masing. David juga langsung bersiap dengan jagoan kecilnya dan mereka berdua langsung menjemput Zahiya dikediaman Zayn.
"Pi, kita kerumah Daddy? Apa kita mau jemput Mimi?" tanya Alvarez saat melihat halaman mainson Zayn yang sangat mewah.
"Iya, kita kan memang mau jalan-jalan dengan Mimi juga. Jadi kita harus jemput Mimi juga oke" ucap David yang mengajak Alvarez untuk keluar dari mobil dan menggendongnya masuk kedalam mainson.
"Yey, kita jalan-jalan bareng" ucap Alvarez dengan sangat senang sekali.
"Assalamualaikum" ucap David dan Alvarez bersama-sama, lalu masuk kedalam dengan sambutan dari Azalya dan Zahiya yang langsung memeluk putranya.
"Wa'allaikumsalam, akhirnya kalian datang juga. Tuh lihat, dia sudah sangat cerewet menanyakan putranya terus" ucap Azalya yang menyindir Zahiya.
"Ini kan masih pagi, kenapa harus buru-buru? Mimi kenapa suka sekali menciumi ku" protes Alvarez yang menghentikan Zahiya menciuminya.
"Mimi sangat merindukan kamu, dan kamu malah dingin pada Mimi. Apa kamu tidak merindukan Mimi, hmm?" tanya Zahiya yang menatap sedih pada Alvarez.
"Aku merindukan Mimi, tapi aku malu jika Mimi menciumiku" ucap Alvarez yang memeluk Zahiya dan dia yang mencium pipi Zahiya.
"Thank you boy" ucap Zahiya yang mengusap kepala Alvarez.
"Apa kalian tidak akan mengajak Pipi kalian masuk?" tanya David yang masih berdiri didepan pintu setelah Azalya masuk kedalam.
"Kenapa musti bertanya? Anda bisa masuk sendiri bukan, dan pintunya juga terbuka lebar" ucap Zahiya dengan dingin nya dan dia masuk sambil menuntuk Alvarez masuk.
"Untung cinta, kalo nggak mungkin gue akan menolaknya mentah-mentah" gumam David yang membuat Zahiya menghentikan langkahnya.
"Saya masih bisa mendengarnya" ucap Zahiya yang langsung membuat David hanya nyengir kuda mendengar ucapan dari Zahiya.
Mereka berdua saling bercerita dan David menunggu Zahiya bersiap mengobrol dengan Zayn, calon menantunya yang tidak jauh berbeda dengan Zahiya yang dingin dan datar.
"Seperti biasa dan anda juga sudah tahu apa pekerjaan dan juga kesibukan saya setiap harinya" jawab David yang mengatakan nya dengan datar dan mereka malah terlihat tidak akur satu sama lain.
"Apa yang bisa kau buktikan untuk putri saya? Apa kau bisa membuatnya bahagia?" tanya Zayn lagi dan itu langsung membuat David tersenyum saat mendengar pertanyaan dari calon mertuanya.
"Saya akan berusaha untuk membahagiakan mereka berdua, terutama putri anda. Karena tidak anda mintapun akan saya lakukan untuk bisa membuat dia bahagia dengan cara saya" jawab David dengan penuh keyakinan dalam dirinya bisa membuat Zahiya bahagia.
"Buktikan ucapanmu! Jika sekali saja kau buat dia menangis, saya sendiri yang akan memberikan pelajaran untukmu. Karena bagi saya kebahagiaan nya adalah yang paling utama, jika satu kali saja kau membuat kesalahan. Jangan harap bisa melihat matahari esok hari" ancam Zayn yang membuat David merasa tercekat dan hampir saja tersedak slivanya sendiri.
'Gila! Dia ini manusia apa robot yang memang sudah disetting supaya mengatakan ini semua? Atau memang dia ini kulkas 12 pintu, bikin bulu kuduk gue berdiri semua' ucap David dalam hati sambil menelan slivanya berulangkali karena merasa sangat tegang.
"Jangan mengumpat saya. Karena saya paling tidak suka jika ada seseorang yang mengata-ngatai saya didepan wajah saya" ucap Zayn membuat David benar-benar tersedak slivanya sendiri.
UHUK...
UHUK...
UHUK...
"Maaf, saya tidak bermaksud untuk mengumpat atau apapun itu. Saya Mama berani mengatakn itu" ucap David setelah meredakan batuknya.
"Jika kau tidak suka, kau boleh membatalkan nya sebelum semuanya terjadi" ucap Zayn yang langsung pergi setelah mengatakan itu pada David.
"Fyuh, kenapa camer gue mririp kulkas duabelas pintu ya? Gue harus diam, sebelum ada sinar laser menebas leher gue" gumamnya yang membuat Zahiya merasa bingung dengan apa yang dilakukan oleh David.
"Anda sudah tidak waras? Kenapa anda berbicara sendiri?" tanya Zahiya yang datang bersama dengan Alvarez.
"Iya, aku tidak waras. Karena kamu" ucap David yang langsung menggendong Alvarez menuju pintu keluar mainson.
"you are crazy!" ucap Zahiya yang mengikuti langkah David dari belakang.
__ADS_1
Mereka menuju butik untuk fitting gaun pengantin dan juga tuxedo. Tidak lupa juga Alvarez menggunakan tuxedo yang sama juga dengan yang akan David kenakan pada saat pernikahan mereka berdua.
"Pi, Ez mengantuk" ucap Alvarez yang memeluk erat leher David.
"Tidurlah, Pipi akan menjagamu" ucap David dengan penuh kelembutan dan aura kebapakan nya muncul . Membuat Zahiya terpesona akan sikap David sekarang.
Lalu tangan David juga terulur untuk menggandeng tangan Zahiya. Hingga banyak mata menatap kearah mereka bertiga, dimana David sangat tampan dengan penampilan nya dan terlihat sangat menyayangi putranya. Zahiya yang kaget, ingin melepasakan tautan tangan nya dari David tidak bisa saat David memperkuat genggaman tangan nya.
'Ada apa dengan nya? Kenapa dia bersikap seperti ini? Apa dia sudah tidak waras?' ucap Zahiya dalam hati sambil terus berjalan dan menatap wajah David sekilas lalu dia terpaksa diam saja.
'Aku akan membuat kamu merasa sepesial, dan aku akan mencurahkan seluruh rasa dalam hati ku. Supaya kamu tidak bisa lepas dan melupakan nya dengan mudah' ucap David dalam hati sambil terus tersenyum senang menggenggam tangan Zahiya menuju toko perhiasan termewah dan termahal didalam mall tersebut.
David masih terus menggendong Alvarez yang masih terlelap. Dia membiarkan pelayan toko memperlihatkan semua koleksi perhiasan nya dan Zahiya yang akan memilihnya. David yakin jika Zahiya akan memilih cincin yang paling tepat untuk dirinya.
Setelah selesai membeli cincin pernikahan. Mereka melanjutkan menuju restaurant yang berada didalam Mall, ternyata Alvarez sudah terbangun lalu menatap David yang tersenyum kearahnya.
"Sudah bangun? Apa menginginkan sesuatu?" tanya David yang melihat Alvarez masih belum benar-benar bangun sepenuhnya.
"Apa dia sudah bangun? Biar bersama saya saja, anda pasti lelah. Sejak tadi anda menggendongnya terus" ucap Zahiya yang ingin mengambil Alvarez dari David.
"Tidak apa-apa, aku senang melakukan nya. Duduk saja, biarkan dia bangun sepenuhnya dulu" jawab David yang selalu tersenyum pada Zahiya.
"Pipi, pipis" ucap Alvarez yang ingin buang air kecil pada David.
"Oke, ayo kita ketoilet dulu" ucap David yang langsung melangkah menuju toilet.
'Sial, ternyata ada yang mengikuti aku kemari. Kita lihat saja, apa yang akan aku lakukan untuk kalian' gumam Zahiya yang melihat ada yang mengikutinya hingga kemari.
'Aku harus segera kembali sebelum mereka berdua kembali' ucapnya lagi sebelum dia menghilang entah kemana.
David dan Alvarez sudah keluar dan dia melihat mejanya kosong. Dia melihat-lihat setempat lain dan ternyata tidak ada. Saat dia akan berbalik menuju toilet lagi dia melihat Zahiya keluar dari sana.
"Aku kira dia akan kabur" gumam David yang menatap wajah Zahiya yang sedikit basah penuh dengan senyuman.
"Apa Pipi mengatakan sesuatu?" tanya Alvarez menatap wajah David yang masih tersenyum.
"Tidak ada, Pipi hanya sedang mengagumi ciptaan Tuhan yang sangat cantik" jawab David yang sama sekali tidak mengalihakan pandangan nya dari Zahiya.
"Hati-hati Pi, Mimi pernah membuat orang lehernya patah dan membutakan matanya saat pria tersebut menatap Mimi seperti yang dilakukan Pipi sekarang" ucap Alvarez yang malah menakut-nakuti David.
"Benarkah? Apa Mimi kamu sekejam itu?" tanya David yang langsung mengalihakan pandangan nya dari Zahiya menjadi kearah Alvarez yang mengangguk mantap pada David.
'Dia ini seorang Mafia atau psychopath? kenapa begitu mudahnya melakukan itu semua pada seseorang? Sungguh ini kejutan yang paling mengejutkan' ucap David yang bergidik ngeri saat mengatakan itu dalam hatinya.
"Pipi kenapa begitu?" tanya Alvarez yang melihat ekspresi ketakutan diwajah David saat Zahiya sudah duduk dihadapan nya saat ini.
"Tidak ada, Pipi hanya merasa sedikit sakit perut. Tapi sudah lebih baik setelah melihat wajah cantik Mimi kamu jagoan" jawab David yang mencoba untuk menetralkan perasaan takutnya pada Zahiya.
"Benarkah?" tanya Alvarez yang memicingkan matanya menatap David.
"Ya" jawab David mengangguk pasti dan dia tersenyum sangat manis pada Alvarez dan menatap penuh kekaguman pada Zahiya.
Mereka berdua memesan makanan mereka dan jangan lupakan Alvarez yang memesan makanan kesukaan nya juga. Apa lagi jika bukan udang tempura dan seafood lainnya. Mereka begitu lahapnya makan siang hingga mereka bertemu dengan seseorang yang sangat dikenal oleh David.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya untuk like, komen, vote dan hadiahnya ya buat Nyak Othor ini....
Bintangnya juga ya jangan lupa😉
__ADS_1
Thanks and happy reading...🤗🤗🤗