PELET SANG BIDUAN

PELET SANG BIDUAN
42. Menyusul Puspa


__ADS_3

"Jangan berbelit-belit, Jo! Langsung pada intinya saja, kamu mau ngomong apa?"


Puspa mulai emosi dengan tingkah Tejo yang mengulur waktu untuk berlama-lama bicara dengannya.


"Gini lo ... selama kamu di kota, Bulek Ningrum meminjam uang padaku. Bukannya aku mau nagih Lo ini, aku iklas kok, Dek. Tapi ...,"


Tejo tersenyum penuh arti, membuat Puspa merasa enek.


"Piro?" tanya Puspa.


"Nggak, Popo Dek. Nggak usah di bayar. Mas ngerti kamu sedang kesulitan, tapi ...," Tejo terus menggantung ucapan di akhir kalimat.


Puspa mengerti arah pembicaraan pria di hadapannya, sudah pasti ada niat tersembunyi di balik kebaikannya.


"Jangan kemana-kemana tunggu di sini!"


Puspa masuk rumah dan menemui ibunya.


"Ibu punya hutang berapa sama si Tejo?"


Ningrum terkejut dengan pertanyaan Puspa bagaimana dia bisa tahu prihal hutangnya itu?


"Apa Tejo kesini? Maaf yo, Pus. Ibu terpaksa soale tabungan Ibu habis," jawab Ningrum.


"Nggak papa, Bu. Puspa ngerti. Berapa?" tanya Puspa lagi.


"Tiga juta, Pus." jawab Ningrum ragu.


"Uang sak munu ae mau membeli diriku, dasar weden manuk (orang-orangan sawah)!"


Puspa keluar kamar dengan segepok uang di tangan, beruntunglah dia mendapat titipan yang lumayan dari Satya sehingga bisa untuk membayar hutangnya.


"Ini aku lebihi dua ratus ribu. Bonus," Puspa menyerahkan uang tiga juta dua ratus ribu tepat di genggaman tangan Tejo, membuat pria itu melongo tak percaya. Bagaimana Puspa punya uang sebanyak itu? bukankah dia hanya berkerja menjadi pembantu dalam beberapa bukan saja?


"Kamu pasti butuh uang ini to, Dek. Nggak Popo kamu simpan saja untuk tabungan kita nanti," Tejo berdiri dengan wajah cemas.


"Tabungan kita gundulmu! Sudah pulang sana!" Puspa meninggalkan Tejo dan naik motor Anita.


.


"Ayo, Nit keburu sore!"


Tejo pun hanya bisa menyaksikan kepergian Puspa dengan hati hancur. Usahanya gagal total. Pria itu pun langsung pulang tanpa berpamitan pada Ningrum.


***


"Kenapa kamu nggak bicarakan ini denganku?" Fadli berucap sembari menahan emosi pada Yasmin. Ini tentang hidupnya, kenapa Yasmin mengambil keputusan sepihak? Fadli merasa tidak di hargai sebagai seorang lelaki.


"Karena aku tahu kamu pasti setuju," jawab Yasmin dengan entengnya.


Kini keduanya tengah berada dalam apartemen milik Fadli. Begitulah Yasmin, wanita itu seperti sudah tidak punya harga diri lagi. Keluar masuk rumah pria yang belum resmi menjadi suami sesuka hati.


"Aku nggak mau tahu, orang tuamu harus datang untuk bertemu Papa dan Mama," Yasmin mulai merayu, jari-jari lentiknya mulai bermain di dada bidang kekasihnya.


"Baiklah, aku akan pulang sekarang juga," Fadli menepis tangan Yasmin dan beranjak dari duduknya membuat wanita itu geram.


"Kenapa pulang?" Yasmin khawatir.

__ADS_1


"Kamu bilang orang tuaku harus kemari bukan? Jadi aku akan menjemput mereka." Fadli melihat ada peluang dan dia tidak akan menyia-nyiakannya.


"Aku ikut!" Yasmin kembali mendekat pada Fadli dan memeluk pria itu dengan manja.


"Lalu siapa yang akan mengurus perusahaan?" Fadli bersikap seolah dia menghawatirkan pekerjaannya, yang sebenarnya adalah dia tidak ingin Yasmin menghalanginya untuk bertemu Puspa.


Dengan terpaksa wanita itu mengalah kali ini.


"Sebelum kamu pergi, bisakah kita menghabiskan waktu sebentar?" Yasmin kembali mendekatkan wajahnya pada Fadli, tapi pria itu kembali menolaknya.


"Aku harus pergi sekarang, lebih cepat lebih baik. Kamu mau pernikahan kita segera terlaksana bukan?" Fadli kembali menjadikan pernikahan sebagai alasan.


Pria itu pun bergegas mengemas beberapa pakaian dan keluar apartemen dengan tergesa. meninggalkan Yasmin yang masih terus menatapnya dari atas tempat tidur.


"Fadli!" Yasmin pun mengejar Fadli Sampai ke parkiran.


"Baiklah, aku pergi," ucap Fadli sembari melambaikan tangan pada kekasihnya, tidak ada ciuman ataupun pelukan perpisahan untuk Yasmin. Membuat wanita itu melepas nafas dengan kasar.


"Sialan! Ada apa dengannya? Kenapa berubah dingin padaku?" Yasmin pun bergegas masuk mobil dan melesat pergi.


***


Puspa merasa bahagia, karena Agung masih bersedia menerimanya untuk bergabung kembali. Bahkan sudah ada jadwal manggung untuknya.


Dengan berat gadis itu akan kembali ke profesi lamanya. Sebuah pekerjaan yang mengharuskannya berada di antara banyak pria yang menatap rendah pada dirinya.


Mau bagiamana lagi, dia harus melanjutkan hidup.


"Jadi kamu mau nyanyi lagi, Pus?" tanya Ningrum. Wanita itu kini duduk bersandar di kursi ruang makan di rumah sederhananya.


"Iyo, Bu. Syukurlah Mas Agung masih mau menerimaku," ucapan Puspa sembari mencuci sayuran. Keahlian Puspa di dapur semakin meningkat setelah bekerja di rumah Satya. Dia lebih cekatan sekarang. Kebiasaan sebagai seorang pembantu terbawa hingga ke rumah.


"Kebiasaan di rumah Pak Satya, Bu." Tiba-tiba tangan Puspa berhenti dari aktifitasnya. Menyebut nama Satya membuatnya mengingat pria itu.


Ada kesan tidak baik saat dia pergi dari rumah itu dan itu membaut Puspa merasa tidak tenang.


"Puspa tinggal ke kamar sek yo, Bu," Puspa pun masuk kamar dan meraih posel di meja.


Puspa mulai menghawatirkan mantan majikannya, dia masih ingat bagaimana sikap Satya saat dia baru datang ke sana. Pria itu hampir tidak pernah pulang di malam hari dan menghabiskan waktunya untuk mabuk di sebuah kelab malam.


Apa mungkin Satya melakukannya lagi setelah Pamela kembali menolaknya?


drtt!


drtt!


Puspa menghubungi Marni.


"Bu, gimana kabar Pak Satya?"


setelah berbasa-basi Puspa akhirnya menanyakan Satya.


"Dia manjadi pendiam lagi, tapi kali ini tuan sudah tidak keluar malam lagi dia lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar,"


"Apa mbak Pamela tidak datang, Bu?"


"Kamu kalau menghawatirkan Tuan, kenapa tidak kembali kesini saja to?" jawab Marni kesal.

__ADS_1


Puspa cengengesan dalam sambungan telpon. Tidak bisa di bohongi dia memang menghawatirkan pria itu. Puspa tahu betul arti seorang Pamela untuk Satya. Pria itu pasti kembali hancur seperti dulu, tapi Puspa juga tidak bisa kembali kesana. Memangnya dia siapa? Dan apa pengaruhnya juga buat Satya? Ada atau tidak dirinya di sisi pria itu tidaklah penting.


Puspa terdiam setelah mengakhiri percakapannya dengan Marni di telpon.


"Apa aku telpon mbak Pamela, ya?" gumam gadis itu.


Puspa mencari kontak Pamela dalam ponselnya tapi sejurus kemudian dia mengurungkan niat untuk menekan tombol hijau di layar.


"Aku tidak berhak mencampuri hubungan mereka, bisa-bisa aku di maki lagi sama Pak Satya," Puspa pun meletakan kembali ponselnya di atas meja.


"Ibu bicara sama siapa?" Marni gelagapan saat mendapati tuannya sudah berdiri tepat di belakangnya.


"A-anu ... Puspa, Tuan," jawab wanita itu gugup.


"Apa dia akan kembali?"


"Tidak tuan, Puspa bilang dia akan menyanyi lagi,"


Puspa sudah menceritakan rencananya untuk kembali menjadi biduan pada Marni.


"Maksud Ibu menjadi penyanyi panggung?" Satya terdengar gusar mendengar penuturan Marni.


"Iya, kan Puspa dulunya memang artis panggung, Tuan,"


Marni melihat ekspresi berbeda pada tuanya membuatnya menerka apa penyebabnya.


"Tuan mau pergi?" tanya Marni yang melihat tuannya sudah bersiap dengan kunci mobil di tangan. Namun, setelah mendengar pertanyaan Marni, Satya malah putar badan dan kembali ke kamar.


"Loh, kok balik lagi?" Marni bergumam.


Satya merasa gelisah dalam kamarnya bayangan Puspa bernyayi dan bergoyang di atas panggung membuatnya frustasi.


Tanpa di sadari oleh pria itu dia kini tengah cemburu dan tak terima jika Puspa menjadi tontonan banyak mata pria.


Tak berapa lama pria itu turun kembali dan mencari Marni.


"Bu, katakan padaku apa saat di panggung banyak pria yang ikut bernyayi bersamanya?"


Marni terdiam dan mencoba mencerna apa maksud perkataan tuannya.


"Maksud, Tuan. Puspa?"


"Iya, Bu. Siapa lagi?" Satya kesal karena Marni tak juga mengerti dengan ucapannya.


"Kalau di kampung biasanya begitu Tuan. Apalagi kalau malam semakin larut, banyak pemuda yang ikut naik ke panggung dan bergoyang bersama sang Biduan,"


Marni sengaja menggoda tuannya mengetahui ada yang aneh dengan pria itu.


"Apalagi Puspa, dia itu kan bintang panggung pasti dia paling banyak dapat saweran," tambah Marni, bak menyiram minyak pada api yang sudah menyala.


Tanpa berkata apapun pria itu kembali ke kamar dan keluar dengan pakaian yang berbeda.


"Tuan mau kemana?" tanya Marni heran.


"Aku akan membawa kucing kampung itu kembali!" ucap Satya penuh kesungguhan hati.


"Apa?" Marni tidak menduga reaksi tuannya akan sejauh itu.

__ADS_1


"Walah, sudah bisa di pastikan kalau tuan itu sudah jatuh cinta sama Puspa," gumam wanita paruh baya itu.


Sebelum pergi, Satya sudah menghubungi sekretaris pribadi dan juga orang kepercayaan untuk mengurus pekerjaan kantor. Sementara itu, dia bergegas menuju kampung di mana Puspa tinggal.


__ADS_2