PELET SANG BIDUAN

PELET SANG BIDUAN
64.


__ADS_3

Takdir adalah sebuah misteri. Kemana kita akan pergi? Kapan? Dengan siapa? Terkadang sesuatu yang sudah terencana dengan begitu matang pun bisa berantakan saat takdir berkata lain.


***


Puspa & Fadli. Dua nama tersemat indah di lembar kertas berwarna biru muda. Seluruh kerabat dan saudara sudah mendapatkan undangan kabar gembira itu.


Kediaman mempelai wanita pun sudah ramai dengan tetangga yang mulai membuat persiapan untuk acara pernikahan. Di kampung, para warga akan saling gotong royong kalau salah satu dari mereka mengadakan hajatan. Apalagi, pesta akan di gelar meriah selama dua hari.


Para wanita sudah mulai membuat aneka jajanan yang akan mereka suguhkan di meja tamu. Tidak sama dengan di kota, semua via order alias catering terima beres saja.


Enaknya hidup di kampung, keakraban antar tetangga masih terjaga. Satu hal yang kurang menyenangkan adalah, setiap apapun yang kita lakukan tidak akan luput dari pengawasan mata dan telinga para tetangga. Anggap saja itu sebagai tanda perhatian mereka.


"Rum, Pak Lurah ngasih berapa?" celetuk seorang di antara para wanita berdaster.


"Opo to?" Ningrum berkilah.


"Yo pasti banyak, buktine Ningrum sampai bisa ngadain hajatan besar-besaran!" sahut yang lain.


Ada saja yang para wanita bicarakan, mereka memang selalu ingin tahu apapun itu. Apalagi rencananya Ningrum akan menyembelih seekor sapi untuk acara nanti. Bukan hal yang murah kan? Pasti calon besan memberi banyak dana.


"Puspa kemana, Rum?" Entin yang datang dari luar bertanya.


"Ke pasar, Ntin. Katanya Ada yang harus dia beli."


"lho ... calon manten kok keluyuran Iki piye to?" Susi yang tengah mengupas bawang ikut bicara.


"Kamu seperti tidak mengenal Puspa to, Mbak? Dia mana bisa di bilangi!"


Entin yang hapal dengan sifat Puspa menambahi.


"Raka sudah kamu beri tahu to?" Ningrum duduk berdua dengan Entin sembari membuat teh untuk para tetangga.


"Sudah, katanya nanti pulang kalau sudah mendekati hari H. Pekerjaannya nggak bisa di tinggal lama."


"Nggak papa, asal dia bisa pulang saja,"


"Iyo."


***


Di pasar, Puspa di kagetkan oleh teriakan lantang dari Tejo. Dengan napas terengah-engah pria berbaju oranye mengejar Puspa yang tengah berjalan menyusuri pasar.

__ADS_1


"Dek kamu aku panggil kok nggak berhenti to?" ucapnya sembari mengatur napas.


"Memangnya ada apa?"


"Yo nggak popo." Tejo cengengesan.


"kamu mau beli apa?"


"Jangan sok akrab, Jo. Geli aku!"


"Kita kan memang sudah akrab dari dulu to, Dek!"


Tejo menarik tangan Puspa menuju sebuah toko pakaian. Wanita itu tidak bisa mengelak karena Tejo melakukannya secara tiba-tiba.


"Ada apa to? Kenapa menarikku?"


Puspa melepas kasar tangan Tejo yang melekat pada pergelangannya.


"Pilih, Dek. Mana baju yang kamu suka! Aku yang bayar!"


"Nggak perlu, Jo. Aku masih sanggup beli sendiri!"


Kedua alis Puspa terpaut, merasa heran dengan perubahan sikap pria di hadapan. Dia menangkap sebuah ketulusan dari nada bicara pria yang selama ini dia cela.


"Kamu waras to, Jo?"


"Sehat walafiat aku, Dek." Tejo tersenyum.


Bagi Tejo tidak ada gunanya terus mengejar Puspa, sudah waktunya melanjutkan hidup. Mungkin takdir tidak merestui impiannya. Melepas dengan iklas. Andai saja Puspa tahu, semalaman Tejo meraung-raung dalam kamar setelah melihat undangan pernikahannya dengan Fadli.


"Kamu kenapa, Jo? Aneh ngerti ora? Jadi takut aku!"


Puspa sedikit memundurkan langkah.


"Dek, aku sudah iklas kamu menikah dengan orang lain. Sebagai bukti aku ingin memberikan kado untukmu. Terima yo?"


Puspa akhirnya setuju karena tidak tega melihat wajah melas pria yang sudah lama dia kenal tersebut.


"Yowes, aku terima. Tapi apa nggak sayang uangmu?"


"Nggak papa, Dek. Ini nggak seberapa. Aku sudah dapat kerja di kota. Gajinya lumayan gede!" Tejo berapi-api.

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu. Hiduplah yang lebih baik, Jo. Aku doakan semoga kamu mendapat jodoh terbaik yang menerimamu apa adanya. Maaf yo kalau aku sudah banyak menyakiti hatimu!"


Merasa terharu Tejo mendekat dan akan memeluk gadis di hadapan. Namun, tangan Puspa sudah lebih dulu mengepal tepat di depan wajahnya.


"Mau tak jotos, kamu?"


"Kelepasan, Dek. Habisnya aku terharu." Tejo beringsut mundur dari posisinya.


***


Hani di sambut dengan tatapan penuh selidik dari para tetangga. Calon pengantin harusnya berdiam diri di rumah, Puspa malah keluyuran.


"Puspa harusnya kamu itu di pingit kenapa malah keluyuran?" celetuk seorang warga.


"Maaf, Bude. Aku harus memberi beberapa keperluan penting!"


Puspa masuk rumah dengan senyum yang di paksakan.


"Setelah ini sebaiknya kamu nggak keluar lagi, Pus. Ibu malu lo di gunjing tetangga!"


"Iyo, Bu."


Puspa langsung masuk kamar dan menjatuhkan diri di atas tempat tidur. Hidupnya telah berbanding terbalik sekarang. Pasrah pada nasib dan berusaha iklas menerima. Setidaknya dia sudah berusaha berbakti pada sang Ibu.


"Kamu apa nggak bisa pulang saat pernikahanku, Nit?" Gadis itu butuh seorang teman untuk mengurangi beban di hati.


"Aku takut, Pus. Hutang Ibu belum lunas!"


"Apa pekerjaanmu lancar?"


"Alhamdulillah, lancar."


"Apa dia baik-baik saja?"


"Siapa maksudmu?"


"Pak Satya, apa dia baik-baik saja?" Puspa kembali mengulang pertanyaannya.


"Lebih baik kamu fokus pada pernikahanmu saja, jangan pikirkan hal lain!" Anita kesal. Mengingat sikap Satya yang seolah tidak perduli pada Puspa. Kenapa Puspa malah menanyakan kabar pria itu?


"Baiklah ..." Puspa membuang napas panjang.

__ADS_1


__ADS_2