PELET SANG BIDUAN

PELET SANG BIDUAN
Bab 8. Cemas


__ADS_3

"Mingkem, Mala!" Aku terbahak melihat ekspresi Mala saat melihat Fadli. Sangat terlihat jika dia mengagumi kekasihku. Mala tinggal di desa yang berbeda denganku, jadi dia tidak begitu mengenal Fadli sebagai anak dari kepala desa.


"Apaan, sih?" ketusnya.


Kalau aku yang menjadi dia, pasti sudah malu setengah mati. "Gimana ganteng to, pacarku?" Ledekku lagi.


"Idih, bukan tipeku banget."


Masih saja Mala berkilah, kalau bukan tipenya kenapa bola mata bulatnya hampir copot tadi?


Aku pun duduk di sisi kanan Anita sementara Mala di sebelah kiri.


Aku sudah tidak sabar untuk tampil malam ini, dengan gaun indah berwarna navy aku duduk dengan percaya diri.


Kehadiran Fadli di hidupku mendatangkan semangat baru, membayangkan pernikahan yang sudah kami rencanakan berdua membuatku semakin tidak sabar.


Acara malam ini di gelar di tanah lapang, karena banyaknya warga yang hadir akan tidak cukup jika hanya di gelar di halaman rumah.


Pemilik hajat adalah orang terpandang di kota tersebut. Ini adalah acara pernikahan anak pertama mereka, jadi mereka mengadakan acara yang meriah. Saat baru sampai di tempat acara, aku juga sedikit bingung, jika dia sekaya itu kenapa tidak mengundang artis papan atas? Sekelas Ayu Ting Ting atau Dewi persik, dia pasti sanggup membayar mereka.


"Mas, mereka ini kan kaya, kenapa ngundangnya sekelas kita? kenapa nggak ngundang artis papa atas?" aku berbisik di telinga Mas Agung.


"Mereka ngundang artis juga, Pus. Tapi beda hari sama kita,"


jawab Mas Agung.


Sekarang aku mengerti, ternyata kami hanya di jadikan sebagai selingan saja. semua itu karena Mas Agung punya hubungan kekerabatan dengan pemilik acara.


Mendengar ucapan Mas Agung, tidak membuatku patah semangat, justru aku semakin terpacu. Akan aku tunjukan pada mereka bagaimana pesona Puspa Maharani. sehingga mereka akan sulit membedakan mana artis ibu kota dan yang mana artis kampung.


Malam semakin larut, seperti biasa semakin larut semakin menjadi. beberapa pria mulai naik ke atas panggung untuk memberi sawer.


berbeda dengan di kampung, para lelaki di sini lebih agresif, mereka bahkan berani meraba tubuh kami, apa karena kami hanyalah artis kampung?


Mala terlihat santai dengan perlakuan mereka, bahkan dia merespon dengan liar. Sementara, aku terus berusaha menjaga jarak agar tangan mereka tidak sampai menyentuhku. Rasanya jijik sekali melihat apa yang mereka lakukan.


Apa kehidupan di kota seperti ini? di desa pun ada kegiatan sawer menyawer, tapi tidak separah ini.


"Puspa ... Puspa!"


Mereka terus memanggil namaku, sepertinya aku sudah menjadi idola di sini.

__ADS_1


"Baru tampil pertama kali, mereka sudah menjadi fansmu, Pus," Anita berbisik di telingaku.


"Sepertinya aku harus sering datang kemari," balasku dengan sedikit tertawa. Disaat kami berbincang, ada sepasang mata yang menatap nanar, sepertinya Mala tengah terbakar cemburu.


"Lihatlah ... wajahnya sampai merah!" bisik Anita. Bukannya risih, kami malah menjadikan Mala sebagai bahan candaan.


Kami sudah sampai di penghujung acara, tapi Fadli belum nampak batang hidungnya. Kemana kekasihku itu? apa terjadi sesuatu?


"Dimana Mas Fadli? kenapa belum datang juga?" Anita mulai gelisah. karena kami tadi datang bersama dan sudah janjian akan pulang bersama juga, karena itu dia juga menunggu kedatangan Fadli.


"Apa kamu yakin dia mencintaimu? bisa jadi sekarang pria itu tengah menghabiskan malam dengan wanita lain," Mala mengejekku secara terang-terangan.


"Diam! Tidak semua pria seperti mantan suamimu, Mala!" Ingin rasanya ku sumpal mulut Mala dengan sambal, tapi kami masih berada dalam keramaian sekarang, aku harus tetap menjaga imege di hadapan banyak orang.


"Kamu lupa, Pus. kenapa Andre bisa sampai meninggalkan aku? Semua itu karena kamu, dasar murahan!"


Ucapan Mala kali ini sungguh keterlaluan, sudah jelas aku tidak ada sangkut pautnya dengan mantan suaminya, terus saja dia menyalahkan aku.


Sebelumnya hubunganku dengan Mala berjalan baik, seperti halnya aku dan Anita. Semuanya berubah saat Andre suami Mala terang-terangan mengakui rasa cintanya padaku.


Aku sudah berulang kali menolak Andre, tapi pria itu tidak mau menyerah. Suatu hari Mala menangkap basah perselingkuhan suaminya dengan perempuan penjaga warung makan di desaku.


"Hei Mala, Andre berselingkuh bukan denganku, jadi kenapa kamu terus menyalahkan aku?" Kali ini aku tidak akan diam lagi, masalah di antara kami sebaiknya segera tuntas sebelum aku menikah. Aku tidak mau urusan masa lalu menjadi pengganggu dalam rumah tanggaku nanti.


"Iya, tapi dia begitu karena kamu menolaknya!"


"lalu, kamu maunya apa? Aku harus menerimanya begitu?"


Dasar wanita yang sulit di mengerti, entah dia itu kurang pintar atau dia memang sengaja mencari kambing hitam untuk penyebab perceraiannya.


"Ya-ya ... bukan begitu," ucapnya tergagap.


Mas Agung yang sudah selesai berpamitan pada tuan rumah pun segera menghampiri kami. "Ada apa ini? kalian bertengkar lagi?" ucapnya dengan nada kesal.


"Itu si Mala, senang sekali menggangguku," ucapku ketus.


"Hei ...! siapa juga yang ..."


"Sssttt ... jangan bikin malu, ayo pulang! Sudah larut," Mas Agung memotong ucapan Mala, sepertinya dia sudah bosan dengan pertengkaran kami yang tiada habisnya.


"Tapi, Mas. Fadli belum datang," Aku mendekati Mas Agung sembari menggandeng lengannya, berharap dia mau menunggu Fadli datang.

__ADS_1


"Kalian naik pick up saja!"


Tegas Mas Agung.


"Iya, Pus. Kita ikut rombongan saja ya?" Ajak Anita.


Akhirnya dengan terpaksa aku dan Anita pulang bersama rombongan.


Naik mobil bak terbuka di malam hari memang menyenangkan, walau dingin menusuk tulang, tapi kami bisa melihat pemandangan kota secara langsung.


Anita dan dua teman pria lainnya terus saja bercanda, sementara aku hanya diam. Biasanya di saat seperti ini akulah yang paling heboh, tapi kali ini aku tidak bisa berhenti memikirkan Fadli. Kenapa sampai sekarang dia tidak menelpon atau mengirim pesan padaku? Aku menjadi sangat khawatir.


Aku memang telihat tidak menghiraukan ucapan Mala, tapi ucapan itu terus terngiang di telinga. Bagaimana jika yang di ucapakan Mala benar? kalau saat ini Fadli tengah bersama wanita lain? Yang lebih aku takutkan adalah, Yasmin. Apa mungkin Fadli datang ke kota untuk menemui wanita berambut pirang itu?


Andai saja, Fadli memberi kabar, setidaknya aku tidak merasa khawatir sepeti sekarang.


Ting!


Suara notifasi pesan chat terdengar dari ponselku. Pandangan Anita dan dua orang pria di hadapan kami seketika tertuju pada tas ku.


Aku segera merogoh tas dan mengeluarkan ponsel dari sana. Satu chat dari nomer yang tidak aku kenal mengirim sebuah gambar.


Namun, karena sinyal kurang bagus gambar tidak bisa langsung terbuka.


Ting!


Satu chat kembali masuk.


[Dia sedang menghabiskan malam denganku, jadi jangan ganggu!]


Sebuah chat yang tidak bisa aku mengerti apa maksudnya, siapa yang tengah bersama siapa? aku kembali mencoba membuka gambar tapi tetap tidak bisa.


"Si*lan!" Tanpa terasa aku mengumpat karena kesal.


"Ada apa, Puspa?" tanya Anita heran.


"Apa sinyal di ponselmu bagus, Nit?" tanyaku.


"Kurang bagus, emang ada apa sih? bikin penasaran aja."


Bukan hanya kamu Nit yang penasaran, aku juga. gumamku dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2