PELET SANG BIDUAN

PELET SANG BIDUAN
Bab 6. Hilangnya Kehormatan


__ADS_3

Di luar hujan turun dengan lebat, membuat malam ini terasa begitu dingin. Tidak ada pilihan lain, kami harus berbagi kamar malam ini.


"Kamu tidur di kasur, biar aku di sofa," ucap Fadli sembari menunjuk satu sofa dalam ruangan sempit tersebut.


Tidak ada kata yang keluar dari bibirku, selain hanya anggukan kepala. Semua ini terlalu cepat, satu kali pergi bersama sudah langsung tidur dalam satu kamar.


Andai Ibu tahu apa yang tengah aku lakukan, dia pasti mencak-mencak sekarang.


Berada di luar seharian membuat tubuhku terasa lengket, aku berniat mandi sebelum tidur.


Fadli masih dalam posisi duduk di sofa sembari memainkan ponsel. Apa dia merasakan seperti yang kurasa? Gugup, deg-degan. Ah, entahlah.


Aku sudah terbiasa mandi di malam hari, karena pekerjaan sebagai biduan, mengharuskanku pulang di larut malam. Air malam ini terasa lebih dingin mungkin karena cuaca. Dengan cepat ku guyur seluruh badan, untunglah pihak penginapan menyediakan peralatan mandi sehingga aku bisa membersihkan diri.


Bagaimana dengan pakaian ganti? Karena gugup aku sampai lupa tidak membawanya masuk ke kamar mandi.


Siang tadi, Fadli membelikanku pakaian, aku sudah menolak, tapi dia terus memaksa. Namun, karena kecerobohanku pakaian itu tertinggal di atas kasur. Bagaimana sekarang? Aku tidak mungkin memakai baju yang sudah kotor. Mau minta tolong pada Fadli tapi aku malu.


Beruntung ada handuk kimono yang tergantung di dalam kamar mandi. Penginapan itu walaupun kecil dan sederhana tapi pelayanannya luar biasa. 


Tidak ada pilihan lain, aku harus memakai handuk itu, semoga Fadli sudah tidur saat aku keluar.


Krek!


Dengan pelan aku membuka pintu.


"Kamu mandi, Pus? Apa tidak dingin?"


Degh!


Fadli, ternyata dia masih bangun. Aku menoleh pelan, sembari menutup handuk di bagian dada yang sedikit terbuka.


"I-iya, kamu nggak mandi, Fad? Airnya seger lo," ucapku tergagap.


Pemuda berambut cepak itu berdiri. "Apa iya? Baiklah, aku juga merasa gerah," dia berujar sembari berjalan menuju kamar mandi.


Duarrr!


Suara petir menyambar dengan begitu keras, bahkan kilatan cahayanya sampai masuk ke kamar.


Aku tersadar sudah berada dalam pelukan Fadli. Kejadiannya sangat cepat, jarak antara aku berdiri dengan Fadli lumayan jauh, tapi entah bagaimana aku bisa melompat kedalam pelukannya.


"Tidak papa, hanya suara petir," bisik Fadli di telingaku, seketika bulu Romaku bediri. Baru kali ini aku berada begitu dekat dengan seorang pria.


Selama ini aku sangat menjaga diri, semua kru dalam grup organ tunggal kami juga faham dengan prinsipku. Berbeda dengan pandangan orang lain di luar sana. Mereka selalu memandang remeh karena profesiku sebagai penyanyi dangdut kampung.


Banyak dari mereka yang mengatakan aku adalah wanita nakal yang siap menggoda suami orang demi uang, ingin sekali aku sumpal mulut mereka, tapi ya sudahlah yang penting aku tidak melakukan yang mereka tuduhkan.


Aku mencoba melepaskan diri dari pelukan putra pak lurah itu, tapi lengan Fadli menahan. "Tetaplah, seperti ini sebentar, Pus!" Fadli menatap dalam padaku. Apa yang terjadi padanya? Apa dia berniat tidak baik padaku?

__ADS_1


Bukannya memberontak, aku malah mengikuti kemauannya. "Jujurlah padaku, Pus. Apa kamu mencintaiku?" ucapan tidak terduga keluar dari mulut Fadli.


"A-aku ..."


"Aku mencintaimu, Puspa,"


Fadli mendahului ucapanku. Namun, aku tidak terkejut dengan ungkapan cintanya, sudah pasti karena pengaruh ajian pelet yang aku pakai.


"Aku jatuh cinta padamu, sudah sedari lama. Sejak kita masih SMP."


Degh!


Apa yang baru saja Fadli ucapkan? Dia mencintaiku sejak SMP? Apa itu benar, atau dia hanya tengah merayu saja?


"Aku juga mencintaimu," balasku sembari tersenyum malu, berada dekat dengan Fadli membuatku merasa nyaman. Kenyataan bahwa dia sudah punya calon istri sedikit mengangguku.


"Bagaimana dengan, Yasmin?" tanyaku pelan, karena tidak ingin merusak suasana.


"Aku tidak mencintainya, dia terus memaksa dan mengancam akan bunuh diri kalau aku tidak mau menjadi kekasihnya."


Penuturan Fadli membuatku merasa lega, setidaknya pria ini benar mencintaiku bukan perempuan lain. Situasi semakin memanas di antara kami. Hingga tanpa kusadari kami sudah berada di atas tempat tidur.


Ya Tuhan, aku tahu ini salah, tapi bagaimana, aku tidak bisa menahannya. Fadli adalah pria yang selama ini aku damba.


Seketika aku teringat pesan Ibu, tepat di saat Fadli akan membuka ikatan handuk yang kupakai. Dengan cepat  aku menahan tanganya. "Kenapa? Kamu tidak melakukannya?" lirihnya. Aku hanya menatap matanya dalam. Mencari sebuah jawaban yang akan meyakinkan aku. "Aku akan menikahimu, Puspa." jawaban yang tepat seperti yang ingin aku dengar. "Kamu, janji?"


"Aku, janji."


Sudah hampir 30 menit, aku berada di dalam kamar mandi. Memandangi diri dalam pantulan cermin. Hilang sudah kehormatan yang selama ini begitu aku jaga. Seketika air mataku luruh, teringat akan wajah Ibu, dia pasti akan menangis jika tahu.


Janji Fadli yang akan menikahiku, membuat penyesalan dalam hati sedikit berkurang. Setidaknya aku melakukan itu dengan calon suamiku.


Bukankah dia mengatakan telah lama memendam cinta untukku? Itu artinya sikap manis Fadli padaku bukan karena pengaruh pelet dari Mbah Slamet, semua itu murni karena cinta.


"Puspa ... Kamu masih lama?"


Terdengar panggilan Fadli dari luar. Pagi-pagi sekali dia pergi untuk mencari bantuan, dan kini pria itu sudah kembali.


"Tidak, aku sudah selesai," balasku sedikit meninggikan suara supaya terdengar olehnya.


Aku keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap, baju yang di belikan Fadli untukku.


"Cantik sekali calon istriku," Fadli berujar sembari memelukku dengan erat. Aku masih merasa canggung dengan perubahan sikapnya.


"Ayo pulang, Ibu pasti sudah menunggu," ucapku sembari melepaskan diri darinya.


"Baiklah,"


Belum sampai kami keluar aku mengingat sesuatu. "Tunggu, Fad!" Dengan sigap kutahan pergelangan tanganya.

__ADS_1


"Ada, apa? Apa kamu berubah pikiran?" tanyanya menggoda.


"Tentang yang semalam, bisakah kamu rahasiakan itu dari semua orang?"


Aku meminta dengan kesungguhan hati, berharap tidak akan ada yang tahu tentang perbuatan dosa yang sudah kami lakukan.


"Tenang saja, Sayang. Aku akan menjaga kehormatanmu,"  Fadli berucap kemudian mencium keningku dengan lembut.


Aku merasa senang dengan ucapannya, walaupun itu berbanding terbalik dengan apa yang telah dia perbuat padaku, bukankah dia sudah merenggut kehormatanku? Sudahlah, itu sudah terjadi, yang penting Fadli mau bertanggung jawab dan tidak akan meninggalkan aku.


Tepat pukul 10 pagi kami sudah sampai di rumah. Ibu menyambutku dengan riuh, seolah aku baru saja pulang  dari peperangan.


"Syukurlah, kalian sudah pulang, Ibu khawatir." ucapnya.


"Maaf, Bu. Kami baru kembali soalnya mobil saya mogok di jalan," Fadli memberi penjelasan pada Ibu.


"Iya, Ibu ngerti, Nak. yang penting kalian  kembali dengan keadaan utuh,"


ucap Ibu penuh semangat. Andai Ibu tahu, anak gadisnya ini kembali sudah dalam keadaan tidak utuh lagi.


"Kamu, nggak mampir dulu, Fad?" ucapku berbasa-basi.


"Aku langsung pulang ya, Pus,"


"Baiklah, hati-hati!"


Semenjak tragedi mobil mogok dalam hujan itu, aku jadi sering bertemu dengan Fadli. Dia kerap mengajakku keluar rumah. Sekedar jalan-jalan di sore hari berkeliling di sekitaran kampung.


Kabar tentang hubungan kami, begitu cepat menyebar ke seluruh desa. Membuat kesan negatif bermunculan.


Puspa sang biduan dangdut kini sudah menjadi pelakor, hatiku sakit saat mendengar warga berkata demikian. Namun, yang di katakan mereka tidak salah.


Kedua orang tua Fadli sampai memanggilku datang kerumah mereka. Aku dan Fadli tengah di interogasi sekarang.


"Apa kalian, serius?" ucap Pak lurah kepadaku dan Fadli.


"Iya, Pak. Kami serius, aku mencintai Puspa," tegas Fadli, membuatku merasa bangga. Pria di sampingku ini benar menepati janjinya.


"Bagaimana dengan Yasmin, Fadli?" Ibunya Fadli mulai angkat bicara.


Fadli terdiam sejenak, seoalah ada keraguan dalam hatinya.


"Aku akan urus itu, Bu. Kalian jangan khawatir."


Kedua orang tua Fadli akhirnya menyetujui hubungan kami, syukurlah mereka bukanlah tipe orang tua berpemikiran kolot. Andaikan itu orang lain, mereka pasti sulit menerimaku yang adalah penyanyi hajatan. Sementara ada Yasmin sebagai kandidat utama. Apalagi status sosial mereka yang bisa di bilang paling tinggi di desa kami.


***


Siang itu, ada keributan di depan rumah, Ibu terlihat tengah membela diri dengan deraian air mata. Seorang wanita muda dengan tidak sopan menunjuk wajah ibu dengan jari tangannya. Aku yang baru saja pulang dari latihan bernyanyi, merasa terkejut dengan pemandangan yang tidak biasa.

__ADS_1


Segera aku berlari dan ku rengkuh ibu dalam pelukan, seumur hidup ini kali pertama aku melihat ibuku di permalukan di muka umum seperti ini.


__ADS_2