
Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya Puspa sampai di kampung halaman. Mobil mewah milik Satya terparkir cantik di pekarangan rumah sederhana itu.
"Bulek! Puspa sudah datang!" Anita yang menunggu kedatangan Puspa menyambut gadis itu dengan gembira sekaligus haru. Sudah lumayan lama semenjak mereka berpisah.
Puspa keluar dari mobil dengan menenteng tas besar di tangannya.
"Biar Bapak yang bawa, Pus!" Joko mengambil alih tas berat itu dari tangan Puspa.
"Terimakasih, Pak."
Setelah Puspa menemui Anita dia bergegas masuk rumah untuk mencari ibunya.
Ningrum terbaring lemah di atas tempat tidur dengan balutan perban di sebelah kakinya.
"Ibu ...!" Puspa tak kuasa menahan haru. Dia sangat merindukan wanita itu. Dan mereka harus berjumpa di saat kondisi Ningrum sedang tidak baik-baik saja.
"Ibu kok nggak hati-hati, to?" Puspa mengomeli ibunya karena khawatir.
"Kamu datang sama siapa?" tanya Ningrum.
"Pak Joko, Bu. Dia di luar," ucap Puspa.
"Bikinkan dia kopi, Pus. Di dapur juga ada biskuit kamu suguhkan ke dia!"
Andai kaki Ningrum tidak sakit pasti dia sudah dengan cepat Malayani tamu dari kota itu.
"Biar aku saja, Pus. Kamu temani Bapak itu dulu kasihan dia sendirian," Anita pun menuju dapur untuk membuat kopi.
"Makasih yo, Nit,"
Joko duduk di ruang depan sembari terus melihat ke sekeliling. Rumah ibunya Puspa sangat sederhana, sebuah rumah berdindingkan tembok usang dengan lantai kasar tanpa lapisan keramik.
"Maaf Yo, Pak. rumahnya jelek," ucap Puspa sembari duduk bersebrangan dengan Joko.
"Nggak Popo. Malah bagus rumahmu ini dari pada rumah Bapak." sahut Joko.
"Opo Iyo? Gaji Bapak kan gede kok nggak di bangun to, Pak?"
Ucapan Puspa tentang gaji mengingatkan Joko pada titipan uang dari Satya.
Pria itu pun menuju mobil untuk mengambilnya.
"Ini dari, Pak Satya. Katanya gajimu," Joko menyerahkan tumpukan uang lembaran ratusan ribu pada Puspa.
"Alhamdulillah tak terima ya, Pak."
Puspa memang sangat butuh uang itu untuk berobat ibunya. Apalagi dia tidak akan kembali lagi ke kota untuk bekerja, jadi dia harus punya tabungan untuk sehari-hari sembari mencari pekerjaan baru.
Kepulangan Puspa membuat heboh warga desa, pasalnya Puspa pulang seorang diri tanpa Raka. Sepengetahuan mereka gadis itu akan menikah dengan Raka, tapi kenapa malah pulang dengan pria paruh baya.
Dugaan aneh mulai muncul tentang Puspa yang menjadi istri kedua dan lainnya.
Lilik tetangga terdekat Ningrum begitu penasaran, dia pun langsung menyambangi rumah tetangganya itu.
__ADS_1
"Assalamualaikum,"
"Wa'alaikumsalam," Puspa dan Joko menyahut secara bersamaan.
"Masuk, Bude," Puspa menyambut tetangganya dengan ramah.
Setelah memperkenalkan diri dengan Joko, wanita itu langsung masuk ke kamar Ningrum. Puspa tahu betul jika Likik tengah penasaran dengan dirinya dan Joko.
"Rum, itu siapa? Apa suaminya Puspa?" tanya Lilik tanpa berbasa-basi.
"Sembarangan! Dia itu sopir majikannya Puspa di kota," Selama ini Puspa sudah Benyak bercerita tentang orang-orang yang tinggal bersamanya di rumah Satya, jadi Ningrum sudah mengenal mereka walaupun belum pernah bertemu langsung.
"Majikannya Puspa baik Yo, Rum. Pakai di antar segala,"
"Iyo, aku juga bersyukur karena Puspa bertemu dengan orang-orang baik di kota,"
Anita menyuguhkan kopi dan cemilan untuk Joko. Sementara itu, Lilik masih berada di kamar Ningrum untuk mencari tahu lebih banyak informasi tentang Puspa.
Suasana yang senyap tiba-tiba berubah menjadi gaduh saat Entin datang sambil mengamuk.
"Puspa!" Entin berteriak dari luar rumah.
"Ada apa to Bulek? Kenapa berteriak seperti itu?" Puspa keluar di iringi Anita.
"Dasar nggak tahu di untung kamu! Setelah menyusahkan anakku sekarang kamu enak-enakkan dengan lelaki lain!"
Suara Entin terdengar sampai kamar Ningrum. "Mbak, bantu aku berdiri," pinta Ningrum pada Lilik.
"Nggak bisa, aku nggak terima anakku di maki-maki, Mbak."
Dengan terpaksa Lilik membantu Ningrum berdiri dan memapahnya keluar kamar.
"Maaf Yo, Pak. Pak Joko jadi harus menyaksikan keributan di sini," Ningrum merasa tidak enak dengan tamunya itu.
"Nggak Popo, Saya paham," balas Joko sambil tersenyum.
"Maksud, Bulek. Opo to?" Puspa mulai terpancing emosi, tubuhnya saja masih lelah setelah menempuh perjalanan jauh, kini di tambah dengan omongan tidak enak dari mulut Entin membuatnya sakit kepala.
"Jangan pura-pura kamu!"
Mendengar keributan di rumah Ningrum para tetangga dekat mulai berdatangan. Mereka yang awalnya penasaran dengan pria yang datang bersama Puspa kini punya alasan untuk mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.
"Ada apa to, Entin?" tanya seorang warga.
"Asal kalian tahu ya, anaknya Ningrum ini wanita tidak bener. Sudah untung Raka bersedia untuk menikahinya setelah di buang oleh Fadli, tapi dia malah bertingkah," ucap Entin dengan ketus.
"Entin! Tutup mulutmu. Puspa tidak seperti itu!" Ningrum tidak terima, Entin terus menghina Puspa.
"Sebaiknya kita masuk, Bulek. Dan bicarakan ini secara baik-baik. Nggak enak to jadi tontonan," Anita berusaha meredam emosi wanita di hadapannya.
"Jangan ikut campur, Nit. Kamu itu tidak tahu apa-apa!"
Yang di ucapkan Entin benar, Anita bahkan tidak mengerti apa yang wanita itu bicarakan.
__ADS_1
"Terus maunya Bulek, opo?" Puspa menantang Entin dengan tatapan nyalang.
Jadi selama ini begini yang ibunya hadapi selama dia tidak ada disana. Pantas saja jika wanita itu terus menangis saat menceritakan tentang perubahan sikap Entin padanya di telepon.
"Kamu harus kembalikan uang Raka yang kamu curi!"
"Uang opo to, Bulek?"
Entah berapa banyak kebohongan yang di ucapkan Raka pada ibunya, yang pasti pria itu sudah mengkambing hitamkan dirinya di hadapan sang ibu.
Mendengar pertengkaran yang tak kunjung selesai, Joko pun keluar dari rumah dan ikut bicara.
"Maaf Ibu-ibu, saya bukannya mau ikut campur, tapi alangkah baiknya jika di bicarakan dengan baik-baik!" ucap Joko berusaha melerai.
"Jadi ini lelaki barumu, Pus. Kamu buta apa gimana? Meninggalkan anakku yang ganteng demi pria tua ini?" Entin semakin menjadi saat melihat Joko.
'Lo kok aku malah di bawa-bawa. Apes tenan nasibku,' batin Joko.
"Wes, Ibu-Ibu Bubar! Jangan dengarkan omongan ngawur Bulek Entin. Semua itu nggak bener!" Puspa berbalik badan dan menggandeng lengan ibunya. Namun, Entin tidak terima. Di sini dia yang merasa di rugikan, karena sampai harus menjual tanah untuk modal usaha Raka.
Prok!
Prok!
Prok!
Suara tepuk tangan Entin mengalihkan pandangan semua orang.
"Bagus! Inilah sifat asli anaknya Ningrum Ibu-Ibu. Kalian harus berhati-hati sekarang! Jangan sampai suami atau anak lelaki kalian terjerat godaannya,"
"Bulek!" Puspa sudah tidak bisa menahan emosinya lagi. Gadis itu berjalan mendekati wanita yang batal menjadi ibu mertuanya.
"Asal Bulek tahu, anakmu lah yang bejad! Aku sudah berusaha menahannya, karena tidak ingin Bulek malu, tapi sampean sudah keterlaluan!"
Semua orang yang hadir termasuk Ningrum tercengang melihat tindakan Puspa.
"Raka tidak membawaku ke kota untuk mencarikan aku pekerjaan yang benar. Dia berniat menjadikanku wanita malam, bahkan aku sudah di jual sama dia!" Akhirnya rahasia yang selama ini di tutupi oleh Puspa keluar dari mulutnya.
"Ngawur! anakku tidak seperti itu!" balas Entin tak terima.
"Bulek mau tahu kenapa Raka perlu uang bnyak di kota? Itu karena dia harus mengganti uang yang sudah di berikan oleh muci**ri sebagai harga untuk tubuhku,"
Bukan hanya Entin yang syok mendengar penuturan Puspa, Ningrum pun merasakan hal yang sama.
"I-itu bohong! Buktinya kamu ada disini," Entin masih terus berusaha menyanggah ucapan Puspa.
"Syukurlah, aku bisa kabur. Kalau tidak, aku pasti sudah menjadi wanita malam sekarang karena ulah Raka,"
"Kamu ngomong apa to, Puspa?" Ningrum merasakan sesak dalam dada mengetahui nasib buruk yang sudah menimpa anak gadisnya.
"Kalau Bulek tidak percaya, kenapa tidak membuktikannya sendiri ke kota?" Nada bicara Puspa mulai melemah. Gadis itu pun berjalan masuk rumah untuk mengambil sesuatu.
"Tunggu di sini!" ucapnya pada Entin sebelum pergi.
__ADS_1