
[Puspa, aku akan menjemputmu nanti sore, ada pekerjaan untukmu] Satu pesan chat masuk ke nomer Puspa.
[Baik, Ka. Aku akan bersiap]
Raka sepertinya mendapatkan lowongan pekerjaan untuk Puspa. Syukurlah, karena keuangan Puspa sudah mulai menipis. Dia sudah sangat berhemat beberapa hari ini dengan hanya makan mie instan setiap hari.
Tabungannya tidak terlalu banyak, kalau mau tetap tinggal di kota dia harus segera bekerja.
Saat sore tiba Puspa sudah bersiap dengan mengenakan kaus pendek dan bawahan celana jeans tak lupa dia juga mengenakan cardigan rajut yang sedikit tebal. Udara sangat dingin di luar karena musim penghujan segera tiba.
Hampir 30 menit Puspa menunggu. Namun, Raka tak kunjung datang. "Kamu mau kemana?" tanya Andin dengan tatapan penuh selidik.
"Aku mau keluar bentar, Ndin. Raka bilang ada pekerjaan untukku," balas Puspa sembari tersenyum simpul.
"Kamu yakin mau pergi dengan pakaian seperti itu?"
Puspa memandangi tubuhnya sendiri, tidak ada yang salah dengan dirinya. "Emang kenapa?"
"Nggak sih, ha ha ha ..." Si Andin bercandanya kelewatan. "La kamu sendiri mau kemana dengan pakaian itu?" balas Puspa. Seperti biasa wanita itu berpenampilan sangat terbuka, dress mini dengan belahan rendah pada bagian dada.
"Ssstt ...! Jangan terlalu banyak bertanya nanti sesat di jalan," Andin berujar sembari kembali tertawa membuat Puspa geleng-geleng kepala. "Pribahasamu salah Nona," ucap Puspa kesal.
Andin melenggang keluar kamar setelah suara bunyi klakson mobil terdengar berulang kali. "Hati-hati, Ndin!" ucap Puspa. Ada banyak rahasia pada diri gadis itu, Puspa hanya bisa menduga-duga untuk bertanya langsung dia belum berani.
"Puspa ...!" Andin kembali sembari menampakkan raut wajah cemberut. "Loh ... Kok balik lagi?"
"Sialan, mobil itu tidak datang untuk menjemputku, tapi dirimu!"
"Apa maksudmu?"
"Pria yang ada di mobil itu datang untuk menjemputmu, Puspa," tegas Andin sedikit emosi.
"Aku?" tanya Puspa masih tidak paham.
"Raka, dia bilang itu namanya, pria yang mengemudikan mobil itu,"
__ADS_1
"Benarkah?"
Puspa bergegas keluar gerbang rumah kos. Ada yang aneh kenapa Raka membawa mobil? mobil siapa? apa dia sesukses itu?
"Tunggu aku akan ikut denganmu, jemputanku bentar lagi datang." Kedua gadis itu keluar bersama. Dari kejauhan Puspa menatap heran ke arah mobil yang tengah terparkir di sisi jalan.
"Kamu bilang dia dari kampung, kok tajir sih, Pus?" Andin berbisik di telinga Puspa. "Aku juga tidak tahu, mungkin itu mobil majikannya," Puspa menduga.
Raka keluar dari mobil setelah melihat Puspa. pria itu terlihat lebih tampan dari biasanya. Andin yang baru pertama kali bertemu dengan Raka langsung terpesona.
"Ayo, Pus!" Ajak Raka sembari mengulurkan tangannya pada Puspa membuat gadis itu merasa risih.
"Tunggu! Kita belum berkenalan, aku Andin teman sekamarnya, Puspa," Andin mengulurkan tangan pada Raka dan pria itu menyambutnya dengan hangat. "Raka," balas pria itu singkat, membuat Andin semakin terpesona.
"Aku pergi dulu, Ndin,"
"Baiklah, hati-hati,"
Puspa mengedarkan pandangan ke seluruh bagian dalam mobil. "Ini mobil siapa, Ka?" tanya gadis itu dengan polosnya. sementara Raka terlihat ragu menjawabnya. "Punya teman, Pus. Dia tadi menyuruhku untuk mengambilnya dari bengkel, sekalian saja aku pakai untuk jemput kamu,"
Selama di perjalanan keduanya hanya diam, sesekali Raka curi pandang pada Puspa. "Ada apa?" tanya Puspa saat menyadari pria di sampingnya tengah memperhatikan. "Kamu cantik, Puspa," Raka mulai merayu.
'Lah ... Apa maksud dia berkata seperti itu? Apa dia mulai merayu, waduh gawat ini,' Puspa bergumam dalam hati.
Puspa sudah belajar untuk membentengi hatinya agar tidak mudah tergoda oleh rayuan lelaki sekalipun pria itu, Raka. Anak dari sahabat karib ibunya.
Di tinggalkan oleh Fadli menyisakan trauma mendalam di hati gadis itu. "Jangan menggombal, itu tidak mempan padaku," Puspa berujar sembari menata rasa gugup di hatinya.
"Siapa yang gombal? aku jujur kamu memang cantik," Raka kembali mengulang perkataanya. Jujur Puspa merasa senang saat di bilang cantik, itu sudah menjadi naluri wanita.
Pandangan Puspa terus terarah pada jalan di depan. "Kita mau kemana sih, Ka? Dari tadi kok nggak nyampek?" Puspa mulai bosan. Entah kemana Raka akan membawanya, jaraknya begitu jauh dari tempat kos, bahkan waktu sudah berubah karena matahari sudah terbenam sempurna sekarang membuat Jalanan yang mereka lalui terlihat gelap.
Mobil berbelok di halaman sebuah bangunan, lebih terlihat seperti penginapan. 'Tempat apa ini?'' Puspa membatin.
"Turunlah!" Raka membukakan pintu mobil untuk Puspa. Dengan langkah ragu Puspa mengikuti pria di depannya. Untuk apa takut dia tengah bersama Raka sekarang, pria yang bisa di andalkan.
__ADS_1
Langkah kaki Raka terhenti di depan pintu.
"Ayo, Pus!" Dia menoleh ke arah Puspa yang tertinggal.
"Tempat apa ini?" tanya Puspa ragu.
"Kamu mau kerja kan? Disinilah tempatnya. Raka membuka pintu dan merangkul pundak Puspa untuk masuk ke sana.
Tempat itu ramai di penuhi pengunjung, pria wanita berkumpul dalam satu ruangan. Jantung Puspa berdegup tak karuan karena panik. Dia mulai bisa menduga tempat seperti apa yang tengah dia sambangi.
'Kenapa Raka membawaku ke tempat seperti ini?'
Degup jantung Puspa semakin terpacu saat melihat wanita dengan pakaian terbuka tengah duduk di pangkuan seorang pria. Mereka nampak tengah dalam keadaan mabuk.
Bukan hanya itu beberapa pasangan nampak bersenang-senang di setiap sudut ruangan. Darah Puspa berdesir hebat, ada rasa takut yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.
'Raka, pria macam apa sebenarnya dia? Aku tidak bisa terus berada di tempat menjijikkan ini,' Puspa berniat keluar dari sana selagi Raka tidak memperhatikan dirinya. Karena Raka tengah sibuk bicara dengan wanita pemilik tempat tersebut. Namun, Pria itu sudah memperhitungkan segalanya. Tanpa Puspa sadari dua pria berbadan besar tengah berjaga di belakangnya.
Baru saja Puspa berbalik badan, kedua lengannya langsung di cekal oleh tangan-tangan besar itu. "Raka ... ! Ada apa ini?" Puspa berteriak di antara bisingnya dentuman musik yang begitu nyaring.
"Bawa dia masuk!" Titah seorang wanita bergaun terbuka.
"Lepaskan aku!" Puspa memberontak sekuat tenaga, tapi tenaga kedua pria itu jelas tidak sebanding dengan tubuh kecilnya.
Kedua pria itu menjatuhkan tubuh Puspa di atas tempat tidur dengan kasar. Puspa masih tidak percaya dengan apa yang tengah menimpa pada dirinya. Apalagi Raka hanya diam saat dirinya di perlakukan dengan kasar.
"Dimana, Raka?" Puspa berdiri tepat di hadapan wanita bergaun merah menyala. Dari raut wajahnya terlihat jika dia sudah tidak lagi muda. polesan make up tebal lah yang menutupi gurat usianya.
"Diamlah, kamu sudah menjadi milikku sekarang!" Wanita itu mendorong kasar tubuh Puspa hingga gadis itu kembali terjerembab di atas tempat tidur.
"Aku bukan milik siapapun, siapa kamu berhak mengatur hidupku?" Puspa tak menyerah dia kembali bangkit. Namun, tangan wanita dengan sebutan Mami itu menjambak rambut Puspa dengan kasar sehingga wajahnya terdongak ke arah langit-langit kamar.
"Lumayan cantik, kamu akan jadi primadona di tempatku ini, Raka bilang kamu pandai bernyanyi dan bergoyang, sudah pasti banyak pelanggan yang akan dengan rela membayarmu dengan mahal. Ha ha ha ha ..."
Air mata Puspa seketika luruh membasahi pipi. Kemalangan macam apa lagi yang akan menimpa dirinya kali ini?
__ADS_1