PELET SANG BIDUAN

PELET SANG BIDUAN
Bab 7. Membuat Tejo Panas


__ADS_3

Aku merasa geram pada perempuan di hadapanku, segera ku tarik rambut panjang berwarna pirang itu dengan sekuat tenaga.


"Sakit ... Si*lan!" Mulutnya terus mengeluarkan kata-kata umpatan. Memang benar jika gelar pendidikan tinggi tidak menjamin baik tidaknya perilaku seseorang.


"Kamu berani sekali menghina Ibu!" Aku terus menariknya kuat. Tak mau kalah diapun menarik kuncir rambutku.


Kami saling menjambak, membuat para warga yang menyaksikan menjerit panik.


"Sudah, Puspa!" Ibu ikut panik.


"Hentikan!"


Suara lantang seseorang menghentikan aktifitas kami, pria itu adalah Fadli.


"Sayang, dia menjambak rambutku," Yasmin merengek pada kekasihku. Dasar tidak tahu diri, sudah di putusin tetep saja menempel manja.


"Lepas!" Aku melepas kasar tangan Yasmin yang melingkar pada lengan Fadli.


"Apa, sih? Dasar perempuan kampung tak tahu diri!" umpatnya lagi.


Melihat kami yang masih saja bertengkar, Fadli menarik tangan perempuan kota itu dan membawanya menjauh dari kerumunan.


Tidak ada yang bisa aku perbuat, selain menatap kepergian mereka. Di ujung sana keduanya terlihat adu mulut, entah apa yang tengah mereka bicarakan.


Yasmin terlihat memohon sembari mencengkeram lengan kekar Fadli, tapi Fadli tidak menghiraukannya. Syukurlah, aku merasa lega.


Fadli berjalan cepat menuju motor miliknya yang terparkir di sisi jalan, motor itu pun melaju kencang meninggalkan Yasmin yang masih terus menggerutu.


Wanita kota bersepatu hak tinggi itu menyusul Fadli dengan mobilnya.  Ada kecemasan di hatiku, Bagaimana jika Fadli tergoda dan kembali padanya?


"Sudah, bubar! Acara sinteron sudah selesai!" Bulek susi berteriak pada warga yang masih berkerumun.


"Terimaksih, Bulek," ucapku padanya.


"Ajak ibumu masuk, Pus. Bulek pulang dulu,"


"Iya, Bulek."


Sedari tadi Ibu hanya diam, mungkin dia merasa syok.


"Ibu, nggak papa, to?" tanyaku pelan.


"Nggak papa, Pus."


"Maafin Puspa, Bu. Ibu dapat banyak hinaan dan cacian karena Puspa," rasa haru tiba-tiba saja menguasai hati.


"Nggak papa selama kamu bahagia, Ibu juga merasa bahagia,"


"Matursuwun, Bu." Aku memeluk erat wanita yang sudah membesarkanku dengan penuh cinta itu.


Hingga malam hari, Fadli tak jua menghubungi, membuat kegelisahan di hati semakin menjadi. Aku takut jika Fadli kembali pada Yasmin.


Aku tidak bisa berpisah darinya, aku sudah memberikan semuanya pada Fadli. Bagaimanapun dia harus menikahiku.


[Fad, kamu baik-baik saja kan?]

__ADS_1


Sebuah pesan singkat aku kirim padanya, berharap dia segera membalas.


Hampir dua jam, dan pesan itu masih bercentang satu. Apa mungkin Fadli tidak membawa ponselnya? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Pergi kesana pun tidak mungkin.


Malam semakin larut, masih belum ada kabar dari Fadli. Aku bahkan tidak bisa memejamkan mata karena cemas.


***


Setelah sore itu aku tidak lagi melihat Yasmin di desa, entah apa yang terjadi padanya. Mungkin, Fadli sudah mengusirnya.


Sore ini, adalah jadwal kami manggung di luar kota. Anita sudah datang ke rumah untuk menjemputku. Karena jauh kami menyewa mobil, tapi apa daya kami tidak punya cukup biaya, jadilah kami menyewa mobil pick up yang sewanya lebih terjangkau.


"Kita akan sampai pagi Lo, Pus. Jadi kamu harus bawa baju ganti," ucap Nita padaku.


"Iyo, aku wes paham."


Anita dan aku duduk di teras rumah, sembari menunggu mobil yang akan menjemput kami


Greng!


Suara sepeda motor butut milik Tejo memekakkan telinga, motor berhenti tepat di hadapan kami. "Kalian mau ke kota?" Tejo bertanya di atas motornya.


Rasanya malas sekali bicara dengannya, pasti bicaranya akan ngalor-ngidul tidak karuan.


"Iyo, kenapa?" Anita menjawab Tejo dengan ketus.


"Ojo, galak-galak to, Nit!"


Pria dengan setelan kemeja berwarna merah itu turun mendekati kami, dari kejauhan saja sudah tercium aroma menyengat dari parfum yang dia pakai. Aromanya sungguh menusuk hidung.


"Stop! Tetap di situ, Tejo!" Aku berujar sembari menunjuk ke arahnya. "Kenapa to, dek?" Tejo terus melangkah maju tanpa menggubris permintaanku.


"Ini tu aroma parfum mahal lo, Dek." Tejo pun duduk di bawah pohon depan rumah, sebenarnya kasihan juga melihat dia seperti itu, tapi mau bagaimana lagi, dia terus saja mengganggu.


"Dek, aku antar aja gimana? Daripada naik pick up,"


"Emoh, mending naik pick up dari pada boncengan denganmu,"


Aku terus berbalas obrolan dengan Tejo, sementara Anita mendengarkan sembari cengengesan.


"Sana, pulang, Tejo! Nanti pacarku bisa cemburu lihat kamu di sini,"


"Halah, pacar opo to, Dek? Aku nggak percaya," balas si Tejo dengan santai. Pria itu terlihat mengeluarkan bungkus rokok dari dalam saku celana.


"Malah, ngudud," gerutuku sembari menepuk jidat.


Tak berapa lama ibu keluar, sepertinya dia terganggu dengan suara cemprengku.


"Ada apa, to? Ibu dengar dari dalam kok ribut banget," suara ibu sedikit serak karena dia sedang batuk.


"Itu lo, Bu. Biang keladi," jawabku sembari menunjuk ke arah Tejo yang sudah mulai menghisap rokoknya.


Melihat Ibu, Tejo langsung bergegas menghampiri, mungkin dia mau bersalaman dengan Ibu.


"Ojo, maju, Tejo. Tak gemplang kamu nanti!" Ancamku padanya.

__ADS_1


"Kenapa lagi to, Dek. Mas cuma mau menyapa calon Ibu mertua,"


"Ibuku batuk Tejo, dia nggak bisa nyium asap rokok,"


Tejo berhenti dan mematung di tempatnya berdiri. Alasanku kali ini masuk akal, di tambah suara ibu yang terdengar serak, membuktikan bahwa yang aku ucapkan memanglah benar.


"Sudah minum obat, Bu?" Pria itu berbasa-basi.


"Sudah, Jo," Ibu ikut duduk bersama aku dan Anita.


"Kamu kok tega to, Pus. Nyuruh Tejo di situ?"


"Aku nggak nyuruh, Bu. Dia saja yang nggak mau pulang," jawabku, sembari memeriksa layar ponsel dalam genggaman.


"Iya, Bulek. Dia ngeyel," imbuh Anita.


Tin!


Tin!


Kami serempak menoleh ke arah jalan saat ada yang membunyikan klakson. Bukan mobil pick up yang datang, melainkan mobilnya Fadli.


Aku memang sudah mengabarinya tentang jadwal manggungku hari ini.


Fadli keluar dari mobil dan berjalan melewati pekarangan rumah, perpapasan dengan Tejo tentunya.


Ini kesempatan yang tepat untuk membuktikan pada Tejo, bahwa aku dan Fadli memang resmi berpacaran.


"Kamu datang, Sayang?" Sengaja aku memanggil Fadli dengan sebutan sayang di hadapan Tejo. Pria cungkring itu hanya terdiam sembari menyaksikan.


"Aku, mau antar kamu ke kota, mau ya?" Rupanya Fadli datang karena menghawatirkan aku, sebelumnya aku sudah bercerita tentang kendaraan yang akan kami naiki. Seperti ya itu membuat Fadli cemas.


"Manis sekali pacarku ini," aku mencubit gemas kedua pipi Fadli sembari melirik ke arah Tejo. Terlihat jelas pria itu cemburu.


Dengan kesal Tejo menaiki motornya dan melaju dengan kecepatan tinggi, dia bahkan tidak berpamitan pada Ibu.


Aku tersenyum puas melihat kepergian Tejo. Semoga setelah ini dia tidak mengganguku lagi.


Fadli menghampiri Ibu dan menyalami tangannya dengan santun. Sementara Anita menatap penuh arti padaku. "Kamu tega bener sama Tejo, bisa nangis kejer tu dia nanti," ucap Anita sedikit berbisik, takut jika Fadli mendengar ucapannya.


"Biarin, salah sendiri ngeyel," aku sedikit mencebik pada Anita.


"Dasar!"


***


Kami sudah putuskan akan pergi naik mobil Fadli saja, sementara teman-teman yang lain naik mobil pick up.


Aku setuju dengan tawaran Fadli, karena dia mengatakan ada urusan di kota jadi sekalian saja dia mengantarkan aku dan Anita.


Setelah menghubungi Mas Agung, kami langsung berangkat. Selama di perjalanan Anita terus saja memandang ke arahku, seolah dia tengah mengingatkan, jika di mobil bukan hanya ada aku dan Fadli.


Semakin dia bersikap seperti itu, aku semakin ingin menggodanya.


"Kamu kepanasan, Sayang?" aku mengelap pelipis Fadli yang tidak basah, tentu saja tidak ada keringat di sana, wong di dalam mobil ada AC.

__ADS_1


"Ehemm!" Anita berdehem. "Semakin panas ya disini? Apa AC nya mati, Mas Fadli?" sambungnya.


Fadli paham dengan apa yang kami lakukan dia pun hanya tertawa.


__ADS_2