PELET SANG BIDUAN

PELET SANG BIDUAN
Bab 32. Memilih Cincin


__ADS_3

"Pus, apa kamu masih berhubungan dengan Raka?" Suara Ningrum terdengar lantang dalam sambungan telepon.


"Ndak, Bu. Aku sudah tidak pernah bertemu dia lagi," Puspa menjawab tak kalah nyaring dari ibunya. Dua wanita itu andai di satukan dalam satu ruangan pasti akan sangat ramai walau hanya berdua.


"Kenapa to ibu nanyain Raka? Apa bulek Entin bicara ngawur lagi tentang aku?" tanya Puspa. Gadis yang awalnya memegang cucian piring itu kini beralih duduk di kursi dapur.


"Iyo, mosok dia bilang kamu bawa kabur uangnya Raka,"


"Opo? Wes gendeng itu anak sama ibunya. Enak saja fitnah aku, masih untung Raka nggak aku laporin polisi," Karena terlalu asyik bicara, Puspa sampai keceplosan tentang Raka.


"Lo emange Raka ngapain kamu, Pus? Jujur sama ibu sekarang!" Ningrum terdengar panik di seberang sana.


'Walah keceplosan aku,' Puspa membatin.


""Nggak Popo, Bu. La itu dia fitnah aku to? kan bisa itu di laporin ke polisi," Puspa berkilah.


"Oh, Ibu kira ada apa, tapi bener to nggak ada yang lain?"


"Nggak, Bu. Ibu gimana? Masih ada uang nggak?"


Ningrum tidak langsung menjawab pertanyaan anak gadisnya. Dia tidak mungkin menceritakan perihal hutangnya pada Tejo. Puspa pasti mengamuk kalau mengetahuinya.


"Masih, Pus. Ndak banyak tapi." Ningrum merasa tidak enak hati terus bergantung pada Puspa. Wanita itu masih cukup muda untuk bisa menghidupi dirinya sendiri, tapi mau bagaimana lagi, sampai sekarang dia belum mendapatkan pekerjaan.


"Ibu, jangan khawatir. Aku sudah kerja sekarang. Bulan depan aku kirimi yo, Bu,"


"Iyo, kamu hati-hati yo,"


"Iyo, Bu."


Setelah mengakhiri obrolan itu, Puspa terdiam sembari memegang telepon genggamnya. Rasanya berat hidup terpisah dengan sang Ibu. Ada sesal dalam hatinya, andai saat itu dia tidak terlalu berambisi mengejar cinta Fadli, pasti saat ini dia masih bisa berkumpul dengan sang ibu.


Karirnya di kampung juga sudah cukup gemilang kala itu. Jika Puspa mau terus berjuang bisa saja dia menjadi penyanyi dangdut yang sukses suatu saat nanti.


"Nasibku kok apes tenan yo. Ini semua karena Fadli. Awas kamu Fad kalau ketemu lagi tak bejek-bejek mukamu itu!" Puspa bergumam sembari memukul kedua pahanya karena sebal dengan perlakuan Fadli padanya.


"Sudah ngocehnya?"


Puspa hampir terjatuh dari kursi karena terkejut dengan suara Satya yang tiba-tiba muncul di belakangnya.


"B-bapak!" ucapnya sembari berdiri dengan tegap.


"Apa? Cepat kamu ikut sekarang!" Satya berucap sembari berjalan mendahului Puspa.


"Kemana Pak?" tanya gadis itu sambil mengekor di belakang sang majikan.


"Jangan banyak tanya atau gaji kamu saya potong!" ancam Satya yang membuat Puspa langsung terdiam seribu bahasa.


Puspa terus mengekori Satya hingga sampai di garasi. Namun, gadis itu malah mematung karena tidak tahu apa yang harus dia lakukan setelah itu.


"Masuk!" titah Satya dari dalam mobil.


"Saya?" ucap Puspa sembari menunjuk dirinya sendiri.


"Iya, siapa lagi? kucing?" Satya pun mulai emosi.

__ADS_1


Puspa bergegas membuka pintu mobil bagian belakang. "Kamu kira saya sopir? Duduk di depan!" Puspa terus saja lupa jika majikannya itu tidak suka, kalau ada yang duduk di belakang saat dia mengemudi. Gadis itu pun akhirnya pindah kedepan dengan bibir mengerucut.


Satya mengemudi dengan kecepatan lumayan tinggi membuat Puspa bergidik ngeri. 'Bisa mati aku kalau sampai nabrak,' gadis itu hanya bisa membatin.


Sesekali dia mencuri pandang pada pria di sampingnya. ' Aku ini mau di bawa kemana to? Apa mau di buang?' Puspa terus menggerutu di dalam hati.


Mobil berhenti tepat di parkiran sebuah Pusat perbelanjaan. Tempat yang selama ini belum pernah di kunjungi oleh gadis kampung sepeti Puspa.


"Wah!"


Mulai dari pintu masuk hingga berada di dalam Puspa tak hentinya berkata wah karena kagum.


"Apa kamu bisa menghentikan itu?" Satya berhenti tepat di hadapan Puspa.


"Apa, Pak?" tanya gadis itu tak mengerti.


"Wah! ... wah! Bisakah kamu menghentikan itu?" ucap Satya kesal.


"Maaf, Pak. Maklum to Pak. Ini pertama kalinya saya datang ke tempat seperti ini," balas Puspa sembari menggaruk tengkuk yang tidak gatal.


Mata Puspa terus tertuju pada beraneka barang yang di jual dalam mall tersebut. Sebuah pasar besar dengan atap dan lantai mengkilap, begitulah yang ada dalam benak gadis itu.


'Harusnya aku ikut mas Agung waktu itu, pasti tempatnya sebagus ini,' gumamnya dalam hati.


Agung pernah mengajak Puspa pergi keluar kota untuk berbelanja di sebuah mall di kota tersebut, tapi karena Ningrum sakit jadilah dia tidak bisa ikut serta. Dan hari ini Puspa mengunjungi mall yang dia gadang lebih besar dari yang di kunjungi agung dan kawan-kawan.


'Andai Anita sama ibu ada di sini pasti mereka seneng banget,' gumamnya lagi.


Satya berhenti di depan sebuah toko perhiasan. Sementara itu, Puspa masih terus mengikuti langkah kaki sang majikan.


Seketika Puspa mengulurkan kedua tangannya.


"Sebelah saja gadis konyol!" Satya menarik sebelah tangan Puspa untuk mendekatkannya pada penjaga toko.


"Seperti ini mbak ukurannya," ucap Satya pada penjaga toko.


"Baiklah, Pak." balas gadis cantik berambut pendek itu.


Wanita itu terlihat memilah cincin di etalase toko dan pilihannya jatuh pada cincin berlian yang berkilau. Sesuai permintaan Satya.


"Yang ini, Pak," ucap sang penjaga toko. Mata wanita itu terus menatap tajam ke arah Puspa. Ada rasa iri dalam hatinya. Bagaimana bisa wanita lusuh sepertinya mendapat pria setampan ini? begitulah yang dia pikirkan.


Puspa gugup saat Satya memasang cincin itu di jari manisnya. Tentu saja, Satya tidak.mengatakn apapun sebelumnya, membaut gadis itu salah paham dengan sikapnya itu.


'Apa dia tengah bercanda? Tidak mungkinkan dia membeli itu untukku? Yo mesti ora, emange aku sopo?' gumam Puspa dalam hati.


Dari toko perhiasan Satya mengajak Puspa berkeliling. Pria itu membeli banyak pakaian untuknya sendiri tanpa menghiraukan Puspa yang sudah kuwalahan membawa banyak paperbag di tangannya. "Ternyata dia mengajakku untuk ini. Memang opo meneh seng tak harap? tugas pembantu yang memang seperti ini," gumam Puspa sambil terus mengikuti langkah kaki sang majikan.


"Hai ... Bro!"


Saat keluar dari toko pakaian, mereka berpapasan dengan seorang pria. Dia adalah Rio teman lama Satya.


Satya memberi pelukan hangat untuk temannya itu. "Kamu nggak lupa kan sama pestaku?" Rio menepuk pundak Satya cukup keras. "Ya nggak lah," jawab Satya singkat.


"Kamu harus datang karena Pamela juga akan datang. Ini kesempatan buat deketin dia lagi Bro!" Rio sedikit berbisik agar wanita di belakang Satya tidak mendengar obrolan mereka.

__ADS_1


"Aku, tahu," balas Satya dengan senyum penuh arti.


"Hei ... siapa gadis cantik ini? Apa dia datang bersama kamu Sat?"


Rio beralih menghampiri Puspa untuk menyapanya. "Kenalin aku Rio," Pria itu mengulurkan tangan, tapi Puspa hanya tersenyum karena tanganya penuh dengan paperbag sehingga dia tidak bisa menyambut uluran tangan Rio.


"Puspa," balas Puspa sembari tersenyum manis.


"Manis sekali," celetuk Rio.


"Apa, Mas?" Puspa tidak mengerti apa yang di ucapkan pria di hadapannya.


"Kamu, manis," Rio kembali mengulang ucapannya.


"Maaf, tapi saya bukan gula," balas Puspa sembari sedikit tertawa.


Rio terbahak mendapat respon baik dari Puspa. "Kamu selain manis lucu juga," Rio menatap Puspa dari ujung rambut hingga ujung kaki. Gadis itu memang punya aura luar biasa, hanya butuh sedikit polesan maka dia akan menjelma menjadi pemikat hati setiap pria.


"Aku pergi dulu, sampai jumpa nanti di pesta," ucap Satya sembari berjalan meninggalkan Puspa.


"Permisi, Mas," ucap Puspa pada Rio kemudian berlari mengejar Satya.


"Sampai jumpa, Puspa!" Rio melambaikan tangan sembari tersenyum manis.


"Satya ...! Kamu masih punya hutang penjelasan tentang gadis manis ini padaku!" Rio sedikit berteriak karena temannya itu sudah pergi menjauh. Namun, Satya tidak merespon.


Di dalam mobil, Puspa kembali teringat dengan ucapan Rio. Bukan tentang rayuan pria itu, tapi tentang wanita bernama Pamela.


'Jadi semua ini karena wanita bernama Pamela,' hati Puspa bergumam. Tanpa dia sadari tersungging senyum tipis di bibirnya mengingat betapa bodohnya dia karena sempat merasa gugup saat Satya memasangkan cincin di jarinya.


'Dia cuma mengajakku sebagai barang percobaan. Trimo nasib Pus!' Puspa menertawai dirinya sendiri dalam hati.


"Kenapa senyum-senyum? Senang karena di puji Rio?" Pria yang tengah serius dengan kemudinya itu, sekali bicara menusuk sampai ke ulu hati.


"Bapak ngomong apa to?" balas Puspa tak terima.


"Asal kamu tahu, Rio itu playboy. Sama semua wanita juga begitu. Kambing di bedakin saja dia goda," Satya kembali berucap tanpa di saring terlebih dulu.


"Lo, Bapak samain Saya dengan kambing?" Puspa menyahut tak terima.


"Siapa yang bilang begitu?"


"Ternyata bapak pikun juga to? Oh iya saya lupa, Bapak kan memang pikun,"


"Apa maksud kamu?"


"Bukan apa-apa, Pak. Lupakan saja!" Puspa membenahi posisi duduknya. Baru kali ini dia bicara panjang lebar dengan sang majikan, itu pun lebih ke arah bertengkar.


"Ternyata dia cerewet," gumamnya pelan.


"Kamu mengatakan sesuatu?" tanya Satya saat mendengar gadis di sebelahnya bergumam.


"Tidak, Pak. Ini kebiasaan lama saya, ngomong sendiri," jawab Puspa sekenanya.


"Dasar konyol!"

__ADS_1


__ADS_2