
Dengan penuh wibawa Satya datang dan menggandeng tangan Puspa di hadapan semua orang dan mengakui jika gadis bergaun abu itu adalah calon istrinya.
"Dia calon istri saya,"
Bukan hanya Fadli yang syok mendengarnya, Puspa pun tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.
"Jangan menatapku seperti itu, Sayang! Aku jadi semakin jatuh cinta," Satya mengeratkan genggaman tangannya.
Seketika rona pipi Puspa bersemu malu. Satya pasti tengah berbohong untuk menyelamatkan dia dari hinaan Yasmin, begitulah yang ada dalam pikiran Puspa.
Fadli pun tak bisa menyembunyikan cemburu dalam hati, walaupun dia juga meragukan ucapan pria di hadapannya.
"Baiklah, kita harus pulang. Kamu tidak boleh berada di luar terlalu malam kita juga harus menyiapkan pernikahan, jadi aku tidak mau kalau kamu sakit,"
Satya menggandeng mesra Puspa Membuat gadis itu salah tingkah. Ingin sekali menyingkirkan lengan Satya yang kini melingkar di pinggang, tapi dia harus menahannya kalau tidak Fadli akan tahu jika semua hanya sandiwara.
"Lepas, Pak!" Puspa dengan cepat menjauh dari sisi sang majikan saat sudah sampai di luar hotel.
"Bapak, kenapa nggak jadi artis sinetron saja? acting bapak luar biasa," ucap Puspa sembari memberikan dua jempol.
Brugh!
Tubuh Puspa jatuh tepat di pelukan Satya saat pria itu dengan tiba-tiba menarik lengannya.
"Apa aku terlihat sedang beracting?"
Tatapan tajam pria itu sanggup membuat irama jantung Puspa berdisko ria.
"M-maksud, Bapak apa?" gadis yang kini berada sangat dekat dengan pria yang sudah berulang kali menyelamatkan dia dalam hidupnya itu gelagapan karena ulah sang majikan.
"Ayo kita menikah!"
"Apa?" karena terkejut Puspa sampai mendorong kasar tubuh Satya hingga pria itu memundurkan langkah. Suaranya sangat lantang memekakkan telinga.
"Kamu seperti kucing yang ketakutan sangat lucu. Ha ha ha ...!" Bisa-bisanya pria itu tertawa setelah membuat Puspa kepanasan.
"Cepat masuk! Atau aku akan meninggalkanmu di sini."
Puspa pun langsung mengikuti sang majikan masuk ke mobil.
"Jangan seperti itu lagi, Pak! Itu tidak lucu," Puspa menggerutu di dalam mobil.
"Aku serius,"
"Pak Satya!" teriak Puspa kesal.
"Pelankan suaramu! Gendang telingaku bisa pecah. Kamu mau membuatku tuli?"
"Habisnya, Bapak jahil banget toh, tapi terimakasih karena Pak Satya sudah menyelamatkanku dari rasa malu,"
Mobil pun melaju kencang menerobos dinginnya angin malam. Sementara itu, di seberang sana ada yang tengah kepanasan. Fadli, bahkan tidak lagi menyapa para tamu undangan. Pria itu lama berada di toilet untuk meluapkan amarah karena terbakar api cemburu.
__ADS_1
"Kamu hanya milikku, Puspa!" geramnya. Sampai saat ini Fadli terus menyesali perbuatannya pada Puspa malam itu, seandainya dia bisa mengendalikan diri pasti sekarang mereka masih bersama.
***
Di kampung tengah terjadi kehebohan. Entin mendatangi rumah Ningrum dan menangis histeris di dalam sana.
"Ada apa, Entin?" walupun hubungan dua wanita itu memburuk akhir-akhir ini, tapi Ningrum tidak bisa mengabaikan perempuan yang sudah bertahun-tahun menjadi sahabatnya.
"Ra-raka ... Rum," Dia berucap dalam isakkan.
"Raka kenapa?"
"Benar yang di katakan Puspa, Rum. Hiks hiks ..."
Entin sudah mengirim semua uang hasil menjual sawah untuk Raka. Namun, anak laki-lakinya itu sama sekali tidak memberi kabar membuatnya khawatir sampai tidak enak makan dan tidak bisa tidur nyeyak.
Berbekal secarik kertas yang dia dapat dari Puspa kala itu, Entin nekad berangkat ke kota karena khawatir sesuatu yang buruk tengah menimpa putra semata wayangnya.
Setelah perjalanan yang lumayan memakan waktu, Entin pun sampai di alamat yang di tuju. Sebuah rumah kontrakan minimalis berchat biru yang berada di gang sempit.
"Jadi selama ini kamu tinggal di sini, Ka," lirih Entin. Hatinya merasa pilu mengetahui anaknya tinggal di sebuah rumah kecil, sangat berbeda dengan yang di ceritakan oleh raka selama ini.
Entin mengetuk pintu beberapa kali, tapi tidak ada sahutan dari dalam rumah tersebut.
"Nyari siapa, Bu?" seorang pria muda keluar dari rumah sebelah.
Entin pun berjalan menghampiri pria itu.
"Iya, Bu,"
"Apa kamu tahu dia dimana?"
"Raka kalau jam segini kerja, Bu. Ibu siapa?"
"Saya ibunya Raka,"
Awalanya pria bernama Bambang itu ragu memberikan alamat tempat kerja Raka pada ibunya, tapi Entin terus memaksa.
Entin tidak bisa masuk rumah Raka jadi dia membawa tas berisi pakaian miliknya menuju alamat yang di berikan Bambang.
"Raka kerja opo to? Ini kan sudah hampir malam kok belum pulang?" gumam wanita itu yang kini tengah naik angkutan umum menuju tempat kerja anaknya.
Entin semakin bingung saat sampai di tempat yang di tuju. Sebuah bangunan dengan lampu gemerlapan di setiap sudut sudah jelas itu bukan bangunan pabrik atau semacamnya. Wanita itu pun melangkah sembari terus menenteng tasnya.
"Ibu mau kemana?" Baru akan melangkah masuk dua pria berbadan besar mencegah Entin.
"Aku mau cari Raka," ucap Entin.
Kedua manusia berotot itu pun saling beradu pandang. Kenapa ibu-ibu mencari Raka. Apa pria itu kehabisan stok sehingga membawa wanita berumur? Keduanya pun tertawa dengan nyaring membuat Entin kebingungan.
"Ibu pulang saja sana! di dalam itu masih banyak stok wanita cantik yang kulitnya masih kencang dan mulus, jadi wanita tua sepertimu tidak di butuhkan," keduanya kembali tertawa setelah mengutarakan kata-kata tidak sopan pada wanita kampung itu.
__ADS_1
"Maksudnya apa to?"
Tanpa sengaja pandangan Entin tertuju pada pria yang tengah duduk di sofa di apit dua wanita berpakaian minim. Dari gelagatnya terlihat kalau pria itu tengah mabuk berat.
"Raka?" lirih Entin . Tanpa pikir panjang Entin langsung menerobos masuk untuk menemui anak laki-lakinya.
Dua bodyguard yang asyik tertawa tidak menyadari apa yang Entin lakukan.
"Raka!"
Suara Entin menggelegar di antara dentuman musik yang begitu nyaring. Dengan sedikit kesadaran yang tersisa Raka mengenali ibunya, tapi dia tidak menggubrisnya karena dia menduga tengah berhalusinasi sekarang.
"Byur!" Entin menyiriam wajah anaknya dengan segelas air di meja. Entah itu air apa dia tidak perduli.
Raka beranjak karena tak terima dengan perlakuan wanita di hadapannya.
"Kurang ajar!" kata umpatan seketika terlontar dari mulut pria itu tanpa tahu dia tengah menghardik ibu kandungnya.
"Kamu bentak ibu!"
"I-Ibu?"
Raka mengelap wajah yang basah dan berusaha melihat siapa wanita di hadapannya. Barulah dia menyadari jika benar ibunya lah yang tengah berdiri dengan tatapan nanar.
"Ibu, kenapa ada disini?"
"Jadi bener omongane Puspa? Kamu keterlauan!" Entin bergegas keluar dari tempat yang membuatnya merasa tidak nyaman. Banyak pasangan pria dan wanita yang dengan terang-terangan bercumbu mesra tanpa rasa malu. Sebagai wanita yang hidup di desa Entin tidak sanggup menyaksikan pemandangan yang menurutnya sangat memalukan itu.
Dengan deraian air mata Entin kembali ke kampung tanpa menemui putra semata wayangnya, dia takut jika akan mengutuknya dalam kemarahan jika terus berada di dekatnya.
"Wes to, Entin. Sing sabar," Ningrum berusaha menenangkan sahabatnya yang masih sesenggukan.
"Maaf Yo, Rum. Aku sudah berkata buruk sama kamu dan Puspa,"
"Nggak papa . kamu begitu karena nggak tahu" Ningrum memeluk Entin dengan erat dia bisa merasakan kesedihan yang tengah di rasakan Entin sekarang.
"Maafkan kelakuan anakku yang kurang ajar itu," sambungnya lagi.
"Iyo."
Drett!
Drett!
Getar ponsel dalam saku Entin membuatnya melepas pelukan Ningrum.
"Halo sopo Iki?" Entin bertanya dalam sambungan telpon karena nomer itu tidak tersimpan di handphone miliknya.
Ningrum memperhatikan Entin dengan seksama dia ikut penasaran siapa yang menelpon.
"Opo?" Raut wajah Entin berubah pucat membuat Ningrum khawatir.
__ADS_1
"Ada apa, Entin?"