
"Kenapa menarikku? Kamu kan bisa jatuh sendiri!"
"Maaf Pak ... saya reflek,"
Dengan pakaian basah Puspa berniat beranjak dari duduknya, kini gadis itu duduk di tepian kolam renang setelah Satya mengangkat dan menaikannya ke sana.
Sebelum berdiri pandangan Puspa tertuju pada pria di sampingnya, Satya terlihat mempesona dengan rambutnya yang basah Puspa bahkan sampai lupa untuk berkedip. Menyadari gelagat Puspa, pria itu malah sengaja menggoda gadis itu dengan menarik tangannya hingga kembali terduduk tepat di hadapannya.
Puspa tak bisa lagi mengontrol irama jantungnya. Beruntunglah suara jantung tidak bisa terdengar oleh orang lain, kalau tidak Satya pasti sudah menertawakannya.
Satya semakin mendekatkan wajahnya pada gadis yang tengah membeku di hadapannya. Niat awal ingin mengerjai gadis desa itu berakhir dia tidak bisa mengendalikan diri. Puspa si kucing kampung seketika berubah menjadi wanita dewasa yang sanggup melemahkan iman seorang pria. Siapa yang tidak tergoda melihat wajah dan rambut biasanya, bahkan buliran air masih menetes di pelipisnya.
"Bapak mau apa?" ucap Puspa menghentikan pergerakan Satya yang hampir saja menciumnya. Seketika pria itu gelagapan antara bingung dan malu, kenapa Puspa tidak peka sebagai wanita? Membuat wajah pria di hadapannya memerah menahan malu.
"A-aku ... ada daun di rambutmu," kilah Satya kemudian berdiri dan meninggalkan Puspa yang menatap tanpa rasa bersalah.
Puspa bukan gadis sepolos itu, dia tahu betul apa yang akan pria itu lakukan, hanya saja dia tengah mengantisipasi jangan sampai mereka menyesalinya nanti.
"Kenapa dia melakukan itu, jantungku hampir saja meledak," Puspa terduduk lemas di tepi kolam.
"Ya Allah Gusti ... handphoneku ...!" Puspa mencari ke setiap sudut hingga melihat ke dasar kolam dan benar saja benda berwarna hitam itu tenggelam di sana.
"Pak ...! HP saya ...!"
Puspa memanggil pria yang berjalan masuk rumah, tapi sama sekali pria itu tidak menoleh padanya.
"Piye Iki ...?" gadis dengan pakaian basah kuyup itu pun kebingungan ingin masuk kolam tapi dia trauma karena kejadian waktu itu. Beruntung ada Satya kalau tidak kakao ini pun dia bisa tenggelam lagi.
"Ada apa to, Pus?" Marni tergopoh-gopoh dari dalam rumah.
"HP ku, Bu." Puspa menunjuk ke arah benda pipih kesayangannya yang tenggelam di dasar kolam.
"Kok bisa to?"
"Dia mencoba bunuh diri, Bu!" jawab Puspa kesal.
"ngomong opo to?"
"Dia malu, Bu. Makanya mau mati saja,"
"Puspa! Omonganmu kok semakin ngawur to!"
Marni meraih alat saringan daun dan menyerokannya pada HP Puspa sehingga benda itu ikut terbawa pada jaring pembersih kolam tersebut.
"Piye?" tanya Marni setelah Puspa membolak balik HP di tangannya.
"Innalilahi ... Bu. Wes mati, piye Iki ...?"
"Mati yo di kubur, piye meneh?"
"Bu!" teriak Puspa kesal.
__ADS_1
Kenapa dengan Puspa dia yang memulai percakapan konyol itu dia juga yang kesal saat Marni menanggapi.
***
Kisah berbeda telah terjadi dalam rumah tangga baru Fadli dan Yasmin. Pasangan yang harusnya masih anget-angetnya itu justru semakin memanas karena pertengkaran dan perdebatan.
Selama menikah hubungan kedua manusia itu malah semakin renggang tiada hari tanpa pertengkaran. Fadli yang tidak tulus menjalani biduk rumah tangga membuat Yasmin merasa tidak di perhatikan dan di hargai sebagai seorang istri. Hal serupa juga di rasakan oleh Fadli. sikap egois Yasmin membuat tidak betah berada di rumah besar itu.
Perlahan pria berambisi itu mulai menyadari kalau harta bukan segala-galanya. Untuk apa menikahi wanita yang tidak bisa membuatnya merasa nyaman apalagi bahagia hanya demi sebuah jabatan?
"Aku mau bercerai!" ucapan Fadli semakin menambah ketegangan di antara keduanya.
Bukan Yasmin namanya jika langsung menyetujui permintaan yang menurutnya konyol itu. Begitu sulit baginya memaksa Fadli setuju mengikrarkan janji suci, maka Yasmin tidak akan melepasnya begitu saja.
"Kamu tidak akan mendapatkan apapun saat kita bercerai!" ancam Yasmin. Jika biasanya Fadli akan luluh dengan ancaman itu maka sekarang berbeda, pria itu tersenyum getir seolah meremehkan wanita di hadapannya.
"Tanpa kamu pun aku bisa sukses, Yasmin!"
Fadli berniat membuat usaha dengan tabungan dan sokongan dari kedua orang tuanya. Ayah Fadli adalah pria berpemikiran bijak, dia juga berharap putra semata wayangnya itu bisa hidup mandiri tanpa bantuan dari seorang wanita. Hanya saja selama ini Fadli mencari jalan pintas untuk kesuksesannya dan sekarang di berubah pikiran.
"Aku akan urus perceraian kita di pengadilan!" Fadli melangkah pergi meninggalkan Yasmin sendiri.
"Aku akan menghancurkan keluargamu jika sampai kamu berani ke pengadilan!" Wanita berambut panjang itu menarik lengan suaminya dengan kasar dan mencengkeram kerah kemeja suaminya dengan tidak sopan.
"Sifat burukmu inilah yang membuatku ingin segera bercerai!" Fadli menghempas kasar tangan Yasmin tanpa mendengarkan ucapannya sama sekali.
"Fadli ...! Semua ini pasti karena Puspa!" geram wanita itu dengan tangan mengepal menahan amarah.
***
"Apa maksud Mbah?"
"Puspa harus menjalani ritual khusus kalau mau ajian itu luntur dari tubuhnya!" Mbah Slamet sedang memberi wejangan pada Ningrum.
"Ritual apalagi, Mbah? Padahal Puspa sudah berada jauh dari desa ini , tapi kenapa ajian peletnya masih ikut to, Mbah?"
"Kamu ini gimana? Kan aku sudah menanamkan ajian itu pada tubuh anakmu jadi kemanapun dia pergi ya akan tetap ada di tubuhnya. Kamu kira ini semacam WiFi kalau jaringan jauh nggak nyampek!"
mbak Slamet manggut-manggut sembari mengelus jenggot panjangnya.
"WiFi? Opo meneh kui, Mbah?" tanya Ningrum polos.
"Ladalah ... katrok teman to kowe ki Rum ... Rum!"
Ningrum hanya nyengir mendapat hinaan dari pria tua di hadapannya karena memang kenyataannya sepeti itu. jangan istilah WiFi handphonenya saja hanya bisa menerima pesan SMS dan untuk telepon saja. Kalah sama Mbah Slamet.
Kalau kata si Mbah Slamet, koneksi harus luas biar dapat banyak customer.
"Opo syarate, Mbah?" Ningrum kembali ke pembahasan awal.
"Puspa harus menikah dulu baru ajian peletnya luntur!"
__ADS_1
"Menikah? Maksud, Mbah. Menikah karo Fadli?"
"Yo Iyo ... kan dulu Fadli to yang dijampi-jampi!"
Dilema pun di mulai, di saat Puspa sudah mulai melupakan pesona anak pak lurah, malah Ningrum mencari perkara baru dengan mendatangi Mbah Slamet.
"Opo nggak ada cara lain, Mbah?"
"Nggak ada, harus menikah!"
"Tapi Mbah, nggak bohong to? Kan yang di guna-guna Fadli, tapi kenapa laki-laki lain juga kepincut sama Puspa? Kan aneh, to?"
"Yo ... kamu lupa Puspa kan dua kali melakukan ritual jadi yo ajian peletnya semakin kuat bukan hanya untuk Fadli tapi yang lain juga, yang dekat dengan Puspa!"
"Oh, begitu?" Ningrum dengan mudahnya percaya dengan ucapan pria tua di hadapannya.
Setelah pulang dari rumah Mbah Slamet, Ningrum langsung menghubungi Puspa dan menceritakan semua yang di katakan dukun yang menurutnya sakti itu.
"Ibu Iki ngomong opo ... to? Fadli itu sudah menikah Lo, Bu. Mosok iyo aku jadi istri kedua?"
Puspa masih menganggap ucapan ibunya hanyalah bualan semata.
"Bener juga yo, Pus. Ibu yo emoh kamu jadi madu. Terus bagaimana sekarang?"
"Abaikan saja to, Bu! Pasti Mbah Slamet iku bohongi Ibu. Dia cuma mau dapat keuntungan untuk dirinya sendiri."
"Coba pikir lagi, to Pus! Semenjak kamu di jampi-jampi kan banyak pria yang dekat sama kamu to. Fadli, Tejo, Raka dan Pak Satya," ucap Ningrum meng-absen satu persatu pria yang pernah dekat dengan anak perempuannya.
Puspa mendengar ucapan ibunya dalam sambungan telepon dengan seksama. Puspa heran kenapa ibunya menyebut nama Satya? dan Tejo? bahkan laki-laki itu sudah mengejar Puspa sedari dulu sebelum dia mengenal Mbah Slamet.
Sementara Raka, dia bahkan tega menjual Puspa, sudah pasti dia tidak mencintainya.
"Wes lah jangan di pikirkan omongane dukun gendeng iku! Bikin sakit kepala saja. Jangan mempersulit hidup lah, Bu!"
Puspa ingin mengakhiri obrolan itu, tapi Ningrum mencegahnya. Dia belum mengatakan hal paling penting dari Mbah Slamet. "Kata dia kalau kamu nggak menikah dengan Fadli, maka kamu nggak bisa menikah dengan pria manapun lagi,"
"Biar saja aku nggak papa nggak menikah dari pada menikahi Fadli," ucap Puspa kemudian mengakhiri panggilannya.
"Siapa yang akan menikahi Fadli?"
Satya sudah berada di belakang Puspa, pria itu mendengarkan tiap ucapan gadis itu pada ibunya.
"Bapak menguping?" tuduh Puspa tanpa ragu.
"Suaramu itu nyaring, nggak perlu menguping juga sudah kedengeran. Dasar kucing kampung!"
"Halah ... bilang saja kalau Bapak penasaran, to?"
"Penasaran pada apa?"
"Yo, padaku mosok pada kucing?"
__ADS_1
Dengan tidak sopan Puspa meninggalkan sang majikan yang belum selesai dengan ucapannya.
"Puspa .. !"