PELET SANG BIDUAN

PELET SANG BIDUAN
Ketika realita tak sesuai dengan harap


__ADS_3

Mengharap cinta pada orang yang tak perduli itu sakit. Namun, menerima cinta dari seseorang yang sudah terlanjur di benci itu juga tak kalah sakit. Dilematis, Puspa hanya berharap kewarasannya akan terus terjaga. Tidak lucu jika menjelang hari pernikahan sang mempelai wanita menjadi gila.


Puspa mengurungkan niat menghubungi Satya karena dalam pikirannya mungkin saja pria itu kini tengah tertawa haha hihi bersama Pamela. Menyakitkan.


***


Pagi ini, Ningrum tidak membuka warung nasi pecelnya. Acara semalam menyisakan rasa lelah yang teramat. Tak apalah libur sehari saja. Semoga pelanggan bisa maklum.


"Bulek tega sekali menghianati aku!" Tejo berdiri tak tenang di hadapan Ningrum. Karena ada acara ke rumah saudara yang berbeda kampung dengannya, pria itu ketinggalan berita tentang acara lamaran Puspa yang sudah kadung terjadi.


"Ngomong opo to, Jo?" Ningrum tak ambil pusing amarah pria itu dan kembali menyapu halaman rumahnya.


"Bulek kan sudah janji mau menikahkan aku sama Puspa. Kenapa malah menerima lamaran Fadli? Apa karena dia anak Pak Lurah yang lebih kaya?" Tejo semakin gusar. Menjengkelkan sekali. Dia yang selama ini terus memantau Puspa hingga bersedia memberi bantuan saat Ningrum butuh. Eh ... gadis itu malah menerima pinangan dari anak kepala desa yang sudah sering menyakitinya.


"Bukan begitu, Jo. Ini semua syarat dari Mbah Slamet." Ningrum memberi alasan berharap pria itu mengerti dan tidak mengganggu mereka lagi.


"Halah ... itu akal-akalan Bulek saja. Mbah Slamet itu dukun gadungan. Kenapa Bulek masih saja percaya sama dia?" Tejo kesal.


"Terserah kamu. Pulang sana! Kepalaku jadi pusing karena kamu." Ningrum pun masuk rumah tanpa menghiraukan Tejo yang belum selesai berbicara.


"Aku nggak terima Bulek. Pokoknya Puspa harus menjadi istriku!" teriak Tejo.


"Ada siapa to, Bu?" Puspa yang baru selesai mencuci baju segera bertanya saat mendengar suara orang berteriak dari arah luar.


"Tejo. Bocah edan! Kapan aku pernah janji mau jadiin dia mantu?" Ningrum masuk kamar sembari terus menggerutu.


"Ibu juga ... kenapa selalu minta bantuan dia? Aku kan sudah bilang di itu tidak tulus!"


***


Dalam acara lamaran mereka juga sudah membahas tanggal dilaksanakannya akad nikah. Kedua belah pihak sepakat akan melaksanakannya bulan depan.


Fadli sudah mulai mempersiapkan acara yang akan di gelar dengan mewah itu. Ningrum sudah menolak dan meminta acara yang sederhana karena keterbatasan biaya. Namun, Fadli dan keluarga bersedia memberi bantuan untuk membuat pesta yang meriah di kediaman mempelai wanita.


Walaupun bukan yang pertama bagi Fadli, tetapi pernikahannya yang dulu hanya di gelar di kota. Mau bagiamana lagi baik Fadli maupun Yasmin beralasan sibuk sehingga tidak punya waktu untuk menggelar pesta di kampung halaman Fadli.


Kali ini, kedua orang tua Fadli akan merayakan pernikahan ke-dua putra mereka dengan sangat meriah baik itu di kediamannya maupun di kediaman mempelai wanita.


[Kamu mau kan ikut denganku ke kota untuk fitting baju pengantin?]


Fadli mengirim pesan singkat pada Puspa.


[Kenapa tidak menyewa yang dekat rumah saja? Aku Malas kalau harus bepergian!] balas Puspa.


[Tapi aku mau yang terbaik untuk acara kita nanti, Sayang.]

__ADS_1


Puspa tersenyum kecut melihat kata-kata sayang dari Fadli.


[Pergilah sendiri!]


Sebuah balasan terakhir sebelum Puspa mematikan daya ponselnya. Bagiamana mungkin ada semangat di saat dia tidak sepenuh hati menerima pernikahan itu?


***


Anita berkunjung ke rumah Satya di saat jam kerjanya telah usai. Ada banyak hal yang ingin dia bicarakan dengan Marni. Tak leluasa jika membahasnya dalam sambungan telepon.


"Jadi benar Puspa akan menikah, Nit?"


"Iya, Bu. Aku yakin Puspa terpaksa melakukan nya, semua karena Bulek Ningrum."


"Kasihan sekali dia."


"Bu, apa mungkin Pak Satya masih perduli dengan Puspa?"


Hanya Satya yang bisa membebaskan Puspa dari pernikahan itu, itu pun kalau pria itu bersedia.


"Entahlah, hati orang siapa yang tahu." Marni terdiam. Ada kalanya sang majikan memperlihatkan perhatiannya pada Puspa, tapi di lain hal pria itu seolah tak perduli.


"Coba saja Bu katakan padanya tentang rencana pernikahan Puspa dan lihat bagaimana reaksinya!"


"Baiklah, nanti tak coba."


kring!


kring!


"Ada apa lagi?" ucapnya dengan ketus.


"Kenapa nada bicaramu ketus begitu? Kamu lupa dengan perjanjian kita?" sahut pria di ujung sana yang tak lain adalah Rio. Terpaksa Anita menyetujui sebuah perjanjian dengan pria itu karena membutuhkan bantuannya.


Rio meminjamkan sejumlah uang asalkan Anita bersedia mengikuti perintahnya salah satunya saat di pesta dia harus bersedia menemani Rio dan terlihat seperti seorang pacar bagi pria itu. Hanya sebatas itu, walaupun terlihat lugu Anita tidak sebodoh itu sehingga tidak bisa menjaga diri.


"Saya sedang sibuk, Mas. Ada apa?"


"Kamu harus menemaniku membeli hadiah untuk Mama!"


"Mama siapa?"


"Mamaku, Nit. Siapa lagi?"


"Siapa tahu Mama muda di seberang sana!" Anita merancau.

__ADS_1


"Kamu itu ngomong apa sih, Nit?"


"Yo wes, tapi nanti Mas. Setelah pulang kerja!"


Marni tersenyum melihat tingkah Anita. Gadis itu tidak ada bedanya dengan Puspa. Judes.


"Siapa?" tanya Marni saat Anita mengakhiri obrolan dengan Rio.


"Mas Rio," jawabnya singkat.


"Rio? Kamu berhubungan dengan dia, Nit?"


"Bukan seperti itu, Bu. Aku hanya berhutang Budi padanya."


"Baiklah, kamu juga harus jaga diri Yo, jangan sembarangan dekat dengan lelaki!" Marni mewanti-wanti.


***


"Papa tidak mau tahu! Kamu harus segera berangkat keluar negeri!"


"Tapi, Pa. Banyak yang harus aku urus di perusahaan!"


"Tinggalkan itu, kamu urus cabang yang ada di luar negeri saja. Yang di sini Biar Angga yang mengurusnya." Angga adalah anak dari adik kandung Baskoro. Pria itu cukup kompeten dalam mengurus perusahaan. Dan lagi dia orang yang terpercaya.


Amarah Baskoro tak terkendali selama ini dia menuruti keinginan Putrinya, berharap banyak pada pria pilihan nya itu. Akan tetapi Fadli membuktikan jika pilihan Yasmin salah besar.


Kepercayaan sudah hilang. Sudah cukup menuruti kemauan sang putri. Yasmin mulai kehilangan fokus pada pekerjaan karena hubungannya dengan Fadli.


"Papa sudah memberi kesempatan dan kamu tidak menggunakannya dengan baik. Kali ini kamu harus menurut. Menetaplah di sana sampai pernikahanmu dengan Mike di laksanakan!"


"Papa ... kenapa memaksaku? Aku tidak mau menikah apalagi dengan Mike!" Dengan tegas Yasmin menolak, tetapi kedua orang tuanya sudah tidak mentolerir lagi.


Sejak lama perjodohan antara dirinya dengan anak dari rekan bisnis keluarganya itu di rencanakan. Namun, Yasmin menolak karena Fadli.


Beruntung Mike dan keluarganya masih mau menerima Yasmin dengan statusnya yang sekarang. Sudah pasti keuntungan bisnis lah yang mereka pertimbangkan. Bagi pria sekelas Mike yang suka bergonta ganti wanita tidak masalah menikahi Yasmin hanya statusnya yang akan berubah tidak dengan kehidupannya.


"Kalau kamu menolak, pergilah dari rumah! Kami akan menganggap kamu sudah tiada!"


Ketika Baskoro bicara dengan segala ancaman pada putrinya, Melani mamanya yasmin hanya diam tanpa suara. Wanita itu paham betul bagaimana suaminya, keputusannya mutlak tidak bisa di ganggu gugat.


Yasmin berpikir seribu kali jangan sampai dia menjadi gelandangan di luaran sana hanya karena ingin mempertahankan Fadli yang bahkan sudah tidak perduli kepadanya.


"Baiklah, aku akan pergi ke luar negeri. Soal pernikahan aku minta waktu, Pa. Kalian kan tahu aku baru saja bercerai. Aku masih trauma dengan pernikahan sekarang."


langkah kaki Yasmin gontai menuju kamar. Dunianya seolah runtuh luluh lantah menyatu dengan tanah. Semua karena Fadli dan penghianatannya.

__ADS_1


"Aku akan menurut untuk sementara waktu. Fadli ... urusan diantara kita belum selesai. Aku akan mengingat sakit hati ini untuk waktu yang lama!" wanita yang hatinya terluka itu bergumam.


__ADS_2