PELET SANG BIDUAN

PELET SANG BIDUAN
Bab 20. Pria Sombong


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Puspa sudah bangun dan bersiap untuk meninggalkan rumah besar milik Satya.


Puspa berniat mengambil pakaian di kost-an, sudah pasti dia tidak bisa lagi tinggal di sana, Raka akan dengan mudah menemukannya.


Sampai saat ini Puspa masih tidak percaya dengan yang di lakukan Raka padanya. Kenyataan jika pria itu memilki tabiat buruk dia masih berusaha untuk percaya.


Kasihan sekali Ntin, wanita itu begitu membanggakan putra semata wayangnya. Sedari kecil Raka tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah sama seperti Puspa, bedanya ayahnya Puspa telah lama tiada, sedangkan ayahnya Raka sengaja meninggalkan Ntin dan Raka kecil demi perempuan lain.


Apa mungkin sifat buruk itu menurun dari sang ayah? Entahlah yang pasti perlakuan Raka pada Puspa sudah termasuk dalam sebuah kejahatan besar, perdagangan manusia.


Puspa berniat menjual handphone yang di ambilnya dari Danu, dengan uang itu dia akan membeli ponsel yang lebih murah sisanya akan dia gunakan untuk mencari rumah kontrakan.


Jika di taksir handphone keluaran terbaru itu bisa mencapai harga puluhan juta, lumayan bisa untuk menyambung hidup.


"Rumah kamu dimana, Pus?" tanya Marni sembari menyiapkan sarapan untuk sang majikan. "Aku tinggal di rumah kost, Bu." jawab Puspa. Sebagai ucapan terimakasih karena sudah mengobati lukanya, Puspa membantu Marni di dapur sebelum dia pergi.


"Apa di rumah sebesar ini, ART nya hanya Ibu?" Puspa merasa kasihan pada Marni, harus mengerjakan pekerjaan rumah sendiri dalam rumah yang sangat luas itu.


"Tidak, ada satu orang lagi yang bantuin Ibu, tapi dia sedang ijin pulang kampung karena ibunya sakit,"


"Dua orang juga masih kurang kalau menurutku, Bu." Puspa malah sibuk mengurusi pekerja di rumah itu.


"Mau bagaimana lagi, Tuan tidak gampang percaya sama orang,"


"Apa dia tinggal sendiri? atau bersama keluarganya?" Puspa memperhatikan ke sekeliling tidak ada orang lain di sana selain dirinya dan Marni.


"Dia masih lajang, Pus. Orang tuanya sudah lama meninggal, dan dia anak tunggal," Marni sedikit memelankan suara takut jika tuannya itu muncul secara tiba-tiba.


"Oh, seperti itu, baiklah aku pergi dulu yo, Bu. Terimakasih karena kalian sudah menolongku. "


Puspa berjalan keluar di temani Marni.

__ADS_1


Brugh!


Karena terburu dan tidak fokus Puspa menabrak seseorang, seketika dia mengumpat sembari memegangi luka di kening yang tertutup kain perban.


"Matamu itu di taruh dimana to? sakit tau!" Puspa merancau tanpa melihat siapa yang sudah dia tabrak.


"Tuan Satya!" Marni sengaja menyebut nama itu untuk menyadarkan Puspa. "Ha ...? Apa?" ucap gadis itu gelagapan sembari mengarahkan pandangan pada pria di hadapannya. Satya berdiri tegak dengan tatapan tajam setajam silet. "Maaf, Tuan. Saya tidak sengaja," ucap Puspa gugup.


"Kamu siapa? Kenapa ada di rumahku?" tanya Satya heran.


"Saya Puspa, Tuan," jawab Puspa gelagapan. Tatapan pria itu membuat Puspa tidak berkutik.


"Saya tidak perduli dengan namamu, kenapa kamu ada di rumah saya tanpa ijin?"


'La dalah ... Apa dia ini amnesia?' batin Puspa.


"Tuan lupa? Tadi malam mobil yang anda kendarai menabrak saya, dan sopir Tuan yang baik hati itu membawa saya kemari," Puspa mulai menaikan nada suaranya.


"Sssttt ... !" Marni berusaha menyuruh gadis itu untuk diam.


"Suruh gadis bar-bar ini keluar dari rumahku, Bu." Satya berucap sembari berlalu menuju pantry. Tenggorokannya terasa kering dia berniat mengambil air malah bertabrakkan dengan Puspa.


"Bar-bar? " Puspa tidak terima saat pria itu meremehkan dirinya. Apa semua orang kaya begitu? Sama seperti Fadli dan keluarganya yang menganggap dirinya hina.


"Dasar orang kaya sombong! seenak jidat menghina orang lain," Puspa menggerutu karena kesal. "Sudah, Pus. Ayo Ibu antar sampai depan," Marni menarik tangan gadis itu segera menjauh dari sana, kalau tidak Satya pasti akan lebih marah lagi.


Sampai di teras, Puspa tidak hentinya mengomel. "Dia itu kenapa to, Bu? Apa nggak bisa lebih sopan bicaranya, padahal kan dia yang sudah menabrakku, aku lo disini korbannya kok malah aku yang di marahi." Puspa nyerocos menumpahkan kekesalan hatinya pada Satya. Seandainya pria itu tahu apa yang sudah dia alami. Setelah ini saja dia masih bingung mau kemana.


"Sudah to, nggak baik ah anak gadis ngomel-ngomel seperti itu," Marni berusaha menenangkan Puspa.


"Huff!" Puspa membuang napas dengan kasar untuk meredam emosi.

__ADS_1


"Baiklah, aku pergi yo, Bu."


"Iyo, Hati-hati."


Puspa berjalan di halaman rumah yang begitu luas. "Iki pekarangan luase koyok lapangan sepak bola, tajir tenan pria iku tapi sayang nggak punya hati, " Masih saja gadis itu menggerutu.


"Puspa ...! Tunggu ...!" Terdengar suara Joko memanggil nama Puspa membuat gadis itu menghentikan langkah dan berbalik arah. Joko berlari ke arah Puspa dengan napas ter-engah. "Ada apa to Pak? Kenapa berlari? ingat umur to," ucap Puspa dengan entengnya. "Ini ada titipan dari pak Satya untukmu," ucap Joko sembari memberikan sebuah amplop pada Puspa. "Opo Iki?" tanya Puspa sembari membolak balik amplop berwarna cokelat di tangannya.


"Bukalah sendiri, Bapak juga nggak tahu apa isinya."


Puspa membuka amplop dengan tidak sabar, di dalam sana terdapat uang lembaran seratus ribu berlapis-lapis, entah berapa jumlahnya yang pasti lebih dari lima juta.


"Ini apa maksudnya, Pak?" tanya Puspa sembari menunjukkan isi amplop pada Joko.


pria itupun bingung karena tuannya tidak mengatakan sesuatu selain menyuruh menyerahkan amplop itu pada Puspa.


"Bapak, nggak tau, Pus. Mungkin itu untuk biaya berobat kamu, terima saja. Lumayan to?"


Joko terkejut saat Puspa menyerahkan amplop itu ke tangannya. "Aku tidak butuh, Pak. Tolong kembalikan ini padanya!" Setelah mengucapkan itu Puspa kembali melangkahkan kaki menuju gerbang utama rumah besar itu. Sementara Joko mematung di tempatnya berdiri. "Banyak Lo Iki, kok nggak mau? nggak waras bocah iku," Joko berucap sembari menggelengkan kepala.


Di tempat lain, tepatnya di kost-an Puspa, Raka berdiri di depan pintu gerbang. Sudah dua kali dia menyambangi tempat itu untuk mencari Puspa. Namun, Sampai saat ini Puspa belum nampak juga batang hidungnya.


"Kamu, Raka kan?" ucap seorang yang baru saja keluar dari gerbang.


"Andin, dimana Puspa? apa dia sudah pulang?" tanya Raka tanpa berbasa-basi.


"Puspa? bukannya semalam dia pergi denganmu? harusnya aku yang bertanya kemana dia semalaman, kenapa sampai sekarang belum pulang?"


Mendengar penuturan Andin dapat di simpulkan jika Puspa belum Kembali ke kost-an. "Berikan ponselmu!" Raka menyimpan nomernya di ponsel Andin. "Kalau dia pulang hubungi aku!" ucao Raka sembari menyerahkan ponsel pada Andin.


"Baiklah, apa aku boleh menghubungimu selain urusan Puspa?" tanya Andin dengan nada genit. "Setelah Puspa kembali," balas Raka dingin, membuat Andin semakin terpesona.

__ADS_1


Puspa memilih naik ojek ke kost-an, untuk menghemat biaya. Sampainya disana dia melihat Raka tengah berdiri di tepi jalan. Serta merta Puspa menghentikan ojek yang dia kendarai.


"Berhenti disini bang!"


__ADS_2