PELET SANG BIDUAN

PELET SANG BIDUAN
Bab 41. Terbayang Puspa


__ADS_3

"Ini alamat Raka di kota. Bulek langsung lihat sendiri saja, betapa membanggakannya anak sampean itu," Puspa menyerahkan secarik kertas pada Entin kemudian mengajak ibunya masuk ke rumah.


Keadaan berbalik sekarang, warga mulai merasa simpati pada Puspa, kasihan sekali dia harus mengalami kemalangan di kota.


Begitulah warga tidak di dunia nyata maupun di dunia maya, mereka hanya membela siapa yang kelihatannya benar saja tanpa menyelidiki keadaan yang sesungguhnya. Ketika mereka melakukan hal yang dianggap benar pasti di bela mati-matian, tapi di saat mereka melakukan kesalahan langsung di hujat tanpa ampun.


Satu persatu warga pun meninggalkan rumah Ningrum, begitu juga dengan Entin. Dengan secarik kertas di tangan dia bergegas menuju rumahnya yang tak jauh dari rumah Ningrum dan Puspa.


"Kenapa kamu nggak bilang sama ibu, kalau Raka jahat?"


Ningrum sudah kembali berbaring di atas tempat tidur di bantu Anita dan Puspa.


"Aku tidak mau membuat Ibu khawatir," jawab Puspa.


Setelah keributan mereda, Joko pun kembali ke kota. Dia tidak bisa berlama-lama di sana karena takut Satya membutuhkannya.


Sementara itu, di kediaman Satya, pria itu hanya uring-uringan sepanjang waktu. Dia bahkan tidak keluar kamar sama sekali seperti anak perawan yang tengah merajuk.


Marni hanya bisa mengelus dada melihat pecahan kaca yang memenuhi lantai kamar majikannya.


Pria itu melampiaskan amarah pada benda yang ada di hadapannya, tak terkecuali bingkai foto dirinya bersama Pamela.


Satya duduk termenung di bawah tempat tidurnya yang nyaman. Entah kenapa bayangan Puspa tiba-tiba terlintas dalam benaknya.


"Kenapa Kucing Kampung itu mengganggu pikiranku sekarang?" gumamnya pelan.


***


Di unit apartemen mewahnya, Fadli pun semakin teringat dengan wajah Puspa. Ada yang begitu menggebu dalam dadanya membuatnya merasakan kegelisahan yang mendalam.


"Kenapa aku semakin tidak bisa melupakan Puspa?"


Pria itu pun meraih kunci mobil dan melesat pergi. Sampainya di seberang jalan, Fadli, memandang lekat pada rumah megah ber-cat abu di hadapannya.


"Jadi selama ini kamu tinggal di sini, Pus?"


Fadli berniat menemui Puspa, tapi di takut jika sampai Satya melihatnya di sana. Lima menit pria itu menunggu di mobil akhirnya mobil milik Satya datang dari arah berlawanan.


Ada perasaan lega saat melihat hanya ada Joko di dalam mobil tersebut. Fadli tidak mau kehilangan kesempatan, dia pun turun dan menemui Joko saat pria itu turun dari mobil untuk membuka gerbang.


"Pak tunggu!" Fadli pun turun dan menghampiri Joko.


"Ada apa, Mas?" tanya Joko.


"Maaf, saya mau bertemu dengan Puspa. Bisa minta tolong panggilkan dia," pinta Fadli.

__ADS_1


"Puspa? Mas siapa?" Joko memperhatikan Fadli dari ujung rambut hingga kaki. Nampak jelas jika pria di hadapannya adalah seorang pengusaha, bagiamana dia bisa mengenal Puspa?


"Saya ... temanya Puspa dari kampung, Pak," jawab Fadli.


Joko merasa tidak yakin dengan jawaban Fadli. Tidak mungkin pria se-keren dia berasal dari kampung.


"Tolong, Pak," pinta Fadli lagi.


"Puspa sudah tidak tinggal di sini, Mas. Dia sudah pulang kampung,"


"Apa? Kenapa?" Fadli terus bertanya.


"Saya juga tidak tahu, yang jelas Puspa sudah tidak bekerja di sini lagi. Permisi!" Joko pun masuk mobil dan meninggalkan Fadli


"Jadi, Puspa pulang kampung?" Fadli bergegas masuk mobil dan kembali ke apartemen miliknya.


Fadli tidak bisa hanya diam, jika benar Puspa pulang ke kampung halaman maka itu kesempatan bagus untuknya, di sana tidak ada Satya yang akan menghalanginya bertemu Puspa.


"Bu, apa Puspa pulang ke desa?" tanya Fadli pada ibunya dalam sambungan telepon.


"Yang ibu dengar sih seperti itu, kamu kan tahu rumah kita lumayan jauh dari rumah mereka. Emang kenapa?"


Niken mulai merasa ada yang terjadi antara Fadli dan Puspa di kota, kalau tidak bagaimana putranya bisa tahu Puspa kembali ke desa?


"Ojo macem-macem Fadli! Ingat ya kalau sebentar lagi kamu akan menikah dengan Yasmin!"


Yasmin sudah membuat kesepakatan dengan sang papa untuk mempercepat pernikahannya dengan Fadli. Wanita itu tidak mau jika Fadli berubah pikiran dan meninggalkannya. Dari sikap Fadli terlihat jika dia masih berharap pada Puspa.


"Apa yang ibu katakan? Pernikahan apa?" tanya Fadli.


"Lo kamu gimana to? Yasmin sudah menghubungi ibu, dia bilang kami harus datang ke kota untuk membahas pernikahan kalian,"


Fadli semakin hilang respect pada wanita yang masih berstatus sebagai pacarnya itu. Belum menjadi istri saja dia sudah mengatur hidupnya sedemikian rupa, bagaimana jika mereka menikah? Pasti Fadli akan di perbudak olehnya.


'Aku tidak mau menikahi Yasmin, aku harus kembali pada Puspa,' Fadli bertekad dalam hati, tapi entah apa yang bisa dia lakukan selanjutnya.


***


"Nit, apa masih ada lowongan untukku di rombongan?" Yang Puspa maksud adalah rombongan organ tunggal yang pernah dia tinggalkan.


"Kamu mau nyanyi lagi, Pus?" tanya Nita.


"Habis mau gimana lagi, aku harus bekerja untuk menghidupi diriku dan Ibu,"


"Gimana kalau hari ini kita ke rumah Mas Agung dan bertanya langsung padanya? Soalnya aku juga nggak tahu, Pus,"

__ADS_1


Selama Puspa pergi, Mala lah yang jadi artis utama dalam grup mereka. Dengan aksinya yang terbilang berani, membuatnya mendapatkan banyak saweran. Sementara itu, Anita hanya menjadi serep saja.


Anita tidak seperti Puspa yang pemberani, gadis itu lebih manut, jika itu Puspa pasti dia tidak mau hanya jadi penyayi serep untuk Mala.


Anita memutar arah motornya. Keduanya bersiap menuju rumah Agung yang terletak di persimpangan batas desa.


"Kamu yang bonceng, Nit. Aku grogi sudah lama nggak bawa motor," ucap Puspa.


"Iyo, kamu kan naiknya mobil di kota. Pasti enak yo, Pus. Kemana-mana naik mobil?" Anita bersiap di atas motor dan Puspa pun ikut naik bersamanya.


"Enak sebentar tok, habis itu loro ati," ucap Puspa mengingat perlakuan Satya padanya, dan Anita hanya tersenyum mendengarnya.


Saat keduanya sudah di atas motor, tiba-tiba Ada yang memanggil dari kejauhan.


"Dek Puspa ...!"


Tejo datang dengan motor butut kebanggaannya. Rambut klimis dengan pakaian berwarna biru elektrik yang mencolok, membuat gagal fokus semua mata yang memandang.


"Musibahe datang Nit," Puspa berujar tanpa turun dari motor begitu pula dengan Anita, bahkan gadis itu tidak mematikan mesin motornya.


"Ada apa? Kami sibuk mau pergi," ucap Puspa dengan nada ketus.


"Mbok turun dulu to dek, Mas Tejo sudah datang jauh-jauh kesini mosok ga di sambut to?" Tejo memohon pada dua wanita di hadapannya dengan wajah menjengkelkan.


"Ndang pulang sana! Puspa mau tak ajak pergi," Anita ikut bicara.


"Turun sek to! Ada yang mau Mas Tejo sampaikan padamu," pinta Tejo. Pria itu berdiri tepat di depan roda motor Anita, membuat gadis itu tidak bisa menjalankan motornya.


Dengan terpaksa Puspa pun turun, karena kalau tidak, pria di hadapan mereka itu tidak akan pergi dari sana.


"Opo? Ndang ngomong!" titah Puspa.


Tejo kegirangan saat Puspa menurutinya. Pria itu akan mendekat, tapi dengan lantang Puspa membentaknya.


"Ojo maju! Di situ saja, Tejo!" Puspa geram dengan tingkah Tejo yang tidak tahu diri. Dia bahkan masih merasa jijik mengingat bagaimana pria itu menyentuh dan memeluknya di malam naas beberapa bulan yang lalu. Sementara itu, Anita malah cekikikan di atas motornya.


"Kita duduk dulu to Dek! Nggak enak ngomong sambil berdiri," Tejo terus saja meminta lebih.


Puspa pun menuruti Tejo dan duduk di teras rumahnya. "Cepetan, Jo. Keburu sore ini!" Puspa kesal karena bukannya bicara si Tejo malah asyik memandanginya.


"Nganu, ini soal Bulek Ningrum," Tejo mulai bicara.


"Ada apa dengan ibuku?"


"Sabar to, Dek! Aku belum selesai ngomong lo Iki."

__ADS_1


Puspa pun diam dan kembali mendengarkan pria berkumis tipis di hadapannya.


__ADS_2