PELET SANG BIDUAN

PELET SANG BIDUAN
Bab 34.


__ADS_3

Hari menjelang malam, Puspa masih berada di dalam kamar. Mondar-mandir di hadapan Marni membuat wanita itu sakit kepala.


Satya akan mengajaknya keluar dan Puspa tidak tahu harus berpakaian dan berdandan sepeti apa? Tidak mungkin kan kalau berdandan ala biduan?


"Kamu bisa diam nggak, Pus. Kepala ibu pusing!" Marni memijat sebelah pelipisnya.


"Menurut Ibu, aku pakai baju yang mana? Tapi aku nggak punya baju bagus to, Bu. Piye Iki?" Puspa duduk di samping Marni sembari menginjak-injakan kaki ke lantai.


"Puspa!" Terdengar suara panggilan dari ruang tengah, sudah pasti itu suara Satya.


Puspa keluar kamar dengan ragu, dia tidak tahu harus berkata apa pada sang majikan.


"Maaf, Pak. Saya nggak ikut ya," gadis itu menggenggam erat telapak tangannya sendiri, berharap Satya menyetujui permintaannya.


"Kamu mau saya pecat!" Satya begitu lantang dengan ucapannya dia terlihat tidak main-main.


"B-baik, Pak. Saya ikut, tapi saya nggak punya baju bagus, Pak." Puspa berucap dengan ragu.


"Sudah jangan banyak bicara! kita berangkat sekarang!" Satya berjalan meninggalkan Puspa yang masih mematung di tempatnya berdiri. " Tapi bajuku jelek Lo, pak!" Puspa terus bicara sambil mengejar langkah Satya.


Mobil Satya melaju dengan kecepatan di atas rata-rata. Namun, kali ini Puspa tidak takut lagi seperti sebelumnya. Gadis itu sudah mulai hapal dengan cara tuannya mengemudi.


"Turun!" titah Satya pada Puspa ketika mobil sudah terparkir di depan sebuah butik ternama.


"Acaranya di sini, Pak?" tanya Puspa sambil melihat ke sekeliling.


"Cepat masuk! Kalau tidak kita akan terlambat!" Satya berjalan mendahului Puspa, gadis itupun segera menyusulnya.


Puspa terpana melihat deretan gaun indah berjajar rapi di dalam toko. Sangat berbeda dari gaun yang biasanya dia gunakan untuk manggung.


Gaun disana terlihat lebih elegan, tidak seperti miliknya di desa, banyak sekali Payet dan manik berwarna warnai bertebaran di setiap sudut.


"Hei Kucing kemari!" Satya memberi isyarat pada Puspa dengan jari telunjuknya.


"Kucing? Aku maksudnya?" gerutu Puspa.


Nasib menjadi pembantu, harus nurut apa yang majikannya perintahkan. Di panggil kucing pun Puspa nurut.


"Nggak sekalian kambing manggilnya, Pak!" sungut Puspa.


"Namamu kan memang sama dengan nama kucing!"


"iya deh, saya manut," balas Puspa tak ingin berdebat terlalu lama dengan sang majikan.


"Sana masuk dan segera ganti bajumu itu! Saya tidak punya banyak waktu untuk menunggu!" Satya duduk di sofa panjang sembari memainkan ponsel.


"Mari, Mbak!" ucap karyawan butik sambil menunjukkan tempat untuk berganti baju. Wanita dengan pakaian rapi itu menyodorkan beberapa gaun pilihannya pada Puspa.

__ADS_1


"Ini maksudnya opo, Mbak?" tanya Puspa heran.


"Silahkan ganti pakaiannya di dalam sana mbak!" Wanita itu menunjuk ruang ganti di hadapan puspa.


"Apa nggak papa ganti baju di sini?"


"Nggak papa, kami menjamin keamanan Mbak, jadi tidak perlu khawatir!" Wanita itu tersenyum ramah, berbeda dengan isi hatinya. Dalam hati di terus menertawakan kebodohan gadis di hadapannya.


Puspa memilah beberapa lembar dress mewah yang dia bawa masuk kedalam ruang ganti. Hampir semuanya memiliki belahan rendah pada bagian dada.


"Iki opo to yo? Kok suwek kono kene ( robek sana sini)," Gadis itu terus menggerutu.


"Mbak, apa nggak ada yang lain? yang sudah selesai di jahit gitu bagian dadanya?" Puspa berbisik pada pelayan toko yang standby di depan ruang ganti.


"Maksudnya, Mbak? Itu semua sudah selesai di jahit kok," balas wanita itu tidak mengerti.


"Maksud saya yang nggak kebuka gini, Mbak!" Puspa menunjuk bagian depan baju yang terbuka.


"Oh ... tapi itu saya pilih sesuai arahan Pak Satya, Mbak," balas wanita itu.


"Opo?" Puspa menatap tajam ke arah pria yang tengah asyik menatap layar ponselnya. 'Dasar otak mesum!' gadis itu pun mengumpat dalam hati.


"Aku nggak mau pakai ini, mbak! Tolong carikan yang lebih tertutup ya!"


"Baik, Mbak," Wanita cantik berbadan langsing itu pun menuruti permintaan Puspa.


"Ada apa, Mbak?" Satya yang melihat gerak gerik aneh dari sang pelayan toko mulai bertanya.


Satya beranjak dari duduknya dan menghampiri Puspa. Kenapa gadis itu malah berulah di saat sudah tidak ada waktu.


Puspa masih di dalam ruang ganti sembari terus berpikir, tentang apa rencana Satya sebenarnya. Semenjak kegadisannya terenggut di malam itu, Puspa menjadi takut berada terlalu dekat dengan pria.


Sebelumnya dia adalah gadis yang begitu percaya diri. Berpakaian terbuka pun dia begitu berani. Bagi Puspa selama dia bisa menjaga diri maka tidak ada yang perlu dia takutkan. Namun, kepercayaan diri itu menghilang bersama hilangnya Kehormatan yang sudah bertahun-tahun begitu dia jaga.


Puspa sudah bertekad dalam hati, dia akan lebih menjaga diri sekarang. Sudah cukup dia menjatuhkan harga diri di depan Fadli. Dia akan menjadikan itu sebagai pembelajaran dalam hidup.


Tidak ada yang akan menghargai dirinya kalau dia saja tidak bisa menjaga diri.


'Aku memang bukan gadis suci lagi, tapi aku tidak mau menjadi rendah di mata orang lain!' Tanpa terasa bulir bening membasahi kedua matanya.


Puspa Maharani, kehilangan figur ayah dari usianya masih belia. Semenjak itu dia di tuntut untuk hidup mandiri. Apa daya ibunya yang hanya penjual nasi pecel tak mampu menyekolahkannya hingga ke jenjang yang lebih tinggi.


Puspa si gadis kampung, di tuntut untuk menjadi tangguh di tengah kerasnya hidup. Sedari kecil dia bertekad menjadi wanita sukses setelah dewasa, tapi lihatlah sekarang di hanya duduk di sudut ruangan mencoba untuk terus menjaga harga diri setelah banyak peristiwa menyakitkan dia lalui.


Entah kenapa perkara gaun malah mengingatkan Puspa pada getirnya nasib di hidupnya.


Kali ini bukan hanya meneteskan air mata, gadis itu bahkan meraung-raung di dalam ruang ganti.

__ADS_1


Satya yang ingin memarahi kebodohannya kini malah mematung.


"Apa dia tidak mau pergi denganku? Apa seburuk itu hinga dia harus menangis?" Satya merasa tidak enak hati karena sudah memaksa Puspa.


"Apa kamu bisa keluar dari sana?" Suara Satya melemah mendengar tangisan pilu gadis itu.


Mendengar suara Satya dari balik tirai membuat Puspa segera menghentikan tangisannya. Dia sendiri juga bingung ada apa denganya malam ini? kenapa begitu emosional?


"Ma-maaf, Pak." Puspa keluar dengan wajah basah berlinangan air mata.


"Baiklah kita pulang saja!" Satya berujar sembari memutar langkah.


"Tunggu Pak! kenapa pulang? Acaranya batal?" tanya Puspa tidak mengerti dengan apa yang terjadi.


"Kamu kan tidak mau ikut denganku, ya sudah aku akan mengantarkanmu pulang!"


"Bukan begitu, Pak. Saya mau kok pergi dengan bapak,"


"Lalu kenapa kamu menangis?" tanya Satya dengan tatapan penuh selidik.


"Saya ingat ibu di kampung," semenjak tinggal di kota Puspa menjadi sering berbohong.


Banyak hal yang harus dia tutupi karena tidak mau orang lain sampai tahu betapa getir perjalanan hidupnya. Tanpa Puspa tahu pria di hadapannya bahkan tahu secara detail setiap kisah yang sudah dia alami.


"Ya sudah sebentar!" Satya mengambil sebuah gaun cantik berwarna hitam. Tidak ada yang menonjol pada dress itu. Hanya beberapa detail kecil sebagai hiasan.


"Pakai ini!" Kali ini Satya langsung yang memberikan gaun itu pada Puspa. Tanpa membantah, Puspa langsung masuk keruang ganti.


"Sekalian dandani dia, Mbak!"


Satya tidak mau membuang waktu lagi.


"Baik, Pak!" jawab pelayan toko.


Tak berapa lama gadis itu pun keluar. Gaun hitam berpadu brokat di bagian lengan dan dada, dengan panjang dress sampai di bawah lutut, begitu cantik dan pas di tubuh Puspa yang lumayan tinggi.


Gadis desa itu seketika menjelma bak tuan putri dari negeri dongeng.


Satya bahkan sampai lupa menutup mulutnya karena terpana. "Apa tidak cocok ya, Pak? Sepertinya Bapak syok melihat saya," ucapan Puspa menyadarkan Satya dari rasa kagumnya.


"Sudah cepat kamu pakai sepatunya dan kita berangkat!" Satya menunjuk pada pelayan toko untuk memberikan sepatu yang sudah dia pilih pada Puspa. Sepatu high heels dengan warna senada.


"Apa saya terlihat aneh, Mbak?" tanya Puspa pada pelayan toko sembari mengenakan sepatu. "Mbak sangat cantik. Pak Satya saja sampai terpana melihatnya," balas wanita itu di sambut dengan senyum malu oleh Puspa.


'Apa iya? Bukannya di syok ya tadi?' gumamnya dalam hati.


Tidak bisa di pungkiri hati gadis desa itu berbunga saat mendengar Satya mengangumi kecantikannya.

__ADS_1



Gambaran gaun yang di kenakan Puspa ♥️ maafkan kehaluan author yang terlalu tinggi😁


__ADS_2