
Puspa menutup mulut dengan kedua tangan saking tidak percaya melihat siapa yang keluar dari dalam mobil.
"Puspa ...!"
Anita keluar dengan menenteng tas besar di tangan. Wanita itu menangis haru dalam pelukan sahabatnya.
"Untunglah aku melihatmu, Pus!" Suaranya bergetar menahan tangis.
"Bagiamana kamu sampai ke sini? Dan ..."
Puspa menatap ke arah mobil yang masih terparkir di sisi jalan. Dari dalam sana ada sosok yang melambaikan tangan kepadanya.
"Mas Rico?" Puspa melepas pelukan Anita dan menghampiri pria yang masih berada di balik kemudi.
"Mas, terimaksih ya sudah mengantar temanku," ucap Puspa penuh rasa syukur.
"Sama-sama, tadi aku melihatnya kebingungan di tepi jalan dan saat kutanya dia memberikan alamat Satya. Kebetulan yang indah," Rico tersenyum manis.
"Puspa, berikan nomer teleponmu!" Rico mengulurkan tangan.
"Untuk apa, Mas?"
"Kita teman kan? Biar aku simpan nomer teleponmu," Pria itu beralasan. Yang sebenernya adalah dia tertarik pada teman Puspa dari desa itu. Pandangan Rico tidak bisa lepas dari Anita saat melihat gadis berambut panjang itu berdiri kebingungan di tepi jalan. Wajah polosnya mampu mengalihkan dunia seorang playboy seperti Rico.
"Ini, Mas." Puspa memberikan ponselnya pada Rico.
Pria itu pun menyalin nomer Puspa, tangannya sibuk dengan layar ponsel, tapi matanya terus saja melirik pada gadis yang menatap mereka dari sisi jalan.
"Bawa temanmu itu masuk! Aku akan mengantar kalian!"
"Apa tidak merepotkan, Mas?" Puspa merasa tidak enak hati.
"Merepotkan apanya? Lagipula aku juga mau menemui Satya." Sebelumnya tidak ada niatan sama sekali dia akan mengunjungi teman lamanya, tapi hanya itu alasan yang tepat.
"Baiklah,"
Puspa mengajak Anita kembali masuk mobil.
"Jadi kamu beneran kenal dia, Pus?" bisik Anita.
"Iya, dia temanya Pak Satya," balas Puspa sembari tersenyum, membuat Anita merasa lega. Dalam hati dia merasa tidak enak karena sudah berprasangka buruk pada Rico. Dia bahkan sudah merencanakan sebuah tindakan jika ternyata pria yang memberinya tumpangan adalah orang jahat. Syukurlah dia berkata jujur kalau dia mengenal Puspa dan majikannya.
"Oh iya, Mas. Perkenalkan dia Anita temanku dari kampung," ucap Puspa pada Rico yang sudah keluar dari mobilnya.
"Rico," Pria berkaca mata hitam itu pun mengulurkan tangan dan di sambut malu-malu oleh Anita. "Anita,"
"Baiklah, kita harus cepat atau Satya akan membunuhmu, Pus!" ucap Rico.
"Kenapa, Mas?" tanya Puspa tak mengerti.
"Kamu tidak lihat ada berapa banyak panggilan dalam ponselmu?"
__ADS_1
Mendengar ucapan Rico, Puspa langsung melihat pada layar ponsel dan benar, lebih dari sepuluh kali Satya menghubunginya belum lagi di tambah dengan beberapa pesan chat yang berisi ancaman dan sebagainya.
"Ladalah ... mati tenan aku iki ...!"
[Saya sudah di jalan pak, mau pulang.]
Puspa membalas chat dari sang majikan dengan satu pesan singkat berharap pria itu tidak lagi mengkhawatirkannya. Apa benar dia khawatir? Puspa tersenyum sembari memasukkan benda pipih itu dalam tas.
"Kamu kenapa nggak telepon aku to, Nit?"
"HP ku rusak, Pus."
"Kan bisa nyuruh Ibu telepon kalau kamu mau kesini, jadi aku bisa jemput kamu di terminal,"
"Aku nggak kepikiran saking senengnya mau ketemu kamu," Anita tersenyum getir menyadari kebodohannya.
Kedua gadis itu saling memeluk melepas rindu. Puspa belum tahu kenapa Anita bisa sampai menyusulnya, biarlah dia tanyakan nanti saja saat mereka di rumah.
Sementara itu, Rico terus mencuri pandang dari kaca sepion memperhatikan bagaimana dua gadis desa itu bercengkerama. Sesekali dia itu ikut tersenyum saat melihat Anita tersenyum dari pantulan kaca.
Entah pesona apa yang di miliki oleh gadis desa sehingga membuat para pria kota itu tidak bisa mengalihkan pandangan mereka.
***
Satya berdiri di ambang pintu saat mobil Rico masuk pekarangan rumah. Tatapan tajam pria itu sanggup menembus hingga jantung. Puspa bahkan sampai tidak berani menatap tuannya.
"Lu ngapain berdiri di sana?" Rico turun dari mobil dan menyapa Satya.
"Pak, ini Anita teman saya. Bapak sudah pernah bertemu dengannya di kampung. Apa boleh untuk sementara dia tinggal di sini?" Puspa memberanikan diri meminta ijin pada pria yang sedari tadi memperlihatkan ekspresi tidak bersahabat di wajahnya.
"Kalau lu nggak mau Nerima dia di sini, biar gue yang bawa dia," ucap Rico dengan senyum menyeringai.
"Masuk sana!" titah Satya pada dua gadis di hadapannya.
"Terimakasih, Pak," ucap Puspa kegirangan. Dengan semangat dia menarik tangan Anita membawanya ke arah dapur.
Sementara itu, dua pria dalam ruang tengah mulai bicara. Rico menceritakan bagaimana dia bisa bersama Anita dan Puspa. "Sepertinya gadis itu dalam kesusahan, jadi biarkan untuk sementara waktu dia di sini, Sat," yang di maksud oleh Rico adalah Anita.
"Pulang sana!" Satya beranjak dari duduk meninggalkan sahabatnya seorang diri. Marah? tentu saja tidak, Rico sudah terbiasa dengan sikap Satya yang seperti itu.
"Baiklah, kabari aku jika kamu tidak mau lagi menampung Anita, aku akan menerimanya dengan senang hati," Pria bertubuh tinggi itu pun pergi dengan senyuman.
***
"Pantas saja kamu betah tinggal di sini, Pus," ucap Anita sembari mengedarkan pandangan ke setiap sudut kamar.
"Enak yo? Adem," Puspa tersenyum sembari membantu Anita menata pakaiannya dalam lemari. Untuk sementara Anita akan menempati kamar pembantu yang selama di biarkan kosong oleh Puspa karena dia memilih tidur di kamar yang sama dengan Marni.
"Pus, di panggil Tuan," Marni datang dengan segelas air di tangan.
"Ada apa ya, Bu?" Puspa khawatir.
__ADS_1
"La embuh, sana pergi. Ibu akan menemani Anita di sini,"
Dengan langkah ragu Puspa mendatangi sang majikan yang kini duduk di ruang tengah.
"Bapak, manggil saya?" tanya gadis itu pelan.
"Siapa yang memberimu ijin keluar rumah?"
Puspa bingung dengan ucapan sang majikan. Bukankah tadi dia sudah mengijinkannya pergi?
"Kan bapak sendiri yang memberi ijin,"
"Kapan?"
"Tadi sebelum pergi saya ke kamar bapak untuk minta ijin dan bapak bilang ... hem," Puspa menirukan suar Satya pagi tadi.
"Apa maksudmu? Aku tidak mangatakan yang seperti itu,"
"Ada, Pak. Hem ... begitu," Puspa kekeh pada ucapannya karena memang Satya mengatakan itu, tapi dia tidak sadar karena dalam keadaan tidur.
"Jangan ulangi lagi! Kamu tahu bagaimana khawatirnya aku?" Satya keceplosan.
"Apa? Bapak menghawatirkan saya? Kenapa?"
Puspa mencecar Satya dengan banyak pertanyaan membuat pria itu salah tingkah.
"Sepertinya Bapak takut kehilangan saya?"
Puspa kini mulai berani menggoda majikannya, tinggal lama dengannya membuat gadis itu mulai memahami sifat dari pria yang terlihat dingin di luar tapi memiliki hati yang hangat.
Tidak bisa menghadapi sikap Puspa yang seperti itu, Satya pun beranjak dari duduk.
"Terlalu percaya diri!" ucap Satya sembari berjalan melewati gadis itu.
"Bagus kali, Pak. Daripada insecure!" Puspa mengikuti langkah kaki tuannya menuju pintu keluar.
"Darimana kamu tahu kata-kata seperti itu?"
"Dari facebook,"
"Facebook? Dasar aneh!" Satya menuju garasi tanpa menoleh lagi.
Sementara itu, Di seberang sana, Fadli tengah mengangkut barang-barang pribadinya dari rumah Yasmin. Tekadnya sudah bulat untuk berpisah dari wanita itu.
Gugatan cerai sudah dia layangkan di pengadilan agama, tinggal menunggu panggilan sidang saja.
Sementara itu, yasmin tidak seperti sebelumnya, wanita itu lebih bersikap tenang sekarang. Duduk di sofa ruang tamu sembari memperhatikan pegerakan Fadli.
Fadli pergi tanpa mengatakan apapun pada wanita yang masih berstatus istrinya. Membuat Yasmin semakin ingin menjalankan niat buruknya untuk membalas penolakan pria itu kepadanya.
"Aku ingin mengubah rencana," ucap wanita itu dalam sambungan telepon.
__ADS_1
"Habisi dia!"