PELET SANG BIDUAN

PELET SANG BIDUAN
Bab 14. "Aku Yang Akan Menikahinya."


__ADS_3

Pagi hari Puspa sudah bersiap. Dengan tekad yang bulat dia mengendarai motor menuju rumah Fadli. Pria itu tidak boleh lari dari tanggung jawab. Enak saja habis manis sepah di buang.


"Aku bukan perempuan cengeng ya Fadli, aku akan memperjuangkan harga diri sekuat tenaga," Puspa terus bergumam di atas motornya. Entahlah harga diri yang mana yang dia maksud?


Sesampainya Puspa di rumah pak lurah, Mobil Yasmin masih terparkir di halaman, itu tandanya mereka belum pergi.


Pintu rumah terbuka setelah dengan keras Puspa mengetuknya. "Puspa? Mau apa kamu kesini lagi?" Bu lurah tidak terlihat senang melihat kehadiran Puspa.


"Aku mau ketemu Fadli, Bu," ucap Puspa tanpa keraguan.


"Untuk apa lagi, Puspa? Kamu tidak puas menyakiti Fadli?"


"Tolong, Bu. Ada banyak hal yang harus kami bicarakan," Puspa memohon.


"Eh, biduan kampung, ngapain lagi kamu kesini? Dasar tidak tahu malu!" Yasmin tiba-tiba muncul sembari menenteng koper miliknya.


Pandangan Puspa tertuju pada koper berwarna biru. 'Jika Yasmin membawa koper, itu artinya mereka akan pergi,' gumam Puspa dalam hati.


"Dimana, Fadli? Aku mau bicara dengannya."


Puspa menerobos masuk melewati bu lurah, gadis itu sudah tidak perduli dengan sopan santun yang selama ini begitu dia jaga, semua karena Fadli.


"Fadli ... keluar kamu!" Puspa berteriak dengan suara lantangnya.


Yasmin tak tinggal diam, wanita berambut panjang itu menarik tangan Puspa dengan kasar ke arah pintu.


Brugh!


Yasmin mendorongnya dengan kasar hingga perempuan itu terjerembab di lantai teras yang keras, lututnya bahkan sampai mengeluarkan darah.


"Pergi dari sini, perempuan kampung!" Yasmin berkacak pinggang seolah dialah pemilik rumah.


"Aku mau bertemu Fadli, Yasmin. Dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya padaku!"


"Perbuatan apa? Justru kamulah yang sudah mengirim guna-guna pada Fadli!"


"Fadli sudah merenggut kehormatanku sebagai wanita, jadi dia harus segera menikahiku!" Puspa berdiri dengan tegak tepat di hadapan Yasmin.


"Apa?"


Terdengar suara lirih dari seseorang yang tengah berdiri di belakang Puspa. Ningrum, wanita itu tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


"Puspa, apa maksud perkataanmu?" bibir wanita itu bergetar menahan tangis.


"Ibu ... Bagaimana Ibu bisa sampai di sini?" Puspa berusaha menenangkan sang ibu sembari memegang erat kedua pundaknya.


"Apa yang sudah Fadli lakukan padamu?" Ningrum histeris mengetahui kebenaran putrinya yang sudah tidak perawan lagi.


Puspa terdiam seribu bahasa pandangannya tertunduk. Air mata yang sedari tadi dia tahan kini luruh membasahi pipi.


"Fadli ... keluar kamu!" Ningrum terus memanggil nama Fadli dengan amarah.


Tak berapa lama pria yang tengah menjadi bahan perbincangan keluar dengan wajah datar tanpa ekspresi.


"Ayo berangkat!" ucap Fadli pada Yasmin.

__ADS_1


Dengan santai Fadli melangkahkan kaki menuju mobil yang terparkir di halaman. Tersungging senyum penuh kemenangan di bibir Yasmin sembari melirik ke arah Puspa.


"Awas kalian. Karma itu ada dan akan di bayar kontan!" Ningrum mengutuk pasangan itu dengan murka.


"Ayo pulang!" Ningrum menarik pergelangan Puspa dan membawanya menjauh dari rumah pak lurah.


"Jadi Puspa wanita seperti itu?" Para tetangga mulai bergunjing. Kebetulan sekali mereka melihat langsung kejadian tidak terduga itu. tidak lupa mereka mengabadikan momen itu dalam telpon genggam. Lumayan bisa di bagikan lewat akun sosial media. Biar viral.


***


"Kamu bener-bener sudah bikin malu, Puspa!" Ningrum menghempas kasar tubuh putrinya ke atas tempat tidur.


"Maaf, Bu. Puspa khilaf," Puspa terus memohon agar di ampuni.


"Bagaimana sekarang? siapa yang mau menikahi kamu?"


Ningrum menangis tersedu sebagai ibu dia sudah gagal menjaga anak gadisnya. "Harusnya Ibu tidak mendukung hubunganmu dengan Fadli, Pus. Piye to iki ...?" Ningrum mengacak rambutnya dengan kesal.


Tok!


Tok!


Terdengar suara ketukan pintu dari luar. "Sopo ... meneh? ganggu ae wong lagi susah koyo ngene kok yo ..."


Dengan linangan airmata wanita paruh baya itu membuka pintu.


"Yo alah ... Rum. Kok apes tenan to nasibmu ...!"


Ntin datang setelah mendengar huru hara yang terjadi di rumah pak lurah pagi ini.


"Piye, Puspa?" tanya Ntin sembari memeluk sahabatnya. "Anakku sudah nggak perawan lagi, Ntin. Aku sudah gagal jadi Ibu," balas Ningrum masih dalam keadaan menangis.


"La piye nasib anak gadisku, Ntin?"


Kehidupan di desa sangat berbeda dengan di kota, di sini kehormatan wanita sangat di hargai. Anak gadis yang tidak bisa menjaga kehormatannya dia akan mendapat sangsi sosial.


Sebenarnya Puspa hanyalah contoh dari sekian banyaknya perempuan yang sudah merelakan keperawanan pada pasangan yang belum halal. Di desa itu bukan hanya dia yang mengalami, tapi baru dia yang ketahuan.


"Aku akan menikahi, Puspa. Bulek." suara Raka mengejutkan kedua wanita yang tengah saling memeluk itu.


"Raka? Kamu serius?" Ningrum menatap tak percaya pada pemuda berwajah lumayan tampan itu.


"Serius, Bulek," jawab Raka penuh keyakinan.


Berbeda dengan Ningrum, Ntin malah memperlihatkan raut wajah yang sulit untuk di artikan. Wanita itu menarik tangan anaknya dan membawanya keluar rumah.


"Kamu ngomong apa to, Ka?" Ntin berbisik karena takut Ningrum mendengar percakapan mereka.


"Aku mau menikahi Puspa, Bu," Raka kembali mengulang ucapannya.


"Tapi ... Puspa sudah tidak suci, Ka."


Sebesar apapun rasa sayang Ntin untuk Ningrum dan Puspa, tetap dia juga seorang ibu yang menginginkan kebahagiaan untuk sang anak tercinta.


"Raka tahu, Bu. Raka siap menerima Puspa apa adanya," Raka terlihat sudah begitu yakin dengan keputusannya. Ntin akhirnya pasrah dengan keinginan sang putra.

__ADS_1


"Jika ibumu keberatan, lebih baik jangan lakukan Raka." Ningrum ternyata menguping pembicaraan mereka dan kini sudah berdiri di ambang pintu.


"Rum, bukan maksudku seperti itu," Ntin merasa tidak enak hati pada sahabatnya.


"Aku tahu, Ntin. Kamu juga mau yang terbaik untuk anakmu," Ningrum tidak ingin jika putrinya menjadi beban untuk orang lain.


Sementara itu Ntin terdiam. Apa dia sudah terlalu jahat? menghakimi kesalahan Puspa dengan satu sudut pandang saja. Dia begitu mengenal Puspa dengan baik, bahkan sejak gadis itu masih dalam gendongan. Namun, Ntin tidak sanggup dengan pandangan masyarakat yang akan menjatuhkan harga diri putranya nanti.


"Tolong, Bu. Aku sudah lama menyukai Puspa. Ijinkan kami menikah, ya?" Raka terus membujuk ibunya. Puspa adalah perempuan yang sempurna di matanya, soal kesucian wanita itu, Raka tidak mempermasalahkan.


"Woy tunggu ...! Siapa yang mau menikahi siapa?" Pemuda berpakaian mentereng kembali datang, siapa lagi kalau bukan Tejo. Kali ini pria itu memakai setelan kemeja dan celana berwarna oranye terang, dari kejauhan dia nampak seperti wortel berjalan.


"Ini dia biang keroknya." Dengan langkah cepat Raka menghampiri Tejo.


Bugh!


Bogem mentah di layangkan Raka tepat mengenai pelipis Tejo. Seketika pria cungkring itu terhuyung jatuh ke tanah.


"Sialan ...! Berani sekali kamu memukul Tejo." Dengan kaki bergetar Tejo berusaha bangkit, namun keseimbangan tubuhnya tidak terjaga sehingga membuatnya kembali terjatuh.


"Dengar orang-orangan sawah, enyah kamu dari sini! Atau aku tidak segan menggantung tubuh kerempengmu ini di atas pohon rambutan." Raka mencengkeram erat kerah kemeja Tejo, membuat Pria itu bergidik ngeri.


"Ada apa ini?" Dengan wajah sembab Puspa keluar menemui mereka.


"Dek, tolong masmu ini. Bocah gemblung ini mau menghabisiku." Tejo merengek pada Puspa.


"Tejo ...!" Puspa melangkah dengan cepat menghampiri dua pria yang tengah dalam posisi berjongkok di tanah.


"Bukan Raka yang akan menghabisimu Tejo, tapi aku!" Tanpa terduga Puspa menjambak rambut gondrong tejo dengan kedua tangannya. "Ampun ... Dek! Ampun ...!" Tejo berusaha lepas dari amukan Puspa, tapi apa daya kekuatan wanita yang tengah marah tidak tertandingi. Tejo hanya bisa meringis menahan sakit pada kulit kepalanya.


"Wes, Puspa ...! Bisa mati anak orang," Ningrum berusaha melerai, tapi cengkeraman Puspa begitu kuat. Tejo adalah penyebab hancurnya kebahagiaan yang sudah begitu dia damba. Kali ini dia akan melampiaskan segala kekesalan padanya. "Biar, Bu. Puspa tidak perduli kalau kepalanya harus terpisah dari badan hari ini juga!" geram Puspa.


"Hush ... Ngomong opo to? " Ningrum melepas pelan tangan putrinya dari kepala Tejo. "Sudah, pergi sana Tejo!" Dengan nada membentak Ningrum sedikit mendorong tubuh pemuda itu.


Pemuda bernyali tempe itu lari tunggang langgang setelah Puspa melepaskannya.


Niat hati ingin mencari perhatian, malah amukan singa betina yang dia dapat.


Dengan terburu Tejo menyalakan mesin motornya, melesat pergi meninggalkan rumah Puspa.


"Sudah ayo masuk! Malu jadi tontonan tetangga," Ningrum membantu Puspa berdiri. belum sampai mereka masuk ke rumah, teriakan beberapa warga menghentikan langkah kaki mereka.


"Usir perempuan mesum itu dari desa ini ...!"


"Usir ...!"


Kemalangan Puspa tidak berhenti sampai di situ, kini Masalah baru tengah menghampiri.


kerumunan warga sudah memenuhi pekarangan rumahnya. "Kamu harus pergi dari sini, Puspa! Kami tidak mau ada penganut ilmu sesat yang tinggal di sini."


"Ono opo to Iki? Kita bisa bicarakan ini dengan baik-baik, Bapak, Ibu." Ntin berada di barisan terdepan untuk membela Ningrum dan putrinya.


"Jangan pura-pura, Yu. Kamu sudah tahu to bagaimana si Puspa itu, jadi jangan membelanya!" teriak seorang warga.


"Jangan salahkan Puspa, dia hanya korban. Harusnya kalian mendukungnya,"

__ADS_1


"Halah ... korban opo? wong dia yang sudah melet anak pak lurah sampai pemuda itu kepincut," ucap seorang wanita dengan sinisnya.


"Ayo Ibu-Ibu, kita seret wanita kotor ini keliling kampung!" Celetuk seorang warga dengan lantang, membuat beberapa wanita langsung bertindak. Mereka menyeret Puspa dengan paksa.


__ADS_2