
"Kagak perduli gue. Mau loe mampus juga kagak perduli" jawab David cuek dan dia malah mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang saat akan sampai pada lokasi yang diberikan oleh Bima.
"Loe emang teman durhakim. Gue spot jantung dan hampir saja mampus gegara loe, loe malah santai. Bener, gue bener-bener kapok jika harus naik mobil bareng sama loe yang sedang kesurupan reog. Untung nih jantung buatan Tuhan, kalo buatan Jepang kagak mungkin gue selamat sampai ini" gerutu Guntur yang masih duduk didalam mobil dan dia mencoba menetralkan nafasnya dan tiba-tiba perutnya seperti diaduk-aduk dan....
UEEK....
UEEK....
UEEK...
"Loe jorok banget sih. Untung sudah sampai dan loe sudah turun, dih amit-amit jabang bayi" ucap David yang bergidik mepihat Guntur yang sedang muntah-muntah disamping mobil David.
"Kenapa dia? Apa dia sedang hamil?" tanya Galang yang juga baru sampai ditempat yang ditentukan oleh Bima.
"Iya kali" jawab David cuek dan dia langsung masuk meninggalkan dua sahabatnya yang sedang saling pandang dan mengedikan bahunya.
"Kenapa dia? Sensi amat" tanya Galang dan dia menelisik penampilan Guntur yang berbeda dari biasanya.
"Dia patah hati dan gue jadi sasaran kegilaan nya. Yuk masuk" jawab Guntur yang mengajak Galang masuk kedalam.
"Loe, tumben weekend pake pakaian rapih? Habis kondangan loe?" tanya Galang yang berjalan disamping Guntur.
"Iya, nganterin si kamvret kondngan. Dia lagi patah hati karena cem-ceman nya kawin sama cowok lain dan dia bilang lebih keren dia kemana-mana. Makanya dia ajak gue kebut-kebutkan dijalan dan hampir saja ketabrak kereta. Gegara tuh bocah yang patah hati" jawab Guntur yang masih misuh-misuh pada David yang hampir saja membuat nyawanya lewat.
"Yang bener loe? Jadi beneran jika dia memang ada hati pada tuh gadis? Terus-terus, apa yang dia lakukan?" tanya Galang yang penasaran akan cerita dari Guntur.
"Nanti saja gue nyerita. Sekarang ada apa sih si Bima ngajakin kita kemari?" tanya Guntur yang sudah menjawab pertanyaan dari Galang.
"Kagak tahu gue, dia cuman koar-koar suruh cepat datang kesini" jawab Galang yang berhenti melangkah saat melihat penampilan Bima yang kacau.
"Ada apa ini? Kenapa loe awut-awutan kayak gini Bim?" tanya Galang yang langsung duduk disamping Bima.
"Tenangin diri loe dulu. Biar semunya tenang dulu, loe bisa cerita ke kita-kita" ucap David yang sejak tadi melihat Bima yang sangat frustasi. Dan dia belum mengatakan apa-apa pada ketiga sahabatnya.
"Iya, jika loe sudah tenang. Loe bisa nyerita ke kita-kita, dan. Kenapa loe bawa Junior? Apa bini loe kagak ada dirumah?" tanya Galang yang memangku Junior, anaknya Bima yang paling kecil.
Karena yang besar sudah duduk dibangku SMP dan dia mungkin akan malu jika diajak nongkrong oleh sang Papa. Karena Bima memang sudah lebih dulu menikah dari sahabat-sahabatnya yang lain dan dia juga yang paling waras dibandingkan dengan ketiga sahabatnya.
"Dia memang sengaja gue ajak kemari. Karena dia tidak mungkin gue tinggal sendiri dirumah, karena Kinan pergi dari rumah dan dia hanya bilang sudah tidak nyaman sama gue. Bahkan dia juga bilang, jika anak yang dia kandung bukan anak gue. Gue bener-bener bingung dengan semua yang dia katakan, tapi saat gue lihat dengan mata kepala gue dia dijemput dan dia juaga melakukan hal yang membuat gue marah padanya. Dia tega melampiaskan kemarahan nya pada Junior, loe semua bisa lihat lebam dan bekas cubitan dilengan nya. Itu semua perbuatan dia, gue bener-bener bingung dengan sikapnya sekarang-sekarang. Gue anggap ini bawaan hamil dia sensi, tapi ternyata gue salah guys" ucap Bima menceritakan semuanya pada ketiga sahabatnya.
"Astajim, setega itu dia pada anak loe ini? Dasar bener-bener tuh cewek, anak sendiri digituin kek pada siapa saja" ucap Guntur yang mengatakan nya dengan heboh.
"Astagfirullah, loe sudah tanya baik-baik padanya? Kenapa sampe tega ngelakuin itu pada anak loe, yang juga anaknya?" tanya David yang sedikit waras memberi pertanyaan.
__ADS_1
Sedangkan Galang sedang sibuk ngajak bermain dan mengobati luka dilengan Junior, dia sangat tidak tega. Apa lagi Junior adalah anak balita yang baru berusia kurang dari tiga tahun. Dan dia sangat lucu, walau dia sedang terluka masih bisa tersenyum dan bermain.
"Sudah, sudah gue tanya. Dan gue juga tidak emosi saat itu, karena gue yakin. Jika tidak akan ada seorang Ibu pun tega berbuat kasar pada anaknya jika tidak ada yang dia sembunyikan dan dia berkeinginan lain. Tapi tetap saja jawaban nya adalah membenci gue, karena gue dulu tidak menolak saat dijodohkan dengan nya. Dan yang lebih menyakitkan lagi, Julie. Dia bukan darah daging gue, dia mengakui segalanya tadi, hanya Junior yang benar-benar anak kandung gue. Makanya dia sangat membenci Junior, karena wajahnya sangat mirip dengan gue. Gue tidak tahu, kenapa gue begitu bodoh dan tidak pernah menyadari jika dia sudah berbohong selama ini dan melakukan per*inahan dengan kekasihnya yang dulu. Gue nggak tahu harus bagaimana sekarang, tidak mungkin gue kembali kerumah, karena rumah sudah atas namanya. Dan gue tidak mungkin tinggal di apartment yang mungkin tidak akan nyaman buat Junior" jelas Bima yang masih menangis dan dia mengusap-ngusap wajahnya dan rambutnya sudah sangat berantakan.
"Loe bisa nitipin Junior dirumah gue, disana ada anak-anaknya Dava dan sesekali kak Safia juga kesana. Setelah loe pulang kerja baru loe jemput lagi. Kebetulan tetangga gue mau jual rumahnya, awalnya mau gue beli dan akan gue tempati sendiri. Tapi nyokap gue nggak ngijinin, loe bisa ambil tuh rumah. Jadi loe bisa deket jika anter jemput dia nantinya. Hanya terhalang jalan saja" ucap David yang merasakan sakit juga, dia entah kenapa sangat peka dan juga tidak bisa melihat orang-orang terdekatnya terluka dan menderita. Apa lagi ada seorang anak bersamanya.
"Thanks bro, gue akan kesana sekarang. Tidak mungkin juga gue nanti-nanti melakukan nya, sebelum itu gue mau ketemu segan Julie dulu. Walau bagaimana pun gue sudah sangat menyayanginya dan dia juga ada disini, karena dia mendengar apa yang dikatakan oleh Kinan dan gue" ucap Bima yang menunjuk kearah anak perempuan yang sedang duduk termenung dan sendirian.
"Gue kira loe cuman berdua doang dengan Junior, biar gue ajak dia kemari" ucap Galang yang memang sangat menyukai anak-anak.
"Hai cantik, boleh uncle dan Junior gabung?" tanya Galang yang masih berdiri disamping anak-anaknya perempuan berusia 12tahun itu.
"Uncle, boleh uncle. Apa Papa baik-baik saja? Aku takut Papa akan membenci ku yang ternyata bukan anaknya Papa uncle. Apa aku bisa menatap Papa dan Papa tidak marah padaku?" tanya Julie yang langsung to the point pada Galang.
"Papa kamu justru sangat menyayangi kamu sayang. Apa kamu tahu, kamu jangan pernah meragukan kasih sayang dari Papa kamu itu. Lihat dia yang sedang menangis menatap kemari, kamu hampiri dia dan berikan semangat padanya. Dia sedang membutuhkan dukungan dari kalian berua, apa kamu mau hmm?" jawab Galang yang mengusap kepala Julie dan dia bertanya akan ketulusan hati Bima padanya sejak dulu.
"Iya uncle, terimakasih" ucap Julie yang bangkit dari duduknya dan menghampiri Bima sambil menggendong Junior yang badan nya gembul.
"Papa" ucap Julie yang langsung mendapatkan pelukan dari Bima dan dia mengecupi kepala Julie, putri yang sangat dia sayangi dan dia yang paling dekat dengan nya sejak dulu. Bahkan disaat Julie sakit, hanya akan diam dan menurut pada Bima saja. Tidak ingin bersama dengan yang lain.
"Jangan pernah merasa sendiri sayang. Kita akan tetap seperti ini sampai kapanpun juga, maafkan Papa jika nanti interaksi kita tidak bisa dekat lagi. Jadi Julie mengertikan yang Papa maksud? Papa hanya ingin menjaga kamu dan tidak ingin berjauhan dari kamu. Kamu tetap putri kesayangan Papa dan tidak akan pernah berubah" ucap Bima yang mengusap air mata Julie dipipinya.
"Terimakasih Papa, aku akan selalu bersama Papa dan adik. Papa jangan bersedih lagi, ada kami yang ada untuk Papa" ucap Julie yang tersenyum dan memeluk Bima.
"Sayang, kita akan pindah dan kalian mau kan jika kita pindah? Papa hanya ingin kalian berdua merasa nyaman, tapi jika kalian tidak suka. Maka kita akan kembali kerumah kita sebelumnya" ucap Bima yang meminta persetujuan dulu dari kedua anak-anaknya.
"Kami akan ikut Papa kemanapun yang Papa mau. Asal Papa membawa kami jauh dari Mama" jawab Julie yang tidak melanjutkan ucapan nya.
"Baiklah, kita akan ketempat uncle David dulu. Setelah itu kita bisa pindah kerumah baru kita" ucap Bima yang mengajak kedua anaknya untuk masuk kedalam mobilnya.
"Ini semua surat-surat rumah dan property yang ada didalam rumah. Loe bisa cek dan semuanya masih bagus, apa loe butuh sesuatu lagi? Biar gue siapkan buat loe" ucap David yang menyerahkan berkas-berkas jual beli rumah dan property ada Bima. setelah mereka sampai dirumah baru Bima dan David juga bertanya lagi padanya.
"Ini saja sudah cukup Vid. Thanks, gue tidak tahu jika semua ini tidak ada kalian. Mungkin gue akan berada dititik paling rendah dan berat dalam hidup gue Sekali lagi terimakasih banyak" ucap Bima yang menepuk bahu David.
"Oh iya gue juga sudah sewa baby sitter untuk Junior dan juga pelayan untuk beres-beresnya. Dan menyiapkan makan untuk loe dan anak-anak loe, sebentar lagi akan datang" ucap Galang dan Guntur memberikan bantuan nya juga pada Bima.
"Thanks you bro, gue jadi ngeropotin loe semua" ucap Bima yang mengusap air matanya yang tiba-tiba mengalir dipipinya.
"You're welcome bro. Inilah gunanya sahabat, disaat ada yang membutuhkan kita harus gotong royong membantunya. Jangan hanya disaat senang dan bahagia saja adanya, disetiap suasana juga harus ada. Itulah sahabat sejati" jawab Guntur yang sok bijaksana dan itu langsung mendapatkan toyoran dari David dan Galang.
"Oh iya, gue juga sudah nyuruh orang buat ambil semua barang-barang milik kalian bertiga. Jadi kalian tidak repot untuk kembali kesana dan mengambil apa yang kalian butuhkan. Sebentar lagi akan datang dengan barang-barang berharga kalian" ucap David yang mengatakan bantuan nya yang lain.
Setelah semuanya drama dan apa yang dialami oleh Bima dan keluarganya mereka meminta anak-anaknya untuk tidur siang bersama dengan mengasuh mereka berdua. Bima benar-benar melakukan yang terbaik untuk mereka berdua.
__ADS_1
"Bim, apa keluarga loe tahu tentang masalah ini?" tanya Galang yang sudah duduk disamping David.
"Bagaimana gue mau mengatakan pada mereka Lang, mereka sedang tidak ada dirumah dan mungkin kedua mertua gue yang akan tahu masalah ini lebih dulu. Karena setahu gue mereka akan berkunjung kerumah sore nanti" jawab Bima yang mengatakan nya sambil menghela nafasnya sedikit kasar.
"Semoga kedua mertua loe bisa mendidik dan bisa menasehati anaknya yang sudah salah jalan sejak dulu. Gue harap mereka bisa melakukan nya" ucap Galang yang diangguki oleh David dan Guntur.
Setelah berbincang-bincang dan menguatkan Bima, mereka bubar dari rumah barunya Bima. Hanya tinggal David yang ada disana dan masih mengobrol disana dengan Bima.
.
Sedangkan ditempat yang lain seorang gadis cantik sedang menunggu penerbangan nya yang akan datang beberapa menit lagi. Dia masih setia menunggu dan menelpon seseorang disebrang sana.
"Apa yang kau inginkan sekarang?" tanya nya pada seseorang disebrang sana.
"Saya tidak menginginkan apa-apa. Hanya saya ingin bertemu dengan anda, karena saya sangat lemas dan tidak ingin makan apa-apa jika anda tidak ada disini" jawabnya merasa takut dan juga tidak enak mengatakan nya pada Zahiya.
Ya gadis cantik itu adalah Zahiya Z Malik. Dia sedang menghubungi seseorang yang sedang mengandung anaknya. Dan entah kenapa anaknya tidak bisa berjauhan darinya, jika itu terjadi maka wanita yang mengandungnya akan muntah-muntah dan juga merasakan lemas.
"Saya sedang diperjalanan menuju kesana. Tunggulah dan bilang padanya untuk makan dengan benar. Jika tidak mau, maka dia akan saya tinggalkan" jawab Zahiya dengan sangat datar dan dia mengatakan nya tanpa ekspresi apapun diwajahnya.
"Dia sepertinya mendengarkan apa yang anda katakan Queen. Saya tutup dulu, tiba-tiba saya ingin makan sesuatu" ucapnya yang ingin memutuskan sambungan ponselnya tapi lebih dulu Zahiya yang melakuakan nya.
"Dia itu memang putraku" gumam Zahiya yang mengatakan jika dia adalah putranya. Bahkan usianya saja belum genap tiga bulan, tapi dia sepertinya sangat yakin jika dia adalah seorang putra.
"Queen, pesawat sudah siap. Anda bisa masuk sekarang" ucap pria paruh baya yang selalu standby diamana pun dia berada.
Zahiya hanya diam saja. Walau kakinya melangkah menuju perawatnya yang sudah siap terbang menuju America. Bukan Zahiya namanya, jika suasana didalam pesawat ramai. Hanya ada dua didalamnya dan juga anggotanya yang lain, mereka hanya bisa diam jika Queen mereka juga diam. Mana berani mereka mengatakan apa-apa jika tidak ditanya.
'Kenapa dia sangat berbeda dari sebelumnya? Apa dia sedang ada masalah? Tunggu-tunggu, kenapa aku malah memikirkan dia. Siapa dia bisa aku fikirkan' ucap Zahiya dalam hati yang ternyata memikirkan seseorang yang tadi bertemu dengan nya saat akan ke bandara.
'Kamu jangan memikirkan orang lain Zahiya, kau hanya boleh memikirkan calon putramu dan juga dirimu saja. Jangan biarkan fikiran mu bercabang, oke, semuanya harus sesuai dengan apa yang kau inginkan' ucapnya lagi yang langsung memejamkan matanya untuk berisatirahat sejenak sebelum dia bertemu dengan Ibu dari calon anaknya.
Setelah menempuh perjalanan lumayan panjang dan menghabisakan waktu belasan jam lamanya. Zahiya sudah sampai dan dia langsung menuju rumah persembunyian tanpa adanya yang menyadarinya. Dia selalu berpenampilan berubah-ubah, jadi bagi klan nya tidak akan bisa mengenalinya.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya untuk like, komen, vote dan hadiahnya untuk Othor....
Terimakasih dan happy reading... 🤗🤗🤗
__ADS_1