
"Kenapa gue jadi misuh-misuh kagak jelas kek gini sih. Cem mau ditinggal kawinan oleh gebetan, terus gue nangis dipojokan. Ah, amsyong banget nasib gue" ucap David yang misuh-misuh kagak jelas.
"Eh tapi, kenapa dia sudah mau tunangan saja? Apa masih ada yang mau sama gadis dingin dan kaku kek kanebo kering? Gue jadi penasaran sama laki-laki yang jadi tunangan nya itu? Gue besok harus ikut dan lihat sendiri" gumamnya lagi lalu dia memejamkan matanya untuk segera tidur.
Keesokan harinya seperti biasa akan ada kehebohan dikediaman Devon, bagaimana tidak heboh dan gaduh, jika semuanya sedang berkumpul bersama seperti sekarang ini. Dimana yang selalu dipojokan dan dinistakan adalah David yang belum meliliki pasangan.
"Vid, kamu kapan? Kata Mama kamu dulu, salah kakak ralat. Sebelum kejadian ini kamu sempat dekat dengan cucu dari auntie Soraya? Bukan dekat sih tepatnya, kamu yang deketin. Gimana ceritanya terus kamu malah ditinggal tunangan?" tanya Safia yang menahan tawanya melihat wajah David yang hanya manyun itu.
"Sudahlah kak, jangan dibahas. Pagi-pagi malah bahas uang tidak kayak gini" ucap David yang tidak ingin jika keluarganya membahas masalah yang membuatnya mendapatkan kemarahan dari Mama Lulu.
"Kak, kak David sedang misuh-misuh tuh dua. Karena dia kalah sama anak kemarin sore yang bentar lagi bakalan married. Duh kak, jika kakak mau nangis kami izinkan. Hahaha" ucap Dava yang malah membuat David semakin kesal dan ingin rasanya membuat Dava merasakan diejek sepertinya.
Dan ucapan Dava disambut gelak tawa oleh semua orang yang ada disana, termasuk Mama Lulu. Tapi beliau langsung menghentikan tawanya karena dia tidak ingin jika David merasa terasingkan, walau itu semua hanya bercanda.
"Vid, apa kamu akan ikut atau kamu dirumah saja? Mama tidak bisa jika harus meninggalkan kamu sendiri, apa kamu akan ikut?" tanya Mama Lulu yang menatap David hanya diam saja dan tidak melakukan apa-apa, bahkan sarapan nya saja dia cuman mengaduk-ngaduknya saja.
"Ma, dia ini sudah besar dan dewasa. Bahkan bukan hanya dewasa, dia ini sudah tua. Masa Mama nggak tega ninggalin dia dirumah? Kadang aku suka bingung sama Mama" ucap Safia yang masih heran saja melihat Mama Lulu yang masih menganggap David itu anak kecil yang tidak bisa melakukan apa-apa sendiri.
"Ya Mama hanya khawatir saja Fia, David kan baru saja sembuh dan dia sedang masa pemulihan. Makanya Mama tidak tega untuk ninggalin dia disini sendiri. Jika dia baik-baik saja mana mungkin Mama seperti sekarang ini" jawab Mama Lulu yang ada benarnya juga dengan yang dikatakan oleh Mama Lulu.
"Aku ikut Ma, masa aku sudah lebih baik tidak ikut. Lagian kan aku juga penasaran sama calon nya si gadis kaku itu" ucap David yang mengatakan nya dengan sangat bersemangat, membuat kakak dan adiknya saling pandang lalu tersenyum. Karena memiliki bahan ejekan untuk David.
"Mama bisa mendengarnya sendiri kan Ma, jika kakak sangat antusias ingin ikut dan melihat langsung bagaimana gadis yang dia dekati akan melangsungkan pertunangan dan sebentar lagi akan menikah" ucap Dava yang mengatakan itu semua tanpa beban sedikit pun juga.
"Benar juga yang dikatakan oleh Dava Ma, siapa tahu saja David memang ingin melihatnya langsung. Lalu memutuskan untuk segera menikah juga" ucap Safia sambil tersenyum mengejek kearah David.
"Kalian berdua ini selalu saja membuat David selalu terpojok. Apa kalian tidak kasihan? Lihatlah wajahnya itu yang sudah sangat memerah itu. Jadi kalian jangan mengejeknya terus" ucap Papa Devon yang merasa kasihan akan keadaan David yang selalu dipojokan oleh dua saudaranya.
"Ada pembela rupanya kak" ucap Dava yang pura-pura terlihat tidak suka dan marah.
"Iya, dia memang anak kesayangan" jawab Safia yang membuat Dimas hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua kakak beradik itu.
"Aku sumpahin ya kakak dan loe Va, kelak anak laki-laki kalian akan mengikuti jejak gue yang sekarang dan membuat klian lebih pusing lagi" ucap David yang tersenyum smirks saat mengatakan itu semua pada kakak dan adiknya itu.
"Dih amit-amit. Lagian mana ada do'a seorang seperti kakak terkabulakan" ucap Dava dan Safia saat mengucapkan amit-amit sambil mengusap perutnya sedangkan Dava mengusap perut Sonya.
"Kalian lupa, bahwa aku ini adalah kakak dan adik yang teraniaya. Jadi pasti akan didengar oleh Allah" ucap David yang memperlihatkan ekspresi memelasnya.
"Sudah-sudah, kalian ini seperti anak kecil saja" ucap Mama Lulu yang melerai perdebatkan mereka bertiga dan yang menjadi korban tetap David.
"Kamu beneran mau ikut Vid? Apa kamu yakin dan tidak ada yang terasa sakit?" tanya Mama Lulu memastikan jika David memang sudah baik-baik saja.
"Iya Ma, aku akan ikut. Lagian aku bosan jika harus didalam rumah saja, siapa tahu disana akan bertemu dengan wanita yang cocok" ucap David dengan senyuman dibibirnya.
"Baiklah. Tapi ngomong-ngomong, Mama baru ingat. Waktu kami sakit ada seorang wanita yang nyari kamu dan dia bilang dia adalah wanita yang sedang dekat dengan kamu" ucap Mama Lulu yang membuat David mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Mama Lulu.
"Siapa Ma, apa Mama tahu siapa namanya?" tanya David dan itu membuat Safia dan Dava sangat penasaran. Pasalnya mereka berdua tidak tahu dan tidak meliahatnya langsung.
"Kalo tidak salah namanya Yunara ya Pa?" jawab Mama Lulu dan menanyakan nya pada Papa Devon.
__ADS_1
"Iya, namanya Yunara Winata" jawab Papa Devon dan itu membuat David merasa tidak bersemangat.
"Kamu kenapa? Apa ada yang salah dengan nya atau bagaimana?" tanya Mama Lulu sambil menatap David dengan lekat.
"Aku memang dekat dengan nya Ma, tapi aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan nya. Dia memang mengatakan jika dia menyukai David, tapi David merasa tidak nyaman saja. Dia memang cantik dan dia juga lemah lembut, tapi, entah kenapa tidak ada respect apa-apa padanya. Aku memang pernah mengatakan jika berjodoh akan bersatu, jika tidak, ya tidak akan memaksakan. Dan tidak akan ada paksaan diantara kami berdua. Memangnya kenapa Ma?" tanya David setelah menjelaskan semuanya pada Mama Lulu.
"Dia datang dengan Mami dan Papi nya. Katanya mereka berdua, selaku rekan bisnis ingin menjenguk. Tapi karena kamu baru selesai operasi dan sedang dalam masa pemulihan, jadi mereka tidak bisa melihat kamu langsung. Tapi yang membuat Mama kesal dan juga marah, adalah, Maminya dia menghina kamu dan mengatakan yang bukan-bukan tentang kamu. Juga menghina Papa kamu, bahkan menjelek-jelekan kamu juga Papa kamu. Mama yang tidak mengenalnya dan merasa tersulut emosi yang sudah Mama batalkan kontrak kerjasama dan Mama bayar pinalti" jawab Mama Lulu yang menggebu-gebu menceritakan semuanya pada David.
"Maminya dia memang tidak setuju sejak awal juga. Tapi kenapa Papa juga dihina dan dijelek-jelekan? Apa ada masalah antara Papa dan Maminya Yunara?" ucap David yang bertanya pada Papa Devon yang hanya diam dan menghela nafasnya berulangkali.
"Papa memang dulunya pernah dekat-dekat dengan nya dan bisa dibilang sangat dekat, sampai-sampai kami sering melakukan itu. Kalaian bertiga tahu sendiri bukan, bagaimana Papa dulunya. Jadi tidak perlu Papa jelaskan juga, kalian sudah tahu apa jawaban nya. Dia marah-marah dan mengatakan jika tidak ingin berdekatan dengan kita. Apa lagi jika harus menikahkan kalian berdua" jelas Papa Devon pada ketiga anaknya dan juga menantunya yang ada disana.
"Lagian siapa juga yang mau nikah sama anaknya itu. Aku juga kurang respect padanya, apa lagi dia terlihat sangat cengeng dan pokoknya David tidak akan memilihnya juga" jawab David yang mengatakan nya dengan sangat yakin juga sangat tegas mengatakan nya.
"Syukurlah, jika kamu tidak benar-benar dengan nya. Mama juga menjadi orang pertama yang menolaknya, karena Mama tidak suka dengan sikap Maminya yang sok itu" ucap Mama Lulu judes.
"Tumben Mama julid kayak gini?" tanya Dava yang menatap pada Mama Lulu.
"Iya nih Mama tumben banget? Kenapa Mama mendadak jadi kunti, biasanya juga ukhti?" tanya Safia yang membenarkan ucapan dari Dava.
"Ya habisnya, dia itu manager bisa dibaikin kayak gitu. Dia itu yang ada memang harus digituin, sekali-kali wanita kayak gitu dibuat kapok. Seenaknya saja ngata-ngatain anak orang, ya, walau yang dia katakan tidak semuanya salah" jawab Mama Lulu yang kesal sekaligus membenarkan ucapan dari wanita itu.
"Mama ini membelaku, dan ujung-ujungnya malah menistakan ku juga" ucap David yang menghela nafasnya kasar lalu dia malah menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.
"Mama kan bicara sesuai fakta yang ada Vid. Jika kamu tidak ingin dinistakan ya berubah lah" ucap Mama Lulu yang melirik judes pada David.
"Bener juga yang kakak katakan. Masa iya, kak David mau jadi pahlawan super? Yang ada dia mah pahlawan kesiangan. Hahahaha" ucap Dava yang juga ikut tertawa terbahak-bahak melihat kakaknya yang dinistakan hanya diam dan mencebikkan bibirnya.
"Hahaha" Mama Lulu dan Papa Devon juga ikut-ikutan tertawa, menertawakan David dan menistakan nya adalah hiburan tersendiri untuk keluarga mereka.
"Sudah puas tertawanya? Kenapa sih, aku memiliki keluarga kagak ada ahlak semua? Bikin kesel saja" ucap David yang malah beranjak dari duduknya menuju halaman belakang rumahnya.
"Ngambek dia" ucap Mama Lulu yang masih tertawa dan mencoba untuk berhenti tertawa.
David duduk lagi ditepi kolam renang. Dia duduk dan mengingat saat dia duduk berdua dengan Zahiya, saat itu mereka salaing mengobrol. Walau dia yang selalu mengajaknya untuk berbicara.
"Kenapa otak gue dipenuhi oleh gadis itu? Inget David loe nggak boleh mikirin dia, dia itu akan bertunangan. Jadi, lupain dia dan jangan memikirkan lagi" ucap David pada dirinya sendiri.
"Ah, sial! Kenapa sih tuh cewek malah betah banget dalam otak gue?!" ucapnya lagi sambil mengacak-ngacak rambutnya hingga sangat berantakan.
"Jika begini terus, yang ada gue benar-benar gila. Dan akan menjadi penghuni rumah sakit jiwa" gumamnya yang malah tidak sadar malah menceburkan dirinya kedalam kolam.
"Mungkin dengan begini otak gue bakalan dingin Dang melupakan dia, huft" gumamnya yang malah terus menenggelamkan tubuhnya dan dalam beberapa menit dia naik.
"Au ah, gue nyerah! Gue sudah nyerah dan nggak akan lagi-lagi" gumamnya tidak jelas. Karena pagi-pagi dia sudah ceburan dalam kolam renang.
"Loh, den David habis dari mana? Kenapa basah-basahan seperti ini? Apa luka den David sudah sembuh dan bisa terkena air?" tanya asisten rumahtangganya yang melihat David basah kuyup.
"Ah iya. Kenapa aku bisa lupa, aku kekamar dulu bik" ucap David yang berjalan cepat menuju kamarnya untuk mengganti pakaian dan mengganti perban diperutnya.
__ADS_1
"Aaaa" teriak David saat melihat ada darah saat dia membuka perban nya.
"Den, den David kenapa?" tanya bibik yang tadi berjalan mengikuti David.
"Darah bik, tolong bantu David untuk mengganti perban nya" ucap David yang meminta tolong pada bibik yang tadi.
"Ya Allah den, kenapa tidak den" ucap bik Sumi yang sudah lama mengabdikan pada Papa Devon dan Mama Lulu. Jadi beliau tahu jika David memeiliki phobia pada darah.
"Terimakasih bik" ucap David yang hanya pasrah saat bik Darmi meraba-raba perutnya yang seperti roti sobek.
"Den, semoga saja aden cepat sembuh dari lukanya dan juga sembuh dari phobianya. Karena jika nanti den David menikah dan den David menemani istrinya melahirkan bagaimana? Jadi bibik do'akan segera semubuh" ucap bik Darmi yang sudah selesai dengan perban yang melelan sempurna diperut David.
"David hanya mengangguk, karena dia masih merasakan pusing dan lemas saat melihat darah tadi. Jadi dia hanya diam dan mengangguk lemah, bik Darmi langsung pamit setelah membersihkan luka dan membalutnya.
"Bibik permisi ya den. Aden istirahat saja, nanti akan bibik buatkan sesuatu untuk den David" ucap bik Darmi yang pamit pergi dari kamar David.
"Iya bik, terimakasih banyak" ucap David saat melihat bik Darmi akan keluar dari kamarnya.
"Sama-sama den" jawab bik Darmi yang langsung keluar dari kamar David.
"Loh, bibik ngapain dari kamar David? Apa David nya ada?" tanya Mama Lulu yang melihat bik Darmi keluar dari kamar David.
"Bibik habis bantuin den David ganti perban Nyonya. Karena bibik tadi lihat den David basah-basahan dan saat mengganti perban nya sendiri malah teriak, karena melihat darah yang mengering diatas lukanya" jawab bik Darmi dan itu membuat Mama Lulu sangat khawatir akan keadaan David.
"Lalu, lalu bagaimana keadaan nya sekarang bik? Apa David baik-baik saja? Apa dia mengeluhkan sakit atau apa bik?" tanya Mama Lulu yang melihat bik Darmi hanya diam saja.
"Seperti biasa Nyonya. Den David bilang pusing dan lemas, tapi tadi den David akan istirahat. Makanya bibik langsung keluar" jawab bik Darmi dan membuat Mama Lulu tidak sekhawatir sebelumnya.
"Alhamdulilah, saya kira David kenapa-kenapa bik. Sudah panik saya, terimakasih ya bik. Bibik sudah membantu David dan selalu ada untuk kamu semua. Terimakasih banyak bik" ucap Mama Lulu yang tidak segan-segan memeluk bik Darmi.
"Sama-sama Nyonya. Ini memang sudah menjadi tugas bibik" ucap bik Darmi yang membalas pelukan Mama Lulu juga.
Mama Lulu mengurai pelukan nya dan dia masuk kedalam kamar David. Dia melihat David yang memang sedang terlelap, Mama Lulu mendekatinya dan membetulkan selimutnya supya lebih nyaman David istirahat.
"Istirahatlah sayang. Maafkan Mama yang tidak bisa menghilangkan atau menyembuhkan phobia kamu sayang. Maafkan Mama" ucap Mama Lulu yang mengusap kepala David dan mengecup keningnya.
Mama Lulu segera keluar, karena dia tidak ingin mengganggu David istirahat. Mama Lulu benar-benar sangat menyayangi David dan memanjakan nya dalam hal yang wajar. Karena beginilah sikap Mama Lulu dan para Mama yang lain, walau anak-anaknya sudah dewasa sekalipun.
.
.
.
Maafkan Othor ya jika up nya lama. Karena NT tidak tahu kenapa suka lama untuk lulus review, padahal sudah sejak semalam Othor up. Tapi belum lulus review juga😩😩😩...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya untuk like, komen, vote dan hadiahnya ya....
Terimakasih and happy reading... 🤗🤗🤗
__ADS_1