
Melihat Satya yang akan menubruknya, refleks Puspa menghindar dan,
Brugh!
Tubuh Satya terjerembab ke dasar lantai dapur. Pria itu jatuh dengan posisi telungkup menghadap lantai.
"Puspa ...!" Satya geram sembari menatap Puspa yang masih berdiri dan tidak menolongnya.
"Maaf, Pak. Mari saya bantu," gadis itu mengulurkan tangan membantu tuannya berdiri.
"Harusnya kamu menangkapku! Kenapa malah menghindar?" protes Satya.
"Burung kali, di tangkap," gadis itu bergumam.
"Apa?" Satya menatap tajam gadis yang kini menjadi tumpuannya untuk berdiri.
"Refleks, Pak. Maaf." Puspa merasa tidak enak dengan sang majikan.
"Apa, Bapak. Terluka?" tanya Puspa.
Pria di hadapannya menatap nyalang, sakitnya tidak seberapa tapi malunya luar biasa. Untunglah tidak ada yang melihat selain Puspa.
Dengan tertatih satya berjalan menuju kamarnya.
"Mau saya bantu pak?" Puspa menawarkan bantuan tapi pria itu dengan tegas menolaknya.
"Nggak perlu!"
"Ya sudah,"
Sepeninggal Satya, Puspa langsung berlari menuju kamarnya. Di dalam sana dia tertawa cekikikan membuat Marni terbangun dari tidurnya.
"Kamu kenapa?"
"Nggak papa, Bu. Habis lihat adegan lucu,"
"Kamu malah nonton TV? Sudah mau pagi lo ini, tidur sana!" ucap Marni kemudian melanjutkan tidurnya lagi.
***
Puspa terbangun di pagi hari lebih tepatnya menjelang siang karena kurang tidur semalam jadilah dia bangun kesiangan, beruntung Marni bisa memaklumi.
Setelah dari kamar mandi, gadis itu meraih posel untuk melihat jam, tapi dia mendapati banyak panggilan tak terjawab dari nomor yang tidak dia kenal.
"Nomere sopo Iki? Kok banyak temen panggilan tak terjawab e?"
Sebuah nomer tanpa nama memanggil hingga sepuluh kali.
"Opo Ibu ganti nomor?" Puspa berniat menghubungi nomor lama ibunya, tapi belum sampai dia menekan tombol hijau, tiba-tiba nomor yang sama kembali menelpon.
"Halo sopo Iki?" ucap Puspa tanpa basa-basi.
"Dari semalam aku hubungi kok nggak di angkat to, Dek?" sahutan seorang di ujung sana.
"Sopo Iki?" Puspa belum mengenali suara orang dalam telpon karena dia baru bangun dan kesadarannya belum sepenuhnya kembali.
"Iki aku Lo, Dek. Mas Tejo seng paling ganteng," Sahut pria yang tak lain adalah Tejo.
Setelah mendapat nomer dari Ningrum, Tejo berniat langsung menghubungi Puspa, apesnya HP pria itu ikut terendam ke dalam bak berisi air bersama baju warna-warni miliknya.
__ADS_1
Tejo harus menunggu sampai telepon genggam itu selesai di perbaiki di konter.
"Yoalah, kok yo oleh nomerku to kowe?" Puspa dengan suara nyaringnya beranjak dari tempat tidur menuju dapur.
"Ibumu yang memberikannya padaku?" sahut Tejo.
"Mesti kamu to yang minta! Ndak mungkin ibuku sudi memberikannya kalau kamu nggak maksa, Tejo!"
"Puspa ... jangan keras-keras!" Marni menegur gadis itu karena suaranya begitu nyaring hingga terdengar seisi rumah besar itu.
"Maaf, Bu. Emosi aku," lirih Puspa.
"Ini terakhir kalinya aku angkat telpon darimu, jadi jangan hubungi aku lagi!" Tanpa menunggu jawaban dari Tejo Puspa langsung mematikan sambungan telponnya.
"Dasar orang-orangan sawah. Kok yo masih ae ngejar-ngejar aku. Emangnya di kampung wes nggak ada perempuan lain opo yo?" Puspa meminum segelas air putih yang di letakan Marni di atas meja.
"Wes to, ngedumel ae! Mandi sana!"
"Tadi malam kan wes mandi to, Bu. Mosok mandi meneh?"
"Sak karepmu!"
Marni pun menyerah jika Puspa sudah membantah seperti itu.
"Pak Satya wes bangun belum, Bu?"
"Kenapa nanyain Tuan Satya? Jangan bilang kamu mulai suka sama dia," Marni menatap gadis di hadapannya penuh selidik.
"Sembarangan to Ibu ini, aku Lo pembantu, Bu. Mana mungkin suka sama ma ..." ucapan Puspa terputus saat melihat majikan yang dia maksud turun dari tangga.
Satya telihat gagah dengan stelan jas berwarna navy. Wajahnya terlihat fresh walau hanya tidur sebentar saja. Puspa sampai lupa berkedip karena terpesona..
"Hush ... napas, Pus!" Marni menepuk pundak gadis yang mematung itu.
Pandangan Puspa beralih pada kaki Satya. Dia hanya ingin memastikan apa pria itu tidak mengalami luka yang serius karena terbentur lantai tadi malam.
"Kakinya Gimana, Pak? Sudah baikkan?" tanya Puspa dari kejauhan.
"Sssttt!" Satya memberi isyarat pada pembantu konyolnya itu untuk diam. Rasanya memalukan jika Marni juga tahu kalau dia terjerembab semalam.
"Memangnya kaki Tuan Satya kenapa?" Marni mulai ingin tahu.
"Nggak papa, Bu. Jangan dengarkan ucapan kucing kampung itu," Satya bergegas menuju ke arah pintu.
Seperti biasa pria itu tidak pernah sarapan sebelum pergi bekerja.
"Itulah yang namanya kekuatan mantan. Wajahnya jadi berseri-seri, tapi aku kok nggak yo, Bu. Malah gedeg aku kalau lihat mukanya Fadli,"
"Mandi Sana! Ngomong ae," titah Marni pada Puspa yang belum beranjak dari tempatnya berdiri.
Gadis berkuncir kuda itu pun akhirnya menyerah dan menuruti perintah Marni.
"Pamela? sedang apa kamu datang sepagi ini?"
Terdengar Satya bicara dengan seseorang di luar.
Mendengar itu membuat Puspa mengurungkan niatnya untuk mandi. Gadis itu pun mengintip keluar karena samar dia mendengar Satya menyebut nama Pamela.
"Mbak Pamela, Bu?"
__ADS_1
"La embuh,"
Pamela terlihat cantik dengan balutan dress selutut, rambut panjangnya dia biarkan tergerai menyentuh pundak.
Sekali lagi, Satya terpesona dengan kecantikan sang mantan pacar.
"Kamu mau kerja?" tanya wanita itu dengan suara lembutnya.
"Iya, harusnya kamu tidak datang sepagi ini," balas Satya.
"Tenang saja aku datang bukan untuk bertemu denganmu,"
Satya tidak mengerti dengan ucapan wanita di hadapannya.
"Maksudmu?"
"Aku mau ketemu Puspa," jawab Pamela sembari tersenyum manis.
"Puspa? Untuk apa?" Satya semakin bingung dengan prilaku Pamela. Kenapa dia mencari Puspa?
"Urusan cewek, kamu nggak perlu tahu. Sudah berangkat sana! Puspa ada kan?"
Tanpa permisi Pamela masuk rumah dan memanggil nama Puspa. Selama menjalin hubungan dengan Satya, Pamela sering datang ke rumah itu, jadi dia sudah hapal kondisi dalam rumah tersebut.
Satya meninggalkan Pamela dengan raut wajah penuh tanya. Namun, dia harus segera berangkat karena ada jadwal meeting pagi ini.
"Puspa!"
Gadis yang namanya di sebut malah merasa gugup dan berlari menuju kamarnya. Bukan karena dia tidak mau menemui Pamela, tapi dia tidak percaya diri karena belum mandi.
"Mbak Pamela?" Marni pun menyambut dengan hangat kedatangan mantan pacar majikannya itu.
"Bu Marni apa kabar?" Pamela memang wanita yang ramah. Dia bahkan tidak segan memeluk Marni yang adalah seorang pembantu.
"Baik, Mbak. Sudah lama banget Mbak nggak pernah kesini," Marni mengajak Pamela untuk duduk di ruang tengah.
"Iya, aku baru pulang dari luar kota, Bu. Dimana Puspa?"
Pamela mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk mencari keberadaan gadis desa itu.
"Ada, tapi kenapa Mbak Pamela nyari dia?" tanya Marni penasaran. Apa mungkin wanita itu mau melabrak Puspa karena sudah bersama mantan pacarnya tadi malam?
"Aku mau kenal Puspa, Bu. Tadi malam kami belum sempat berkenalan," Entah apa yang tengah di rencanakan oleh wanita itu pada Puspa? Kenapa dia ingin berkenalan dengan seorang pembantu?
"Apa Tuan sudah menceritakan pekerjaan Puspa di sini?"
"Iya, kenapa emangnya?"
"Maaf ya, Mbak. Kan Puspa itu cuma pembantu, kok Mbak Pamela mau kenalan sama dia?" Marni merasa tidak enak menanyakan itu, tapi dia juga penasaran.
"Emangnya kenapa, Bu. Pembantu kan juga manusia. Lagipula, aku sudah menyukai Puspa dari awal aku melihatnya, aku mau berteman dengannya,"
Setelah mendengar penuturan Pamela, Marni pun bergegas menuju kamar untuk memanggil Puspa.
Sementara itu, di dalam kamar Puspa sudah selesai mandi dan berganti pakaian.
"Pus cepet sana temui Mbak Pamela!"
"Aku, Bu?"
__ADS_1
"Iya, siapa lagi?"
Puspa pun merasa heran, kenapa Pamela ingin bertemu dengannya? Sama dengan Marni dia pun menduga kalau wanita itu akan memarahinya karena sudah pergi dengan Satya.