Pelabuhan Hati Si Playboy Karatan

Pelabuhan Hati Si Playboy Karatan
Bab 27


__ADS_3

David benar-benar melakukan saran yang dikatakan oleh pemuda tadi. Dia mengambil air wudhu, setelah membasuh wajahnya menggunakan air wudhu David melangkahkan kakinya masuk kedalam masjid. Walau terasa berat, tapi dia bisa melakukan nya dengan baik.


"Apa abang bisa melakukan nya sendiri? Atau mau saya bantu?" tanya pemuda tersebut.


"Saya, saya bisa sendiri. Tapi jika ada gerakan sholat saya ada yang salah tegur saja" jawab David yang memberanikan diri untuk memulainya.


Setelah sepuluh menit David selesai melaksanakan sholat, David duduk dengan pemuda itu dan sambil mengobrol ringan.


"Ngomong-ngomong, kita dari tadi ngobrol panjang lebar. Tapi belum kenalan, kenalin bang. Aye Jam'amil, tapi orang-orang sini pade manggil aye Jamil. Katanya nama aye susah" ucapnya sambil tersenyum dan dia menatap David yang hanya diam saja.


"Abang sendiri, siapa namanya?" tanya Jamil memandang kearah David.


"Nama abang David. Makasih yah, sudah bantu dan ingetin abang" ucap David yang tersenyum pada Jamil.


"Sama-sama bang, aye malah seneng aja gitu. Soalnya kan aye tuh kagak punya sape-sape dimari nih, makanya saat bertemu abang jadi seneng. Ah, jadi malah curhat aye. Abang sendiri kenapa ragu-ragu saat akan masuk kemesjid?" tanya Jamil yang memang selalu menggunakan logat betawi nya yang sangat kental.


"Nggak apa-apa, hanya saja merasa ada yang manggil abang buat masuk kesana. Tapi, ya kamu tahu sendiri kan. Jika abang masih ragu juga berat, tapi setelah masuk perasaan yang sejak Tari mengganjal rasanya plong banget" jawab David sambil menghembuskan nafasnya lega.


"Alhamdulilah, itulah kegunaan dan juga manfaat sholat bang. Selain kita beribadah, kita juga mendapatkan ketenangan batin juga. Eh, ngomog-ngomong. Apa abang tinggal disekitaran sini juga? Tapi jika dilihat-lihat, aye baru kali ini lihat bang David" tanya Jamil sambil menelisik wajah David.


"Abang memang bukan orang sini. Abang sedang menghadiri acara pertunangan seseorang yang selalu mengganggu hidup abang" jawab David dengan tatapan yang berubah sendu lagi.


"Wah, roman-roman nya sih. Abang sedang patah hati" ucap Jamil sambil mengusap dagunya seperti sedang berfikir.


"Kamu ini masih kecil malah ngomong-ngomong patah hati segala. Sok tahu!" ucap David yang beranjak dari duduknya dan dia berdiri menatap jalanan yang ramai pada malam hari ini.


"Abang jangan salahkan bang, badan aye memang kecil dan bisa dibilang krempeng sih. Tapi aye tahu masalah hati kek gitu, aye juga bentar lagi sudah 18tahun dan lulus sekolah menengah juga. Jadi mengertilah dengan begituan mah" ucap Jamil dengan sangat semangat dan dia juga berdiri disamping David.


"Iya-iya, percaya. Ngomong-ngomong, kamu bilang kamu tidak punya siapa-siapa. Apa benar? Lalu Ayah dan Ibu kamu dimana?" tanya David yang mengalihakan pembicaraan.


"Enyak sama Babeh Jamil sudah lama meninggal bang, Jamil sekarang tinggal sendirian saja dimari. Ya, bisa dibilang jadi marbhot mesjid ini. Dan mendapatkan makanan juga pekerjaan dari mesjid ini" jawab Jamil masih menampilkan senyuman dibibirnya walau getir.


"Maaf, abang salah bicara. Jika kamu mau ikut abang, abang akan memberikan mu pekerjaan dan juga membiayai kuliah kamu. Itu jika kamu mau dan memang ingin bisa membanggakan Ayah dan Ibu kamu" ucap David yang menawarkan Jamil untuk ikut bersama dengan nya.


"Abang serius? Tapi, apa keluarga abang akan menerima Jamil dengan mudah? Jamil kan bukan siapa-siapa abang" tanya Jamil yang awalnya semangat malah menjadi lesu kembali.


"Kenapa tidak? Abang juga keluarga biasa-biasa saja dan bukan orang kaya. Abang juga memiliki tiga, eh salah. Dua saudara dan yang satunya tinggal bersama dengan abang dan Mama, Papa abang" ucap David yang memegang bahu Jamil.


"Ya sudah, tapi Jamil pamit dulu pada Pak Ustadt. Karena mulai sekarang Jamil kagak bisa bersihin mesjid ini lagi" ucap Jamil dengan bersemangat lalu dia pergi dan tidak lupa mengajak David untuk bertemu Ustadt disana.


Setelah berpamitan dan berbasa-basi sebentar. Mereka berdua pergi menuju rumah David, sebelum itu dia mengabari Mama Lulu dulu. Jika dia sudah pulang lebih dulu karena merasa bosan.


"Wah, ini rumah abang? Gede bener? Abang bilang bukan orang kaya, tapi lihat rumah segedong ini dibilang kagak kaya. Kaya versi abang kayak gimana?" tanya Jamil saat melihat rumah yang sangat besar ada didepan matanya.


"Ini bukan rumah abang, ini rumah orang tua abang. Ayo masuk" jawab David yang meminta Jamil masuk. Jamil melepasakan sandalnya dan dia berjalan tanpa alas kaki.


"Kenapa sandalnya dilepas? Pake saja lagi, ini itu bukan masjid. Jadi pake kembali sandal kamu" tanya David yang dijawab senyuman tipis dari Jamil, lalu dia kembali lagi untuk mengambil sandal.


"Assalamualaikum" ucap David saat memasuki rumah.


"Wa'allaikumsalam, eh den David sudah datang. Loh, yang lain nggak ikut bareng aden pulang toh?" jawab bik Darmi dan bertanya juga pada David.


"Belum bik, mereka masih disana. Oh iya bik, kenalin ini Jamil. Dia akan tinggal disini juga sangat akan membantu saya" jawab David yang memperkenalakan Jamil pada bik Darmi.


"Jamil bik" ucap Jamil memperkenalkan dirinya pada bik Darmi.

__ADS_1


"Bik Darmi den, silahkan masuk. Sebentar, bibik ambilkan minum dulu" ucap bik Darmi yang memperkenalkan dirinya dan dia pamit untuk mengambil minuman.


"Bang, rumah segede gini pelayan nya adalah berapa? Tidak mungkin bukan jika hanya bibik itu saja? Bisa gempor dia ngerjain semua ini sendiri" tanya Jamil yang melihat sekeliling ruang tamu saja sebesar ini.


"Ya nggak lah, bik Darmi ini yang bertugas memeriksa Danu memantau semuanya pekerja yang ada disini. Yang bisa dibilang bik Darmi itu adalah kepala pelayan disini, jadi jika kami semua keluar bik Darmi yang akan membukakan pintu dan menunggu kami sampai pulang" jawab David yang menjelajahi semuanya pada Jamil.


"Eh buset. Pelayan saja ada kepalanya juga, Jamil kira kaga ada" ucap Jamil yang nyengir kuda lalu dia langsung diam saat bik Darmi menyerahkan minuman dingin pada Jamil dan David.


"Silahkan diminum den. Apa saya harus menyiapkan makan malam juga den?" tanya bik Darmi saat menyajikan minuman dingin pada mereka berdua.


"Apa kamu sudah makan?" tanya David pada Jamil.


"Belum bang, maaf kalo boleh Jamil minta makan" jawab Jamil yang menunduk malu mengatakan nya.


"Siapkan saja bik, untuk kami berdua" ucap David yang dijawab anggukan kepala oleh bik Darmi.


"Maaf ya bang, jadi ngerepotin abang" ucap Jamil yang merasa tidak enak pada David.


"It's okay. Kamu juga bagian dari keluarga ini, besok kamu bisa langsung kerja, ikut dengan abang" ucap David yang tersenyum pada Jamil.


"Makasih bang, semoga Allah membalas semua kebaikan abang dan abang selalu diberi kesehatan juga rezeki yang banyak, juga segera diberi jodoh oleh Allah. Amiin" ucap Jamil panjang lebar pada David.


"Amiin, semoga saja semuanya do'a-do'a kamu didengar oleh Allah" ucap David yang mengaminkan ucapan Jamil.


"Maaf den, makan malamnya sudah siap" ucap bik Darmi yang menyela pembicaraan David dan Jamil.


"Iya bik, makasih. Oh iya bik, minta tolong. Kamar sebelah kamar saya dibersihkan ya bik, dan bawakan juga tas Jamil kesana. Dia akan tinggal disebelah kamar saya mulai sekarang" ucap David yang meminta tolong pada bik Darmi.


"Baik den, ada lagi?" jawab bik Darmi sambil bertanya kembali pada David.


"Itu saja bik, cukup" ucap David yang langsung dijawab anggukan oleh bik Darmi.


"Tidak usah bik, bibik istirahat saja. Jamil bisa kok, bersihin kamar juga bawa tas Jamil. Kagak berat juga kagak ribet" ucap Jamil yang meminta bik Darmi tidak melakukan itu.


"Baik den, bibik permisi" ucap bik Darmi yang langsung pergi dari ruangan makan.


"Wah, bang. Ini makanan sebanyak ini bakalah habis apa gimana ini bang? Bisa-bisa, Jamil disini seminggu sudah kek kebo aja nanti" ucap Jamil yang melihat makanan dimeja makan sebanyak itu.


"Ini sedikit Mil, biasanya jika sedang kumpul semua bisa penuh ini meja" jawab David yang tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat Jamil yang melotot mendengar penuturan David.


"Horang kaya mah bebas" ucap Jamil yang hanya menatap semua makanan nya saja tanpa mau mengambil.


"Kenapa diam saja? Ambil apa saja yang kamu inginkan" ucap David yang menatap Jamil hanya diam saja.


"Beneran bang, apa saja boleh Jamil ambil nih? Abang kagak lagi becanda kan bang?" tanya Jamil memastikan jika dia boleh makan sebanyak yang dia mau.


"Tentu saja, emang ini semua untuk siapa?" jawab David yang balik bertanya juga pada Jamil.


"Alhamdulilah, makasih bang" ucap Jamil yang langsung mengambil makanan didepannya dan dia hampir menghabiskan seluruh makanan yang ada.


David hanya tersenyum tipis melihat Jamil yang makan dengan sangat lahap dan menghabisakan makanan nya. Mereka selesai makan dan David membawa Jamil kedalam kamar yang akan dia tempati.


"Bang, ini kagak salah apa? Ini kamar apa ruangan apa gitu bang? Gede bener" tanya Jamil yang melihat kamar besar yang dia masukin dan dia melihat semua perabotan nya juga bagus-bagus dan sangat mewah.


"Sudah jangan banyak nanya. Simpan tas kamu dan bantu abang sekarang" ucap David yang membuat Jamil langsung siap untuk membantu David.

__ADS_1


"Apa yang bisa Jamil banyu bang?" tanya Jamil yang menatap David malah keluar dari kamar.


David masuk kedalam kamarnya diikuti oleh Jamil dibelakangnya. Dia langsung mengganti pakaian nya dan meminta Jamil mengganti perban yang dia beritahu caranya.


"Abang kenapa bisa terluka kek gini bang? Ampek parah banget?" tanya Jamil sambil membersihkan lukanya dan membalutnya dengan kasa yang baru.


"Tadinya luka kecil, cuman karena ada alergi pada obat. Makanya jadi kayak gitu, tapi itu sudah lebih baik dari sebelumnya" jawab David yang mengalihkan pandangan nya saat Jamil akan membalut kembali lukanya dengan kasa.


"Abang takut sama luka abang sendiri?" tanya Jamil yang melihat David tidak mau melihat lukanya.


"Bukan takut lukanya. Tapi takut darahnya, apa masih ada darahnya?" jawab David yang bertanya juga pada Jamil.


"Ada, tapi sudah kering bang. Apa abang memiliki trauma? Sampe segitunya bang? Maaf bukan nya Jamil mau ikut campur atau ingin tahu masalah abang. Cuman jaga-jaga saja buat kedepan nya" tanya Jamil yang menyelesaikan tugasnya membantu David.


"Iya, abang memiliki trauma sejak abang kecil. Rasanya jika lihat darah itu langsung pusing dan mual saja. Walau itu hanya darah bintang atau darah apapun itu, baik sedikit atau banyak" jawab David yang merasakan tegang saat menceritakan tentang darah.


"Oh, baiklah bang. Sebaiknya abang jangan berfikiran seperti itu, Jamil janji kagak bakalan bahas-bahas masalah itu lagi sama abang" ucap Jamil yang diangguki oleh David.


Jamil kembali kekamarnya sedangkan David tidak bisa memejamkan matanya. Yang bisa dia lihat adalah Zahiya yang tersenyum sangat manis pada tunangan nya.


"Aaa, sial!!! Kenapa harus selalu ingat dia terus sih. Come on David, dia sudah bahagia dengan pilihan hatinya. Loe juga harus bisa seperti itu juga" gumamnya yang mengacak-ngacak rambutnya hingga sangat berantakan.


Dia berjalan menuju balkon kamarnya dan disana dia melihat keluarganya sudah datang dan akan berjalan masuk kedalam rumah. Bahkan wajah mereka terlihat sangat bahagia dan penuh dengan senyuman.


"Melihat mereka saja sudah bisa ditebak, jika semuanya memang berjalan sangat lancar juga pastinya sangat meriah. Kenapa harus gue harus keberatan dan tidak suka jika dia bersanding dengan pria lain. Huh, gue harus legowo dan menerima semuanya dengan hati yang lapang" gumamnya yang berulang kali menghela nafasnya kasar lalu...


"Aaa, tidak bisa... Kenapa sulit sekali sih" gumamnya dan dia langsung pergi dari balkon kamarnya menuju pintu keluar dari kamarnya.


"Vid, kamu belum tidur? Ini sudah larut loh" tanya Mama Lulu yang melihat David menuruni anak tangga.


"Nggak bisa tidur Ma, rasanya sulit sekali untuk memejamkan mata" jawab David yang dijawab anggukan kepala oleh Mama Lulu.


"Ya sudah, jangan terlalu dituruti jika tidak bisa tidur. Lebih baik tidur sekarang, kamu sudah minum obatnya?" tanya Mama Lulu yang menjelaskan semuanya pada David.


"Iya Ma, sudah semuanya" jawab David yang duduk disofa dengan menengadahkan wajahnya kearah langit-langit ruangan keluarga tersebut.


"Oh iya, tadi bibik bilang kamu bawa seseorang kemari? Siapa dia dan dari mana asalnya? Mama tidak mau kamu asal bawa orang masuk kedalam rumah" tanya Mama Lulu dengan nada tegasnya.


"Iya Ma. Dia Jam'amil Ma, dia anak baik-baik dan juga yatim piatu. Dia disini karena aku yang bawa dan aku kasihan padanya, apa lagi diusianya yang masih muda menjadi marbhot masjid. Dan bekerja serabutan supaya bisa sekolah dan makan dengan layak. Dia juga yang mengajarkan David menjalankan kewajiban David sebagai seorang Muslim" jawab David sambil menunduk, bersiap jika Mama Lulu akan marah-marah padanya.


"Masya Allah, putra Mama ini sudah taubat rupanya. Alhamdulilah Ya Allah, engkau telah mengabulkan keinginan hamba supaya putra hamba mau bertaubat dan kembali padaMU Ya Robb" ucap Mama Lulu yang malah bersyukur, bukan marah-marah seperti dugaan David tadi.


"Alhamdulilah, berarti dia membawa pengaruh baik pada kamu Vid. Mama senang kamu bisa seperti itu, sekarang kamu harus baik-baikin dia dan jangan menyia-nyiakan sesuatu yang telah Allah tunjukan untuk kamu" ucap Mama Lulu lagi sambil memeluk David dan dia tidak henti-hentinya mengucapkan syukur. Atas apa yang sudah David lalui malam ini.


"Mama apa-apaan sih Ma, sakit tahu. Lagian siapa juga yang bakalan nyia-nyiain dia, David juga sudah sangat percaya juga senang bisa membantunya. Jadi Mama jangan khawatir seperti itu lah" ucap David yang kesal, karena Mama Lulu memeluknya dengan sangat erat dan juga menguel-uel wajahnya hingga memerah.


David hanya bisa menghela nafasnya saja, karena Mama Lulu sangat bahagia dan juga senang. Bahkan Mama Lulu memerintahkan supaya David memperlakukan pemuda bernama Jam'amil atau Jamil itu dengan baik dan tidak menyia-nyiakan nya.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya untuk like, komen, vote dan hadiahnya ya.... Setelah membacaπŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰

__ADS_1


Rat bintang 5 nya juga jangan lupa ya...


Terimakasih and happy reading... πŸ€—πŸ€—πŸ€—


__ADS_2