
Setelah dari rumah sakit Satya langsung mandi dan berganti pakaian kemudian kembali menuju tempat dimana Puspa berada.
Baru sampai di ambang pintu handphone dalam saku berdering nyaring. Pamela, wanita itu terus menghubungi tanpa tahu waktu. Terlalu sibuk menghawatirkan Puspa, Satya melupakan janjinya untuk menjemput sang mantan dari rumah sakit.
"Kamu, lupa, Satya?" tanya wanita itu dalam sambungan telepon.
"Maaf, Mel. Puspa sedang terluka, dia baru saja menjalani operasi,"
"Puspa? Apa yang terjadi dengannya?"
"Ceritanya panjang, sekarang aku harus ke rumah sakit lagi melihat keadaannya. Kamu sudah pulang kan?"
"Sudah, Pergilah Puspa membutuhkanmu sekarang!"
"Terimakasih,"
Kemana perginya rasa cinta yang begitu dalam di hati Satya untuk Pamela? Apa dia sudah berhasil lepas dari belenggu cinta masa lalu?
Satya masuk kamar rawat Puspa dengan tergesa, langkahnya terhenti saat melihat gadis itu dalam posisi setengah duduk sedikit tersenyum menahan tawa. Luka itu masih basah pasti sakit jika dia bergerak sedikit saja.
Satya berjalan cepat, menghampiri Puspa dan membawa gadis yang tengah terluka itu dalam pelukannya. Bukan hanya Puspa yang terkejut dengan tindakan Satya, Anita dan Marni Bahkan Sampai menutup mulut mereka dengan kedua telapak tangan saking tak percaya dengan pemandangan di hadapan mereka.
"Maaf, Pak. Perut saya sakit," bisik Puspa sembari menahan perih bekas jahitan.
"Oh, iya, maaf," Satya melepas pelan pelukannya.
"Siapa yang menyuruhmu bergerak?" tatapan tajam membuat kedua wanita di sisi Puspa beringsut dari duduknya.
"Kami keluar dulu, ya. Nyari cemilan," Marni mencari alasan agar terhindar dari amarah sang majikan.
Sementara itu, Puspa merasa gugup di antara rasa sakitnya.
"Terimakasih, Bapak sudah menolong saya,"
"Bukan aku yang menolongmu, tapi dokter,"
"Baiklah, nanti saya akan bilang makasih pada dokter. Apa dia laki-laki? Tampan tidak?" ucapan Puspa mulai melantur.
"Apa obat biusnya masih bekerja? Bicaramu ngawur!"
Satya duduk di sisi gadis yang pada punggung tangannya masih tertancap jarum infus.
"Pak, siapa mereka? Kenapa mereka berniat jahat? Apa perampok?" Puspa sudah mulai mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.
"Jangan pikirkan itu! Aku akan mengurusnya," Satya menatap lekat gadis di hadapannya, syukurlah dia sudah selamat, sangat menyakitkan saat melihat banyak darah mengalir dari tubuhnya.
"Aku sudah melarangmu ikut kan tadi pagi, kapan sih kamu mau nurut, Pus?"
"Maaf."
Tak banyak kata yang keluar dari mulut gadis itu selain maaf. Memang dia yang memaksa ikut saat Satya berangkat ke kantor, tapi semua karena Satya yang terlalu lama mengobrol dengan mantan pacarnya sehingga tak menyadari bahaya datang mengancam Puspa.
"Kenapa, Bapak begitu menghawatirkan saya?" Puspa teringat bagaimana reaksi Satya saat dirinya terluka bahkan Puspa mendengar isak tangisnya.
__ADS_1
"A-aku ... tentu saja kamu pergi bersamaku, jelas aku harus bertanggung jawab," pria itu berkilah.
"Baiklah," Puspa bisa merasakan ada cinta di hati pria itu untuknya, tapi itu hanya sebatas dugaannya saja. Kalaupun benar, akan sangat tidak pantas jika dirinya berharap lebih.
***
Setelah kondisinya mulai pulih, Puspa sudah di perbolehkan pulang, Satya tidak membiarkan gadis itu berada di kamar pembantu, dengan tegas pria itu menyuruh Marni memindahkan barang milik Puspa ke kamar tamu.
"Jangan salah paham! Semua itu untuk kesembuhanmu!"
"Iya, Pak. Saya mengerti,"
Di lain tempat, Fadli tengah risau. Mendengar Puspa terluka, dia ingin menjenguknya, tapi dia tidak bisa melakukan itu karena Satya pasti melarang.
Sementara itu, Ningrum kebingungan saat mendapat kabar tentang putri semata wayangnya. tidak menunggu hingga besok hari, wanita itu bergegas memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas dan pergi ke rumah Entin.
"Kamu mau kemana, Rum?"
"Antar aku ke kota, Entin!"
"Mau apa?"
"Puspa sakit, Entin!"
Anita hanya memberi kabar jika Puspa sakit tanpa memberi tahu kejadian yang sebenarnya. Karena tidak ingin Ningrum khawatir. Namun, hati Ibu bisa merasakan jika anaknya sedang tidak baik-baik saja.
"Lo ... sakit opo?"
"Duduk sek, kita bicara!"
Ningrum menceritakan tentang ucapan Mbah slamet dua hari yang lalu. Pria tua itu menelpon Ningrum dan mengatakan hal aneh. Puspa harus segera menikah kalau tidak kemalangan akan menimpa gadis itu.
"Mosok to, Rum?"
"La ini sudah terbukti, anakku sakit. Aku takut ini ada hubungannya dengan ucapan Mbah Slamet, Tin!"
"Tapi aku nggak bisa menemani kamu ke kota, piye? Soale besok mau slametan hari meninggale ibuku,"
"Lo ... piye Iki ...?" Ningrum berjalan ke Luar warung Ningrum, memikirkan orang lain yang mau membantunya.
"Bulek mau kemana? Kenapa membawa tas?"
Pria berbadan cungkring mematikan mesin motor berhenti tepat di hadapan Ningrum.
"Aku mau ke kota, Jo,"
"Sendiri, Bulek?"
"Iyo, tapi aku nggak berani, piye yo?"
Pucuk di cinta ulam pun tiba, Tejo akhirnya punya alasan untuk menemui pujaan hati yang telah lama tidak bersua.
"Sama aku aja, Bulek!" Tejo bersemangat.
__ADS_1
"Kamu?" Ningrum menujuk ke arah Tejo. Meragukan sekali pergi dengan pria itu bukan apa-apa, dia hanya takut Puspa marah nanti.
"Ayok to! Mikir opo meneh?"
Tejo turun dari motornya dan mengambil alih tas dalam gendongan Ningrum.
"Ayo ... Bulek!" teriak Tejo dari atas motor karena Ningrum masih mematung di tempatnya berdiri.
"Wes nggak popo, Rum. Sama Tejo saja, daripada sendiri kan?" Entin keluar saat mendengar sepeda motor Tejo.
"Tapi piye kalau Puspa marah?" bisik Ningrum di telinga Entin.
"Setelah sampai sana, Tejo kamu suruh pulang. Gampang to!"
"Yo wes, aku berangkat yo. Ini kunci rumah tolong nyalain lampunya nanti, yo!" pinta Ningrum pada sahabat baiknya itu.
"Beres, kamu hati-hati yo!"
Dengan terpaksa Ningrum menerima tawaran Tejo, wanita itu pun naik ke boncengan motor.
"Kita ke rumahku dulu yo, Bulek. Aku harus ambil KTP sama sangu," ucap Tejo sebelum motor melaju
"Iyo," sahut Ningrum.
Tejo keluar rumah setelah berganti pakaian.s
Seperti biasa dia mengenakan setelan berwarna cerah membuat Ningrum sakit mata.
"Lo ... kamu bawa apa itu?" tunjuk Ningrum pada tas besar yang di tenteng Tejo.
"Baju ganti, to! Opo meneh?" jawab Tejo dengan santai.
"Baju? kamu mau nginep dimana emange, Jo?"
Tejo telihat berpikir sejenak tentang tempat tinggalnya nanti di kota.
"Wes lah ... di pikir nanti saja, Bulek. Ayo berangkat!"
Selama di perjalanan, pikiran Ningrum melanglang buana entah kemana, di satu sisi dia menghawatirkan keadaan putrinya, di sisi lainnya lagi dia terpikirkan dengan reaksi Puspa jika tahu dia ke kota bersama Tejo.
"Jo, nanti setelah sampai di rumah majikannya Puspa, kamu nggak usah ikut masuk Yo!" ucap Ningrum saat keduanya tengah berada dalam angkutan umum. Mereka memilih naik angkutan umum karena motor Tejo tidak kuat melaju jauh di jalan raya. Maklumlah motor butut.
"Lo kok ngunu to? Aku kan harus menyapa Dek Puspa to Bulek, kami sudah lama tidak bertemu Lo," Tejo menolak mentah-mentah usul Ningrum. Enak saja dia sudah mengantar sampai ke kota masa iya tidak boleh bertemu dengan Puspa.
"Tapi setelah itu kamu langsung pulang, yo!"
"La Bulek piye? Sama siapa pulangnya nanti?"
"Gampanglah ... sekarang kan aku sudah tahu jalannya, jadi nanti bisalah pulang sendiri,"
"Bulek ojo khawatir! Aku tidak berencana pulang kok, karena mau sekalian nyari pekerjaan di kota, syukur dapat tempat kerja yang dekat dengan rumah majikan dek Puspa, " Tejo cengengesan.
"'Waduh ... alamat kena omel Puspa Iki aku' batin Ningrum.
__ADS_1