
Puspa memicingkan mata untuk memastikan siapa orang yang tengah dia lihat. Dan benar saja Andin nampak turun dari mobil di bantu seorang pria paruh baya, jika di lihat sekilas orang itu seperti ayah bagi Andin.
"Apa itu keluarganya Andin?" gumam Puspa.
Baru saja melangkah, kaki Puspa tertahan seketika. "Apa itu?" Puspa sampai menutup mata saat tanpa sengaja melihat Andin mencium mesra bibir pria berusia itu.
"Waduh, dosa mata Iki," gumamnya lagi. "la dalah, kok jadi sok alim aku," Salah tingkah Puspa berlari masuk gerbang rumah kos dan segera masuk ke dalam kamarnya.
"Si Andin, tidak sepolos yang ku kira, aku harus banyak belajar menilai orang jangan sampai tertipu dengan penampilan," Puspa terus saja menasehati dirinya sendiri.
Sepuluh menit berlalu Andin belum juga masuk ke kamar. "Kok Andin belum kembali? Ngapain aja mereka di sana, wong kota kok nggak malu yo, mosok nganu neng pinggir jalan, hadeuh," Puspa terus saja menggerutu tanpa henti bayangan adegan dewasa itu menari-nari di kepala membuatnya merasa geli.
"Lumayan tua Lo Bapak itu, kok yo mau si Andin?"
"Kamu ngomongin aku, Pus?"
Suara Andin membuat Puspa terperanjat kaget. "E-enggak, aku hanya ngomong sendiri meratapi nasib," jawab Puspa berdusta.
"Kamu darimana, Ndin?" tanya Puspa mengalihkan pembicaraan.
"Kerja," jawab Andin singkat. "Jadi kamu sudah dapat pekerjaan, aku ngiri," ucap Puspa sembari membersihkan tempat tidur sebelum dia pergi ke alam mimpi.
"Kamu mau kerja sama aku?" tanya Andin. wanita itu mulai menghapus riasan di wajah cantiknya.
"Kerjanya malam ya tapi? Aku nggak bisa kalau malam, nggak kuat melek," Puspa beralasan. Di kampung saja kalau ada job dia bisa pulang menjelang subuh.
"Ya sudah kalau nggak mau, bayarannya gede lo, Pus. Lebih dari cukup untuk menunjang hidup," Andin berusaha merayu.
"Nggak ah, aku mau nyari yang siang aja," balas Puspa.
"Terserah kamu deh, aku doakan semoga kamu bisa cepet dapat pekerjaan itu," Entah Andin tulus atau tidak, Puspa tetap meng -aminkan.
Semalaman Puspa tidak bisa tidur, dia mulai merasa takut sekarang. Ternyata kehidupan kota semengerikan itu. Jika saja ibunya tahu sudah pasti wanita itu akan langsung menyusulnya.
"Apa kehidupan Fadli seperti itu juga, bergaul bebas dengan banyak wanita, bagaimana jika aku ketularan penyakit dari Fadli? Hiiii ..." Puspa merasa ngeri.
"Sudah tiga hari kenapa Raka tidak menemui atau menghubungiku, ya?" Sudah menjadi kebiasaan gadis itu suka bicara sendiri. Untunglah Andin sudah pulas dalam tidurnya, sehingga tidak mendengar Puspa bergumam.
***
__ADS_1
Di desa sumber sari Tejo tengah gelagapan mencari keberadaan Puspa. Dengan tidak tahu malu pria itu mendatangi rumah Ningrum berulang kali.
"Tolong, Bulek. Beritahu aku dimana Puspa sekarang?" Tejo terus memohon walaupun Ningrum sudah mengusirnya.
Merasa geram Ibunya Puspa masuk ke dalam rumah. " Tunggu di sini sebentar! aku ambilkan sesuatu," ucap Ningrum pada Tejo membuat pria itu berbinar.
"Mesti alamate Puspa Iki," gumam Tejo dengan raut wajah gembira.
Byurr!
Ningrum keluar dan mengguyur Tejo dengan satu ember air, membuat pria itu basah kuyup dari ujung rambut ke ujung kaki.
"Piye? Seger to?" geram Ningrum sembari berkacak pinggang.
"Kok di grujuk to Bulek?" Protes Tejo sembari membersihkan air di wajahnya.
"Biar otakmu kui bersih, Tejo. Sudah untung aku nggak lapor polisi karena kamu mau melecehkan anak gadisku,"
"Gadis opo to Bulek? semua warga sudah tahu Puspa itu sudah nggak suci lagi, seharusnya Bulek ki berterimakasih karena aku masih mau sama Puspa," ucap Tejo dengan bangga diri.
"Cuih ...! Ra sudi mending anakku jadi perawan tua dari pada menikah sama baj***an seperti kamu!" nafas Ningrum naik turun menahan amarah, tapi Tejo bergeming tak mau pergi.
"Pergi Tejo! Apa mau aku ambilkan parang?" ucap Ningrum mengancam.
"Dasar ra nduwe udel!" gerutu Ningrum sembari masuk rumah, memikirkan nasib Puspa saja sudah membuatnya cemas dan gelisah di tambah lagi dengan rengekan Tejo semakin membuatnya sakit kepala.
Dalam perjalanan pulang Tejo menjadi pusat perhatian banyak warga. " Lo ... Kamu kehujanan di mana to Tejo kok basah kuyup begitu?" Teriak seorang ibu dari halaman rumahnya.
"Alah ... Embuh!" Tejo menggerutu di atas motornya.
Pria berkumis tipis itu terus memikirkan cara untuk bisa mengetahui keadaan Puspa, tapi bagaimana? Ningrum tidak mau memberitahunya. Tejo terpikirkan Anita sahabat Puspa, menurutnya gadis itu pasti tahu keberadaan Puspa.
"Baiklah, aku pulang dulu ganti baju, habis itu kerumah Nita," gumam Tejo kemudian menambah kecepatan laju motornya.
***
"Ka, kamu kemana saja kok nggak bisa di hubungi?" Puspa tengah berbicara dengan Raka dalam sambungan telepon. setelah berhari-hari pria itu baru mengangkat telepon dari Puspa.
"Maaf, Pus. Aku lagi banyak pekerjaan, kamu nggak papa kan?" balas Raka.
__ADS_1
"Nggak papa, tapi aku belum dapat kerja, katanya kamu mau bantu,"
"Iya, aku juga sambil nyari info lowongan kerja untuk kamu, Pus. Nanti aku kabari kalau sudah ada,"
"Baiklah, terimakasih ya,"
"Iya, uang kamu masih nggak? kalau habis aku ada Pus, nanti aku antar kesana,"
mendapat perhatian dari Raka membuat Puspa merasa lebih tenang, setidaknya ada o
seseorang yang melindunginya di kota besar itu.
"Tidak perlu, masih ada kok,"
"Lama banget sih, Sayang. Ngomong sama siapa sih?" Terdengar suara perempuan dalam sambungan telepon itu, suara lembut nan manja.
"Siapa, Ka?" Puspa penasaran dengan yang baru saja di dengarnya.
"Apa maksudmu Pus?" jawab Raka.
"Aku mendengar suara perempuan,"
ucap Puspa sedikit ragu, apa dia pantas menanyakan hal itu pada Raka?
"Kamu mendengarnya Pus? Aku sedang menonton televisi, kenapa? kamu cemburu ya?" goda Raka dari ujung sana. Membuat Puspa malu. "Maaf bukan begitu, aku takut ganggu kamu aja, baiklah aku tutup telponnya ya,"
Setelah mengakhiri panggilan itu Puspa berguling-guling di atas tempat tidur, rasanya memalukan sekali. Andin sampai tertawa cekikikan melihat tingkah gadis itu.
"Kamu kenapa, Pus? nggak jelas banget,"
"Memalukan, masa iya aku cemburu sama televisi," Puspa beranjak duduk di tepi tempat tidur.
"Kamu yakin itu suara televisi? gimana kalau itu beneran suara cewek?" goda Andin. Sontak Puspa terdiam dan berpikir. Bagaimana jika ucapan Andin benar?
"Apa itu mungkin?" tanya Puspa pada Andin.
"Bisa jadi, kamu belum mengenal dengan baik bagaimana sifat para pria di kota ini, tidak ada yang namanya pria setia di sini, Puspa," Andin menambahi.
Ucapan Andin seketika membuatnya meragukan Raka, bagaimanapun dia belum mengenal bagaimana Raka yang sekarang. Waktu bisa saja mengubah kepribadian seseorang termasuk pria manis sepeti Raka.
__ADS_1
"Entahlah, kamu membuatku takut, Ndin."
Andin membalas ucapan Puspa dengan gelak tawa. "Aku cuma bercanda kali, Pus."