
"Pokoknya, Mama mau kamu jangan menyia-nyiakan dia yang sudah bisa membuat kamu berubah dan bisa sebaik dan setenang ini. Ingat terus pesan Mama yang ini" ucap Mama Lulu yang mengatakan nya dengan menggebu pada David.
"Ma, aku ini bukan Ibunya yang menyia-nyiakan anaknya. Mama aneh-aneh saja kali ngomong" ucap David yang menegakan duduknya dan menatap Mama Lulu dengan tatapan datarnya.
"Mama kira aku akan berubah seperti ini terus apa Ma? Yang pendiam dan dingin kek CEO-CEO yang ada didalam novel atau serial film? Yang enggak lah Ma, aku akan menjadi aku yang sebelumnya. Jika soal tobat, InsyaAllah deh Ma. Karena David lelah dengan semua ini, jadi Mama jangan khawatir jika aku menyia-nyiakan dan menelantarkan pemuda berusia 18tahun itu" jawab David yang menaik turunkan alisnya sambil tersenyum kepada Mama Lulu yang malah membolakan matanya saat mendengar jawaban dari David.
"Mama fikir kamu memang akan melakukan itu semua. Karena kelihatan nya seneng banget gitu punya anak bujang karatan yang dingin dan cool. Mirip anaknya auntie Soraya itu, siapa namanya? Emmm, kalo tidak salah Alkan... Oh iya, Alkana. Tuh, dia itu kalem dan tidak petakilan kek kamu ini. Bikin pusing" ucap Mama Lulu yang memperagakan memijat keningnya sendiri yang terasa berdenyut.
"Nanti ya Ma, jika Mama ingin aku kayak gitu sabar. Karena apa yang aku lakukan dan aku jalani sama seperti Papa bukan? Nah kalo si Alkan kan memang Papa nya juga mirip es balok. Dingiinn, masa mau disejajarin sama Papa yang... Ya, Mama tahu sendiri kan ya Papa seperti apa. Jadi jangan terlalu berharap aku seperti itu, takutnya Mama akan kecewa" ucap David yang malah menistakan Papa nya sendiri. Dimana memang benar semua apa yang dikatakan oleh David barusan.
"Sudahalah, pusing Mama jika bicara sama kamu. Karena kamu tidak pernah serius jika diajak bicara" ucap Mama Lulu yang langsung bangkit dari duduknya lalu pergi menuju kamarnya.
"Yeh, si Mama malah ngambek. Bukan nya benar ya, kalo aku dan Papa itu memang sebelas duabelas? Kenapa jadi malah ngambek? Aneh banget" gumam David yang menggelengkan kepalanya. Dia sedikit melupakan perasaan nya yang terus memikirkan Zahiya yang akan menikah beberapa bulan kedepan.
Dia kembali kedalam kamarnya dan segera terlelap. Tapi dalam mimpi dia malah bertemu lagi dengan Zahiya yang menikah dengan sangat bahagia dan menatapnya penuh dengn tatapan mengejek padanya. David malah menangis sesegukan saat dia terlelap, bahkan tidak dia sadari apa yang dia lakukan sekarang.
.
Keesokan harinya seperti biasa, tapi sekarang David akan pergi bersama dengan Jamil yang juga sudah siap dengan seragam sekolahnya. Dia terlihat sangat berbeda dan juga memang, jika usianya tidak sesuai dengan wajahnya yang mungkin lebih terlihat dewasa dari umurnya.
"Morning Mom, Dad" ucap David yang langsung bergabung dengan yang lainnya untuk sarapan.
"Eh, kenapa diem disitu? Sini gabung bareng" ucap David yang mengajak Jamil untuk duduk bersama dengan mereka semua.
"Jangan ragu, kami semua makan nasi kok. Bukan makan orang" ucap Dava yang ikut menimpali ucapan David sangat kakak.
"Kagak usah bang, Jamil makan dibelakang saja. Maaf bukan nya nolak rezeki, cuman kagak bisa saja duduk dimeja makan" ucap Jamil yang tidak ingin membuat mereka tidak nyaman akan kehadiran nya ditengah-tengah mereka semua. Jamil sadar diri, dia ini siapa. Tanpa semua orang sadari dia sudah bangun sejak subuh, seperti biasa dan dia mengerjakan pekerjaan rumah yang biasanya para pelayan lakukan.
"Tidak apa-apa, jangan menolak. Kamu disini sudah kami anggap keluarga, jadi jangan sungkan ya" ucap Mama Lulu yang angkat bicara untuk meyakinkan Jamil.
"Kenalkan, saya Mama Lulu. Mama nya David, Dava dan Safia. Dan ini suami saya, Papa Devon. Ini semua keluarga saya, jadi jangan sungkan lagi. Ngomong-ngomong, terimakasih banyak ya, sudah membuat David kembali kejalan yang benar" ucap Mama Lulu yang memperkenalkan dirinya dan seluruh keluarganya pada Jamil.
"Terimakasih banyak Nyonya. Tapi saya tidak melakukan hal sebesar itu, karena saya melakukan apa yang menurut saya benar. Itu saja nyonya" ucap Jamil yang menunduk dan tidak berani menatap Mama Lulu yang sedang bicara padanya.
"Jangan panggil saya Nyonya. Saya bukan Nyonya mu, panggil saja sama seperti yang saya bilang sebelumnya. Jangan ada kata Nyonya, kamu mengerti!" ucap Mama Lulu dengan tegas dan tanpa bantahan sama sekali.
"Tapi, saya kagak bisa manggil begituan. Boleh panggilan yang lain?" tanya Jamil yang sudah mengatakan menggunakan logat betawi nya.
"Panggilan lain?" tanya semua orang yang ada disana pada Jamil yang mengangguk dengan polosnya.
"Apa?" tanya semua orang lagi dengan sangat kompak dan seperti dikomando.
"Enyak sama Babeh saja bagaimana? Entu panggilan yang baek menurut Jamil" jawab Jamil yang mengatakan nya tanpa beban tapi setelah mendapatkan tatapan tajam dari Papa Devon langsung diam dan tidak berani mengatakan apa-apa lagi.
"Kagak jadi, meniding Jamil panggil Om dan tante saja. Jangan panghian itu" ucap Jamil yang menunduk dan dia tidak berani menatap wajah semua orang yang sudah sangat tegang.
"Huft... Hahaha... Enyak sama Babeh? Hahaha, lucu juga. Bisa jadi reference" ucap Dava dan David yang malah tertawa terbahak-bahak saat mengatakan panggilan dari Jamil.
__ADS_1
"Hahaha, Babeh Devon. Hahaha" ucap David yang tidak berhenti tertawa terbahak-bahak lalu dia menjerit kesakitan saat perutnya terasa sakit dan basah kembali.
"Aaaa, kenapa dia... " ucap David yang tidak melanjutkan ucapan nya lagi karena dia pingsan melihat darah ditangan nya.
BRUK...
PRANG...
"David.... " teriak Mama Lulu, Safia dan Papa Devon yang langsung berlari mendekat kearah David.
"Kakak...." teriak Dava dan Sonya yang langsung menangkap tubuh David karena mereka berdua yang berada paling dekat dengan David, agar tidak terjatuh dan mengenai pecahan gelas yang ada dilantai.
"Cepat panggilkan dokter sekarang juga" teriak Mama Lulu yang sudah berada disamping David sekarang. Karena Dava dan Papa Devon sudah membawa David kedalam kamarnya.
Semua orang langsung berlari dan ada yang memanggil dokter juga ada yang segera mengambil kotak obat untuk mengobati luka pada David.
"Tante, apa yang terjadi dengan bang David? Apa dia akan baik-baik saja?" tanya Jamil dengan wajah yang panik dan dia sudah berbagai macam do'a sudah dia rapalkan.
"Semoga saja tidak apa-apa. Dia ini memang suka bandel, sudah tahu luka diperutnya belum sembuh malah tertawa tidak pake hati-hati" jawab Mama Lulu yang akhirnya menggerutu juga pada David.
"Semoga memang baik-baik saja tante. Mau saya ambilkan sesuatu?" tanya Jamil yang sudah sangat khawatir.
Tidak lama kemudian dokter datang untuk memeriksa David dan setelah diperiksa oleh dokter semuanya baik-baik saja. Semua orang hanya bisa menghela nafasnya saja saat mendengar penjelasan dari dokter.
"Alhamdulilah semuanya baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari keadaan David. Dia hanya syok saja melihat darah ditangan nya" ucap Mama Lulu setelah kepergian dokter yang memeriksa David.
"Sekarang biarkan dia istirahat dulu. Kita lanjutkan saja dulu sarapan nya" ucap Papa Devon yang mengajak semuanya orang untuk membiarkan David didalam kamarnya.
"Dia ini kebiasaan sekali membuat orang panik sejak dulu. Aku cuman khawatir jika dia menikah dan mendapatkan yang masih virgin, lalu ada darah dia yang malah pingsan" ucap Safia yang menggelengkan kepalanya saat membayangkan semua itu terjadi pada David.
"Itu pasti akan sangat lucu kak, bisa kakak bayangkan jika semua itu terjadi. Maka akan sangat bagus jika dibuat film atau seris. Hahaha" ucap Dava yang membenarkan ucapan dari Safia dan dia tertawa cekikikan membayangkan nya.
"Kalian ini ada-ada saja. Tapi menarik juga" ucap Papa Devon yang malah ikut-ikutan juga dengan kedua anak-anaknya.
"Kalian ini sama saja. Lihat salah satu menderita bukan nya kasihan malah menistakan, dasar Ayah dan anak yang sama-sama tidak waras" ucap Mama Lulu yang langsung pergi dari sana dan tentu saja langsung dikejar oleh Papa Devon.
"Biar tidak waras gini juga kamu cinta kan" ucap Papa Devon yang menaik turunkan alisnya menggoda Mama Lulu.
"Idih... Amit-amit" jawab Mama Lulu yang malah disamut gelak tawa oleh anak-anaknya.
Pagi itu semua orang malah saling mengejek satu sama lain sebelum akhirnya mereka mengerjakan tugasnya masing-masing. Hanya tersisa Mama Lulu, Safia dan Sonya yang ada dirumah. Begitu juga dengan Jamil yang sudah berangkat sekolah sebelum dia terlambat. Dia diberi fasilitas motor oleh Mama Lulu, awalnya dia menolak dan merasa tidak enak. Tapi setelah dibujuk dan mendapatkan ancaman juga dari Mama Lulu, akhirnya Jamil mau menggunakan motor kesekolah nya.
.
Sedangkan ditempat lain Galang sedang dihukum oleh istrinya, karena dia sudah berani berbohong untuk membelikan nya bika ambon yang malah dibeli dari toko terdekat, sedangkan Istrinya mau jika Galang membelinya langsung dari Medan. Dia malah sedang lemah, letih, lesu, karena tidak mendapatkan jatah enak-enak selama seminggu.
"Nasib-nasib, kenapa harus tidur diluar? Ini adalah hukuman yang sangat kejam bagi para pria yang sudah menikah. Kenapa dia menghukum ku? Padahal dia makan juga itu bika Ambon nya. Nasib-nasib" gumam Galang yang malah meringkuk diatas sofa dengan selimutnya yang diberikan oleh istrinya.
__ADS_1
"Terima saja nasib kamu nak, karena kamu sendiri juga yang salah. Karena kamu malah mengatakan nya dengan lantang jika tidak membelinya dari Medan" ucap Papa nya yang juga sedang duduk disana menemani putranya yang sedang menjalani hukuman.
"Sudahlah Pa, kenapa harus diperjelas lagi? Semuanya sudah terjadi dan tidak bisa dinganggu gugat lagi. Papa kan tahu jika istri itu selalu benar dan para suami selalu salah jadi jangan pernah memancing kemarahan seorang istri" ucap Galang yang mencoba memejamkan matanya. Karena besok dia akan ada meeting penting pagi-pagi dengan klien besarnya.
Tapi tidak bisa dia lakukan, karena biasanya dia akan tertidur sambil memeluk tubuh istrinya. Tapi sekarang dia hanya memeluk selimutnya saja.
'Nasib gue gini amat ya, perasaan si amat saja kagak kayak gini. Kenapa gue malah yang sengsara, ya Tuhan... Kenapa engkau mencoba hambamu seperti ini, Tuhan...' teriak batin Galang yang menangis dalam hatinya.
'Ku, menangis.... Membayangkan, betapa kejamnya dirimu atas diriku... Kau biarkan diri ini tidur sendiri disini... Akulah hati yang telah, kau sakiti... Ho... Ho...' Galang malah bernyanyi soundtrack sinetron ikan terbang yang suami-suami teraniaya.
'Ah, gue malah mellow gini... Tapi sedih sih' gumamnya yang malah tidak sadar dia malah terlelap hingga pagi menjelang.
.
Sedangkan ditempat yang berbeda lagi Ben sedang sangat sibuk karena dia sedang mempersiapkan pernikahan nya dengan seseorang yang sudah dia kenal sejak dulu. Siapa lagi jika bukan sahabatnya sendiri sejak kecil. Jennifer Lawrence, dimana dia sudah tumbuh menjadi gadis cantik dan juga cerdas, dia juga yang bisa menaklukan seorang Benjamin Franklin.
Dimana hanya diam yang bisa dekat dan bisa membuat Benjamin Franklin tidak bisa berkutik lagi. Dia bahkan tidak bisa melawan apa yang dilakukan oleh Jennifer Lawrence.
"Ben, kamu benar yang melakukan ini semua untuk aku? Ini semua untuk ku?" tanya Jennifer saat melihat semua kejutan malam ini dengan sangat romantis.
"Tentu saja, memangnya siapa lagi yang bisa melakukan hal seindah ini selain aku" jawab Ben dengan menaik turunkan alisnya dan juga menepuk dadanya sendiri.
"Oke, ini memang bagus. Tapi aku tidak suka, karena kamu sudah membohongiku hanya demi untuk bermain game" ucap Jennifer Lawrence dengan sangat tegas.
"Ayolah Jen, kau ini sudah mengenalku sejak dulu. Itu adalah game paforit ku selama ini dan itu baru launching. Jadi aku harus melakukan percobaan nya, please... Jangan marah ya... Kalo kamu marah, rasanya dunia ini akan hancur dan langit ini akan runtuh. Please Jen" ucap Ben yang menggenggam tangan Jennifer Lawrence dengan erat dan memohon terus padanya supaya tidak marah.
"Oke, aku akan memaafkan kamu. Tapi dengan satu syarat" jawab Jennifer Lawrence dengan senyuman smirks dibibirnya.
"Katakan Jen, katakan lah apa syaratnya?" tanya Ben dengan sangat pasrah akan apa yang akan dikatakan oleh Jennifer Lawrence padanya.
"Oke, syaratnya adalah. Kamu selama menjelang pernikahan kita, kamu jangan pernah pergi kemana-mana dan bersama teman-teman kamu yang bastard itu. Aku ingin, supaya kita hanya berdua saja. Berdua" ucap Jennifer Lawrence yang membisikan kata berdua ditelinga Ben dan meniupnya. Membuat Benjamin Franklin mermang dan mereka akhirnya melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan.
.
.
.
Hayo... Pada Mikir apa???? 😁😁😁
Maaf ya Othor gantung, karena yang digantung itu menyenangkan 🤣🤣🤣...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya untuk like, komen, vote dan hadiahnya ya....
Juga yang belum subscribe langsung saja subscribe. Supaya saat Othor up bisa langsung tahu, jangan lupa pollow akun Othor juga ya...
Terimakasih and happy reading... 🤗🤗🤗
__ADS_1