PELET SANG BIDUAN

PELET SANG BIDUAN
Kabur


__ADS_3

Puspa memaksa Fadli untuk pulang karena dia khawatir jika Satya akan melakukan kekerasan lagi. Sedangkan Satya, melihat bagiamana Fadli terus mengganggu Puspa, membuat pria itu tidak bisa meninggalkan Puspa tetap berada di sana.


"Kali ini aku memaksa, Puspa!"


"Apa maksud, Bapak?"


"Kamu harus ikut sekarang atau ibumu juga akan ikut terseret dalam masalah ini!"


Puspa menatap pada Ningrum yang kini duduk di kursi ruang tamu dalam rumah. Haruskah ibunya ikut terbawa dalam masalah antara dirinya dengan sang majikan?


"Bapak mengancam saya?" tanya Puspa dengan bibir bergetar.


"Kamu yang memaksa agar aku melakukan ini,"


Setelah perkelahian itu bahkan Puspa masih membela Fadli. Menurut gadis itu Satya lah yang bersikap brutal tanpa alasan.


"Baiklah, saya akan ikut. Bapak puas?"


Puspa menghampiri Ningrum untuk meminta pengertian darinya.


"Maaf, Bu. Puspa harus kembali bekerja di rumah Pak Satya," Menyakitkan sekali bagi gadis desa itu, harus meninggalkan sang ibu dalam keadaan seperti itu.


"Pergilah, Ibu tidak papa!" ucap Ningrum.


"Nanti, Puspa kasih tahu Anita ya, Bu. Biar dia sering kesini,"


"Wes to nggak Popo, Bude Lilik juga sering nemenin Ibu kok, jangan khawatir!"


Dengan berat Puspa harus meninggalkan ibunya lagi.


Puspa sudah bersiap dengan tas besar di tangan. Sementara itu, Satya memilih menunggu di dalam mobil.


"Berikan ini pada ibumu!" titah pria itu sembari memberikan sebuah amplop tebal yang berisikan lembaran uang kertas ratusan ribu.


"Maaf, tapi saya tidak menerima pemberian yang akan Bapak ungkit-ungkit nanti," jawab Puspa ketus.


"Ini tidak geratis, Puspa. Aku akan memotong dari gajimu,"


Dengan terpaksa Puspa menerima uang itu dan memberikannya pada Ningrum.


"Ini untuk pegangan Ibu. Nanti kalau Aku sudah gajian pasti Tak kirimi lagi. Jangan ngutang sama Tejo lagi yo!"


"Iyo, wes pergilah kasian Pak Satya nunggu,"


Puspa memeluk ibunya untuk terkahir kali, melihat sikap Satya yang tiba-tiba menjadi arogan membaiatnya tidak yakin apa dia bisa pulang dalam waktu dekat.


'Wong koyok ngunu kok di kasihani to, Bu. Lihat nggak punya sopan santun, sama Ibu ae nggak pamit,' gumam Puspa dalam hati.


"Ada apa ini?" Anita datang di waktu yang tepat.


"Syukurlah kamu datang, Nit. Tolong jaga ibu yo!"


"Kamu mau pergi, Pus?"


"Iyo,"


"Ya sudah jangan khawatirkan ibumu, aku akan sering mampir ke sini," ucap Anita sembari menyerahkan tas Puspa yang tertinggal semalam.


Mobil Satya pun melaju pergi meninggalkan kampung halaman Puspa.


***

__ADS_1


Sepanjang perjalanan Puspa hanya diam, tidak seperti Puspa biasanya yang banyak bicara.


Perlakuan Satya padanya membuat Puspa merasa tidak nyaman berada dekat dengan pria itu. Baginya Satya adalah pria pemaksa, yang hanya ingin orang lain menuruti kemauannya tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain.


Marni pun menyambut kedatangan gadis itu dengan bahagia. Akhirnya tuannya berhasil membawanya kembali. Marni tidak tahu saja, bagaimana cara Puspa kembali kesana.


Setiap hari Puspa bekerja sesuai dengan tugasnya, tidak ada kehebohan atau tawa keras semenjak gadis itu kembali. Dia bahkan terus berusaha untuk menghindari sang majikan. Membuat Marni merasa heran.


"Kamu kenapa, Pus?"


"Emange aku kenapa, Bu?" Puspa balik bertanya.


"Nggak popo,"


Setelah kejadian di kampung, Satya semakin memperketat keamanan di rumahnya, dia bahkan melarang Puspa keluar dari rumah, membuat gadis itu semakin frustasi, dia merasa seperti berada dalam penjara.


Malam ini Satya pulang lebih cepat dari biasanya, dia meminta Marni untuk menyiapkan makan malam. Puspa pun membantu wanita itu.


Satya pun memperhatikan gerak-gerik gadis yang mulutnya terkunci tanpa suara.


"Apa kamu tidak bisa bicara?" Satya menatap ke arah gadis yang menuang air putih pada gelasnya. Namun, Puspa hanya diam sembari terus melakukan tugasnya.


"Aku bicara padamu Puspa!" Satya mulai menaikkan nada bicaranya.


"Maaf, Pak. Saya hanya pembantu disini tugas saya bukan untuk bicara melainkan mengerjakan pekerjaan rumah," Puspa akhirnya bersuara.


Satya menghela nafas dengan kasar. Ada apa dengannya? Yang di katakan Puspa benar dia hanyalah seorang pembantu di rumahnya, tapi kenapa dia tersiksa melihat Puspa yang seperti itu?


Satya beranjak dari duduknya menuju kamar. pria itu bahkan tidak menyentuh makanannya sama sekali.


"Tuan makan dulu!" Marni berusaha menghentikan langkah Satya tapi pria itu sama sekali tidak menggubrisnya.


"Aku nggak tahu, Bu." Puspa pun meninggalkan Marni menuju kamarnya.


***


Beberapa hari terakhir Fadli sering menghubungi Puspa lewat telepon atau sekedar saling bertukar pesan.


Perlakuan kasar Satya padanya membuat gadis itu mencari perlindungan pada Fadli.


Sore ini Fadli mengajak Puspa untuk bertemu di luar.


"Aku tidak bisa keluar, Fad. Pak Satya menambah keamanan di rumahnya,"


"Aku akan mencari cara, Puspa,"


"Baiklah, terserah kamu,"


Ada banyak yang berubah pada gadis itu, tapi dia sendiri belum menyadarinya. Hatinya begitu sakit saat Satya memaksa dan mengurungnya seperti seorang tahanan. Perlahan dia mulai berharap lagi pada Fadli, pria yang pernah mencampakkannya.


Kenyataan Fadli yang akan menikah dengan Yasmin bahkan tidak membuka mata Puspa. Dia dengan mudahnya setuju saat Fadli mengatakan akan segera menceraikan Yasmin saat perusahaan wanita itu sudah jatuh ke tangannya.


Puspa mencoba untuk keluar rumah di saat Satya masih berada di kantornya.


"Maaf, Mbak Puspa mau kemana?" tanya Roni, seorang body guard yang di bayar oleh Satya untuk berjaga di pintu gerbang.


"Maaf Mas. Tolong buka gerbangnya, saya harus keluar sebentar, Pak Satya sudah menunggu,"


"Pak Satya? Dimana?"


"Dia ada di kantornya ada barangnya yang tertinggal dan harus aku yang mengantarnya. Tolong buka gerbangnya kalau tidak dia akan memarahiku,"

__ADS_1


Dengan wajah memelas dan meyakinkan, Puspa berhasil menipu penjaga gerbang.


Puspa berjalan cepat menuju mobil Fadli yang sudah terparkir di seberang jalan. Mobil itu pun melesat pergi setelah Puspa berhasil masuk ke dalam sana.


Tanpa Puspa sadari Joko yang tengah membersihkan salah satu mobil tuannya melihat gerak geriknya. Puspa begitu cepat pergi membuat Joko tidak sempat mengejarnya.


"Puspa mau kemana?" tanya Joko pada Roni.


"Mbak Puspa mau ke kantor Pak Satya, Pak. Katanya dia harus mengantar barang penting."


Joko segera merogoh ponsel dari dalam saku dan menghubungi sang majikan. Rasanya tidak mungkin jika tuannya menyuruh Puspa. Dia saja selalu mewanti-wanti untuk menjaga Puspa jangan sampai gadis itu keluar gerbang.


"Halo Tuan, apa ada barang Tuan yang tertinggal di rumah?" tanya Joko dalam sambungan telepon.


"Apa maksudmu?"


"Puspa keluar Tuan, katanya ada barang yang tertinggal dan dia harus mengantarnya," Joko mulai ketakutan jika Satya bereaksi seperti itu maka artinya Puspa sudah berbohong.


"Apa? Cepat ikuti dia!" Satya tidak banyak bicara karena dia tengah dalam meeting.


Tanpa berpikir lagi, Joko langsung menyalakan mesin mobil dan melesat pergi.


Joko sempat kebingungan bagaimana dia tahu keberadaan Puspa? Mungkin saja gadis itu naik taksi atau transportasi lain.


"Kamu kemana to, Pus. Kok yo ada-ada saja. Apa dia pulang kampung?" Joko berbicara sendiri sembari terus memperhatikan arah jalan.


Mobil yang Joko kendarai tepat berhenti di lampu merah. Pria itu pun celingukan melihat keadaan sekitar. " Pakai lampu merah segala to, kok yo pas men!" Amarah Satya sudah terbayang di benak pria itu kalau sampai dia tidak berhasil menemukan Puspa.


Tin!


Tin!


Karena tidak fokus Joko tidak menyadari kalau lampu di depan sudah berwarna hijau.


pria itu kembali melajukan mobilnya. Namun sekilas dia seperti melihat seorang yang dia kenal duduk di kursi depan dalam mobil yang tepat berada di sampingnya.


"Puspa?"


Joko berniat turun, tapi dia melihat Fadli dan mengurungkan niatnya.


"Itu kan pria yang datang mencari Puspa waktu itu, kalau tidak salah aku juga pernah melihatnya di kantor tuan Satya,"


Joko mengikuti mobil Fadli dari jarak yang agak jauh.


Drtt!


Drtt!


Hanya satu kali panggilan Satya langsung mengangkat telponnya, sepertinya pria itu memang tengah menunggu kabar dari Joko.


"Bagaimana?"


"Tuan, saya sudah menemukan Puspa dia berada dalam mobil bersama laki-laki,"


"Apa maksud kamu Joko?"


"Saya akan mengikuti mereka dulu nanti saya kabari Tuan lagi,"


Joko langsung mengakhiri panggilan itu membuat Satya geram di ujung sana.


"Kamu mau kemana to, Pus?" Joko tidak sekalipun mengalihkan pandangan dari mobil di depannya.

__ADS_1


__ADS_2