
David dan Benjamin masih menertawakan Guntur yang sudah pucat pasi. Pasalnya dia terus saja digodai dan juga ditakut-takuti oleh kedua sahabatnya yang sengklek itu, jika Guntur akan berjodoh dengan Dona. Wanita cantik tapi bar-bar dan juga kuat.
"Nikmatin saja prosesnya bro, loe memang pantas jika mendapatkan dirinya. Gue jamin, jika loe sama dia, rumah tangga loe bakalan tentram dan juga adem ayem. Hahaha" ucap Benjamin yang melupakan tujuan nya datang kesana itu mau apa.
"Benar, saking adem ayemnya. Loe nggk mungkin berani bohongin dia. Jika loe berani..." ucap David sambil memperagakan tangan nya memotong leher.
"Tidak...... " teriak Guntur yang mungkin sudah membayangkan apa yang akan terjadi padanya setelah semuanya itu benar terjadi.
"Hahaha" David dan Benjamin semakin terbahak-bahak melihat sikap Guntur yang sepertinya memang sudah membayangkan apa yang terjadi.
"Tidak mungkin. Tidak mungkin gue bersama dengan nya, itu mustahil. Belum apa-apa saja dia sudah gaplok pipi gue, bagaimana nanti. Yang ada gue kagak bisa tidur dengan nyenyak. Nggak, nggak akan terjadi" ucap Guntur yang mengakui jika dia habis kena gampar oleh Dona dan dia juga membayangkan semua yang dikatakan oleh David dan Benjamin.
"Jangan difikirkan bro, yang ada loe bakalan stres mikirin itu semua. Lebih baik loe jalani saja semuanya seperti biasa. Eh tapi, bukankah proses cerai loe sedang diurus sama pengacara loe ya?" tanya David yang diangguki oleh Guntur dan dia hanya bisa menghela nafasnya lemas.
"Bisa jadi ini adalah jalanan terbaik yang akan loe tempuh dengan ayank loe yang baru ini. Buahahahaha" Benjamin semakin puas mengejek dan menakut-nakuti Guntur yang semakin tidak karuan dibuatnya.
"Benar juga, tapi awas saja jika loe melakukan cara kotor untuk mendapatkan nya. Gue akan jadi orang pertama yang memberikan loe pelajaran!" ucap David yang memang sedikit memiliki rasa pada Dona. Karena Dona adalah salah satu kariawan nya yang sangat menurut dan juga paling benar dari seluruh kariawan wanita diperusahaan miliknya ini. Dia sudah menganggap Dona seperti adiknya sendiri, jadi, jika ada yang menyakitinya. Dia yang akan maju.
"Serem amat loe bro? Tapi bagus juga" ucap Benjamin yang membenarkan ucapan dari David.
"Loe pada seneng banget ngejekin gue. Terutama loe Ben, loe lupa apa tujuan loe datang kemari?" tanya Guntur yang mengalihakan pembicaraan mereka yang selalu mengejeknya dan menakut-nakutinya.
"Apa memangnya? Kenapa loe nggak ngomong sejak tadi bambank" tanya David yang sudah teralihkan dari pembicaraan sebelumnya.
"Tanya saja sendiri pada orangnya. Noh, sudah mirip sama monkey yang kena jitak" jawab Guntur yang langsung mendapatkan pelototan tajam dari Benjamin.
"Asem loe! Gue disamakan dengan teman sekampung loe!" ucap Benjamin yang melemparkan bantal sofa kearah Guntur dan tepat mengenai wajahnya.
"Sudah, lebih baik loe bicara apa yang ada didalam fikiran loe dan tujuan loe datang kemari?" ucap David yang sok iye mengatakan itu semua pada Benjamin.
"Huh" bukan nya menjawab pertanyaan dari David, Benjamin malah menghela nafasnya berkali-kali dan membuat kedua sahabatnya saling tatap dan mengedikan bahunya bersama-sama.
"Gue, gue bingung dengan semua ini. Gue, gue sudah melakukan itu dengan Jennifer. Tapi yang gue heran, kenapa dia begitu mudahnya melakukan itu semua dan bahkan dia sudah sering melakukan hal seperti itu sebelumnya. Gue sudah bisa menebak semuanya, dan gue tahu jika dia memang tidak beda jauh dengan gue yang suka gonta ganti perempuan" jawab Benjamin yang merasa ini adalah yang terbaik jika berbicara dengan sahabat-sahabatnya.
"Eh buset. Yang bener loe? Dia cewek, dan dia juga sudah lama tinggal disini. Masa iya diantara melakukan hal seperti itu?" tanya David yang tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Benjamin.
"Gue juga awalnya nggak percaya dan mencoba berfikiran positive dan mengerti akan dirinya yang memang sejak dulu selalu bisa dekat dengan siapa saja. Dan gue juga nerima dia jika memang sudah tidak virgin lagi, karena gue juga sadar diri. Karena gue bukan perjaka, tapi... Tapi gue, gue ngeliat sendiri dia sedang melakukan itu semua dengan tiga orang pria sekaligus. Hati gue hancur Vid, dia menganggap gue ini apa? Kalau memang dia lebih suka seperti itu kenapa juga harus mengikat gue?" ucap Benjamin yang menunduk dan sedikit meneteskan air matanya dan dia segera menghapusnya dengan cepat.
"Ngeri banget gue. Apa dia bintang film biru? Jika iya, lebih baik loe batalin saja semuanya sebelum terlambat. Biarpun bukan bintang film biru, itu sudah diluar batas kewajaran. Apa lagi jika sudah menikah dengan loe, yang ada loe hanya jadi orang bod*h dimulainya bumi ini yang mau saja menikahi wanita seperti itu" ucap David yang melihat sendiri bagaimana Jennifer Lawrence melakukan itu semua dengan suka rela dan bahkan sangat menikmatinya.
"Dan bukti ini loe simpan baik-baik, jika bisa loe kirim kekita-kita. Jika suatu saat dia tahu dan menghapus semuanya. Loe masih ada buktinya yang kuat" ucap Guntur yang memberi saran cukup baik tapi juga bisa membuat masalah nantinya. Apa lagi jika Mama Lulu tahu dan itu bukan masalah lagi yang ada. Tapi biangnya masalah.
"Loe kalo ngomong kagak pake Bismilah ya. Loe fikir itu jalan terbaik, sebaiknya loe copy saja semuanya, kebeberapa tempat yang aman menurut loe, dan tidak diketahui oleh siapapun" ucap David yang memberi saran pada Benjamin dan Benjamin menerima saran dari David.
"Gue sudah melakukan nya dengan baik dan sesuai yang loe katakan barusan. Apa lagi loe tahu kan nyokap gue yang rese itu. Dia manana mau mendengarkan kesalahan dari calon menantu pilihan nya yang maha sempurna dimatanya" ucap Benjamin yang mengatakan nya dengan lemas.
"Loe sabar saja, semoga setelah loe mengatakan semuanya pada kedua orang tua loe dan mengatakan untuk membatalkan pernikahan loe. Mereka bisa terima tanpa harus loe memberikan bukti tidak baik itu pada mereka berdua. Walau bagaimana pun juga, dia adalah orang terdekat loe selama ini" ucap David sambil menepuk bahu Benjamin dan memberikan dukungan pada sahabat terdekatnya.
__ADS_1
"Thanks bro, tidak salah gue bercerita pada loe semua. Gue merasa lebih baik dan bisa melakukan apa yang menurut gue benar-benar dan bisa menjadi masa depan gue yang baik" ucap Benjamin yang memeluk kedua sahabatnya dan mereka saling menguatkan satu sama lain.
"Your welcome bro" ucap Guntur dan David yang menepuk punggung Benjamin, mereka berdua menyalurkan kekuatan dan dukungan untuk sahabatnya yang sedang dalam masalah ini.
"Jika loe butuh bantuan, gue akan siap membantu loe" ucap David yang mengurai pelukan nya dari Benjamin.
"Eh tapi, ngomog-ngomong. Rasanya gue pernah ketemu sama nih cewek, dan kalo nggak salah juga. Gue pernah melakukan itu juga dengan teman-teman gue yang biasa main begituan bareng-bareng. Gue baru ingat itu sekarang" ucap Guntur yang mengatakan nya sambil mengingat-ingat segalanya.
"Yang bener loe?" tanya David penasaran dan dia malah meninggalkan pekerjaan nya. Dia malah bergibah dengan dua sahabatnya.
"Iya, pas gue coba. Memang rasanya tidak enak jika tidak melakukan nya berdua, karena rasanya sangat longgar dan tidak ada kerasa apa-apanya" ucap Guntur mulai prontal.
"Wah parah nih bocah. Telinga gue loe cemari dengan ucapan-ucapan loe yang sangat membuat siotong gue bangun" ucap David yang membetulkan letak celananya yang terasa menyempit.
"Wah, parah nih bocah yang memang belum pernah merasakan goa dan kenikmatan" ucap Guntur yang menggelepak kepala David lumayan keras.
"Gue mana berani nyoba-nyoba kek begituan, yang ada gue bener-bener ditendang emak gue bisa-bisa. Gue cuman gonta ganti cewek saja setiap bulan nya, emak gue sudah ceramah tujuh hari tujuh malem. Gimana kalo gue ketahuan jadi teh celup, bisa-bisa burung gue habis nggak bersisa" ucap David yang membekap celananya, lebih tepatnya burungnya yang sudah siap terbang menuju sarangnya. Jika ada.
"Bener juga, tapi gue suka sama nyokap loe yang tegas seperti itu. Bukan hanya tegasnya saja, dia juga penuh kasih sayang. Gue bahkan suka iri jika melihat loe seperti itu dengan nyokap loe, walau dia cerewet. Tapi menurut gue, itu adalah bukti kasih sayang darinya untuk loe" ucap Benjamin yang memang sudah tidak memiliki sosok Ibu kandung, karena yang ada hanya Ibu sambung yang hanya mementingkan keinginan nya saja.
"Enak saja, jangan bilang loe naksir emak gue itu? Gue bakalan bilang ini semua pada bokap gue, supaya loe langsung ditenggelamkan diempang" ucap David yang malah senyum-senyum sendiri saat mengatakan empang.
"Yah elah, loe bedua malah saling curhat. Sudahlah, lebih baik loe bedua jangan bahas masalah itu. Karena kita harus membantu Ben yang memang membutuhkan nya, terlebih nyokapnya yang rese menurut gue" ucap Guntur yang mengingat saat dia dan sahabatnya yang lain bermain kerumah Benjamin yang memang sedang tidak enak badan.
"Maka dari itu. Gue mau pelan-pelan ngasih tahu mereka berdua. Apa lagi pernikahan sudah dekat dan itu gue minta bantuan loe pada buat supaya dari pihak wanita yang membatalkan pernikahan nya. Jadi gue nggak perlu ngomong macem-macem dan mengatakan tentang apa yang pernah gue lihat" jawab Benjamin yang memang sangat ingin lepas dari pernikahan nya yang sangat membuatnya sulit bernafas dengan benar.
"Apa yang ada dalam fikiran loe saat ini? Jangan bilang jika loe sendiri yang bakalan deketin tuh sundel bolong?" tanya Guntur yang mana sudah tahu apa yang ada dalam fikiran David.
"Ya kagak lah. Gila saja gue mau sama sundel bolong. Gue sudah punya rencana yang bagus, tinggal Ben nya mau apa nggak" jawab David dengan semangatnya.
"Memangnya apa rencana loe?" tanya Benjamin yang penasaran apa yang direncanakan oleh David.
"Kalo itu sih loe tinggal setuju dan semuanya beres. Gue yakin jika ini akan berhasil dan pernikahan loe akan benar-benar gagal" jawab David dengan senyaman nya itu, dan membuat kedua sahabatnya saling pandang lalu mengedikan bahunya saja.
Setelah pembicaraan panjang lebar dan juga saling mendukung satu sama lain. Hingga Guntur dan Benjamin pergi dari ruangan David, sekarang Dona sudah bisa masuk dan memberikan beberapa berkas yang membutuhkan tandatangan dari David.
"Maaf bos, ini berkas-berkas yang harus anda tandatangani semuanya sekarang dan anda bisa langsung membaca semuanya" ucap Dona yang sudah masuk dan menyerahkan berkas-berkas tersebut pada David.
"Terimakasih Dona. Kau boleh keluar sekarang" ucap David yang meminta Dona untuk keluar dari ruangan nya.
"Baik bos, saya permisi" ucap Dona yang mundur beberapa langkah, lalu dia berbalik pergi dari sana.
"Gue harus bisa melakukan semuanya karena gue tidak ingin mengecewakan Mama lagi" gumam David yang membaca ulang berkas yang diberikan oleh Dona padanya.
"Dona, bisa keruangan saya sekarang" ucap David yang mengatakan nya lewat intercom diruangan nya.
"Siap bos" jawab Dona yang langsung beranjak dari duduknya dan menuju ruangan David.
__ADS_1
"Apa yang anda inginkan bos?" tanya Dona yang melihat David hanya diam saja dan tidak bergeming dari Duduknya.
"Tolong Kanaya pesankan makanan yang biasa saya pesan" ucap David yang tidak mengalihkan pandangan nya dari berkas-berkas yang sedang dia baca sekarang.
"Baik bos. Ada lagi?" tanya Dona yang akan melangkah tapi tidak jadi karena melihat David aka. mengatakan sesuatu lagi.
"Tidak ada, itu saja cukup. Jika kamu menginginkan nya silahkan saja pesan sekalian" jawab David yang memang sudah sangat kelaparan.
"Baik bos. Terimakasih, saya akan makan dikantin saja" jawab Dona yang segera keluar dari ruangan David, karena dia tidak bisa menahan gejolak dalam dirinya saat melihat David yang semakin tampan saja dimatanya.
"Huh, aku harus bisa menahan ini semua. Kenapa sih sibos malah semakin tampan saja kelihatan nya semenjak berubah jadi lebih cool" gumamnya yang langsung memesan makanan untuk David.
Setelah melakukan itu Dona mengerjakan pekerjaan nya lagi sambil menunggu makanan untuk David datang. Dia tetap fokus dengan pekeraan nya hingga Adi dan Jamil datang menghampirinya mengajak makan siang bersama.
"Assalamualaikum, malah masih sibuk saja" ucap Adi yang sudah biasa seperti itu setiap hari.
"Wa'allaikumsalam, iya nih. Lagi nunggu pesanan bos datang, makanya masih stay disini" jawab Dona yang menyandarkan punggungnya pada sandaran kursinya.
"Nah, apa loe nggak akan makan siang? Ini sudah waktunya tahu" tanya Adi dan Jamil hanya diam saja menjadi pendengar setia.
"Tolong sekalian bawakan saja buat gue, kayaknya gue bakalan makan disini saja. Soalnya sibos kayaknya sudah bosan buat makan diluar deh kayaknya" jawab Dona yang mengatakan nya tanpa beban pada Adi yang ada didepan nya.
"Dasar, yang sudah. Mana Duitnya? Gue bliin doang" ucap Adi yang menadahkan tangan nya meminta uang pada Dona.
"Nih, sadar laki-laki kere. Masa harus beli sendiri juga pake uang sendiri pula" gerutu Dona yang memberikan uang duapuluh ribuan pada Adi.
"Eh, loe sudah miskin apa? Masak nitip duapuluh rebu doang, yang benar saja" tanya Adi yang memperlihatkan uang yang ada ditangan nya.
"Sudah sana pergi, yang penting adalah nasinya. Mau peke apapun yang penting gue makan. Banyak ngomong juga nih orang, gue sumpel juga tuh mulut" ucap Dona yang malah kesal dengan Adi yang memang selalu ngajak ribut itu.
"Oke-oke, tapi jika cuman tahu sama tempe saja jangan nyalahin gue" ucap Adi yang beranjak dari sana menjauhi Dona yang siap mengamuk.
Jamil malah terpesona melihat Dona yang sedang marah-marah pada Adi. Dia merasa seperti melihat Ibunya yang sudah tidak ada lagi saat melihat Dona yang marah-marah seperti itu.
Mereka melangkah menuju kantin didalam perusahaan. Jamil yang memang sudah mulai aktif bekerja membantu pekerjaan Adi, sedangkan sepulang kerja dia akan kuliah seperti keinginan nya sebelumnya.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya untuk like, komen, vote dan hadiahnya ya...
Juga rat bintang 5 nya jangan lupa...
Terimakasih dan happy reading... 🤗🤗🤗
__ADS_1