PELET SANG BIDUAN

PELET SANG BIDUAN
Membawanya pergi


__ADS_3

Mobil Satya terus menyusuri jalanan mengikuti arah suara musik yang terdengar begitu nyaring.


Satya memilih menghentikan mobilnya agak jauh dari kerumunan agar tidak menarik perhatian.


Pria itu pun melangkah dengan waspada, jangan sampai Fadli melihatnya.


"Puspa! Puspa!"


Terdengar riuh suara warga yang terdiri dari pria dan wanita menyerukan nama Puspa. Pandangan Satya seketika tertuju pada panggung lumayan tinggi yang terletak bersebrangan dengan pelaminan.


Puspa terlihat bersiap dengan lagunya. Satya terpana melihat gadis mantan pembantunya itu. Wanita muda itu terlihat cantik dengan make up sederhana tidak seperti dua biduan lainnya.


"Puspa," lirih Satya.


Satya tetap berdiri di tempatnya sembari menyilangkan kedua tangan di dada. Untuk sementara dia akan memantau Puspa dari kejauhan. Sesekali dia melihat ke arah penonton untuk mencari sosok pria yang sedari tadi dia khawatirkan akan menganggu Puspa.


"Puspa ...!" Suara lantang seseorang seketika mengalihkan pandangan Satya. Tejo, dengan setelan kemeja warna merah menyala terlihat berjingkrak-jingkrak seraya terus menyerukan nama Puspa.


Satya tersenyum kecut melihat pemandangan di hadapannya. "Jadi kucing kampung itu punya banyak penggemar di sini," gumamnya.


Puspa mulai bernyanyi. Namun, kali ini berbeda, gadis itu hanya bergoyang seperlunya. Sama sekali tidak sama dengan yang ada dalam bayangan Satya.


"Apa yang dia lakukan, hanya seperti itu saja? Dan aku harus jauh-jauh datang ke sini? Dasar kucing kampung!" Satya merasa kesal sekaligus lega. Setidaknya Puspa bersikap lebih anggun membuat getar di dada pria itu semakin menguat.


Puspa sengaja memilih lagu sendu agar dia tidak perlu banyak bergoyang. Sembari fokus bernyayi biduan itu terus menatap ke arah kerumunan penonton yang mulai turun ke tanah untuk ikut bergoyang.


Degh!


Jantung Puspa seolah berhenti berdetak saat melihat sosok yang dia kenal berdiri tegap di sisi jalan. Pria berkemeja navy serta kaca mata hitam, terlihat bak seorang model yang tengah berpose membuat Puspa kehilangan fokus hingga salah menyayikan lirik lagu.


"Kamu kenapa?" bisik Anita di tengah lagu.


"Nggak papa, sepertinya aku berhalusinasi," jawab Puspa. Sampai saat itu Puspa mengira sosok mirip Satya di ujung sana hanya sebuah khayalan.


Saat musik berhenti, Puspa masih tetap berdiri di tempatnya membuat Anita kebingungan. Ada apa dengan Puspa dari tadi bersikap aneh?


"Kamu lihat apa sih, Pus?" tanya Anita sembari menatap ke arah pandangan Puspa.


"Nit, sepertinya otakku mulai gesrek," ucap Puspa sambil terus menatap ke arah Satya.


"Maksudmu apa?"


"Aku melihat pak Satya di ujung sana,"


Mendengar ucapan Puspa Anita pun memfokuskan pandangan dan benar dia melihat ada sosok pria tengah berdiri sembari menatap ke arah mereka.


"Apa pria dengan kaca mata hitam itu?" tanya Anita.


Puspa terkejut dengan penuturan Anita dan menatap lekat pada sahabatnya itu. "Jadi dia benar ada di sana? Bukan khayalanku saja?" tanya Puspa memastikan. "Iya, dia tampan sekali, Pus. Jadi dia Pak Satya yang kamu ceritakan? Lebih ganteng dari bayanganku," Anita terus memuji pesona mantan majikan Puspa.


Sementara Puspa mulai kebingungan. Apa yang di lakukan pria itu di desanya? Apa dia sengaja datang untuknya? 'Ah, Puspa kamu jangan ngelindur!'


Puspa tidak bisa hanya diam di panggung, kasian pria itu harus berada di tempat yang tidak semestinya.


"Aku turun sebentar Yo, Nit,"


"Cieeh ....," goda Anita, refleks Puspa memukul pundak temannya sebelum turun dari panggung. Sementara itu, Mala hanya menatap penuh tanya.

__ADS_1


"Mau kemana dia?" tanya Mala pada Anita.


"Menemui pacarnya dari kota. Tu lihat! ganteng to?" jawab Anita sambil mengarahkan jarinya ke ujung jalan.


Dengan langkah ragu, Puspa menghampiri sang mantan majikan. "Pak Satya?" Gadis itu bahkan masih merasa sedang berada di alam mimpi. Sangat mengejutkan pria seperti Satya sudi menyusulnya hingga ke kampung. Namun, Puspa tidak mau terlalu percaya diri. Atau dia yang akan kecewa nanti karena Pria di hadapannya itu susah untuk di tebak apa yang tengah ia rencanakan.


"Jadi kamu senang menjadi tontonan banyak laki-laki seperti ini? Dasar pencari perhatian!"


"Maksud Bapak apa? Saya kan cuma nyanyi, bapak lihat sendiri kan tadi?" Sanggah Puspa, tentu saja dia tidak terima saat Satya menudingnya seperti itu.


Sementara itu, Satya merasa senang karena bisa menggoda Puspa lagi, rasanya menyenangkan saat berdebat dengan gadis di hadapannya.


"Sudah jangan menghina saya lagi! Ada perlu apa bapak kemari? Bapak merindukan saya?" goda Puspa membuat Satya jadi salah tingkah, beruntung dia menggunakan kacamata hitam sehingga tatapan mata yang tengah menahan malu itu tidak terlihat oleh Puspa.


"Terlalu percaya diri!"


"Trus Bapak mau apa?"


Saat kedua orang itu tengah berdebat, Fadli datang menghampiri mereka. Fadli berniat langsung menemui Puspa saat acara belum di mulai, tapi tuan rumah lebih dulu melihatnya. Dengan terpaksa, Fadli harus menunda bertemu dengan gadis yang sudah sangat dia rindukan.


Acara berbincang dengan tuan rumah dan petinggi lainnya pun belum selesai saat Fadli meninggalkan mereka. Hari Fadli tidak tenang saat melihat Puspa turun dari panggung dan berjalan ke luar dari tempat acara.


Dari kejauhan Fadli melihat Puspa tengah berbincang dengan seorang pria di sisi jalan membuatnya terbakar api cemburu.


"Puspa!" Fadli menarik tangan Puspa dengan tiba-tiba membuat gadis itu hampir terjatuh karena terkejut.


"Fadli? Kamu di sini?" tanya Puspa keheranan.


Kebetulan macam ini? Puspa menatap Satya dan merasa aneh dengan ekspresi datar dari wajahnya. Apa dia sudah tahu Fadli ada di desa itu?


"Lepaskan dia!" Satya masih berbicara dengan nada sopan pada Fadli. Namun, pria di hadapannya sedang di pengaruhi emosi.


"Puspa, kamu janjian sama dia?" Fadli mulai menuduh Puspa.


"Apa maksudmu? aku bahkan tidak tahu kalau Pak Satya ke sini?" Puspa mengatakan yang sesungguhnya, dia saja tidak tahu jika Fadli juga pulang kampung.


"Kamu bohong, Puspa! Jadi ini alasanmu menolakku, karena pria tajir ini. Kamu di bayar berapa sama dia?" Fadli kalut dan tidak sadar dengan ucapannya.


"Fadli, jaga bicaramu!"


Satya tidak terima dengan penghinaan Fadli pada Puspa, dia pun melepas kasar genggaman tangan pria itu dari Puspa dan meraih tangan gadis itu membawanya menuju mobil. Puspa pun kebingungan dengan sikap Satya.


"Pak, mau kemana? Saya belum selesai manggung Lo ini?" ucap Puspa sembari mengikuti langkah pria di depannya.


"Diamlah!"


Satya membukakan pintu dan memaksa gadis itu masuk. Mobil pun melesat pergi meninggalkan Fadli yang masih mematung di tempatnya berdiri.


"Sial!" Fadli mengumpat sembari mengacak kasar rambutnya. Pria itu pun bergegas mengambil motor dan pergi. Dia terpaksa membiarkan Puspa pergi kali ini, dan akan menemuinya besok pagi. Karena hari sudah mulai malam, Fadli pun bergegas pulang.


Di atas panggung, Anita tak hentinya menatap ke arah Puspa dan Satya.


"Romantis sekali to, sampek deg-degan aku," ucap Anita membuat Mala panas.


"Halah, paling Puspa pakai pelet untuk menjerat pria itu," ketus Mala.


"Jangan bicara sembarangan kamu! Bilang saja kalau iri!"

__ADS_1


"Cih! Aku bahkan bisa dapat pria yang lebih dari pria itu, kamu tidak lihat bagaimana pemuda di sini merebutkan aku?"


"Itu karena kamu terlalu murah, Mala!" Anita tidak membuang kesempatan untuk merendahkan wanita di sebelahnya.


"Sialan!" Mala tidak bisa mengendalikan emosi, dia pun beranjak dari duduk dan berniat menyerang Anita.


"Ada apa ini?" Agung yang melihat ketegangan di antara dua artisnya pun segera naik panggung.


"Dimana, Puspa?" tanya pria itu saat tidak mendapati Puspa di sana.


"Mas, dari mana to? Kok nggak lihat Puspa pergi?" Mala balik bertanya.


"Aku habis angkat telepon, Mala,"


"Puspa pergi dengan laki-laki, makanya jangan ajak dia lagi, Mas. Perempuan itu bertingkah karena Mas memanjakannya."


Mala bicara panjang lebar untuk menjatuhkan Puspa.


"Yo wes kita bahas itu nanti. Ayok lanjutkan lagi!" Pria itu Pun bersiap dengan mikrofonnya.


dalam kerumunan namaoak Tejo celingukan.


"Puspa mana? Kok nggak kelihatan?" tanya pria itu ada teman di sebelahnya.


"Kamu dari mana to, Jo? Sampai nggak tahu pacarmu pergi?"


"Kebelet aku tadi, Puspa pulang?" tanya Tejo lagi.


"Iyo, dia di jemput laki-laki, kelihatannya dia dari kota,"


"Sainganmu berat, Jo. Nyerah ae wes!" teman Tejo yang lain menimpali.


Tejo merasa geram dengan candaan teman-temannya. Mereka tidak tahu sedalam apa cintanya pada Puspa, bahkan dia berniat tidak menikah kalau bukan Puspa yang menjadi mempelai wanitanya.


"Sepertinya wong kota Iku kenal Fadli,"


"Fadli? Dia juga ada di sini?" Tejo semakin tidak mengerti.


"Makane kalau di WC itu jangan lama-lama! Pacar di gondol maling jadi nggak tahu to? Ha ha ha ha ...," Teman-teman Tejo malah menertawakan kemalangan pria itu.


*****


Puspa terus nyerocos di dalam mobil, bagaimana bisa Satya membawanya pergi di saat pekerjaannya belum selesai.


"Bisa di pecat lo saya, Pak!"


"Bagus lah dengan begitu kamu bisa ikut aku kembali ke kota" Jawab Satya dengan entengnya.


"Maksud Bapak apa to? Saya kan sudah mengundurkan diri!"


"Kamu punya perjanjian kerja denganku, kamu mau di tuntut?" Satya mulai mengancam dengan surat kerja itu, karena tidak tahu cara lain untuk meyakinkan Puspa.


"Bapak serius mau menutut saya? Kok tega to? Emangnya saya salah apa?"


Puspa yang menyadari arah mobil tidak mengarah ke rumahnya mulai panik.


"Bapak mau bawa saya kemana? Arah rumah saya bukan kesini lo, Pak!"

__ADS_1


"Aku tahu," jawab Satya.


__ADS_2