PELET SANG BIDUAN

PELET SANG BIDUAN
Bab 27. Pergi Ke Hotel


__ADS_3

"Terimaksih, Pak. Pulangnya nggak usah di jemput, saya naik taksi saja!" Puspa bertingkah seolah pria yang berada di dalam mobil adalah kekasihnya.


"Cih ... siapa yang perduli!" Satya menyalakan mesin mobil dan melesat pergi.


Di dalam hati, Puspa menertawakan ekspresi wajah Satya. Rasanya menyenangkan sekali menggoda pria jutek itu. Baginya sikap Satya sangat menghibur. Pria itu bertingkah cuek, tapi perhatian. Menolak, tapi juga tidak marah. Entahlah, Puspa masih berusaha memahami karakter sang majikan.


Tidak ada kesan baik selama mengenal pria itu. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Sayang sekali wajah tampan itu, andai ada sedikit senyum di sana, pasti akan terlihat mempesona. "Cemberut saja sangat tampan, apalagi tersenyum. Bisa meleleh aku," Gumam Puspa sembari membayangkan wajah majikannya.


"Hush Puspa ...! Mikir opo to kowe?" Gadis itu masih mematung di depan pintu minimarket sembari bergumam dan tersenyum sendiri. Membuat orang di sekitar menatap heran padanya.


***


"Bulek ...!" Anita mengetuk pintu rumah Ningrum berulang kali. Namun, tidak ada sahutan dari dalam. Gadis itu ingin mencari tahu tentang kabar Puspa, langsung dari ibunya.


Sudah lebih dari satu Minggu Puspa tidak bisa di hubungi, membuat Anita merasa khawatir.


"Ada apa, Nit?" Ningrum turun dari motornya sambil membawa Plastik besar yang penuh dengan belanjaan.


"Bulek dari mana?" Anita menatap heran. Jarak warung kan tidak jauh, kenapa ibunya Puspa itu mengendarai motor? Apa tidak sayang bensinnya?


"Dari warung, Bu Eka." Ningrum menjawab sembari membuka pintu rumah yang sengaja dia kunci dari luar. "Ayo masuk!" ajaknya.


"Kenapa milih yang jauh to Bulek? Kan warung Bulek Entin lebih dekat?" tanya Anita lagi.


"Sengaja, aku lagi musuhan sama Entin. Nggak sudi lagi aku belanja di warungnya!" Ningrum menaruh belanjaan di atas meja dapur dan keluar dengan segelas teh di tangannya.


"Minumlah! kebetulan tadi Bulek bikin teh sebelum ke warung, masih anget." Ningrum memberikan gelas itu pada Anita.


"Kamu ada apa? Tumben main kesini,"


Semenjak Puspa pergi ke kota, Anita jadi jarang berkunjung ke rumah Ningrum.


"Puspa ada nelpon Bulek, nggak?" tanya Anita memulai pembicaraan.


"Ada, baru beberapa hari yang lalu dia nelpon Bulek. Kenapa?" Ningrum penasaran apa terjadi sesuatu pada Puspa yang dia tidak tahu?


"Aku kok nggak bisa nelpon dia yo, Bulek?" Anita menaruh gelas teh di atas meja.


"Oh, iyo ... nomernya Puspa ganti, Nit. Bulek sampai lupa. Sebentar yo!" Ningrum berjalan menuju kamar untuk mengambil handphone miliknya.


"Ini nomernya yang baru, kamu simpan sendiri!" Ningrum menyodorkan ponsel itu pada Anita. "Kenapa ganti nomer to, Bulek? Aku kan jadi nggak bisa hubungi dia," Anita merasa sedikit kecewa karena Puspa tidak memberitahu nomor teleponnya yang baru.


"HP nya Puspa ilang, Nit. Untung dia masih ingat nomer Bulek."


"Kok bisa hilang gimana, to? Pasti sembrono bocah iku," ucap anita sembari menyimpan nomer baru Puspa dalam ponsel miliknya.


"Oh Iyo Bulek, aku penasaran lo. Ada apa Sama bulek Entin? kenapa kalian bisa sampai musuhan to?" tanya gadis itu. Ningrum yang awalnya sudah mulai lupa dengan rasa jengkelnya kini kambuh lagi.


"Gimana ibu nggak kesal to? Entin datang teriak-teriak di depan rumah sambil maki-maki Puspa," Dari ekspresi wajah wanita itu sangat terlihat kalau dia tengah menahan emosi.

__ADS_1


"Kok ngunu to Bulek? Kan dia sudah setuju kalau Puspa sama Raka mau menikah." Anita malah menambah minyak pada api amarah Ningrum yang sudah menyala.


"Yo iku, dia bilang Puspa meniggalkan Raka dan pergi dengan pria lain yang lebih kaya. Opo Ra edan itu namanya?"


"Sabar Bulek ... sabar!" ucap Anita sembari mengelus pelan punggung Ningrum.


Seketika air mata wanita itu tumpah. Dia sudah tidak bisa menahannya lagi. Dadanya terasa sesak setiap kali mengingat perkataan Entin.


"Tolong kamu telpon Puspa Yo Nit! Tanyakan pada dia, apa benar dia baik-baik saja sekarang? Hati Bulek kok rasanya Ndak enak sekali. Bulek takut kalau Puspa sedang dalam masalah," pinta wanita bertubuh kurus itu pada Anita.


Setelah mencurahkan isi hatinya pada Anita, Ningrum sedikit merasa lebih tenang.


Kasihan wanita itu, semenjak pertengkarannya dengan Entin, tidak punya lagi tempat untuk berbagi.


"Bulek jangan khawatir, Nanti aku bicara sama Puspa Yo," Anita menggenggam tangan Ningrum untuk memberinya kekuatan.


Sampai saat itu, Anita masih menyayangkan perbuatan Puspa dan ibunya. Kenapa mereka mengambil jalan pintas hingga pergi ke dukun? Seandainya saja, Puspa meminta pendapatnya sebelum melakukan hal itu, pasti Anita akan dengan tegas melarangnya.


Mau bagiamana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Puspa dan sang ibu harus menanggung akibat dari perbuatan mereka.


"Bulek nggak jualan pecel lagi?" Saat baru datang, Anita tidak melihat meja yang biasa di gunakan Ningrum untuk berjualan. "Nggak, Nit. Semenjak kejadian itu, dagangan Bulek nggak laku. Mereka takut kalau Bulek main guna-guna," Ningrum berkata sembari tersenyum getir. Anita merasa iba dengan nasib ibu dari sahabatnya itu. Jika tidak berjualan bagiamana dia menyambung hidup? Semoga segera ada kabar baik dari Puspa.


***


Keesokan harinya, Satya sudah kembali bekerja. Ada banyak meeting yang tidak bisa dia tinggalkan. Memiliki jabatan sebagai pemilik dari perusahaan, tidak lantas membuatnya bisa seenak sendiri. Ada banyak tanggung jawab yang harus ia emban.


Pagi ini dengan di antar Joko Satya kembali masuk kantor seperti biasa. Namun, hal lain justru terjadi pada sopirnya itu. Entah karena kelelahan atau apa, Joko mengeluh sakit kepala sehingga dia tidak bisa berlama-lama menemani sang atasan di tempat kerja.


"La aku nggak enak sama pak Satya to, Bu." Joko berujar sambil terus memijat pelipisnya.


"Pak Joko kenapa?" Puspa yang baru keluar dari kamar bertanya.


"Ini to, Kepalanya sakit," jawab Marni.


"Lo ... sakit kok malah minum kopi to, Pak?" Puspa ikut duduk di sisi pria itu. "Nggak tahu tu, di suruh minum obat malah ngeyel minta kopi." Marni terus menggerutu.


Joko tidak menetap di rumah besar itu. Dia hanya datang di pagi hari dan kembali ke rumahnya saat Satya sudah tidak membutuhkan tenaganya lagi. Karena tempat tinggal Joko tidak terlalu jauh dari rumah Satya, pria itu memilih pulang di malam hari. Lumayan bisa kumpul dengan keluarga walau hanya di saat malam saja.


Kring!


kring!


Suara dering ponsel dari saku Joko mengejutkan Marni dan Puspa. "Nada deringe nyaring temen to, Pak. Sampai kaget aku," Saking terkejutnya Puspa sampai mengelus dada.


"Pak Joko tolong antarkan berkas saya di atas meja kerja! Map warna hitam. Saya akan kirim alamatnya sekarang," Suara Satya terdengar jelas dalam sambungan telpon. Pria itu langsung memerintah tanpa bertanya bagaimana dan sedang apa Joko sekarang?


"Baik, Tuan. Saya akan langsung berangkat," Joko beranjak sembari bertumpu pada sandaran kursi. Kepalanya terasa berputar-putar saat itu. Namun, dia harus tetap menjalankan perintah dari sang atasan.


"Bapak mau kemana to?" tanya Puspa.

__ADS_1


"Berkas Tuan Satya ketinggalan, jadi aku harus mengantarkannya,"


"Biar Puspa yang antar, Pak!" Puspa menawarkan diri.


"Tapi, Pus ..."


Tanpa mendengar ucapan Joko, Puspa malah menuntun pria itu untuk kembali duduk di kursi. "Di mana berkasnya? Biar aku yang antar. Apa pak Satya itu sudah pikun atau gimana? Perasaan sering sekali berkasnya ketinggalan," Puspa malah mengkritik sang majikan.


"Wes to Ojo ngedumel! Kalau mau nganter sebaiknya segera berangkat. Pasti Tuan Satya sudah menunggu," Marni berujar sembari menuju kamar kerja milik Satya.


"Warna opo pak berkase?" tanya Marni pada Joko. "Hitam, Bu." jawab pria itu dengan nada lemas khas orang sakit.


"Ini alamatnya," Joko menyerahkan ponsel miliknya pada Puspa. "Kamu yakin bisa, Pus?" tanya Joko memastikan.


"Ojo khawatir! Di tangan Puspa semua beres," ucap gadis itu menyombongkan diri.


"Iki, Cepat berangkat!" Marni menyodorkan map berwarna hitam sesuai arahan dari Joko pada Puspa.


"Sangunya mana, Bu?" Sebelum Pergi, Puspa menengadahkan tangan di hadapan Marni.


"Sangu opo to?"


"Ongkos taksi, Bu. Kan Aku kerjanya geratisan di sini, mosok yo di suruh nombok?"


"Dasar perhitungan!" Marni menyodorkan dua lembar uang kertas berwarna merah pada Puspa.


Gadis itu pun segera berjalan ke arah gerbang dan mencari taksi.


Sesampainya di depan hotel yang di maksud, Puspa berhenti di halaman bangunan megah tersebut. "Apa benar di sini tempatnya?" Puspa bergumam sembari mencocokkan nama hotel dengan alamat yang di berikan Joko padanya.


Puspa berinisiatif untuk bertanya pada security yang tengah berjaga di depan pintu masuk. "Pak, majikan saja sedang rapat di dalam dan saya mau antar ini, caranya gimana ya?" tanya Puspa semberi memperlihatkan berkas yang lumayan tebal di tangannya pada sang security.


"Masuk saja, Mbak! langsung tanya saja pada resepsionis," sang securiti memberi arahan.


"Resepsionis ki yang kayak di rumah sakit itu kan ya?" gumam Puspa.


"Iyo, Mbak. Bener," balas pak security. Ternyata pria itu masih mendengarkan Puspa.


"Terimaksih, yo, Pak."


"Sama-sama."


Pusat bergegas masuk ke dalam hotel, karena sang majikan pasti sudah menunggu.


di saat dia kebingungan, perempuan yang bekerja sebagai resepsionis menegurnya. " Ada yang bisa saya bantu, Mbak?" tanya wanita cantik berpakaian rapi itu.


"Saya mau ngantar berkas, Mbak. Tuan saya sedang rapat disini," jelas Puspa. "Atas nama siapa, Mbak?" tanya wanita itu lagi. "Tuan Satya ..." Puspa menghentikan ucapannya karena tidak mengetahui nama panjang Satya. "Waduh nama panjang Pak Satya sopo yo?" gumam gadis itu.


"Pokoknya Satya namanya, Mbak," ucap Puspa, membuat wanita di hadapannya berdecak heran. Bagaimana mungkin seorang asisten tidak tahu nama panjang majikannya.

__ADS_1


Setelah mendapat informasi dari sang resepsionis, Puspa langsung menuju ruangan yang di maksud. Sebuah restoran di dalam hotel. Bisa di bayangkan betapa mewahnya bangunan yang tengah di sambangi Puspa itu.


"Puspa!" langkah kaki Puspa terhenti di lobi hotel saat mendengar suara seseorang memanggil namanya.


__ADS_2