
"Lalu?"
Jawaban yang tidak di inginkan keluar dari mulut tuannya. Apa yang sudah di pikirkan oleh Marni? sudah jelas Satya tidak lagi perduli pada Puspa.
"Nggak papa, Tuan. Saya cuma memberi tahu saja," Marni pun meninggalkan Satya yang pandangannya terus tertuju pada laptop di atas meja.
Atas saran dari Anita, Marni memberanikan diri menyampaikan kabar pernikahan Puspa pada Satya dan jawaban singkat itu membuktikan jika dugaannya selama ini salah. Satya sama sekali tidak menaruh rasa pada gadis kampung itu.
"Sudah, terima saja nasibmu, Pus. Semoga saja Fadli bisa menjadi suami yang baik untukmu," Marni bergumam.
***
"Dek ... mau kemana?" Tejo tidak membuang kesempatan saat melihat Puspa berjalan kaki seorang diri.
"Opo to, Jo?" Puspa menyahut malas.
"Kamu kok jalan kaki, apa nggak Pegel?" Tejo turun dari motor dan menuntutnya karena Puspa tidak mau berhenti.
"Aku mau ke warung Bulek Entin, jadi nggak perlu motor. "
Capek juga mengabaikan pria cungkring itu, tidak apa lah meladeni dia sekali-kali. setidaknya Tejo itu setia tidak seperti yang lain.
"Ayok tak bonceng!"
"Rumah Bulek Entin wes kelihatan Jo. Pulang sana!"
"Tak tungguin sampai kamu pulang yo, Dek? Nanti tak bonceng pas pulang, kan lumayan to irit tenaga." Tejo terus mendorong motornya sembari berjalan di sisi Puspa sampai di depan warung Entin.
"Lo ... kenapa, Jo? kehabisan bensin? Opo mogok?" Entin yang tengah berada di warung keluar begitu melihat Tejo dan Puspa datang bersama.
"Nggak Bulek. Bensin full, mesin juga baru aku ganti jadi semua aman terkendali,"
"La terus kenapa di tuntun?"
"Nemenin dek Puspa." Pria itu cengengesan.
"Kamu jauhi Puspa, Jo! Dia itu sudah punya calon suami lho. Kamu mau di marahi Pak Lurah?"
"Bulek ini opo to? Biarkan saja!"
__ADS_1
Mendengar Puspa membela, wajah Tejo berubah sumringah seperti mendapatkan undian.
"Puspa saja nggak keberatan, kok Bulek yang sewot!" Tejo jumawa.
Tin!
Tin!
Klakson sepeda motor membuyarkan obrolan mereka. Fadli tersenyum simpul dari atas motornya. Calon suami Puspa itu pun turun dan menghampiri.
"Lho ... calon suaminya datang, Jo. Kamu minggir sana!" Entin memberi isyarat supaya Tejo bergeser dari posisinya berdiri. Wanita itu pun masuk ke dalam warung memberi ruang agar Puspa bisa bicara dengan calon suaminya.
"Kamu di sini, Sayang?" Fadli berdiri tepat di hadapan puspa.
"Sayang, mbelgedes!" Tejo bergumam kesal.
Pria cungkring itu pun duduk di bangku warung Entin menyahut sebungkus kerupuk sebagai pelampiasan.
"Ada apa?"
"Kenapa tidak mengangkat teleponku?"
"Aku tidak membawa HP," balas Puspa singkat tanpa embel-embel.
"Fad ... aku kan sudah bilang kamu saja yang pilih!"
"Ini bukan soal pilihan, Puspa. Kita harus mengepaskan ukuran dan lain-lainnya. Kamu juga harus nyaman memakai gaun itu nanti."
Dari awal Puspa sudah tidak berminat dengan pesta pernikahan yang akan di gelar meriah. Namun, Fadli dan keluarga terus memaksa. Sementara itu, Fadli pun sudah mengalah dengan hanya menyewa perias pengantin yang ada di sekitaran desa itu. Akan tetapi Puspa masih kekeh menolak menemani Fadli pergi ke sana."
Fadli menarik lengan Puspa dengan paksa. Menuntun gadis itu sampai di sisi motor. Karena Puspa tidak akan pernah setuju kalau tidak di paksa.
"Kamu apa-apaan sih, Fad? Aku ini mau belanja. Ibu sudah menunggu di rumah!"
"Diamlah ... atau kita terlambat!" Fadli memaksa Puspa naik ke boncengan motor dan membawanya pergi.
"Nggak tahu adab to, Bulek si Fadli itu!" Tejo menggebrak meja saking kesalnya. Apalagi yang bisa dia lakukan? Melawan, dia sudah pasti tidak berani.
"Kamu itu yang nggak punya adab! Menggebrak meja seenaknya. Bisa rusak mejaku nanti!" Entin emosi.
__ADS_1
"Mending ojo ganggu mereka lagi, Jo. Jauhi Puspa. Kelihatannya si Fadli itu cinta mati sama Puspa. Bisa-bisa di pecat jadi warga Desa Sumber Sari kamu nanti!"
Tejo menatap tajam ke arah Entin. Jangan sampai ucapan Entin benar terjadi. Dia bahkan sudah tidak punya orang tua. Harus kemana kalau di usir dari kampung halaman?
Disepanjang jalan Puspa hanya diam. Melihat ke arah deretan rumah warga yang mereka lalui. Semuanya terlihat hampa tanpa nyawa.
Motor Fadli tepat berhenti di depan sebuah rumah dengan spanduk besar di depannya. Raya Wedding menerima rias pengantin dan lain sebagainya.
Perlahan Puspa turun dari motor mengikuti langkah Fadli yang sudah lebih dulu berjalan di depan.
"Puspa!" Seorang wanita muda memekik dari dalam rumah. Dia Raya, pemilik tempat itu.
Profesi Puspa yang seorang biduan membuatnya banyak mengenal para pekerja yang berhubungan dengan rias merias pengantin, termasuk Raya.
"Apa kabar?" Puspa memaksakan senyum. Dia cukup mengenal Raya tapi tidak begitu dekat.
"Baik, masuk yuk! Mari, Mas Fadli!"
Sepasang calon mempelai pun langsung di arahkan pada ruangan tempat gaun pengantin di simpan dengan rapi.
"Kita sudah lama nggak ketemu ya, Pus. Tahu-tahu sudah mau nikah saja kamu!" Raya menunjukkan koleksi beberapa gaun miliknya.
"Kamu benar!" Puspa membalas singkat ucapan raya.
Pandangan mata Puspa memindai beberapa gaun yang menurutnya kurang pas dengan selera. Tatapan terhenti pada sebuah dress hitam yang terpajang di sudut ruangan. Entah kenapa gaun itu mengingatkan kenangan saat bersama Satya. Gaun dengan warna dan model yang sama. Tanpa dia sadari matanya berubah merah dan berair.
Puspa menghapus cepat kedua mata, jangan sampai di ketahui oleh Fadli maupun raya. Bisa-bisa mereka salah mengira.
Sampai di rumah pun Puspa masih teringat dengan gaun hitam bermanik. Apa ini sebuah takdir tidak bisa bersama dengan seorang yang dia cinta? Di saat mengharapkan Fadli hubungan mereka menjadi rumit dan sekarang di saat Fadli di sisi, hati berharap pada pria lain.
"Puspa ... kamu bahagia to?" Ningrum merasakan perubahan pada diri putrinya. Kalau di teruskan bukankah dia hancur sebelum terkena sebuah bencana? Untuk menghindari bahaya yang belum pasti kebenarannya dia telah membuat Puspa masuk dalam duka yang nyata.
"Aku bahagia asal Ibu juga bahagia." Sebuah jawaban yang menyayat hati.
Sebagai seorang ibu, Ningrum hanya ingin putrinya menjalani hidup dengan lebih baik. Bukan hanya persoalan omongan dukun yang tidak seratus persen dia percaya, Fadli adalah pria paling baik di kampung tempat mereka tinggal, derajat Puspa akan terangkat jika menjadi istrinya.
"Apa Ibu terlalu memaksa? Ini semua untuk kebaikanmu, Puspa." Air bening mulai mengalir dari pelupuk mata.
"Lo ... kok nangis to, Bu?" Puspa menghapus pelan pipi basah ibunya.
__ADS_1
"Seandainya bapakmu masih hidup, dia pasti memarahi Ibu sekarang."
"Jangan berpikir seperti itu, lagipula semua sudah terlanjur tidak mungkin membatalkan pernikahan ini. Kasihan keluarganya Fadli mereka akan dapat malu."