
"Siapa Pamela, Bu?" Pikiran Puspa masih tertuju pada nama yang di sebut Satya dalam alam bawah sadarnya semalam.
"Dari mana kamu tahu nama itu?" Marni menghentikan aktifitas memotong sayurnya.
"Pak Satya, tadi malam menyebut nama itu. Jangan tinggalkan aku, Pamela!" Puspa menirukan ucapan Satya sembari memperagakan sebuah adegan bak dalam film India.
"Hush! Jaga bicaramu! kalau tuan Satya dengar bisa di pecat kamu nanti!" Marni menggetok kepala Puspa dengan centong nasi.
"Ibu ini persis seperti ibuku, sukanya getok kepala," protes Puspa.
"Pantas saja otakmu rada gesrek!" ucap Marni di sambung dengan gelak tawa.
"Sopo Pamela, Bu?" Puspa kembali mengulang pertanyaannya.
"Dia mantan pacarnya tuan Satya," Marni sedikit memelankan suaranya. Tidak terbayang kalau majikannya itu tahu mereka tengah bergosip tentangnya, pasti pria itu akan marah besar.
"Oh ... seperti itu? Kenapa mereka berpisah?" Puspa semakin penasaran.
"Dia memilih pria lain," bisik Marni.
"Opo?" Suara nyaring Puspa menggelegar ke seluruh penjuru dapur. Membuat Marni segera menutup mulut gadis itu. "Jangan keras-keras to, Pus! Kamu lupa kalau Tuan ada di rumah?"
"Maaf, Bu. Suaraku ini memang sudah nyaring dari lahir. Nggak bisa di rem," Puspa malah cekikikan. "Aku jadi penasaran secantik apa Pamela itu? Apa lebih cantik dari Yasmin?" gumam Puspa.
"Sopo, Yasmin?" Marni yang baru mendengar nama itu pun bertanya. "Yasmin ... anaknya tukang kredit panci di desaku, Bu." jawab Puspa ngawur. "Oh, bagus yo namanya anak tukang kredit," ucapan Marni di sambut tawa oleh Puspa.
Tak terbayang ekspresi wajah Yasmin, saat di bilang sebagai anak tukang kredit panci. Pasti dia mengamuk tidak terima.
Saat mereka tengah asyik bicara, Satya muncul secara tiba-tiba. Pakaiannya kusut begitu juga dengan wajahnya.
"Tuan sudah bangun?" Marni menyapa dengan senyuman. "Aku mau air putih, Bu," ucap pria itu dengan suara seraknya. Marni bergegas mengambilkan segelas air putih untuk sang majikan.
__ADS_1
Sementara itu, Puspa terus memandangi pria yang kini tengah duduk di kursi ruang makan. 'Apa dia tidak mengingat yang semalam? Kenapa ekspresinya biasa saja saat melihatku?' batin Puspa.
"Apa ada yang salah dengan wajahku?" Suara berat Satya menyadarkan Puspa dari lamunan. "E-enggak, Pak. Saya hanya sakit perut. Permisi," Puspa kabur setelah mengatakan kalimat bodoh itu.
"Dasar gadis aneh!" gumam Satya sembari memijat kedua pelipisnya. Kepalanya masih pusing karena terlalu banyak minum.
"Siapa yang membawaku ke kamar tamu, Bu?" Karena terlalu mabuk, pria itu lupa dengan kejadian tadi malam.
"Saya, Tuan," jawab Marni. Wanita itu sengaja tidak memberitahu sang majikan tentang Puspa. Biarlah itu menjadi rahasia antara dirinya dan Puspa. Toh itu tidak penting.
"Maaf, aku merepotkan Ibu," Satya merasa tidak enak kerena sudah menyusahkan wanita paruh baya seperti Marni.
"Nggak papa, Tuan. Itu sudah menjadi tugas Ibu."
Semenjak hubungannya dengan wanita bernama Pamela berakhir, Satya sering pulang ke rumah dalam keadaan mabuk.
Hubungan keduanya sudah terjalin cukup lama. Bahkan sudah di mulai saat mereka masih di berkuliah.
Pamela adalah wanita yang cantik dan cerdas. Dia adalah primadonanya kampus. Gadis bertubuh tinggi langsing itu adalah putri tunggal dari seorang pengusaha ternama. Satya merasa sangat beruntung bisa mendapatkan cinta gadis itu.
Dengan mudah Pamela melepas Satya dan berpindah ke lain hati. Satya bahkan rela merendahkan diri dengan bersimpuh di kaki wanita itu, tapi hati wanita itu sudah tertutup oleh cinta pria lain. Seorang pria yang status dan jabatannya tidak lebih tinggi dari Satya.
Semua karena cinta, itu lah yang di katakan wanita itu. Kenyataan itu justru membuat Satya semakin terluka. Andai, Pamela memilih pria yang lebih baik darinya, mungkin dia akan sedikit memahami.
Hari ini Satya tidak masuk kerja. Kondisi kesehatannya sedang kurang baik. Entah karena terlalu banyak minum atau karena hal lain, yang pasti pria itu tidak mood untuk berangkat ke kantor.
"Bu, tolong bikinkan aku kopi!" ucap Satya saat berpapasan dengan Marni di ruang tengah. "Baik, Tuan," balas wanita itu.
"Bu, Pak Satya tidak berangkat kerja hari ini?" Selama Puspa tinggal di rumah itu ini pertama kalinya dia melihat Satya berada di rumah di saat pagi.
"Enggak, lagi kurang sehat," Marni mengambil cangkir untuk membuat kopi. "Orang kaya enak Yo, Bu. kerja aja bisa libur sesuka hati," gumam Puspa.
__ADS_1
"Ya kan perusahaan milik sendiri, Pus. Walaupun di rumah, Tuan akan terus berada di depan laptopnya. Lihat saja nanti!" Marni berlalu dengan segelas kopi di tangannya.
"Tetep saja enak. Aku juga mau seperti itu, menjadi wanita sukses," Puspa bergumam sendiri.
"Bagiamana gadis itu, Bu? Apa dia membuat masalah lagi?" Satya bertanya sembari menikmati kopi yang di buat Marni.
"Baik kok, Tuan. Puspa gadis yang rajin, dia juga mau belajar. Apa Tuan akan terus mengijinkan dia disini?"
"Kita lihat nanti, Bu,"
"Baik, Tuan."
Seharian Satya hanya duduk di rumah. Tidak biasanya dia seperti itu. Dari arah dapur terdengar suara lantang Puspa yang tengah bercanda dengan Marni. Anehnya dia tidak terganggu dengan itu. Sesekali, pria itu tersenyum saat Puspa mengatakan hal konyol pada Marni.
Kedua orang tua Satya meninggal karena kecelakaan mobil. Saat itu Satya masih kuliah. Kehadiran Pamela menjadikan pria itu kuat dalam menghadapi masa-masa tersulit dalam hidupnya. Namun, Wanita itu kini menghilang entah kemana.
Setelah perpisahan keduanya, Pamela tidak pernah muncul lagi. Satya belum bisa melupakan wanita itu, bahkan barang milik Pamela masih tersimpan rapi di kamarnya. Entah sampai kapan dia terus berada dalam bayangan masa lalu.
"Pak Satya mau kemana?" Pertanyaan Puspa menghentikan langkah kaki Satya. "Itu bukan urusanmu!" Pria itu menjawab dengan angkuh.
"Saya nebeng ya?" Puspa harus membeli beberapa keperluan dapur di minimarket, tapi dia sedang malas mengendarai motor. Kebetulan dia melihat Satya akan pergi, jadi sekalian saja dia ikut.
"Kamu pikir aku sopir?" Satya berkata dengan raut wajah tidak ramah.
"Saya duduk di depan deh. Biar bapak tidak terlihat seperti sopir. Bagiamana?" Puspa terus memaksa. "Pergilah dengan Joko!" ucap Satya sambil menutup pintu mobil dengan keras.
Dari kaca sepion, dia bisa melihat ekpresi wajah Puspa. Gadis itu terus menggerutu dengan raut wajah terlihat lucu. "Dasar pelit, nebeng saja tidak boleh. Padahal aku kan mau beli keperluan rumah, bukan mau keluyuran!" bahkan dia bisa mendengar ucapan gadis itu dengan jelas.
Tin!
Tin!
__ADS_1
Puspa menoleh saat mendengar suara klakson dari mobil Satya. Terlihat Satya mengulurkan tangan dari kaca pintu mobil sembari memberi isyarat pada Puspa untuk segera masuk.
Dengan girang gadis itu berlari dan masuk mobil. "Terimakasih, Pak. Bapak memang baik hati," ucap Puspa memuji. "Jangan jadi penjilat!" ucapan Satya sungguh menjengkelkan.