
"Pa, bisakah Papa tidak lebay seperti itu? Rasanya aku sangat mual melihat Papa yang menangis seperti itu" ucap Dava yang menegur Papa Devon untuk tidak lebay.
"Papa ini sedang menangis karena terharu, kamu malah ngatain lebay" gerutu Papa Devon yang langsung mengusap air matanya.
"Gue tahu, dari mana sikap dan sifat lebay juga menyebalkan nya si David" ucap Guntur pada semua sahabatnya sambil berbisik.
"Dari mana?" tanya ketiga sahabatnya dengan sangat kompak dan menatap Guntur dengan sangat serius juga rasa penasaran yang sangat besar.
"Om Devon. Hahaha" jawab Guntur yang tertawa terbahak-bahak setelang menjawab apa yang membuat para sahabatnya penasaran akan jawaban dirinya.
"Kalo kedengeran orangnya mampus loe" ucap Galang yang hanya menggelengkan saja saat Guntur Mahardika berbicara dengan tidak tahu malunya.
"Ya makanya gue bisik-bisik oncom" jawab Guntur yang mengatakan itu pada Galang.
"Ngomong-ngomong, kita pamit duluan deh. Bocil-bocil gue ngajakin main nih" ucap Bima pada ketiga sahabatnya yang hanya mengangguk.
"Om, tante. Kami pamit dulu ya, soalnya nih anak-anak ingin bermain katanya, lain kali kami mampir lagi untuk menjenguk David kemari. Ya syukur-syukur jangan lama-lama berada disininya" ucap Bima pada Mama Lulu Papa Devon.
"Iya nak Bima. Makasih ya sudah menjenguk David disini. Kalian hati-hati dijalan" ucap Mama Lulu yang tersenyum sangat ramah pada Bima dan istrinya.
"Iya tante sama-sama. Kami pamit ya Vid, cepat sembuh dan jangan kebanyakan kerja apa lagi main. Cepet cari bini" ucap Bima yang mendekat kearah David.
"Kamvret loe! Thanks, gue nggak akan lama-lama disini. Ngapain juga lama-lama, kagak ada yang bening-bening dimari" ucap David yang membuat Mama Lulu melotot saat mendengar perkataan dari David.
"Dasar, sudah kayak gini saja masih mikirin yang bening. Kagak tobat loe" ucap Bima yang langsung keluar setelah berpamitan pada keluarga David dan juga David nya sendiri.
"Apa yang tadi kamu katakan? Masih belum kapok juga!" tanya Mama Lulu dengan tatapan tajamnya dan siap menelan David hidup-hidup.
"Aku kan hanya bercanda Ma, mana ada aku serius mengatakan semua itu. Aku juga sudah tidak betah berada didalam rumah sakit ini. Aku ingin pulang dan bisa merasakan masakan Mama lagi" jawab David beralasan supaya Mama Lulu tidak marah padanya.
"Alasan tuh Ma, biar nggk kena marah Mama tuh" ucap Dava menyulut emosi Mama Lulu.
"Eh kadal. Siapa juga yang beralasan. Gue emang pengen cepet-cepet pulang dan bisa dekat dengan Mama. Bukan loe saja, dasar adik kagak ada ahlak emang" ucap David yang sudah tersulut emosinya apa lagi demamnya masih belum pulih sempurna.
"Tuh kan, Mama lihat sendiri kan Ma. Dia ini memang selalu seperti itu, ngeselin banget. Sedang sakit juga nggak nyadar" ucap Dava tidak mau kalah.
"Sudah cukup!! Kalian bisa diam kan? Diam dan tutup mulut kalian berdua. Pusing Mama denger kalian berdua ribut terus!" ucap Mama Lulu yang kesal juga pusing akan David dan Dava yang selalu tidak pernah akur dan selalu saja berdebat.
"Dia duluan Ma yang mulai" ucap David sambil memegangi perutnya yang terasa perih dan terasa basah dipermukaan pakaian yang dia pakai.
"Mama tidak perduli siapa yang memulai. Kalian berdua sama saja" ucap Mama Lulu yang akan duduk tapi tidak jadi saat melihat David dengan wajah pucatnya menatap telapak tangan nya sendiri.
"Kamu kenapa? Kenapa pucat seperti itu?" tanya Mama Lulu dan dia melihat jika ditelapak tangan David adalah darah yang lumayan banyak.
"Ya Allah David!!!" teriak Mama Lulu saat melihat David akan terjatuh karena dia sangat takut dengan darah.
"Ma, David kenapa?" tanya Papa Devon yang mendekat dan menagkap tubuh David lalu membaringkan tubuhnya diatas brangkarnya.
__ADS_1
"Panggilkan dokter, cepat!!" teriak Mama Lulu lagi yang sudah sangat panik.
Dava langsung berlari memanggil dokter karena saat menekan tombol dokternya tidak datang-datang. Mama Lulu sudah menangis lagi dia menatap David yang sudah tidak sadarkan diri lagi dan itu membuatnya semakin panik.
"Pa, kenapa David seperti ini? Apa luka diperutnya terbuka kembali dan membuatnya seperti ini? Mama takut jika David kenapa-kenapa Pa" ucap Mama Lulu yang sudah menangis dalam pelukan Papa Devon.
"Mama tenang dulu. Mudah-mudahan saja David tidak apa-apa, dokter akan segera datang dan memeriksanya" jawab Papa Devon yang menenangkan Mama Lulu supaya tidak banyak fikiran.
"Yang dikatakan Papa benar Ma, kita jangan berfikiran jelek pada keadaan David. Semoga saja memang tidak apa-apa" ucap Safia yang ikut menenagkan Mama Lulu sambil mengusap punggung Mama Lulu yang bergetar.
Tidak lama kemudian dokter dan para perawat datang untuk memeriksa semuanya David yang sudah tidak sadarkan diri. Dokter meminta keluarga David untuk menunggu diluar dan dokter segera menangani David.
"Bagaimana keadaan putra saya dokter?" tanya Mama Lulu saat dokter keluar dari ruangan rawat David.
"Kondisinya baik-baik saja, hanya luka jahitan diperutnya terbuka kembali karena otot perutnya tegang dan mengakibatkan jahitan nya tertarik. Tapi tidak ada yang perlu dikhawatirkan, semuanya baik-baik saja" jelas dokter tersebut pada Mama Lulu dan membuat Mama Lulu sedikit lebih tenang mendengar penjelasan dari dokter.
"Terimakasih dokter. Apa kami sudah boleh masuk kembali kedalam? Kami ingin melihat keadaan nya" tanya Mama Lulu yang sudah sangat tidak sabar ingin melihat keadaan David secara langsung.
"Sama-sama Nyonya, silahkan saja. Kami permisi" ucap dokter tersebut yang langsung pergi setelah menjelaskan keadaan David. Seluruh keluarga David masuk untuk melihatnya langsung.
"Alhamdulilah, dia baik-baik saja. Mama sudah sangat panik tadi, apa lagi phobia terhadap darah belum bisa sembuh juga" ucap Mama Lulu yang menatap putranya sulungnya dan keadaan nya sekarang.
"Mama tenang saja, jika soal phobia lambat laun pasti akan sembuh jika dia memang ingin sembuh. Yang walau akan berujung tidak sadarkan diri" ucap Papa Devon yang sudah muak dengan phobia nya David yang menurutnya sangat berlebihan.
"Semoga saja. Dava, Mama minta kamu jangan dulu membuat abang kamu marah. Kamu lihat sendiri bukan akibat kalian berdebat seperti apa? Mama minta kalian berdua tidak berdebat lagi" ucap Mama Lulu yang memperingatkan Dava untuk tidak membuat David marah dulu. Karena otot perutnya pasti akan mengencangkan kembali dan mungkin akan lebih parah dari yang tadi saat David marah.
"Fia, lebih baik kamu pulang saja. Ingat kamu sedang hamil kembali, dan suami kamu juga sedang bekerja bukan? Kamu harus banyak istirahat nak, jangan terlalu cape. Mama tidak mau kamu dan baby kamu kenapa-kenapa" ucap Mama Lulu yang sangat perhatian pada anak sambungnya itu.
"Mama jangan khawatir, aku baik-baik saja. Lagian aku memang sengaja menunggu Mas Dimas menjemput, Karena kami akan periksa kandungan sekarang. Makanya aku nunggu Mas Dimas kemari dan tidak langsung pulang" jawab Safia yang tersenyum mendengar perhatian yang diberikan Mama Lulu padanya.
"Syukurlah, Mama ikut senang mendengarnya. Semoga kalian sehat hingga waktunya tiba" ucap Mama Lulu yang tersenyum pada putri sulungnya itu.
"Fia, Papa sudah minta Dimas untuk menggantikan posisi orang kepercayaan Papa yang sudah waktunya pensiun. Tolong kamu bujuk dia supaya dia mau, dari pada pekerjaan nya yang sekarang. Weekend saja masih harus bekerja walau setengah hari. Papa ingin kalian semua anak-anak Papa bisa memiliki waktu bersama pada hari libur seperti sekarang. Papa tidak ingin melihat Dimas yang bekerja sangat keras tapi gajinya tidak sesuai dengan tenaga yang dia keluarkan. Tolong kamu beri tahu dia, jika Papa yang mengatakan nya takut dia akan tersinggung dan tidak mau berbicara lagi dengan Papa. Lagi pula orang kepercayaan Papa sudah sejak lama ingin pensiun" ucap Papa Devon yang sangat bijaksana pada anak-anaknya itu, walau Safia adalah anak diluar nikah dan tidak berhak atas warisan yang dia miliki. Tapi Papa Devon selalu menyamaratakan bagian anak-anaknya.
"Yang dikatakan oleh Papa kamu benar Fia, Mama juga sangat kasihan pada Dimas yang begitu keras untuk bekerja. Semoga saja jika kamu yang mengatakan nya dengan pelan-pelan dan juga saat Dimas sudah tidak cape lagi. Mudah-mudahan dia mau menggantikan posisi orang kepercayaan Papa" ucap Mama Lulu menimpali ucapan dari Papa Devon.
"Akan Fia usahakan Ma, Pa. Tapi jika Mas Dimas tidak menerimanya Fia bisa apa. Yang pasti Fia akan mengatakan nya pada mas Dimas, mau atau tidaknya akan Fia kabari lagi pada Mama dan Papa" jawab Fia bijaksana dan dia tidak ingin melukai perasaan Mama dan Papa nya yang sudah sangat menyayanginya lebih dari apapun.
"Terimakasih sayang" ucap Mama Lulu yang memeluk Safia dengan penuh kasih sayangnya dan itu malah membuat Sonya malah menangis melihat kedekatan dan juga kebaikan dari Mama Lulu.
"Sayang kamu kenapa? Kenapa kamu menangis? Apa ada yang sakit atau merasakan sesuatu pada perut kamu?" tanya Dava dengan panik dan membuat semua orang yang ada disana juga ikutan panik.
"Aku... Aku tidak apa-apa. Semuanya baik-baik saja, aku hanya terharu melihat mereka berpelukan... Hiks... Hiks..." jawab Sonya yang menangis sesegukan karena terharu.
"Owalah, sayang kamu itu sudah membuat aku panik tahu nggak. Nggak tahunya kamu hanya terharu" ucap Dava yang mengatakan nya sambil menepuk keningnya sendiri mendengar jawaban dari istrinya yang sedang hamil itu.
"Alhamdulilah, Mama kira kamu kenapa-kenapa sayang. Mama sudah hampir spot jantung loh tadi" ucap Mama Lulu yang mengusap kepala Sonya lalu tersenyum padanya.
__ADS_1
"Maaf Ma, akhir-akhir ini aku memang suka tidak bisa mengontrol emosi dan perasaan aku sendiri sejak aku hamil. Entakkan kenapa aku merasakan hal seperti ini walau aku tidak ingin menangis tapi tiba-tiba air matanya mengalir dengan sendirinya" jawab Sonya yang masih menangis dalam pelukan Mama Lulu.
"Itu semua hal wajar sayang bagi orang hamil. Ada yang seperti itu adalah juga yang tidak pernah merasakan apa-apa. Seperti kakak kamu ini, dia ini sedang hamil tapi seperti sedang tidak hamil karena biasa-biasa saja. Bahkan ada yang lebih parah dari kamu. Jadi kamu jangan merasa bingung, apa lagi ini adalah anak kedua kalian bukan? Jadi nikmatin saja semuanya prosesnya" ucap Mama Lulu yang mengingantkan menantunya ini untuk bisa tetap tenang dan tidak banyak fikiran.
"Iya Ma, karena waktu hamil sikembar aku tidak merasakan seperti yang sekarang aku rasakan. Makanya aku sendiri bingung. Tapi setelah Mama jelaskan aku menjadi tahu dan lebih mengerti akan segalanya" jawab Sonya dengan wajah yang sudah berubah ceria kembali.
"Itu harusa sayang. Dan tetap semangat menjalani semuanya" ucap Mama Lulu.
"Ini yang dinamakan ajaib, barusan nangis-nangis. Sekarang sudah kembali tersenyum" ucap Dava yang tidak habis fikir dengan tingkah bumil yang satu ini.
"Kamu jangan bingung Dav, karena semua Ibu hamil berbeda-beda dan tidak semuanya sama. Kamu tahu kan jika ada beberapa kasus Ibu hamil yang bahkan mengalami hal yang lebih parah dari itu. Bahkan ada yang merasakan mual muntah sampai baby dalam kandungan keluar. Ada juga yang merasakan tidak suka makan nasi sampai waktu tertentu dan ada juga sampai baby nya lahir. Jadi kita sebagai para suami atau Ibu hamil yang tidak merasakan itu semua harus bersyukur karena kita bisa makan dengan tenang dan juga bisa menikmati semuanya dengan senang hati. Makanya janganlah kamu sakiti istri kamu, karena dia rela menanggung itu semua sendiri dan tidak akan bisa digantikan oleh siapapun" ucap Safia yang menjelaskan semuanya pada Dava.
"Dengerin tuh yang kakak kamu katakan. Jangan bilang jika kamu tidak tahu akan itu semua" sindir Mama Lulu pada Dava.
"Iya Mama sayang, Dava langsung anak dan suaminya yang baik. Masa sih melakukan itu pada istri tercinta ku ini. Apa lagi pada Mama ku yang paling segalanya dari segalanya" jawab Dava dengan sangat manis dan dia terlihat begitu menggemaskan saking menggemaskan nya ingin rasanya nimpuk kepalanya pake sendal swallow.
"Rasanya aku ingin muntah Ma mendengar ocehan dari Dava" ucap Safia yang pura-pura memegangi perut dan menutup mulutnya.
"Apa lagi Mama yang sudah ingin memuntahkan segalanya pada wajah Dava langsung" ucap Mama Lulu yang sama-sama mengtakan nya dengan sangat baik.
"Kalian ini terlalu berlebihan. Dava memang benar, karena dengan kita menyayangi istri kita. Maka akan sama saja menyayangi Ibu kita, dan semuanya hanya untuk para wanita yang paling kita cintai" ucap Papa Devon yang mengeluarkan kata-kata yang membuat semua orang menggelengkan kepalanya.
"Papa yang terbaik" ucap Dava yang malah bertos ria dengan Papa Devon dan itu membuat para wanita menjadi kesal segaligus geli melihat kedua pria beda usia itu.
"Ma, rasanya aku tahu dari mana asal Dava menjadi menyebalkan dan suka sekali berbicara manis" ucap Safia yang mengatakan nya penuh dengan senyuman mengejek dibibirnya.
"Siapa sayang? Mama tidak tahu" tanya Mama Lulu yang malah membuat Sonya bingung.
"Siapa lagi jika bukan sang mantan Casanova sejati ini Ma" jawab Safia sambil merangkul lengan Papa Devon dan mengejeknya.
"Ah iya, Mama baru mengingatnya sekarang. Kenapa kedua putraku ini sangat menyebalkan dan juga membuat kesal itu dari suamiku sendiri yang sejak dulu memang seperti itu. M E N Y E B A L K A N" ucap Mama Lulu yang mengeja kata menyebalkan dan menekan kata-katanya.
"Sayang, kenapa kamu mengatakan seperti itu? Tega sekali" ucap Papa Devon yang membuat semua orang menjadi geli.
"Sudah Pa, jangan dilanjutkan lagi ucapan Papa. Karena nanti aku tidak menyukai Papa dan malah membuat calon anak kami menjadi seperti Papa. Maaf Pa" ucap Sonya yang menistakan nya langsung pada Papa Devon, membuat Papa Devon hanya bisa membuka mulutnya lebar-lebar.
"Hahahaha" Mama Lulu dan Safia malah tertawa terbahak-bahak saat melihat Papa Devon malah hanya bisa bungkam dan diam saja sejak tadi.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya untuk like, komen, vote dan hadiahnya ya.... Supaya Othor makin semangat buat selalu up tiap hari...
Terimakasih and happy reading... 🤗🤗🤗
__ADS_1