PELET SANG BIDUAN

PELET SANG BIDUAN
Bab 11. Rencana jahat, Yasmin dan Tejo


__ADS_3

"Pulanglah, aku sekarang sudah bersama Puspa, aku mencintainya," ucapan Fadli terdengar menyakitkan bagi Yasmin. tidak ada cara lain dia harus menggunakan senjata terakhir agar Fadli kembali padanya.


"Kamu pilih Puspa, atau pekerjaanmu?" tegas Yasmin. tidak ada kata rayuan, melainkan sebuah ancaman.


"Apa maksudmu?"


"Dengar Fadli, aku tidak bisa menunggu lagi, jika kamu memilih bersama Puspa, tinggalkan jabatanmu di kantor, dan pergilah untuk selamanya dari hidupku, aku sudah muak!" Yasmin mulai emosi.


"Tidak bisa begitu, Yasmin. Jangan campur adukkan urusan pekerjaan dengan urusan pribadi!" Fadli mulai gelagapan, sudah pasti dia tidak mau keluar dari tempatnya bekerja saat ini, mencari kerja tidaklah mudah, apalagi menjadi seorang wakil direktur, latar belakang Fadli yang hanya anak dari seorang kepala desa, tidak cukup menjamin dia bisa bekerja di perusahaan dengan jabatan setinggi itu.


Selama ini, Fadli bisa masuk perusahaan hanya karena Yasmin, karena dia adalah putri tunggal dari pemilik perusahaan tersebut. Yasmin sudah merayu orang tuanya untuk segera menyerahkan usaha milik keluarga itu pada Fadli seutuhnya, tapi kedua orang tuanya masih ragu, karena mereka belum resmi menikah.


"Kalau begitu, tinggalkan gadis kampung itu, Fadli, dan kita kembali ke kota sekarang juga!" Titah Yasmin. bak kerbau di cucuk hidung, Fadli tidak bisa menolak, dia memang mencintai Puspa, tapi, ambisinya untuk menjadi seorang direktur utama, jauh lebih besar.


Fadli terlihat berpikir, apa langkah yang akan di ambilnya sekarang. "Beri waktu dua hari, aku harus berpikir," ucap Fadli sembari menekan pelipis yang terasa sakit.


"Baiklah, tapi selama itu aku juga akan tinggal disini,"


"Terserah, kamu," balas Fadli, tidak mungkin menolak Yasmin lagi, kalau tidak dia kan mengancamnya dengan hal yang sama.


Yasmin tidur di kamar tamu dalam rumah Fadli, semalaman dia membuat rencana, agar Fadli bisa melupakan Puspa dan ikut dia kembali ke kota.


Drttt!


Drttt!


Yasmin menelpon seseorang tapi tidak mendapat jawaban. "Sial ...! kenapa orang-orangan sawah itu tidak mengangkat telpon?" geram Yasmin.


sekali lagi dia menekan tombol hijau dan akhirnya panggilan tersambung.


"Halo ... dengan Mas Tejo ganteng disini," sahut pria di ujung sana, yang tak lain adalah Tejo.


"Jangan banyak cing-cong, segera temui aku sekarang, aku punya rencana," ucap Yasmin pelan, takut jika ada orang lain yang mendengar.


"Iki sopo to? apa kamu, penjaga warung yang baru buka itu, kamu mau promosi ya?" balas Tejo dengan nada nakal. Hanya Yasmin yang menyimpan nomer Tejo, jadi pria itu tidak tahu siapa yang tengah menelponnya selarut itu, dan pikiran kotor Tejo langsung tertuju pada wanita penjaga warung remang, yang baru buka di ujung jalan desa.


"Sembarangan, aku Yasmin pacarnya Fadli," tegas Yasmin.


"Ooo ... Mbak Yasmin yang seksi itu," balas Tejo cekikikan.


Setelah membuat kesepakatan mereka akhirnya bertemu di tengah gelapnya malam, tidak ada cara lain, desa itu cukup ramai di siang hari akan ada banyak mata yang melihat kalau mereka bertemu.


Yasmin mengendap, berjalan menuju pintu utama rumah yang lumayan besar itu.

__ADS_1


"Nak, Yasmin?" suara seseorang mengejutkan Yasmin, wanita itu segera berbalik badan, ibunya Fadli sudah berdiri tepat di hadapannya. "Mau kemana?" tanya wanita paruh baya itu.


"E ... Yasmin mau keluar sebentar Bu, mau cari angin, di sini gerah," Yasmin berujar sembari berpura-pura mengipasi dirinya dengan telapak tangan.


"Apa kipas anginnya mati?" tanya Bu lurah lagi.


"Hidup kok, Bu, tapi kulitku kering kalau terlalu lama kena kipas angin," Yasmin beralasan.


"Baiklah, tapi jangan jauh-jauh, sudah larut ini,"


"Iya, Bu."


Ibunya Fadli tidak bisa melarang, memang benar udara malam ini terasa panas, dia maklum jika Yasmin kepanasan, gadis kota itu terbiasa tinggal dalam rumah besar ber-AC sedang di rumah mereka hanya ada kipas angin.


Setelah lima menit menunggu, Tejo pun datang. seperti biasa Tejo berpenampilan mentereng dengan setelan kaos dan celana berwarna kuning terang, saking terangnya dia bahkan terlihat dalam gelapnya malam.


"Apa dia itu badut? norak banget," Yasmin bergumam sendiri.


"Hai ... Nona manis, Mas Tejo sudah datang, apa kamu begitu merindukanku hingga tak sanggup menunggu pagi tiba?" Tejo mengeluarkan kata-kata rayuan.


"Jangan banyak bacot, dengarkan aku baik-baik!" Yasmin tak ingin berlama-lama dengan pria yang menurutnya sangat menjengkelkan itu. Seandainya tidak butuh, mana sudi Yasmin bertemu pria seperti Tejo.


Setelah keduanya membuat kesepakatan, Yasmin pun kembali ke rumah pak lurah, dan Tejo pun langsung pulang.


***


"Bulek ...!" Kali ini Puspa menaikkan volume suaranya, bukan hanya Ntin yang mendengar, tetangga samping warung sampai terperanjat kaget.


"Ono opo to, Pus?" Seorang wanita berusia senja keluar dari rumahnya, sepertinya dia kaget dengan suara nyaring Puspa.


"Ndak Popo, Mbah. Puspa mau beli sampo," ujar Puspa sembari menggaruk tengkuk yang tidak gatal.


"Mau beli sampo ae kok heboh sak kampung," si Mbah ngedumel sembari masuk rumah.


"Opo to, Pus? nggak perlu teriak begitu, kamu kira Bulek tuli apa?" Ntin keluar sembari membenahi ikatan rambutnya.


"Bulek ngapain to? Puspa panggil nggak nyahut,"


"Bulek habis telponan sama Raka, dia mau pulang malam ini."


Raka, adalah anak laki-lakinya Ntin,


pemuda yang seumuran dengan Puspa itu sudah lama merantau ke kota, dia jarang sekali pulang, sudah hampir setahun dia tidak mengunjungi ibunya, sudah pasti Ntin merasa senang saat anak semata wayangnya menelpon dan bilang akan pulang malam ini.

__ADS_1


"Wah, Raka pulang bulek?" Sama seperti Ntin Puspa pun merasa bahagia. Sudah lama dia tidak berjumpa dengan temannya itu.


"Iya, kamu mau beli apa?" tanya Ntin.


"Oh iya sampai lupa, aku mau beli sampo bulek, yang botolan ya,"


"Enak yang sachet lo, Pus. Satu bungkus sekali pakai," ujar Ntin sembari mengambil sampo kemasan botol dalam etalase.


"Yo enak seng botol bulek, kalau habis bisa tambah air," ujar Puspa cekikikan.


"Dasar, medit!"


"Bukan medit tapi ngirit. Nanti kalau aku sudah jadi istrinya Fadli, belinya ga lagi yang seperti ini, langsung beli yang dus-dusan," Puspa berangan.


"Kamu beneran mau nikah sama Fadli?"


"Yo bener to Bulek, kenapa?" Puspa balik bertanya.


"Yo Ndak Popo, Bulek itu sebenarnya sudah ada rencana mau jodohin kamu sama Raka, e ... kamu sudah kepincut anak pak lurah, yo kalah saing,"


"Opo Iyo? kenapa nggak bilang dari dulu to Bulek,"


"Apa kamu mau?"


"Yo ndak," Puspa malah cekikikan.


"Raka itu ganteng, pasti banyak yang mau sama dia, jangan khawatir. Bisa jadi Raka sudah punya pacar di kota, Yo to?" Puspa berusaha menghibur sahabat karib ibunya itu.


"Iyo omonganmu ada benarnya."


***


"Mau kemana, Fad?" tanya yasmin, saat melihat Fadli bersiap untuk pergi.


"Aku mau keluar sebentar," jawab Fadli malas.


"Jangan bilang kamu mau menemui biduan itu!" Bentak Yasmin.


"Kamu kenapa sih, Yas? Aku kan sudah setuju ikut kamu ke kota dan menetap di sana, kenapa masih mempermasalahkan, Puspa?" Fadli mulai tersulut emosi, sementara Yasmin hanya terdiam.


Setelah Fadli pergi, Yasmin kembali menghubungi Tejo. "Kamu bergerak malam ini juga aku tidak mau tahu!"


"Baik Nona manis, dengan senang hati aku akan melakukannya," jawab Tejo dari ujung telepon

__ADS_1


__ADS_2