Pelabuhan Hati Si Playboy Karatan

Pelabuhan Hati Si Playboy Karatan
Bab 8


__ADS_3

"Akhirnya gue selamat dari singa yang sedang ngamuk" ucapnya sambil bergidik ngeri mengingat kedua orang tuanya yang akan marah padanya.


Tiba-tiba dia baru ingat jika dia tidak memiliki uang sedikitpun juga. Dia lupa untuk memintanya pada Mama Lulu karena dia malah membuat mereka marah padanya.


"Ah, sial. Kenapa gue bisa lupa, jika gue sedang dihukum. Mudah-mudahan bensin nya cukup sampe kantor" gumamnya yang melihat tanda pengusian sudah berkedip ingin diisi.


"Gue harus segera sampai kantor jika tidak ingin jalan kaki" ucapnya yang langsung tancap gas menuju D.DRC, tapi memang nasib sial sedang menghampirinya. Jangankan sampai perusahaan, setengah jalan saja tidak.


"Sial, sial, sial!! Kenapa harus mati disini sih" gerutunya sambil menendang ban mobilnya lalu dia mengumpatinya.


"Mana pulsa nggak punya, apa lagi kuota. Kenapa nasib gue bisa sesial ini!!! Lengkap sudah penderitaan gue hari ini" ucap David yang sedang meratapi nasibnya yang malang saat ini.


"Ah, lebih baik gue kesana saja. Gue tuker saja ponsel gue ini jadi yang biasa, bisa gue gunakan tuh duit" ucapnya yang langsung menuju counter HP.


"Tapi bagaimana memindahkan semua data-data dalam ponsel gue? Ah, yang ada gue diejek sama si kadal itu. Tengsin deh gue" ucapnya yang akan mundur lagi dari sana tapi dia mengingat ada uang sisa belanja waktu itu didalam dasboard mobilnya.


Dia segera berlari dan menuju mobilnya. Dan benar saja ada pecahan uang duapuluh ribuan dan patimura yang sudah legend.


"Dapat seberapa kuota dengan uang receh seperti ini?" gumamnya mengatakan uang duapuluh ribu receh. (Bambank, itu uang belanja Othor sehari!) Dasar sultan uang segitu dibilang receh.


"Gue coba saja lah, dari pada gue jadi gelandangan kek gini" ucapnya yang saat akan menyebrang jalan malah melihat seseorang yang sangat dia kenal. Siapa lagi jika bukan Guntur yang sedang jalan mengantarkan wanita simpanan nya.


"Bisa gue manfaatkan. Loe bisa aman uang, siapa tahu nanti loe gue butuhin nanti" gumamnya yang langsung mengantongi uang nominal duapuluh satu ribu miliknya.


"Hai Gun, gue bisa minta tolong kan? Please, gue butuh banget bantuan dari loe" ucap David yang sudah berdiri didepan Guntur.


"Astajim, gue kaget dodol. Bantuan apa?" tanya Guntur yang melihat sahabatnya yang satu ini terlihat sedikit berantakan.


"Gue pinjem duit" ucapnya berbisik pada Guntur.


"Apa! Apa gue kagak salah denger? Loe pinjem duit dari gue? Hahaha" tanya Guntur yang malang berteriak didepan nya. Membuat David kesal dan ingin rasanya mengumpal tuh mulut kaleng rombeng.


"Gue serius. Loe tahu kan nyokap gue kayak gimana? Gue sedang dihukum dan gue kagak pegang duit sepeserpun juga. Tolong bantu gue dong, please. Gue bener-bener butuh banget, apa lagi gue ada meeting penting sebentar lagi. Please tolongin gue" ucapnya lagi yang membuat Guntur iba juga. Dia membuka dompetnya dan memberikan beberapa lembar uang berwarna merah pada David.


"Cukupkan? Gue hanya menyisakan sedikit nih didompet gue" tanya Guntur yang dijawab anggukan kepala oleh David.


"Cukup, sangat cukup malah. Thanks ya bro, tapi gue butuh bantuan loe sekali lagi" ucapnya sambil nyengir menampilkan gigi putihnya.


"Apa lagi? Gue juga buru-buru, tuh loe liat. Cewek gue sudah marah-marah kek singa betina" ucap Guntur yang melirik kearah kekasihnya.


"Gue pinjem bensin punya loe. Bensin mobil gue abis" jawabnya yang membuat Guntur kesal juga pada sahabatnya ini.


"Loe ini lama-lama ngelunjak juga ya. Sudah, mana mobilnya loe" tanya Guntur yang menahan emosinya karena sedang diuji oleh David.


"Tuh, gue nggak bisa bawa kemari. Abis banget tuh bensin" jawabnya yang membuat Guntur semakin kesal dan akhirnya...


BUK...


Satu bogeman mentah mendarat dengan sempurna diperut David. David hanya bisa mengaduh kesakitan, tapi dia tidak protes. David malah nyengir menahan sakit diperutnya, lalu Guntur menyerahkan kunci mobilnya.


"Dari pada ribet, loe pake saja mobil gue. Urusan mobil loe gue yang urus, pergi loe!" ucap Guntur yNg mendorong tubuh David menuju mobilnya.


"Thanks bro. Bye" ucap David yang langsung masuk kedalam mobil Guntur dan mengemudikan nya.

__ADS_1


Saat diperjalanan dia seperti mencium aroma tidak sedap didalam mobil tersebut. Dia juga melihat ada gundukan pakaian dan beberapa lembar tisu yang berserakan.


"Sial!! Tu bocah maen disini? Sial, kalo gue kagak buru-buru nggak mau gue make mobilnya yang bau punyanya dia. Iiihhh, jijik banget sih. Jangan-jangan disini juga lagi? Aaaa... " teriak David saat menyadari jika tempat duduk supir juga agak lengket-lengket kayak gimana.


David terus mengumpat dan dia menyumpahi Guntur untuk burungnya nggak bisa bangun lagi. Supaya dia tidak bisa masuk kedalam sarangnya yang asal itu.


"Bos, tumben telat. Apa bos belum mandi? Kenapa baunya seperti..... " tanya Adi yang menyambut kedatangan David didepan loby perusahaan.


"Diam dan tutup mulutmu rapat-rapat!" ucap David yang langsung masuk kedalam lift menuju ruangan nya. Adi malah tersenyum penuh arti melihat David yang seperti kena gap sedang melakukan sesuatu dengan seseorang.


David langsung masuk kedalam ruangan kerjanya dan menuju ruangan istirahatnya dan langsung membersihkan kembali tubuhnya. Dia juga mengganti seluruh pakaian nya yang sudah tercemari oleh milik Guntur dan wanitanya itu.


"Nasib gue memang benar-benar sial. Sudah kagak ada duit, sekarang malah harus merasakan dan mencium aroma yang namanya s***ma milik orang lain" ucapnya sambil menyisir rambutnya.


David langsung keluar setelah selesai dan rapih kembali. Dia segera menuju ruang meeting diikuti oleh Adi yang selalu standby diamana pun ada tugas untuk menemani bosnya bekerja.


"Oke, semuanya sudah deal dan sesuai dengan kesepakatan kita. Jika ada yang ingin ditanyakan, silahkan tanyakan pada asisten pribadi nya ini" ucap David yang sudah menutup meetingnya dengan sangat lancar.


Jika sedang seperti ini tidak terlihat jika David adalah seorang playboy dan suka slengean juga konyol. Dia bahkan terlihat lebih tampan dan seperti CEO-CEO muda dan dingin seperti kebanyakan para CEO.


Tapi siapa yang menyangka, dibalik semua itu ada yang ditutupi. Baik itu kebaikan maupun keburukan, tapi tetap saja. David ya David yang selalu ramah dan tidak pandang setatus atau kasta seseorang. Mau itu seorang OB sekalipun dia selalu berlaku baik.


"Tidak ada Tuan. Kami sudah mengerti dan faham dengan semuanya, kami pamit dulu. Semoga kerjasama kita ini berjalan lalu dan bisa sukses" ucap seorang pria paruh baya dan ternyata dia membawa anak gadisnya yang memang tidak bisa mengalihkan pandangan nya dari David.


"Baik jika begitu. Saya pamit lebih dulu" ucap David yang menjabat tangan pria tersebut yang sudah menjalin kerjasama dengan perusahaan D.DRC.


"Terimakasih Tuan. Jika ada waktu kami mengundang anda untuk makan siang bersama. Apa lagi sebentar lagi waktunya makan siang" ucapnya sambil menawarkan ajakan makan siangnya pada David.


David hanya tersenyum dan mengangguk saja. Dia manana bisa menolak jika ada seseorang yang berniat baik padanya. David langsung menyetujuinya jika mereka akan makan siang sebagai perkenalan dan menjalin keakraban.


"Tentu saja Tuan. Karena ini memang masalah perusahaan, kenapa tidak" jawabnya dengan senyuman mengembang dibibirnya.


"Baiklah jika begitu, saya bersiap-siap dulu. Jika anda mau lebih dulu juga silahkan" ucap David yang sengaja mengulur waktu untuk mengetahui bagaimana sikap mereka terhadapnya.


"Tentu saja kami akan menunggu anda Tuan. Akan tidak baik jika kita jalan masing-masing" jawabnya yang langsung diangguki oleh David.


Mereka berlima jalan beriringan. Lebih tepatnya David dengan pemilik perusahaan dan juga putrinya didepan, sedangkan Adi dan asisten pribadi mereka berada dibelakangnya.


Mereka semua sudah berada didalam mobil yang sama. Sedangkan pria yang menjadi Ayah dari gadis yang sedang bersama dengan David berada didalam mobil yang lain.


"Maaf, apa anda sudah lama mengikuti Ayah anda Nona?" tanya David yang tidak suka keheningan.


"Belum lama ini Tuan, karena nantinya saya yang akan menggantikan posisi beliau" jawab wanita itu dengan sopan. Cara berpakaian nya juga sopan dan jangan lupakan senyuman manisnya itu. Membuat David menjadi canggung dan tidak tahan jika tidak melancarkan rayuan nya.


"Jangan panggil saya Tuan. Kesan nya saya ini sangat tua" ucap David yang memulai ingin lebih dekat.


"Buaya sedang melancarkan aksinya" gumam Adi yang sedang ada didepan mereka berdua. Yang langsung mendapatkan pelototan tajam dari David.


"Lalu saya harus panggil anda apa? Apa saya harus memanggil anda Pak?" tanya wanita itu lagi.


"Ya jangan Pak juga. Malah lebih parah itumah" ucap David yang mencoba duduk mendekat kearahnya.


"Ngomog-ngomong, kita belum berkenalan. Nama saya David anda sendiri siapa Nona cantik?" tanya David yang mengulurkan tangan nya pada wanita itu.

__ADS_1


"Nama saya Yunara" jawabnya dengan tersenyum pada David dengan lesung pipi yang sangat manis.


"Nama yang manis, semanis orangnya. Panggil David saja, jangan ada embel-embel Tuan apa lagi Pak" ucap David yang mengecup punggung tangan Yunara.


"Itu akan tidak sopan, apa lagi jika sedang dalam urusan pekerjaan. Itu akan memberi contoh tidak baik pada orang-orang nantinya" ucap Yunara yang malah sedikit risih karena David terus saja mendekatinya.


"Kenapa tidak, ini jika kita sedang berdua saja seperti ini. Nona mau kan, jika saya memanggil anda dengan sebutan nama saja? Akan lebih bagus dan lebih akrab bukan?" tanya David yang mengatakan nya sambil menegakkan tubuhnya.


"Boleh" jawabnya singkat.


"Kamu tahu Yunara, bedanya senyuman kamu dengan alam?" tanya David yang melancarkan rayuan mautnya.


"Apa?" tanya Yunara.


"Tidak ada bedanya. Karena kamu dan alam sama-sama sangat menyejukan dan juga sangat indah dipandang" jawab David sambil tersenyum manis pada Yunara.


"Kamu bisa saja, mana ada seperti itu" ucap Yunara yang terlihat malu-malu dan wajahnya terlihat memerah akibat rayuan dari David.


"Kamu tahu Yuna, jika seandainya aku tidak melihat kamu dalam satu detik saja. Rasanya sudah seperti satu abad lamanya" rayu David lagi dengan terus menatap Yunara.


"Jangan merayu aku terus. Kita sudah sampai" ucap Yunara yang langsung keluar dari mobil David dan masuk kedalam restaurant lebih dulu.


"Bos, sebaiknya anda berhati-hati. Jangan sampai anda melakukan kesalahan padanya, yang saya tahu dia ini pemegang sabuk hitam taekwondo. Jika anda macam-macam, saya takut anda akan dibuat babak belur olehnya" ucap Adi yang menakut-nakuti David supaya mundur akan mendekati Yunara Putri Winata.


"Memangnya kenapa? Siapa tahu saja memang dia jodoh gue" tanya David yang sudah dalam mode biasa. Bukan atasan dan bawahan lagi, karena ini sudah waktunya istilahat.


"Saya hanya mengingatkan saja bos. Syukur-syukur anda mendengarkan, karena saya tidak ingin jika anda masuk rumah sakit. Itu saja sih, jika memang berjodoh akan lebih baik lagi" ucap Adi yang berjalan mengikuti langkah kaki David menuju private room didalam restaurant tersebut.


"Hmm" jawab David yang terus melangkah memasuki restaurant dan menjadi pusat perhatian semua tamu yang mengunjungi restaurant tersebut. Terutama para wanita-wanita yang tidak berkedip saat menatap David yang walau sudah tua masih terlihat seperti anak muda.


"Dia siapa, ganteng banget" ucap salah seorang wanita yang ada disana.


"Iya, dia tampan banget. Seperti pangeran yang keluar dari kerajaan" ucap salah seorang dari mereka lagi.


"Sungguh, ciptaan Tuhan yang paling sempurna" ucap salah satu dari mereka lagi bahkan seorang pelayan sampai menabrak saking terpesonanya melihat David.


Dan masih banyak lagi ucapan-ucapan dari para wanita yang ada disana. Membuat David semakin merasa terbang diatas awan mendapatkan berbagai pujian dari para wanita. Tapi tanpa disadari oleh David, dia sedang diawasi oleh mata elang seseorang yang memang mengincarnya sejak sesuatu miliknya hilang dan ada bersamanya.


"Dasar pria tua tidak tahu diri. Sudah tua masih saja tebar pesona" ucapnya yang langsung pergi dari sana. Dia ingin mendekat dan siapa tahu dia bisa melihat dimana miliknya itu.


Kembali lagi pada David yang sudah masuk kedalam private room. Dimana sudah ditunggu dengan berbagai macam hidangan yang ada diatas meja.


"Silahkan duduk Tuan, anda juga" ucap Pak Winata pada David dan Adi yang ingin menuju tempat lain.


"Apa saya tidak apa-apa jika bergabung dengan anda Tuan?" tanya Adi yang ingin memastikan jika dia memang diperbolehkan duduk bersama dengan mereka.


"Tentu saja, karena ini makan siang bersama. Untuk apa berjauhan duduknya" jawab Winata pada Adi yang awalnya ragu untuk bergabung sekarang ikut bergabung dengan mereka semua. Termasuk dengan asisten pribadi Winata juga.


"Terimakasih Tuan" ucap Adi yang sudah duduk dan bergabung dengan mereka semua.


David dan Yunara saling pandang satu sama lain dan keduanya terlihat saling mengagumi satu sama lain. Jika David sudah biasa melakukan itu pada semua wanita yang dia targetkan. Sedangkan Yunara masih terlihat malu-malu saat tatapan mereka berdua bertubrukan.


__ADS_1



Tak kasih visual babang David nih... Biar makin greget ngehalunya....


__ADS_2