
Puspa memutar langkah dan pergi meninggalkan Satya bersama Pamela. Ya, wanita yang tengah berada dalam pelukan Satya adalah Pamela mantan kekasihnya.
Puspa menuju lobi rumah sakit dan duduk di sana, menunggu satya selesai dengan urusannya.
Pantas saja jika Satya masih menyimpan foto Pamela dalam ponselnya ternyata mereka masih semesra itu. begitulah yang Puspa pikirkan.
Puspa merutuki kebodohannya karena sempat merasa jika Satya mulai memperhatikan dirinya. Buktinya hari ini, pria itu dengan suka rela menemani ke rumah sakit. Namun, kenyataannya adalah Satya melakukan itu karena ingin menemui Pamela di sana. Puspa yang malang.
Untuk menghilangkan kegelisahan dalam hati Puspa memutuskan menghubungi Entin. Dia harus menyampaikan kondisi Raka pada wanita itu.
"Raka baik, Bulek. Sebentar lagi sudah boleh pulang," Puspa bicara pada Entin dalam sambungan telepon. Wanita di seberang sana terdengar bahagia mengetahui anaknya selamat.
"Terimaksih yo, Puspa. Maaf Bulek sudah berkata kasar padamu,"
"Sama-sama Bulek. Puspa juga minta maaf karena sudah bersikap tidak sopan pada Bulek."
Andai mereka berada di tempat yang sama pasti keduanya akan saling memeluk sekarang.
Setelah hampir setengah jam Puspa menunggu, akhirnya dia memutuskan untuk kembali tanpa Satya.
[Maaf, Pak. Saya pulang duluan.]
Sebuah pesan singkat dia kirimkan pada Satya takut kalau pria itu mencarinya nanti, itu pun kalau dia ingat.
Sepanjang perjalanan Puspa larut dalam lamunan. Bayangan Satya dan Pamela berputar-putar dalam benaknya. Seharusnya dia sadar dengan posisinya dalam kehidupan pria itu. Tidak pantas jika dia berharap lebih. Mau bagiamana lagi ini soal hati dan dia tidak bisa mengatur kemana hati akan berlabuh.
"Lo ... kok sendiri, Pus? Pak Satya mana?" Marni menghampiri Puspa yang kini duduk di kursi dapur.
"Kata Ibu, Mbak Pamela ke luar negeri, tapi dia ada kok di sini," Puspa menenggak habis segelas air putih yang di berikan Marni.
"Bener kok. Sebelum pergi dia berpesan pada Ibu untuk menjaga Tuan. Kamu lihat dimana emangnya?"
"Memangnya dia anak kecil pakai di jaga segala," Puspa tiba-tiba sewot.
"Apa ya yang di luar negeri dia ada di rumah sakit. Ternyata mereka sudah janjian, pantas semangat nemenin aku nggak tahunya ..."
"Mosok to?"
Puspa sudah malas membahas tuannya yang kembali bersama sang mantan itu, gadis itu pun masuk kamar.
Tak berapa lama, Satya kembali dengan raut wajah di tekuk. Marni heran kalau yang di ucapkan Puspa benar, kenapa Satya malah murung bukannya bahagia?
"Di mana Puspa, Bu?"
"Di kamarnya, Tuan. Mau Ibu panggilkan?"
"Tidak usah, Bu."
Pria yang wajahnya nampak lelah itu pun bergegas menuju kamar pribadinya.
***
"Rum aku tahu kalau anakku sudah sangat menyakiti anakmu. Akan tetapi aku sangat ingin menjadikan Puspa sebagai menantuku,"
Mengetahui hubungan Raka dan Puspa mulai membaik membuat Entin berniat untuk menikahkan mereka seperti rencana semula. Hal yang tidak mudah bagi Ningrum, walaupun dia sudah memaafkan, tapi untuk menerima Raka sebagai suami Puspa Ningrum belum bisa.
"Bagaimana kalau tanya Puspa dulu, kan dia yang akan menjalaninya," Ningrum hanya bisa memberi jawaban yang sekiranya tidak menyakiti Entin. walaupun dia yakin kalau Puspa tidak akan menerimanya.
"Kamu ikut aku ya!"
__ADS_1
"Kemana?"
"Ke kota nengokin Raka,"
"Bagaimana yo ..."
"Ayo to Rum ... sekalian kita mampir ke tempat kerjane Puspa,"
Ningrum memang ingin melihat di mana anaknya bekerja, tapi apa Puspa mengijinkan dia datang ke sana?
Sementara itu Puspa tengah dalam suasana hati tidak baik sekarang. Kejadian di rumah sakit masih menganggu pikirannya.
"Jadi, Bapak balikan lagi sama Mbak Pamela?"
Puspa tidak bisa lagi menahan untuk menanyakan hal itu ada Satya, kalau tidak dia bisa mati tersiksa.
Satya yang tengah fokus pada laptop di pangkuan seketika menatap ke arah Puspa yang sudah berdiri di sampingnya.
"Maksud kamu apa? Dan kenapa kemarin kamu pulang duluan?"
"Karena Bapak lama. Asal bapak tahu, saya setengah jam duduk di lobi nungguin bapak, tapi bapak kan sedang sibuk makannya tidak ingat sama saya!"
Setelah mengatakan itu Puspa kembali ke dapur.
"Hei ... mau kemana kamu, kita belum selesai bicara!"
Satya mengerenyitkan kening karena heran dengan sikap pembantunya itu. 'Kenapa dia menanyakan Pamela? Apa dia melihat kami'
Penasaran, Satya mengejar Puspa hingga sampai dapur.
"Kemarin kamu mengikutiku?"
"Bagaimana kamu tahu aku bersama Pamela?"
Bagi Puspa ucapan Satya adalah sebuah pengakuan, jika dia benar kembali pada wanita itu.
"Jadi benar to, Bapak kembali lagi sama Mbak Pamela, padahal sudah di tolak berkali-kali," Puspa seolah lupa tengah bicara dengan siapa. Dia lebih terlihat seperti sedang marah pada sorang teman.
"Kamu ..."
Belum selesai Satya bicara ponsel dalam sakunya berdering, pria itu pun keluar dapur menuju teras samping rumah. dan mengangkat telepon di sana.
"Pasti mbak Pamela lagi," gerutu Puspa.
"Kamu cinta sama tuan to, Pus?"
Marni yang sedari tadi memperhatikan akhirnya bicara.
"Ibu ngomong apa to?"
"Nggak usah ngelak, dari wajahnya itu jelas terlihat kalau sedang cemburu,"
"Yo enggak to, Bu. masak suka sama majikan, Ibu ini aneh-aneh saja. Saya hanya tidak suka kalau pak Satya nanti patah hati lagi kan kita yang repot kalau dia mengamuk dan mecahin barang-barang. Ya to?"
"Iyo, kamu benar."
Tanpa mereka sadari pria yang tengah mereka bicarakan mendengar percakapan itu.
Satya yang berniat menemui Puspa pun berputar arah dan kembali ke kamar.
__ADS_1
***
"Ada apa, Ka?"
Puspa sedang menerima telepon sembari berdiri di pinggir kolam. Semenjak hubungannya dengan Raka mulai membaik mereka sering berhubungan lewat telepon sekedar menanyakan kabar karena luka Raka saat itu lumayan parah membaut Puspa khawatir.
"Kamu sedang apa, Pus?"
"Aku sedang mengangkat telepon darimu,"
"Bukan itu maksudku, Puspa !"
"Aku tahu,"
Puspa terdengar cekikikan dalam sambungan telepon. Dia punya misi untuk membawa Raka keluar dari dunia kelamnya itu dan menjadi pria yang lebih baik.
"Ka, keluarlah dari pekerjaan haram itu!"
Tidak ada jawaban dari ujung sana, entah Raka tidak dengar atau dia sengaja mengabaikannya.
"Ka! Kamu masih di sana to?"
"Iya, Pus. Aku masih mendengarkanmu,"
"Gimana? Kamu mau kan keluar dari sana?" Puspa kembali mengulang perkataannya.
"Tapi, kamu menikah denganku ya!" jawab Raka membuat Puspa melebarkan mata karena tak percaya dengan yang dia dengar.
"Ngawur! Menikah gundulmu!"
"Aku serius Lo pus, kan kita memang sudah berencana menikah?"
"Iya, dan kamu yang merusak rencana pernikahan itu," jawab Puspa.
"Sekarang kita lanjutkan ya, kita menikah ya?"
Puspa tersenyum kecut mendengar ucapan pria di ujung sana, sudah pasti Raka tengah bercanda mengetahui hubungan pria itu cukup serius dengan Andin.
"Menikah apa?"
Puspa terkejut saat dengan tiba-tiba Satya menyahut handphone dari genggamannya dan langsung mematikan sambungan telpon yang masih berlangsung.
"Kembalikan, Pak!" Puspa berusaha merebut benda pipih itu dari tangan sang majikan tapi apa daya tubuhnya kalah tinggi dari pria di hadapannya.
Satya melihat lagi nomer dalam ponsel untuk mengetahui gadis itu tengah bicara dengan siapa, kenapa mereka membahas pernikahan?
"Raka? Kamu mau menikahi pria brengsek itu?"
"Iya, walaupun brengsek dia tidak plin plan,"
"Apa maksudmu?"
"Bukan apa-apa,"
Puspa kembali mencoba mengambil handphone miliknya dengan cara merebutnya. Apesnya kakinya tersandung membaut tubuhnya oleng ke arah kolam dan Puspa reflek menarik baju Satya.
Byur!
Kedua manusia itu pun terjatuh kedalam kolam renang.
__ADS_1