
Puspa berjalan mengikuti langkah Satya menuju sebuah hotel tempat dimana di laksanakannya pesta keberhasilan Rio dalam dunia bisnisnya.
Rio sudah berhasil menjadi pengusaha sukses di usianya yang masih terbilang muda. Dia sengaja mengadakan pesta sebagai apresiasi untuk dirinya sendiri.
Sesekali Satya melirik pada gadis bergaun Hitam di belakangnya. Ingin rasanya menarik tangan Puspa agar dia berjalan berdampingan dengannya. Namun, Satya merasa ragu. Walaupun status Puspa adalah pelayan di rumahnya, tapi gadis itu juga punya privasi yang harus dia hargai.
"Sudah seperti body guard aku ini," gumam Satya pelan.
Puspa melangkah ragu masuk dalam lingkup perkumpulan orang-orang berkelas dan berpendidikan yang jauh berbeda dengan pribadinya.
"Bro!" Rio terlihat melambaikan tangan saat melihat Satya.
Pria berjas abu itu segera menghampiri. Sudah lama dia menunggu kedatangan Satya.
"Lu nyasar apa gimana? Lama banget," ucap Rio tanpa menghiraukan Puspa.
Penampilan Puspa yang berbeda membuat pria itu tidak lagi mengenali gadis yang pernah dia temui di mall waktu itu.
"Maaf, jalanan macet," balas Satya datar.
"Lu datang sendiri?" tanya Rio.
"Nggak, aku datang bersama Puspa,"
"Puspa? Asisten lu itu, mana?" tanya Rio lagi membuat Satya merasa kesal pada sahabatnya itu.
"Hai, Mas. Apa kabar?" Puspa berinisiatif menyapa Rio lebih dulu karena sepertinya Satya tidak berniat memperkenalkan
dirinya.
"Kamu, Puspa?" Rio langsung menghampiri gadis yang berdiri tepat di belakang Satya.
"Gila ... Kamu cantik banget Puspa, nggak salah emang aku rekomendasikan kamu," ucap Rio tekagum-kagum dengan gadis di hadapannya.
"Maksud, Mas. Apa ya?" tanya Puspa. Dia merasa bingung, rekomendasi apa yang di maksud oleh Rio?
"Sudah ngobrolnya?" Satya berusaha menjauhkan Rio dari Puspa jangan sampai pelayannya itu terjerat oleh bujuk rayu pria berpredikat player itu.
" Pamela ada di sana pergilah biar aku temani pelayan cantikmu ini," bisik Rio di telinga Satya. Tujuan Satya datang kesana memang untuk menemui Pamela.
Satya masih belum bisa melupakan wanita yang sudah pernah mencampakkannya itu. Bukan tanpa sebab, Pamela sudah begitu dalam berada dalam hatinya. Entah cinta, atau rasa kagum atau sebuah ketergantungan.
Pamela adalah satu-satunya orang yang ada untuk Satya di saat hari-hari terburuk dalam hidupnya. Hal itu lah yang membuat Satya begitu bergantung padanya. Hidupnya Bahkan menjadi kacau setelah kepergian wanita itu.
__ADS_1
Sebelum Pamela pergi, Satya adalah pria ramah yang banyak bicara. Marni bahkan tak segan bercanda dengannya setiap hari. Bak ibu dengan anak laki-lakinya.
Seperti sihir kepergian Pamela merubah pria itu menjadi pria dingin yang sulit untuk di ajak berkomunikasi. Namun, akhir-akhir ini tanpa dia dan yang lain sadari sifat satya mulai kembali. Apa karena kehadiran Puspa sang gadis lugu dengan segala kekonyolannya, atau karena kembalinya Pamela? Entahlah.
Dengan perasaan ragu dan gugup, Satya menghampiri Pamela yang tengah asik mengobrol dengan beberapa teman wanitanya.
Wanita itu masih terlihat cantik seperti terakhir kali Satya melihatnya. Rambut panjangnya di biarkan terurai menutupi sebagian bahu rampingnya.
Pamela adalah sosok wanita dambaan setiap pria. Termasuk Satya.
"Bisa kita bicara?" Satya memotong perbincangan antar wanita itu, tapi Pamela pun tidak menolaknya. Keduanya berjalan menjauh dan mencari tempat duduk lain yang masih kosong.
Puspa hanya terdiam di tempatnya berdiri menyaksikan sang majikan menghampiri wanita pujaan hatinya. Ada gelenyer aneh di hatinya melihat adegan itu. Sebagai wanita yang pernah di sakiti dia tidak terima dengan yang di lakukan oleh Satya.
"Kenapa dia tetap mengemis cinta pada wanita yang sudah meninggalkannya, sungguh menyedihkan," gumam Puspa yang tanpa Puspa sadari di dengar oleh Rio.
"Kamu benar, aku juga berpikir seperti itu," Rio membalas ucapan Puspa tanpa di minta.
"Apa, Mas?" Puspa gelagapan, dia baru menyadari ada Rio di sampingnya.
"Nggak papa," Rio mengerti kalau Puspa tengah malu dengan ucapannya.
"Kamu mau tetap di sini apa mau duduk di sana?" Rio menunjuk salah satu kursi yang sudah di sediakan untuk para tamu undangan.
Anehnya Rio tidak merasa risih dengan cara bicara Puspa, menurutnya itu menggemaskan.
Rio membimbing Puspa untuk duduk di sebuah kursi yang masih terlihat kosong.
"Duduklah ... Aku harus pergi sebentar, kamu nggak papa kan di sini?" Rio terlihat menghawatirkan gadis itu, tapai dia juga tidak bisa terus menemaninya.
"Iya nggak papa, Mas."
Pandangan Puspa tak bisa lepas dari Satya. yang kini tengah duduk berhadapan dengan Pamela dalam satu meja. Entah apa yang tengah mereka bicarakan, tapi dari raut wajah pria itu, Puspa bisa melihat rona kebahagiaan.
"Tunggu wae, nanti kalau di tinggal lagi pasti nangis darah," ucap Puspa kesal. bukan hanya karena Satya menemui Pamela, tapi pria itu seenaknya meninggalkan dia sendiri di sana.
"Kalau begini apa gunanya aku ikut? tiwas dandan heboh koyok artis di anggurin koyok ngene," Puspa terus menggerutu sembari meminum minuman yang sudah di suguhkan oleh pelayan di atas meja.
"Puspa? kamu benar Puspa kan?" seorang wanita menghampiri gadis yang tengah menggerutu.
Puspa menatap tak percaya pada wanita yang tak lain adalah Yasmin.
"Benar, kamu si biduan dangdut. Ngapain ada disini? ini bukan acara hajatan kamu salah masuk atau gimana?" Nada bicara Yasmin mampu menyulut emosi wanita di hadapannya. Memang apa yang salah dengan biduan dangdut? Bukankah dangdut adalah musik kebanggaan Indonesia?
__ADS_1
"Siapa dia Yas?" tanya wanita di sebelah Yasmin.
"Dia wanita yang bermimpi menjadi istrinya Fadli!" jawab Yasmin dengan lantang.
"Wah sainganmu dong?" celetuk wanita yang adalah teman dekatnya Yasmin.
"Gila lu, jelas nggak level lah aku sama dia. Asal kamu tahu ya, gadis ini tu biduan dangdut di kampungnya!"
Yasmin menunjuk Puspa tepat di wajahnya. Namun, Puspa hanya diam dan tersenyum sinis. Walaupun hatinya terbakar, dia harus bisa mengendalikan diri. Meladeni Yasmin hanya akan mempermalukan dirinya sendiri.
Puspa lebih fokus ke sekeliling yasmin, jika wanita itu hadir di sana apa mungkin Fadli juga hadir?
'Bisa gawat kalau Fadli ada di sini juga' batin Puspa. Melihat Pamela yang adalah mantannya Satya saja dia geram apalagi melihat Fadli mantan kekasihnya sendiri.
Puspa beralih menatap ke arah Satya dan Pamela, mereka nampak masih asyik bicara. Kenapa Satya bisa lupa kalau dia ada di sana? Apa Pamela begitu berarti sampai dia melupakan segalanya?
"Nyari siapa kamu?" Yasmin mendorong tubuh Puspa dengan jari telunjuknya.
"Aku sedang tidak mau berdebat ya, Mbak Yasmin! Jadi pergilah!" ucap Puspa sembari menekankan kata mbak untuk mengejek wanita itu.
Puspa Kembali duduk dan mengalihkan pandangannya dari Yasmin, membuat wanita itu semakin tersulut emosi.
"Dasar gadis kampung tidak tahu diri!"
"Sudah Yas jangan bikin malu!" Gisel temanya yasmin menarik tangan wanita itu untuk menjauh dari sana.
"Apa sih sel? Aku belum selesai dengan gadis kampung itu!"
Yasmin terus menggerutu sambil mengikuti langkah Gisel menuju meja lain yang terletak agak jauh dari meja Puspa.
"Duduk! kalau kamu mau memberi pelajaran padanya kamu harus gunakan cara yang elegan, jangan norak!" Gisel memberi ide licik. Wanita itu sama persis dengan Yasmin. Sama-sama licik. Wajar jika mereka cocok menjadi teman.
"Kamu benar juga, Sel!" Yasmin mulai memikirkan cara untuk mempermalukan Puspa.
Dia masih heran, bagaimana gadis kampung seperti puspa bisa ada di sana? Apa itu ada hubungannya dengan keberadaan Puspa di hotel saat itu?
Yasmin mencoba menerka. Puspa hanyalah gadis biasa yang berasal dari kampung. Bagiamana bisa dia hadir di pesta orang-orang besar di sana. Dalam dugaan Yasmin, saat kini Puspa tengah menjadi simpanan pengusaha kaya sehingga dia bisa berdandan dan berpakaian mewah seperti sekarang.
"Pasti gadis itu menjajakan diri di kota," gumam Yasmin.
"Apa maksudmu?" tanya Gisel tak mengerti.
"Puspa adalah biduan dangdut di kampungnya, dan setelah Fadli mencampakkannya dia pasti tidak laku lagi hingga pergi ke kota untuk menjual diri," Yasmin berkata dengan begitu yakin.
__ADS_1
"Hei! Aku punya ide!" Gisel berbisik di telinga Yasmin dan Yasmin seketika menyeringai. Entah apa yang tengah dua wanita itu rencanakan.