Pelabuhan Hati Si Playboy Karatan

Pelabuhan Hati Si Playboy Karatan
Bab 51. Keinginan Alvarez


__ADS_3

"Apa ada yang aku lewatkan?" tanya Zahiya yang menatap satu persatu orang yang ada disana.


"Tidak ada baby. Kemarilah" ucap David yang meminta Zahiya untuk duduk disampingnya.


"Bucin detected" ucap Dava yang mendapatkan anggukan dari semua orang yang ada disana.


"Sirik aja loe!" ucap David yang melemparkan bantal sofa kearah Dava.


"Gue nggak sirik sama loe kak. Cuman eneg aja liat tingkat bucin loe itu" ucap Dava yang bergidik melihat kebucinan David.


"Kayak kamu nggak saja Dav" ucap Mama Lulu yang melirik judes pada Dava.


"Aku, biasa saja tuh. Iya kan sayang?" ucap Dava pada Sonya yang malah pergi dari sana. Karena sudah biasa jika suaminya seperti ini.


"Hahaha... Emangnya enak dikacangin" ucap David yang tertawa lalu menjulurkan lidahnya meledek Dava.


"By..." ucap Zahiya yang menatap kearah David dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Oke baby. Sorry" ucap David yang membuat Zahiya hanya menghela nafasnya saja.


"Mi, apa kita akan jalan-jalan? Sudah lama Mimi tidak mengajak Ez jalan" tanya Alvarez yang membuat semua orang saling pandang.


"Memangnya Ez? Apa Ez ingin kesuatu tempat?" tanya David yang menatap kearah Alvarez dan berjalan mendekatinya.


"Emm, Ez ingin ketempat bermain dan bersama teman-teman" jawab Alvarez yang sangat antusias mengatakan nya pada David.


"Apa Pipi akan mengajak Ez?" tanya Alvarez yang menatap kearah David dengan tatapan berbinar dimatanya.


"Tentu saja. Kita semua akan kesana, dan tidak boleh ada yang menolaknya. Oke" ucap David yang membuat Mama Lulu menepuk keningnya sendiri mendengarkan ucapan dari David.


"Maksud Pipi, kami semua?" tanya anak-anak Dava dan Safia yang mengikuti Alvarez memanggil Pipi pada David.


"Of cource, why not? Kita semua akan jalan-jalan. Jadi bersiaplah untuk jalan-jalan sekarang" ucap David yang membuat Mama Lulu menepuk keningnya sendiri.


"Kamu yakin Vid akan mengajak mereka semua? Kamu tidak akan repot nantinya?" tanya Mama Lulu yang mengernyitkan dahinya saat mengatakan itu pada David.


"Tentu saja tidak, aku kan bilang kita semua. Jadi Mama dan Papa juga yang lainnya ikut semua, jadi kalian menjaga tuyul masing-masing" jawab David yang menaik turunkan alisnya pada Mama Lulu.


"Huh, kakak kira kamu yang akan mengajak mereka Vid" ucap Safia yang menghela nafasnya.


"Nggak. Nggak ada, enak saja kakak berdua-duaan dengan Dimas. Sedangkan kami yang harus menjaga para tuyul kalian. Can't not you know?" ucap David yang mengatakan nya sambil misuh-misuh pada Safia.


"Kali aja Vid, kamu mau menjaga mereka seperti sebelumnya" ucap Safia yang menaik turunkan alisnya pada David.


"Ogah, kakak fikir aku ini baby sitter mereka apa? Lagian mereka sudah pada gede-gede juga. Kenapa juga harus aku yang menjaganya, aneh-aneh saja nih" ucap David yang masih misuh-misuh pada Safia.


"Sudah-sudah, kalian ini sudah tua masih saja seperti bocah. Sekarang jadi tidak untuk jalan-jalan nya? Mama juga mau bersiap jika memang akan jalan-jalan, sudah lama Mama tidak jalan-jalan kesuatu tempat. Sekarang kalian semua bersiap, karena akan ada yang mentraktir kita semua" ucap Mama Lulu yang mengatakan nya tanpa beban sedikit pun juga.


"Ya Allah, kenapa engkau mencoba hambamu dengan keluarga gesrek" ucap David yang pura-pura sedih dan dia menadahkan tangan nya seperti sedang berdo'a.


"Itu deel Vid. Derita loe" ucap Safia yang juga langsung pergi dari sana. Karena jika tidak, maka mereka tidak akan pernah pergi jalan. Yang ada mereka akan selalu berdebat.

__ADS_1


"Dim, gue bingung sama loe. Mau-maunya sama kakak gue yang modelan begitu?" tanya David yang langsung mendapatkan cubitan diperutnya oleh Zahiya.


"Awoch, sakit yank. Kenapa tega banget sih sama suami handsome mu ini baby" ucap David yang berteriak saat perutnya terasa sakit.


Zahiya tidak mengatakan apa-apa pada David. Dia malah langsung pergi menuju kamarnya, sedangkan David dan para pria yang ada disana saling pandang dan menghembuskan nafasnya bersamaan.


"Kenapa kalian ini seperti cerminan Papa semua dulu?" tanya Papa Devon yang menatap David, Dava dan Dimas secara bergantian.


"Ini memang asli keturunan Papa, Papa yang sudah menurunkan semuanya pada kami. Tapi, aku sendiri sangat bersyukur, karena bisa memilikinya seutuhnya" ucap David yang senyum-senyum sendiri saat mengingat kejadian tadi sebelum turun.


"Kak, loe mikir mesum ya? Kagak beres nih sama otak loe kak" tanya Dava yang menatap wajah David yang senyum-senyum sendiri.


"Serah gue lah, mau mikir apa. Otek-otak gue, loe yang ribet" jawab David yang masih berfikir yang tidak-tidak tentang dirinya dan Zahiya.


"Dim, kamu bagaimana dengan semua pekerjaan kamu sekarang?" tanya Papa Devon yang mengalihkan pembicaraan nya, karena jika mendengarkan David dan Dava akan membuatnya darah tinggi.


"Alhamdulilah semuanya lancar dan baik-baik saja Pa. Maaf, jika Dimas belum bisa memimpin perusahaan yang sudah Papa berikan pada Dimas. Hanya saja Dimas ingin maju dengan usaha Dimas sendiri, seperti David yang membangun perusahaan nya sendiri walau dia sudah mendapatkan bagian nya juga. Dimas juga ingin seperti itu Pa" jawab Dimas yang membuat David merasa terharu akan pemikiran Dimas yang ingin sama seperti dia.


"Itu bagus, tapi Papa hanya ingin kamu melakukan nya karena Papa hanya ingin segera pensiun dan bersama cucu-cucu Papa dirumah. Menghabisakan waktu dengan Mama kalian. Papa sudah sangat lelah berada didunia bisnis ini. Tolong fikirkan kembali nak, karena Papa yakin kamu akan mampu dan bisa melakukan itu semua" ucap Papa Devon yang mengatakan nya dengan sangat serius pada Dimas.


"Sebaiknya loe terima saja Dim, yang Papa katakan memang benar. Jika saja gue tidak memiliki perusahaan sendiri, gue yang akan menggantikan posisi Papa. Loe tahu sendiri perusahaan gue juga sangat butuh gue, lagian loe bisa urus semuanya semau dan sebisa loe. Karena perusahaan itu tidak sebesar perusahaan yang dipegang Dava. Jadi loe bisa membuatnya lebih besar lagi dengan usaha dan kerja keras loe" ucap David yang memberikan saran nya pada Dimas.


Karena David tahu, jika Dimas memiliki potensi yang sangat besar dan bisa memajukan perusahaan milik Safia, dan itu miliknya juga. Karena Papa Devon sudah membagi-bagikan untuk mereka bertiga.


"Gue harus memikirkan nya kembali Vid. Karena keluar dari perusahaan yang sekarang membesarkan nama dan karir gue nggak segampang itu. Loe tahu sendiri bukan jika mudah masuk kesana dan akan sulit untuk keluar. Apa lagi posisi gue sudah tinggi, yang ada gue akan dituntut macam-macam" jawab Dimas yang memang menjelaskan apa yang terjadi jika dia mengajukan keluar dari perusahaan tempatnya bekerja.


"Ya kak Dimas bilang saja terus terang pada mereka. Jika kakak memang harus keluar dari sana dengan alasan jelas. Aku yakin jika kakak bisa keluar dari sana. Jika tidak bisa, aku siap membantu" ucap Dava yang ikut mengatakan nya juga pada Dimas.


"Gue tahu ini keputusan berat buat loe Dim, karena sebelumnya loe belum memikirkan apa yang akan terjadi saat ini. Tapi gue akan selalu mendukung apapun keputusan yang loe ambil, karena itu adalah yang terbaik untuk loe dan Papa. Karena gue tahu, yang berhak adalah kakak. Karena kakak nggak mungkin mengurus perusahaan itu, jadi Papa menyerahkan pada suaminya. Yaitu loe" ucap David yang menepuk bahu Dimas dan dia juga beranjak dari sana.


Padahal dia juga tidak tahu apa yang akan harus dia lakukan. Dia juga akan berada didalam posisi yang sama seperti Dimas. Dia akan diminta untuk menggantikan Jeff sebagai CEO PENZ.DRC yang sudah berpindah menjadi perusahaan besar dinegara ini. Itu yang akan membuatnya pusing juga dilema. Karena jika Papa Devon mengatakan nya dengan pelan dan disuruh memikirkan nya terlebih dahulu.


Tapi David tidak tahu apa yang akan dia hadapi. Karena yang dia hadapi adalah seorang King Mafia yang paling ditakuti dan disegani.


"Semoga kakak bisa memilih keputusan yang baik kak" ucap Dava yang tidak ingin salah bicara saat sedang serius seperti ini.


"Pasti Dav, kakak akan melakukan yang terbaik" ucap Dimas yang tersenyum tipis saat mengatakan nya pada Dava.


Dava juga pergi dari sana dan Dimas hanya sendiri sebelum Safia menghampirinya dan memberikan dukungan nya pada Dimas.


"Kamu pasti bisa Mas, aku selalu ada dibelakang kamu" ucap Safia yang menggenggam tangan Dimas.


"Terimakasih sayang. Aku akan memikirkan semuanya, dan semoga saja keputusan yang akan aku ambil tidak mengecewakan Papa nantinya" ucap Dimas yang tersenyum dan mengusap pipi Safia.


"Iya Mas, semoga saja. Ya, sudah kita bersiap-siap untuk pergi. Anak-anak pasti sudah siap dan menunggu kita" ucap Safia yang selalu mendukung apapun keputusan dari Dimas.


"Iya, aku akan bersiap dulu. Kamu tunggulah disini" ucap Dimas yang langsung masuk kedalam kamar.


"Aku akan selalu bersama kamu Mas" ucap Safia yang menatap punggung Dimas.


Sedangkan didalam kamar, David melihat Zahiya sedang mengganti perban nya sedikit kesulitan. David langsung membantunya dan sambil tersenyum menggantikan perban Zahiya.

__ADS_1


"Kenapa tidak meminta tolong hmm?" tanya David yang mengecup perban dipergelangan tangan Zahiya setelah menggantinya.


"Hubby sedang berbicara dengan Papa dan yang lainnya. Aku tidak enak untuk meminta bantuan" jawab Zahiya membiarkan apa yang David lakukan.


"Apa salahnya baby, tapi ya sudahlah jangan dibahas. Apa sudah siap? Mungkin jagoan kita akan kemari setelah bersiap" tanya David yang melihat Zahiya belum berganti pakaian.


"Baru mau mengganti pakaian, Hubby sudah datang saja" jawab Zahiya yang menarik tangan nya lalu beranjak dari ranjang.


"Dia itu memang selalu menggemaskan. Bagaimana bisa aku tidak terpesona padanya, dan mencintainya setiap hari jika dia selalu manis dan cantik seperti itu" gumam David yang terus menatap kearah pintu walk in closet.


"Pipi... Apa Pipi sudah siap?" tanya Alvarez yang benar saja dugaan nya, jika Alvarez akan datang kesana untuk mengajak jalan.


"Pipi sudah siap sejak tadi. Tinggal menunggu Mimi, apa jagoan Pipi sudah siap?" jawab David yang menatap Alvarez yang sudah sangat tampan dan David bertanya pada Alvarez yang sudah berjalan mendekat kearahnya.


"Emm, Ez sudah siap. Oke, Mimi tidak akan lama jika bersiap" jawab Alvarez yang ikut duduk disamping David dengan kesulitan nya naik keatas ranjang.


"Apa mau Pipi bantu?" tanya David yang melihat usaha Alvarez untuk bisa naik keatas ranjang.


"Emm, tentu saja Pi. Susah" jawab Alvarez yang tersenyum lebar menampilkan gigi susunya.


"Jikapun begitu. Hap" ucap David yang langsung memangku Alvarez untuk bisa duduk diatas pangkuan nya sekarang.


"Apa akan menunggu disini atau turun saja?" tanya David yang melihat Alvarez hanya diam saja.


"Emm, disini. Mimi pasti akan segera keluar" jawabnya dengan tersenyum.


"Boleh Pipi bertanya sesuatu pada Ez?" tanya David yang bertanya dulu sebelum dia menanyakan apa yang ingin dia tanyakan pada Alvarez.


"Emm, apa yang ingin Pipi tanyakan. Jika tidak sulit, akan Ez jawab" jawab Alvarez yang memperlihatkan wajah seriusnya.


"Apa yang disukai Mimi dan tidak disukai? Karena Pipi belum tahu semuanya. Tapi jangan bilang-bilang pada Mimi ya" tanya David yang berbisik pada Alvarez yang duduk disampingnya sekarang.


"Mimi lebih suka sendiri dan melakukan kegiatan yang menantang, juga suka menembak. Yang tidak Mimi sukai adalah kebohongan, jadi Mimi akan marah dan melakukan sesuatu jika ada yang berbohong. Makanya Ez tidak pernah melakukan itu, Ez selalu bicara jujur, walau Ez berbuat salah" jawab Alvarez yang membuat David tersenyum dan dia masih belum habis fikir, jika istri cantiknya itu lebih suka memainkan senjata. Dibandingkan dengan yang lainnya.


"Baiklah, Pipi akan melakukan apa yang Ez katakan. Tapi apa Mimi menyukai sesuatu, selain yang Ez katakan tadi? Seperti bunga, coklat, atau apapun gitu?" tanya David yang tentu saja didengar oleh Zahiya. Karena dia sudah bersiap dengan pakaian casual nya dan sudah berdiri disamping David dan Alvarez.


"Bunga, coklat? Mimi tidak menyukainya, kata Mimi coklat tidak bagus untuk gigi. Jika bunga, mungkin Mimi suka. Tapi tidak semua bunga, Mimi suka" ucap Alvarez yang membuat David semakin pusing. Ternyata Zahiya memang sangat ribet dan sulit untuk didekati.


"Tapi ada yang sangat membuat Mimi suka dan Mimi bahagia" lanjut Alvarez yang tersenyum penuh arti pada David.


"Apa? Cepat katakan pada Pipi. Sebelum Mimi datang dan mendengarnya" tanya David dengan sangat penasaran dan juga antusias.


"Pipi telat, karena Mimi sudah berada dibelakang Pipi" jawab Alvarez yang menunjuk kearah Zahiya yang hanya diam menatap pada dua pria kesayangan nya.


"Kenapa tidak bilang sejak tadi?" tanya David sambil membalikan tubuhnya menghadap kearah Zahiya yang menatapnya dengan datar.


"Oh, sudah siap sayang? Kita pergi sekarang" ucap David yang memegang tangan Zahiya.


"Seperti yang Hubby lihat" jawab Zahiya dan mereka segera keluar dari kamar mereka.


Mereka bertiga terlihat sangat serasi dan tanpa mereka sadari. Pakaian yang mereka kenakan sama dan kompak dengan warna yang senada. Bahkan keluarganya saja sangat terpesona, apa lagi orang lain yang melihat mereka nanti.

__ADS_1


__ADS_2