Pelabuhan Hati Si Playboy Karatan

Pelabuhan Hati Si Playboy Karatan
Bab 31


__ADS_3

Dona segera menyiapkan makanan pesanan David, karena dia sudah tahu apa yang disukai dan tidak disukai oleh David. Jadi dia buru-buru menyiapkan semuanya untuk David, apa lagi dia baru sembuh dari sakitnya.


TOK...


TOK...


TOK...


"Permisi bos, ini pesanan anda sudah siap" ucap Dona yang menyiapkan segalanya untuk David.


'Berasa jadi bininya sibos kalo kayak gini sih. Sudah nyiapin makanan nya, minumnya, lalu sekarang, obatnya, dan apa lagi selanjutnya? Loe ini Mikir apa sih Dona... Jangan mimpi terlalu tinggi, nanti jatuhnya pasti akan sakit' ucap Dona dalam hati sambil terus mempersiapkan makanan untuk David.


"Silahkan bos, ini makanan yang anda inginkan" ucap Dona yang sudah menyiapkan segalanya untuk David.


"Terimakasih, kau boleh keluar" ucap David setelah melihat makanan yang sudah tersaji diatas meja.


"Saya permisi bos" ucap Dona yang langsung pergi dari ruangan kerja David.


David langsung berpindah duduk disofa dan menikmati makanan nya. Setelah itu dia mendapatkan kabar jika Benjamin mengalami kecelakaan dan saat ini kondisinya kritis.


"Kenapa loe malah nekad sih Ben" ucap David yang langsung meninggalkan ruangan nya dan makanan nya.


"Bos, anda mau kemana? Bukankah anda sedang makan siang?" tanya Dona yang mengejar langkah David yang akan menuju lift. Walau dia sedang menikmati makan siangnya.


"Saya harus pergi sekarang. Kau jaga kantor dengan baik dan kerjakan tugas mu dengan baik. Saya harus segera pergi" ucap David yang langsung memasuki lift.


David juga mengabari sahabatnya yang lain. Dan juga Mama Lulu pastinya, karena dia tidak ingin jika Mama Lulu marah dan salah faham lagi padanya.


"Halo, Assalamualaikum Ma, mungkin aku akan pulang terlambat. Karena aku akan kerumah sakit sekarang juga, Benjamin Franklin mengalami kecelakaan Ma. Sekarang aku sudah dalam perjalanan kesana" ucap David yang mengirimpakan voicemail pada Mama Lulu.


"Semoga saja Mama bisa mengerti dengan semua ini dan bisa menjenguknya juga" gumam David yang mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit.


Setelah David memarkirkan mobilnya disana sahabat-sahabatnya sushi datang dan menunggu kedatangan David.


"Lama banget loe. Ayo kita masuk, Ben sedang koleps. Dokter mengatakan akan sangat sulit untuk diselamatkan" ucap Bima yang ada disana sejak awal karena memang bertemu disana karena diabsedang mengantarkan istrinya kontrol kehamilan.


"Apa! Loe jangan bercanda mengatakan hal yang tidak mungkin" ucap David yang langsung berlari kearah ruangan UGD.


"Om, apa yang sebenarnya terjadi pada Benjamin Om?" tanya David yang menatap wajah Papinya Benjamin Franklin yaitu Pak Beni Franklin.


"Dia sedang ditangani oleh dokter. Karena dia mengalami luka yang sangat parah dibagian kepalanya" jawab Papi Beni pada David.


"Astagfirullah, apa yang sebenarnya terjadi Om. Tadi pagi baru saja dia datang kekantor saya dan mengatakan sesuatu tentang pernikahan nya. Dan... Dan sekarang" ucap David yang tidak melanjutkan ucapan nya lagi karena melihat dokter yang keluar dari ruangan UGD.


"Dokter, bagaimana keadaan putra kami dok?" tanya Monica saat dokter datang.


"Maaf, kami sudah melakukan yang terbaik dan sebiasa yang kami bisa. Tapi Tuhan berkehendak lain, kami tidak bisa menyelamatkan nyawanya. Tuan Benjamin Franklin sudah meninggal dunia pukul 11.58 menit. Maaf kami mengatakan itu semua pada kalian semua" jawab dokter tersebut dan langsung meninggalkan mereka semua yang hanya bisa diam saja.


"Tidak... Putraku tidak akan meninggal. Dokter pasti bohong, Pi. Dokter itu bohong kan? Dia pasti berbohong dan diagnosisnya salah besar" ucap Monica dengan histeris dan ditenangkan oleh Beni yang juga merasa sangat syok juga.


"Ben" ucap David yang melihat Benjamin sudah dikeluarkan dan akan segera dikebumikan dipemakaman keluarganya yang ada disana.

__ADS_1


"Kenapa loe pergi secepat ini? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya David yang memegang tangan Benjamin yang sudah tidak bernyawa lagi.


"Maaf, kami akan segera mengirim Tuan Muda Franklin kerumah duka sekarang juga. Jika anda semua ingin berbela sungkawa, silahkan saja kerumah duka. Karena disana seluruh keluarganya sudah menunggunya" ucap seorang perawat pria yang membawa tubuh Benjamin.


"Kenapa gue ngerasa jika ini semua faktor kesengajaan" gumam Galang yang memang melihat ada kejanggalan dalam kecelakaan ini.


"Maksud loe apa?" tanya Guntur yang merasa jika Galang asal bicara saja.


"Loe nggk lihat tadi kondisi mobilnya itu rusak dibagian belakangnya sangat parah. Bukan nya jika menabrak itu rusaknya hanya dibagian depan saja. Terkecuali memang ada yang menabraknya dari belakang hingga mobil yang dikendarai oleh Ben menabrak sangat parah seperti itu" jawab Galang yang memang melihat kondisi mobil Benjamin Franklin dilokasi kejadian.


"Jadi, kita harus selidiki ini semua dengan benar. Apa lagi kita semua tahu, jika dia memang sedang terlibat dalam masalah besar sebelum ini terjadi" ucap David yang memang melihat adanya kenanggalan didalam kecelakaan ini.


"Kita fikirkan nanti, karena sekarang kita harus mengantarkan dia kedalam peristirahatan terakhirnya" ucap Bima yang langsung diangguki oleh ketiga sahabatnya yang lain.


"Gue masih bingung dengan semua ini. Kenapa bisa diam mengalami kecelakaan tunggal dan seperah itu? Apa mungkin dugaan loe memang benar Lang?" tanya Guntur yang memang tidak habis fikir.


Karena mereka baru beberapa saat yang lalu mereka jalan bersama dan juga mengobrol dengan David. Bahkan mereka bertiga saling mengejeknya dan mengatakan jika dia akan berjodoh dengan sekertarisnya David.


"Iya, gue juga berfikir begitu Gun. Apa lagi sebelum kecelakaan itu terjadi kita berdua bersama dengan nya dan saling berbicara masalah serius. Tapi, Tuhan berkehendak lain padanya. Gue bener-bener sangat syok saat mendengar kabar dari loe, Bim" ucap David yang membenarkan apa yang dikatakan oleh Guntur barusan.


"Tapi kita tetap harus melakukan penyelidikan lebih lanjut, walau kedua orang tuanya tidak melakukan apa-apa. Karena gue yakin banget, jika ini ada unsur kesengajaan. Jika tidak mana mungkin bisa merenggut nyawanya" ucap Galang yang langsung diangguki oleh semuanya sahabatnya.


"Kita sudah sampai. Vid, bukankah itu kedua orang tua loe ya?" tanya Galang yang melihat Papa Devon dan Mama Lulu ada disana juga.


"Iya, gue yang ngabari mereka berdua. Karena yang gue tahu, perusahaan yang masih dipimpin oleh bokap gue menjalin kerjasama dengan perusahaan FK.GROUP, jadi sekalian saja mereka mengucapkan bela sungkawa pada mereka yang ditinggalkan" jawab David dengan santainya dan datang menghampiri keduanya orang tuanya bersama dengan ketiga sahabatnya.


"Siang Om , tante. Maaf kami telat, kami baru saja mendiskusikan masalah ini berempat. Dan kami menyimpulkan jika ini adalah sengaja" ucap Galang yang mewakili ketiga sahabatnya berbicara.


"Siapa dalangnya Om? Apa kami mengenalnya?" tanya Guntur dengan sangat antusias.


"Sangat, kalian sangat mengenalnya. Tapi diam dan jangan membuat suasana menjadi tegang. Ini adalah keadaan yang sangat sensitive, lebih baik kita bicarakan nanti saja. Selebihnya kita akan kesana dan mengucapkan turut berduka cita" ucap Papa Devon yang mengajak keempat anaknya Muda itu untuk masuk kedalam bersama-sama.


Semua orang masih dalam suasana duka yang mendalam. Tapi empat sahabat itu bingung dengan kedua orang tua Jennifer dan juga Jennifer itu sendiri tidak ada disana maupun acara pemakaman pun tidak terlihat batang hidungnya.


"Gue tadi lihat Benjamin, dia terlihat sangat sedih tapi dia tersenyum. Gue tidak tahu apa yang terjadi dengan mata gue" ucap Galang yang bingung sendiri dengan penglihatan nya.


"Loe yakin? Apa mungkin dia mau mengatakan sesuatu yang masih mengganjal didalam dirinya? Apa loe memiliki indra keenam?" tanya David yang sangat penasaran akan jawaban yang dikatakan oleh Galang.


"Gue juga nggak tahu, kenapa gue bisa lihat yang begituan. Gue memang akhir-akhir ini sering liat hal-hal yang aneh-aneh seperti itu. Tapi gue abaikan saja, tapi ini. Ini sudah diluar kendali gue sendiri" jawab Galang yang mengusap-ngusap wajahnya hingga tiba-tiba dia malah menjerit.


"Aaaa, asem banget loe. Kenapa loe ngagetin gue?" ucap Galang yang melihat Guntur malah menggodanya.


"Habis, loe itu aneh banget. Tiba-tiba teriak kagak jelas, apa yang loe liat?" tanya Guntur yang melihat sekeliling pemakaman tidak ada siapa-siapa. Karena mereka semua sudah pulang beberapa saat yang lalu. Disana hanya tinggal mereka berempat saja.


"Ikut gue" bukan nya menjawab pertanyaan dari Guntur. Galang mengajak sahabatnya untuk mengikutinya yang entah mau kemana.


"Ben, loe mau ngajakin gue kemana? ini arah pulang rumah loe sendiri?" tanya Galang yang membuat ketiga sahabatnya saling tatap dan menatap lengan nya masing-masing yang bulu-bulu halusnya berdiri semua.


Setelah mengikuti apa yang Galang katakan. Mereka sampai dikediaman Franklin, disana ternyata masih tidak ada siapa-siapa dan mereka langsung masuk kedalam kamar Benjamin. Dimana kamarnya itu sangat berantakan dan semuanya sudah berhamburan dimana-mana.


"Apa yang ingin loe perlihatkan pada gue? Please, gue lelah dengan semua ini. Gue ingin normal kembali dan gue tidak ingin melihat sesuatu yang membuat gue tidak bisa melakukan sesuatu yang gue inginkan. Please, katakan sesuatu dan jangan hanya diam saja" ucap Galang yang masih berbicara sendiri saat ketiga sahabatnya tidak melihat apa-apa selain kamar yang berantakan.

__ADS_1


Galang melihat Benjamin menunjuk sesuatu yang belum tersentuh sedikitpun. Dia langsung menuju kesana dan melihat berkas-berkas penting tentang semua aset milik almarhum Ibunya.


"Apa ini yang loe maksud? Jika iya, ini untuk apa dan semuanya ini akan diserahkan pada siapa? Kenapa loe meminta gue?" tanya Galang lagi sebelum dia pingsan dan tidak sadarkan diri.


"Yah, dia malah pingsan disini. Bagaimana ini?" tanya Guntur yang merasa jika ini semua adalah sasaran yang melakukan pembunuhan pada Benjamin Franklin.


"Gue yakin, jika semua aset berharga ini adalah tujuan utama untuk bisa diam dapatkan. Karena ini semua sudah alih nama menjadi milik Ben dan Belinda? Siapa Belinda? Apa loe tahu siapa Belinda?" tanya David yang membaca surat wasiat dan salah satu berkas yang ada disana.


"Gue menemukan ini" ucap Bima yang menemukan sebuah foto. Dimana ada foto seorang wanita cantik dengan dua anak laki-laki dan perempuan yang berada diatas pangkuan nya.


"Inikan nyokapnya Ben, apa dia ini Belinda yang dimaksud oleh surat wasiat dan berkas-berkas tersebut?" ucap Guntur yang membolak balikan foto tersebut. Dia melihat tulisan, dimana ada nama Benjamin Franklin dan Belinda Franklin.


"Apa mereka berdua kembar? Tapi dimana keberadaan Belinda-Belinda ini?" tanya Bima yang mulai pusing dan juga sangat lelah. Apa lagi harus sudah mulai gelap dan semuanya akan berkumpul dalam mainson Franklin ini.


"Dia memang kembar. Tapi Belinda dikabarkan sudah tiada sejak beberapa tahun silam. Tepatnya saat sebelum nyokapnya Ben meninggal juga" jawab Galang yang sudah bangun dan ikut bergabung dengan ketiga sahabatnya.


"Sudah bangun loe. Apa loe melihat sesuatu lagi?" tanya Guntur yang membereskan semua berkas-berkas yang ada disana.


"Tidak, justru gue aneh. Kenapa gue ada disini? Apa gue sejak tadi pingsan? Tapi kenapa bisa?" tanya Galang dengan bingung dan dia tidak tahu kenapa mulutnya itu sangat lancar saat mengatakan tentang Benjamin.


"Loe serius kagak inget apa-apa? Kenapa bisa? Apa ada sesuatu yang loe rasakan?" tanya David dan Bima yang menatap wajah Galang dengan sangat lekat dan mengintimidasi.


"Serius, gue juga bingung kenapa gue mengatakan itu dengan lancarnya dan gue sama sekali tidak ingat apapun" jawab Galang yang membuat ketiga sahabatnya saling pandang lalu menatap Galang semakin tajam.


"Loe tadi bilang bisa lihat Ben dan mengajak kami kemari. Dan loe berbicara sendiri tapi yang gue heran, setelah loe membuka isi brangkas ini sangat mudah. Apa mungkin loe kesurupan? Jika iya, Wah... Gue takut juga sama loe" jelas Guntur yang mengatakan semuanya pada Galang yang menelan slivanya dengan susah payah.


"Kenapa loe? Sudah, lebih bik kita pulang dan cari tahu keberadaan si Belinda-Belinda ini. Dengan modal wajahnya saja saat kecil" ucap David yang memotret foto tersebut lalu salah satu dari mereka membawa berkas-berkas tersebut pada pengacaranya Benjamin yang sangat bus dipercaya.


"Oke, kita berpisah disini saja. Kebetulan gue bawa mobil sendiri, loe bertiga hati-hati. Jika ada perkembangan langsung kabari gue" ucap David yang sudah masuk kedalam mobil dan segera pergi menemui pengacara pribadi Benjamin.


"Gue bakalan mengamankan ini semua buat loe Ben. Semoga saja Belinda itu masih ada dan ini semua bisa segera diserahkan pada pemiliknya" ucap David yang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh dan dia sudah sampai didalam kantor pengacara Benjamin.


"Selamat malam Tuan Tomlinson. Saya sangat terkejut saat mendengar kabar seperti itu dari anda. Karena sebelum kecelakaan terjadi, Tuan Benjamin Franklin memberikan surat wasiat pada saya. Jika suatu saat ada sesuatu yang terjadi padanya, beliau menginginkan menangkap Ibu tirinya dan juga keluarga Lawrence. Karena mereka adalah satu komplotan" jelas pengacara pribadi Benjamin Franklin.


"Jadi, semua itu memang sudah direncanakan? Lalu dengan Belinda ini, apa anda tahu?" tanya David yang menatap dengan sangat dingin dan datarnya.


"Saya sudah tahu. Karena Tuan Benjamin Franklin sedang mencari kebenaran beliau yang dikabarkan tidak ada dinegara ini. Tapi yang saya ingat, jika beliau masih sangat muda. Karena yang didalam foto ini bukanlah Nona Belinda, melainkan Jennifer Lawrence. Nona Belinda sama sekali belum ada pada saat itu" jelas pengacara yang membuat David semakin bingung dan tidak mengerti.


"Maksud anda? Disini tertera jelas ada nama dua orang tersebut. Jika dia bukan Belinda, maka dimana Belinda tersebut?" tanya David yang memang sangat penasaran.


"Setahu saya, Nona Belinda masih dalam kandungan Nyonya Franklin. Dan pada saat melahirkan, Nyonya Franklin tiada dan bayinya juga menghilang. Tapi menurut pengakuan Tuan Benjamin, jika Nona Belinda memang sengaja dihilangkan. Supaya bisa kembali kapan saja, jika dia dewasa. Tapi Tuan Benjamin merasa jika dia masih ada dan tinggal disuatu tempat. Jika anda menemukan gadis berusia 21tahun dengan wajah yang mirip dengan Tuan Benjamin Franklin dia adalah Nona Belinda. Juga satu lagi, dipaha bagian kiri ada tanda lahir berbentuk oval. Itu informasi terakhir sebelum Tuan Benjamin wafat" jelas pengacara tersebut dan David semakin penasaran. David sengaja merekam pembicaraan mereka atas persetujuan dari pengacara tersebut. Lalu David pamit setelah mendengar semua penjelasan yang dikatakan oleh pengacara pribadi Benjamin Franklin.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya untuk like, komen, vote dan hadiahnya ya...


Terimakasih and happy reading... 🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2