PELET SANG BIDUAN

PELET SANG BIDUAN
Bab 15. Di Usir Dari Kampung.


__ADS_3

"Lepas, Bu. Puspa tidak akan kemana-mana." Raka mengambil alih tangan Puspa dari para ibu itu. "Jangan menghalangi, Mas. Wanita ini harus di arak keliling kampung biar jadi pelajaran untuk para anak gadis di kampung ini."


"Saya tidak terima jika calon istri saya kalian perlakukan seperti ini," tegas Raka sembari terus menggenggam tangan Puspa.


"Apa maksudmu? Kamu tahu kan dia ini wanita seperti apa?" seorang wanita berujar sembari memandang rendah pada Puspa.


"Puspa, Wanita terbaik yang pernah saya temui di dunia ini, ada yang salah dengan itu?"


Para warga mulai berbisik, sebagian dari mereka belum mengetahui siapa pemuda yang tengah membela Puspa itu.


"Kamu siapa? Jangan ikut campur urusan desa kami!"


"Dia anakku, kalian tidak mengenalnya?" Ntin berdiri di hadapan Raka dan Puspa, seolah menjadi tameng untuk keduanya.


"Anaknya Ntin?" seroang ibu bertanya. Wajar jika mereka tidak tahu karena sebagian besar warga yang hadir adalah warga yang tempat tinggalnya jauh dari rumah Ningrum.


Desa sumber sari merupakan dusun dengan jumlah warga paling banyak dalam kabupaten di sana. Ada sepuluh RT dalam satu desa itu. Jadi wajar jika mereka tidak mengenali Raka.


Berbeda dengan Puspa, profesinya sebagai biduan dangdut membuatnya di kenali oleh banyak orang, bukan hanya warga desa sumber sari warga desa-desa lainnya pun tidak asing dengan nama Puspa Maharani.


"Ada apa ini?" Seorang pria berkaca mata menerobos kerumunan.


"Pak RT kemana saja to, kok baru datang? Mereka mau mengarak Puspa, Pak." Ningrum mengadu sembari menampakkan wajah melas.


"Lo ... Kalian ini apa-apaan to? Kok mau main hakim sendiri," Pak RT berujar sembari menatap tajam ke arah warga.


"Habisnya pak RT tidak bertindak jadi biar kami saja yang menghukumnya," pria berkumis angkat bicara.


"Sudah sekarang kalian bubar! Saya akan mengurus masalah ini,"


"Bener lo Pak. Bagaimanapun kami tidak mau perempuan itu tinggal di desa ini lagi,"


"Iya Saya mengerti."


Syukurlah pak RT datang tepat waktu, kalau tidak entah sampai kapan mereka akan terus berada di sana.


"Bagaimana sekarang, Puspa? Saya tidak bisa terus mengendalikan warga," ucap pak RT sembari menyesap kopi buatan Ningrum. Saat ini mereka tengah bicara di ruang depan dalam rumah Ningrum.


"Saya akan mengabulkan permintaan mereka, Pak, " jawab Puspa. Tidak ada lagi alasan untuknya tetap tinggal di desa itu, harapan hidup bahagian bersama Fadli, semua sudah sirna. Tetap tinggal justru akan membuatnya semakin sakit hati. Rasanya tidak sanggup jika bertemu dengan Fadli dan Yasmin lagi nanti.


"Apa maksud kamu, Pus?" Ningrum angkat bicara, dia tidak mau berpisah dengan putri semata wayangnya itu. walaupun berprofesi sebagai biduan dan sering keluar malam, Puspa tidak pernah tinggal jauh darinya.


"Ijinkan Puspa pergi, Bu." ucap Puspa sembari menahan air mata. Hal terberat baginya adalah meninggalkan sang ibu, tapi membawanya pun terasa tidak mungkin. dia saja belum punya tujuan akan kemana.


"Tapi, Pus. kamu mau kemana? kita bahkan tidak punya kerabat di luar desa ini,"


"Tenanglah, Bulek. Puspa akan pergi denganku," Raka beralih duduk di sisi Ningrum.

__ADS_1


"Tapi, Ka. Tidak pantas jika Kalian tinggal bersama sementara kalian belum menikah," ujar Ningrum.


"Apa? menikah? siapa yang akan menikah, Bu?" Puspa terkejut dengan ucapan sang Ibu. Kesedihan yang dia alami membuatnya tidak mendengar apa yang sudah di bicarakan Fadli dengan ibunya tadi pagi.


"Puspa kan belum di kasih tahu, Rum. Raka akan menikahi kamu, Pus. Kami sudah sepakat." ujar Ntin di sambut dengan tatapan aneh dari Puspa. Bagaimana bisa mereka mengambil keputusan tanpa bertanya padanya?


"Tapi aku belum siap untuk menjalin hubungan lagi, Bulek. Puspa masih trauma," Puspa tertunduk seolah luka yang belum kering itu tertoreh lagi.


"Tidak papa, Pus. Aku akan menunggu sampai kamu siap," ucap Raka meyakinkan.


***


Tiga hari setelah perbincangan dengan pak RT, Puspa bersiap untuk pergi ke kota bersama Raka.


Tas besar sudah bertengger di teras rumah, sementara suara Isak tangis terdengar di dalam rumah tersebut.


"Jangan lupa untuk meneleponku, Pus." Anita menangis tanpa henti. Hubungan persahabatannya dengan Puspa sudah terjalin cukup lama, membuatnya berat melepas Puspa pergi jauh. "Iya, aku akan meneleponmu setiap hari," balas Puspa.


"Jangan setiap hari juga, nanti aku bosen," ucap Anita lagi. Dua gadis itu menangis dan tertawa dalam waktu bersamaan, membuat orang yang hadir di sana merasa haru.


Bukan hanya Anita yang hadir, Agung juga datang bahkan kali ini dia membawa istrinya.


"Kamu harus hati-hati, Pus. jaga diri!" Agung memberi banyak wejangan untuk Puspa, selama ini pria itu sudah seperti kakak laki-laki bagi Puspa.


"Iya, Mas. Terus hutangku gimana?"


"Lah ... Di saat seperti ini kamu masih mikirin hutang," balas Agung.


"Terimakasih, Mas."


Puspa berangkat ke kota berboncengan motor dengan Fadli, hitung-hitung menghemat biaya. Sesuai rencana, Raka akan membantu mencarikan sebuah rumah kos untuk Puspa.


Berbekal bakat bernyanyi Puspa akan mencari kerja di kota, dia sudah bertekad untuk menjadi sukses untuk membuktikan pada warga dan juga Fadli jika dia bukan wanita hina dan murahan seperti yang mereka tuduhkan.


Selama di perjalanan, Puspa terus terbayang wajah sang Ibu. Bahkan sampai di ujung jalan Ningrum terus melambaikan tangan, membuat hati Puspa semakin teriris.


'Maafkan Puspa, Bu.' gumamnya dalam hati. Air mata yang sudah mulai kering kini Kembali luruh di balik kaca helm hitam yang dia pakai.


***


Puspa dan Raka sampai di kota tepat pukul sebelas pagi. Masih cukup siang untuk pergi mencari tempat tinggal untuk Puspa. Fadli sudah menawarkan untuk sementara waktu tinggal di kontrakan miliknya. Namun, Puspa menolaknya.


Lebih cepat dia mendapat tempat tinggal lebih baik, dengan begitu dia tidak harus tinggal bersama Raka yang belum resmi menjadi suaminya.


Sampai sejauh ini, Raka memperlihatkan sikap yang sopan dan lembut padanya, tapi itu tidak lantas membuatnya dengan mudah untuk tinggal bersama, Bagaimanapun mereka sama-sama sudah dewasa dan normal. Dulu saat bersama Fadli hal yang tak di inginkan pun terjadi hanya karena sebuah suara petir. Bukan tidak mungkin hal itu akan terulang pada dirinya dan Raka.


Cukup Fadli sebagai pelajaran berharga untuk hidup Puspa, mulai saat ini dia akan lebih menghargai dan menjaga tubuhnya sendiri.

__ADS_1


Setelah berkeliling akhirnya mereka menemukan rumah kos yang tepat untuk Puspa. Sebuah rumah sewa khusus wanita yang terletak tidak jauh dari jalan raya.


"Baiklah, Pus. Aku tinggal ya. Kalau ada apa-apa kamu bisa menghubungi aku," Raka berujar sembari meletakkan tas besar milik Puspa di depan pintu gerbang.


"Terimakasih banyak, Ka. Kamu sudah banyak menolongku," Puspa menatap Raka dengan tulus.


"Sama-sama, toh kita bakal menikah nanti jadi aku akan selalu ada untukmu."


Entah kenapa rencana pernikahan itu masih membuat Puspa ragu. Tidak ada rasa sedikitpun untuk Raka di dalam hatinya. Namun, pria itu sudah berbuat banyak, sudah pasti dia tidak akan mengecewakannya.


Bangunan rumah kos telihat layak untuk di tempati, Puspa sudah membayar untuk bulan pertama. Seperti tempat kos pada umumnya, satu kamar di tempati oleh dua penyewa.


"Hai, Kamu penyewa yang baru?" tanya gadis berambut pendek yang tak lain adalah teman satu kos Puspa. "Hai, aku Puspa," balas Puspa sembari mengulurkan tangan.


"Andin," balas gadis itu dengan senyuman. syukurlah Puspa mendapat teman sekamar yang ramah.


"Aku baru datang dari kampung, kamu ada rekomendasi tempat kerja nggak buat aku?"


Puspa tak ingin menunda untuk bekerja. Tinggal di kota sudah pasti perlu banyak biaya. Dan dia tidak mau jika bergantung pada Raka.


"Tempat kerja ya?" Andin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Aku juga belum dapat kerja, Pus." gadis yang usianya sepantaran dengan Puspa itu tersenyum getir. "Gitu ya?" Ternyata mencari kerja di kota tidak semudah yang Puspa kira, buktinya si Andin. Dari ceritanya dia sudah hampir dua bulan tinggal disana dan belum mendapat kerja.


Sama seperti Puspa, Andin juga merantau dari kampungnya dengan impian memperbaiki perekonomian keluarga. Bedanya Puspa terpaksa karena desakan warga, sementara Andin terpaksa karena keadaan keluarga.


"Gimana, kamu sudah dapat tempat tinggal?" terdengar suara Anita dalam sambungan telpon. Entah sudah berapa kali gadis itu menghubungi Puspa, hanya untuk memastikan sahabatnya baik-baik saja.


"Sudah, Nit. Syukurlah, aku dapat teman kos yang baik, nasibnya juga sama sepertiku sama-sama perantau," balas Puspa.


Tanpa terasa hari sudah larut, mengobrol dengan Anita membuat Puspa sedikit merasa terhibur.


"Sudah malam, Nit. Aku tutup telponnya ya."


Puspa mengakhiri panggilan itu dengan tergesa saat mendengar suara ketukan pintu dari luar kamar. "Kenapa Andin mengetuk pintu? kan dia punya kuncinya," Puspa bergumam sembari menuju ke arah pintu.


"Hai ... Puspa!" Andin berdiri di ambang pintu sembari tersenyum pada Puspa, ada yang aneh dengannya matanya merah wajahnya juga sembab. Puspa bingung dengan kondisi Andin. "Kamu kenapa, Ndin?" tanya Puspa khawatir. "Aku tidak papa, emang aku kenapa?" Andin mulai merancau, Puspa membopong tubuh gadis itu karena dia tidak kuat berdiri sendiri.


"Kamu mabuk, Ndin?" tanya Puspa memastikan. Dari mulut Andin tercium bau alkohol yang menyengat sudah pasti gadis itu tengah mabuk sekarang.


Di kampung, Puspa juga sering menjumpai orang-orang yang mabuk saat menonton aksi panggungnya, jadi Puspa menduga itu pada diri Andin.


"Hidup di kota itu berat, Puspa. Ngapain kamu datang kesini?" Andin mulai menangis. Entah Masalah seperti apa yang tengah di hadapi gadis bertubuh mungil itu? Yang pasti Puspa merasa iba melihatnya seperti itu.


Puspa membantu melepas sepatu yang di kenakan gadis itu dan membaringkannya di tempat tidur, tidak lupa dia juga memasangkan selimut untuknya.


'Ya ... Allah, aku tidak mengerti jalan apa yang tengah aku tempuh sekarang? Semoga saja aku bisa cepat dapat pekerjaan supaya bisa menata hidupku disini,' Puspa berdoa dalam hati. Di saat-saat seperti ini dia baru mengingat Sang Pencipta. Kemana saja dia selama ini?


Seharian ini, Puspa berkeliling di sekitaran kos untuk mencari kerja, tapi hasilnya nihil. Karena masih baru, gadis itu belum berani pergi terlalu jauh. Raka sudah berjanji akan membantunya, tapi untuk sementara waktu dia belum bisa karena urusan pekerjaannya.

__ADS_1


Seperti kemarin sampai larut malam Andin belum juga kembali, merasa khawatir Puspa memutuskan untuk menunggu gadis itu di depan gerbang. Ada rasa khawatir di benak Puspa untuk gadis itu walaupun mereka belum lama saling mengenal. Mungkin karena dialah satu-satunya orang yang dia kenal di kota itu setelah Raka.


Puspa terkesiap saat cahaya dari lampu mobil tepat mengenai wajahnya, Mobil mewah berwarna hitam terlihat menepi di sisi jalan. Raut wajah gadis itu seketika berubah saat melihat seseorang turun dari dalam mobil.


__ADS_2